Unjuk rasa di Deiyai, Papua, berakhir ricuh, pendemo dan aparat keamanan menjadi korban

Mimika Hak atas foto Sevianto Pakiding/ANTARA FOTO
Image caption Sejumlah prajurit TNI berjaga di Kompleks Gedung DPRD Mimika, Papua, Sabtu (24/08). Petugas gabungan Polri dan TNI masih melakukan pengamanan di sejumlah objek vital dan strategis di Kota Timika, Papua.

Unjuk rasa memprotes dugaan rasialisme mahasiswa Papua di depan Kantor Bupati Deiyai, Provinsi Papua, Rabu (28/08) berubah menjadi kericuhan yang menyebabkan jatuh korban di pihak pengunjukrasa dan anggota TNI/Polri.

Pada Kamis (29/08) pagi, Polda Papua memberikan informasi terbaru tentang jumlah korban meninggal dunia, yaitu satu orang anggota TNI dan dua orang pengunjukrasa.

"Satu orang massa kena tembakan di kaki dan meninggal dunia di RS Eranotali, satu orang massa meninggal kena panah di perut di halaman kantor Bupati Deiyai," ujar Kasubbid Penmas Bid Humas Polda Papua, Kompol Anton Ampang, dalam keterangan tertulis yang diterima BBC News Indonesia pada Kamis (29/08) pagi.

Anton menjelaskan anggota TNI dan Polri yang terluka akibat "terkena panah", terdiri dari satu personel TNI, satu personel Brimob dan tiga personel Samapta Polres Paniai.

"Semua korban telah dievakuasi di Rumah Sakit Enarotali untuk mendapatkan perawatan," ujarnya.

Sebelumnya, seorang aktivis pro kemerdekaan Papua mengklaim "enam orang pengunjuk rasa meninggal dunia terkena tembakan".

Sementara, dalam akun Twitter resmi, Pusat Penerangan TNI menyebut laporan-laporan yang mengklaim enam orang pengunjukrasa di Deiyai, Papua, meninggal dunia, sebagai "informasi hoaks".

Informasi adanya kericuhan diawali laporan media setempat, Suara Papua.com, sekitar pukul 16.34 WIB, yang menyebut ada enam orang pengunjukrasa yang "dikabarkan tewas", tanpa menyebutkan sumbernya.

Dalam keterangan tertulisnya kepada BBC News Indonesia, Rabu, sekitar pukul 14.13 WIB, salah seorang pimpinan Gerakan Persatuan Pembebasan untuk Papua Barat atau ULMWP, Markus Haluk, mengatakan "terjadi penembakan (oleh TNI-POLRI) yang membuat enam orang (pengunjukrasa) menjadi korban, dan meninggal di tempat."

Hak atas foto BBC News Indonesia

Keterangan berbeda diberikan oleh Kapendam XVII/Cenderawasih, Letkol Eko Daryanto, saat dihubungi wartawan BBC News Indonesia, Heyder Affan, melalui sambungan telepon, Rabu (28/08) sore.

"Penembakan itu (terhadap pendemo) tidak ada, ini bukan kontak senjata. Kita jadi korban anarkis, aparat TNI-Polri jadi korban aksi anarkis dari demo," kata Eko Daryanto.

Menurutnya, "satu orang anggota kita (TNI) meninggal dunia, kena parang dan panah (oleh pengunjuk rasa)."

Hak atas foto Gusti Tanati/ANTARA FOTO
Image caption Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (ketiga kanan) dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kedua kanan) berjalan seusai menggelar pertemuan tertutup di Mapolda Papua, Jayapura, Papua, Selasa (27/08).

Eko Daryanto menjelaskan aparatnya mengamankan Kantor Bupati Deiyai dari apa yang disebutnya sebagai "tindakan anarkis" massa pengunjuk rasa.

"Korban meninggal saat mengamankan kantor bupati," ujarnya.

