Kebakaran hutan: Puluhan anak muda protes di Palangkaraya atas bencana yang mereka alami bertahun-tahun

palangkaraya, kebakaran hutan
Image caption Mahasiswa turun ke jalan memprotes asap beracun yang mereka hirup karena kebakaran hutan.

Puluhan mahasiswa dan pelajar warga Palangkaraya, Kalimantan Tengah turun ke jalan hari Jumat (20/09) menuntut penyelesaian segera kebakaran hutan yang telah mereka alami selama lebih dari 20 tahun.

Sebagian dari pengunjuk rasa yang memakai masker, membawa spanduk dan pengeras suara meneriakkan protes mereka.

"Kalimantan kebakaran, Kalimantan kebakaran. Kami sesak nafas. Kalimantan kebakaran, Kalimantan kebakaran. Kami menderita," teriak mereka saat turun ke jalan.

Image caption Protes di depan kantor gubernur Kalimantan Tengah Jumat (20/09).

Unjuk rasa di Palangkaraya ini merupakan bagian dari protes jutaan anak muda di seluruh dunia dalam rangkaian unjuk rasa menuntut langkah diambilnya tindakan terkait perubahan iklim dunia.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Kebakaran hutan: Anak-anak muda di Palangkaraya turut serta dalam demo global

Di Jakarta, protes serupa melibatkan sekitar 500 orang, yang antara lain meneriakkan "Revolusi energi! Pak Jokowi, dukung protes kami."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sekitar 300.000 orang diperkirakan turun ke jalan dalam protes perubahan iklim di Melbourne, Australia.

Para pelajar di Eropa, sebagian bahkan tidak masuk sekolah, menuntut "diakhirinya zaman bahan bakar fosil dan keadilan iklim bagi semua orang". Anak-anak muda ini mendesak pemimpin di dunia agar segera bertindak untuk mengatasi dampak perubahan iklim demi generasi mendatang.

Di Palangkaraya, para demonstran juga melakukan aksi duduk di luar pagar kantor kantor gubernur, di bawah penjagaan puluhan polisi.

Poster-poster yang dipegang pemrotes di antaranya bertuliskan: "Udara sehat adalah hak asasi manusia; Cabut izin konsesi gambut; Kebijakanmu tidak jelas seperti kabut asap".

Pada Senin (16/09), kandungan partikel polutan yang disebut PM2,5 tercatat mencapai 1.413,4 mikrogram/m³, 20 kali lebih tinggi dari ambang batas normal polusi PM2,5 yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebesar 65 mikrogram/m³.

Hak atas foto Reuters
Image caption Protes perubahan iklim di Bangkok, Thailand.

Di beberapa tempat, bencana asap tahun ini "dapat dibandingkan dengan apa yang terjadi pada saat yang sama di tahun 2015," kata Robert Field, ilmuwan Badan Angkasa Luar AS/NASA kepada AFP.

Tahun 2015 dipandang sebagai bencana asap terburuk dalam periode dua puluh tahun.

Gerakan dunia

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pengunjuk rasa muda di Bangkok, Thailand.

Demonstran yang melibatkan anak muda di sekitar 150 negara menekan pemerintah mengambil langkah mengatasi perubahan iklim.

Upaya ini digerakkan oleh pegiat lingkungan Greta Thunberg yang akan menghadiri protes di New York, Amerika Serikat.

Hak atas foto Reuters
Image caption Protes di Berlin, Jerman dilakukan di Gerbang Brandenburg.

Sampai sejauh ini demonstrasi telah dilakukan di sejumlah tempat di Thailand, Australia, Inggris, Kenya dan Jerman.

Hak atas foto PA Media
Image caption Protes pelajar untuk perubahan iklim di Cambridge, Inggris.

"Saatnya berubah. Ketika anak-anak bertindak seperti para pemimpin. Waktunya berubah," isi tulisan salah satu poster yang dibawa pelajar di Bangkok, Thailand.

Sementara pelajar di London, Inggris mengusung poster "Berhenti menyangkal bahwa bumi sedang sekarat".

Air nyaris habis

Image caption Pemadam kebakaran, relawan, hingga warga awam bahu-membahu memadamkan api di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Kebakaran hutan dan lahan yang melanda Kalimantan Tengah, Barat dan juga Riau, Sumatra disebut para pegiat lingkungan sebagai yang terparah sejak kebakaran besar pada 2015.

Pemerintah menyatakan telah menurunkan sekitar 29.000 petugas untuk memadamkan api, yang sebagian terbakar di lahan gambut.

Tetapi salah satu masalah yang dihadapi para petugas untuk mengatasi titik api adalah kekurangan pasokan air.

"Kesulitan kami yang terutama adalah sumber air. Jadi karena ini musim kemarau, Palangkaraya ini kering, sama sekali kering," tutur Zulkarnaen, Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Palangkaraya, kepada BBC News Indonesia.

Selain sulitnya sumber air, sifat alami gambut kering yang mudah terbakar dan menyimpan bara di dalam rongga tanah, membuat pemadaman api memakan waktu yang lebih lama. Setiap titik setidaknya memerlukan waktu satu jam.

Sampai sejauh ini terdapat lebih dari 2.800 titik api terlihat di dua provinsi di Kalimantan, lapor kantor berita AFP.

Sekitar 250 orang telah ditangkap atas dugaan melakukan kegiatan yang menyebabkan kebakaran hutan.

Topik terkait

Berita terkait