"Massa anarkis, melepaskan panah (ke arah aparat TNI-Polri)," ungkapnya.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Sevianto Pakiding
Image caption Petugas kepolisian mengevakuasi seorang warga saat melakukan penjagaan aksi di Mimika, Papua, Rabu (21/08)

'Kesulitan mengecek informasi korban meninggal'

Sebelumnya, dalam keterangan tertulis, sekitar pukul 17.15 WIB, Rabu sore, juru bicara Polri, Dedi Prasetyo, mengatakan, pihaknya belum dapat mengkonfirmasi informasi adanya warga sipil meninggal dalam kericuhan di Deiyai.

"Belum dapat dikonfirmasi dan klarifikasi kebenarannya," ungkap Dedi Prasetyo.

Dia hanya memastikan satu orang anggota TNI meninggal dunia dan lima anggota Polri terluka dalam kericuhan di depan Kantor Bupati Deiyai.

Hak atas foto Toyiban/ANTARA FOTO
Image caption Petugas INAFIS Mabes Polri bersama Polda Papua Barat melakukan olah tempat kejadian perkara pembakaran kantor DPRD Provinsi Papua Barat di Manokwari, Papua Barat, Selasa (27/08).

Sementara, Markus Haluk mengklaim informasi tentang adanya enam orang pengunjuk rasa meninggal dunia didapatkannya dari keterangan "saksi" dari lokasi kejadian di depan Kantor Bupati Deiyai.

Namun demikian dia mengaku belum mendapatkan secara lengkap jati diri enam orang yang disebutnya meninggal dalam kericuhan itu, kecuali satu orang yang ia katakan bernama Alpius Pigai, 20 tahun, asal Digibagata Debey.

"Masyarakat mau mengecek siapa yang jadi korban, sulit, karena lokasi dijaga TNI-Polri," katanya.

Berdasarkan keterangan sumbernya di Deiyai, Markus mengatakan ada empat orang pengunjukrasa yang terluka akibat, antara lain, terkena "tembakan di paha" dan "terluka di betis akibat jatuh di parit" setelah terkena gas air mata. Semuanya sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat, katanya.

Eko Daryanto membenarkan bahwa ada korban pengunjuk rasa yang terluka dan telah dilarikan ke rumah sakit, namun membantah ada yang meninggal dunia.

Kronologi kejadian versi TNI-Polri

Dalam wawancara dengan BBC News Indonesia, Eko Daryanto mengatakan kericuhan diawali oleh aksi massa yang disebutnya "mau menyerang kantor bupati".

"Nah, anggota kita (TNI-Polri), mengamankan kantor bupati," katanya.

"Kita diserang, kita terkena aksi anarkis, dipanah, kena parang, senjata tajam, (anggota TNI-Polri) ada yang kena di punggung, di pantat, ada yang kena leher, ada pula yang di lengan.

"Nah, korban yang meninggal kena di kepala, yaitu kena parang dan panah, saat mengamankan kantor bupati," paparnya.

Dia menyebut pelaku penyerangan adalah "dari massa pengunjuk rasa."

Hak atas foto Moch Asim/ANTARA FOTO
Image caption Pertemuan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Gubernur Papua Lukas Enembe, Selasa (27/08) di Surabaya, membahas persoalan mahasiswa asal Papua dan untuk meredam perselisihan.

Sementara itu, menurut kronologi kejadian yang disampaikan Polda Papua, pada Rabu (28/08) pukul 13.00 WIT, sekitar 100 orang melaksanakan demo damai di halaman kantor Bupati.

Setelah satu jam melakukan orasi, situasi masih terkendali sembari menunggu kehadiran Bupati Deiyai.

Namun, pada pukul 14.00 WIT, tiba-tiba sekitar 1000 orang dengan senjata tajam berupa panah, tombak dan parang datang bergabung dengan pendemo yang sudah ada sebelumnya sambil menari Waita atau tarian adat perang Papua.

Menurut Kasubbid Penmas Bid Humas Polda Papua, Kompol Anton Ampang, mereka melakukan pelemparan batu kepada aparat yang sedang melaksanakan pengamanan serta memprovokasi dengan teriakan-teriakan.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Arif Firmansyah
Image caption Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Mahasiswa Papua Kota Bogor menggelar aksi damai di Tugu Kujang, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (21/08)

"Namun anggota yang melaksanakan pengamanan tidak terprovokasi," ujarnya.Tiba-tiba, massa melakukan penyerangan dan penganiayaan kepada anggota TNI yang berada di Mobil Kijang super di samping kantor Bupati Deiyai.

Pada saat itu juga anggota TNI/Polri yang sedang melaksanakan pengamanan berupaya untuk menghentikan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh massa, namun terjadi perlawanan secara membabi buta dengan menggunakan alat tajam yang sudah dibawa sebelumnya.

"Kemudian massa memanah dan melempar batu [kepada] anggota yang sedang melaksanakan pengamanan di halaman kantor Bupati Deiyai, bahkan terdengar suara tembakan dari arah massa, sehingga anggota membalas tembakan massa yang menyerang anggota TNI dan Polri," kata Anton.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Toyiban/pras/a
Image caption Massa membakar ban saat kerusuhan di Manokwari, Senin (19/08). Aksi ini merupakan buntut dari peristiwa yang dialami mahasiswa asal Papua di Jawa Timur.

Kronologi versi Gerakan Persatuan Pembebasan untuk Papua Barat

Salah-seorang pimpinan Gerakan Persatuan Pembebasan untuk Papua Barat atau ULMWP, Markus Haluk, mengatakan aksi di depan Kantor Bupati Deiyai bertujuan memprotes apa yang disebutnya sebagai dugaan rasialis terhadap mahasiswa Papua di Jawa Timur.

"Mereka mau menyampaikan aspirasi itu kepada bupati. Menurut masyarakat, terungkap kata 'monyet' dari aparat yang ada di situ. Jadi, situasi itu menganggu emosi mereka, dan membuat mereka emosi," ungkap Markus Haluk kepada BBC News Indonesia.

Laporan yang diterimanya juga menyebutkan bahwa massa "dihalangi" untuk bertemu bupati.

Di tengah situasi itulah, Markus mengklaim, aparat keamanan melepaskan tembakan gas air mata.

"Lalu terdengar ada tembakan," ungkapnya. Dari keterangan sumber yang disebutnya berada di lokasi kejadian, "penembakan itu membuat enam orang meninggal dunia dan lainnya luka-luka".

Dia lebih lanjut mengatakan, pengunjuk rasa dalam rangka "membela diri" kemudian "melakukan perlawanan kepada pasukan TNI-Polri yang membuat mereka (TNI-Polri) terluka dan korban (meninggal)".

Hak atas foto BAY ISMOYO/AFP
Image caption Unjuk rasa mahasiswa Papua di sekitar Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/08), memprotes tindakan kekerasan fisik dan verbal terhadap mahasiswa Papua di Jawa Timur.

Situasi Kabupaten Deiyai 'kondusif'

Sampai sekitar pukul 17.00 WIB, menurut Kapendam XVII/Cenderawasih, Eko Daryanto, situasi di depan Kantor Bupati Deiyai, Papua, "sudah kondusif".

"Massa pengunjuk rasa sudah bubar, sudah kondusif," kata Eko.

Sementara, juru bicara Polri, Dedi Prasetyo, mengatakan, situasi kota Deiyai sudah kondusif yang ditandai "masyarakat sudah kembali ke rumahnya".

"Aparat keamanan terus mengkendalikan situasi keamanan," katanya dalam keterangan tertulis kepada BBC News Indonesia.

Berita ini diperbaharui pada Kamis (29/08) pagi dengan menambahkan keterangan Polda Papua tentang jumlah korban yang meninggal dari pihak aparat keamanan dan pengunjukrasa.

Topik terkait

Berita terkait