Pemimpin ISIS disebut tewas: 'Pemerintah Indonesia waspadai bangkitnya sel teroris dan keterlibatan perempuan dalam jaringan terorisme'

teror Hak atas foto Getty Images

Pemerintah Indonesia menyatakan mewaspadai bangkitnya sel teroris yang juga melibatkan perempuan menyusul tewasnya pemimpin ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi.

Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Teroisme BNPT, Irfan Idris, mengatakan kematian al-Baghdadi bisa saja membangkitkan 'sel-sel teroris' yang tidur.

"Ideolog bisa mati, al-Baghdadi bisa mati, tapi ideologi yang perlu kita waspadai," ujarnya.

"Intinya dengan meninggalnya al-Baghdadi, dengan media mempromosikan, justru kita lebih meningkatkan kewaspadaan."

Irfan mengatakan pengikut-pengikut ISIS bisa saja lebih bersemangat untuk melakukan aksi mereka.

"(Mereka) bisa lebih bersemangat karena merasa memiliki tanggung jawab melanjutkan...merasa lebih militan melanjutkan perjuangan gurunya," ujarnya.

Ia merujuk pada fatwa al-Baghdadi agar pengikutinya tidak perlu pergi ke Suriah, tapi berjuang saja di negara masing-masing, dan hal itu perlu diwaspadai.

Hak atas foto AFP
Image caption Al-Baghdadi ketika menyampaikan pidato di Mosul, 2014.

Saat ini, menurut Irfan, ISIS melakukan segala cara untuk melaksanakan penyerangan, termasuk dengan melibatkan perempuan dan anak-anak.

Dia memberi contoh kasus penusukan mantan Menkopolhukam Wiranto (10/10) di Pandeglang, Banten.

Salah satu dari terduga pelaku penyerangan itu adalah seorang perempuan muda bernama Fitri Andriana binti Sunarto dan Syahril Alamsyah alias Abu Rara.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Anak-anak 'ISIS': Bagaimana mereka kembali pulang?

"Semua cara dia gunakan. Kasus yang menimpa Pak Wiranto sederhana kelihatannya, tapi itu bahaya karena menggunakan pisau dan langsung (ditusuk)," kata Irfan.

"Itu artinya dia serang pribadi dan negara dengan berbagai alat yang bisa dia gunakan."

Keterlibatan Perempuan

Direktur Eksekutif Society Against Radicalism and Violent Extremism (SeRVE) Indonesia, Dete Aliah, menyebut serangan-serangan terorisme yang melibatkan perempuan belakangan ini telah memakan banyak korban jiwa.

Contohnya, peristiwa pengeboman gereja di Surabaya tahun lalu, yang menewaskan lebih dari 20 orang.

Awal tahun ini, peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Our Lady of Mount Carmel di Jolo, Filipina, yang melibatkan suami istri asal Indonesia, Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh, menewaskan setidaknya 20 orang dan ratusan orang luka-luka.

Hak atas foto MARWAN NAAMANI/AFP
Image caption Foto ilustrasi: Seorang umat Muslim sedang membaca Alquran.

Di Sibolga, Sumatera Utara, pasca-penangkapan seorang terduga teroris bernama Husain alias Abu Hamzah pada Maret lalu, istrinya yang bernama Solimah meledakkan diri setelah gagalnya proses negosisasi dengan Densus 88.

"Itu (serangan yang) sangat efektif karena perempuan tidak dicurigai" ujar Dete.

Hak atas foto Reuters
Image caption Abu Bakar al-Baghdadi muncul dalam video yang dirilis ISIS pada tanggal 29 April 2019.

Ia mengatakan hal itu terjadi karena masih ada pemahaman bahwa perempuan tidak mungkin tega untuk terlibat dalam serangan terorisme.

"Kenyataannya perempuan bisa lebih militan dari laki-laki kalau dia sudah dituntut untuk begitu," katanya.

Hal itu senada dengan laporan berjudul 'Women in Jihad : A Historical Perspective' yang ditulis peneliti Seran de Leede.

Laporan itu menyebut upaya merekrut perempuan, termasuk sebagai pengebom bunuh diri, dapat memberi beberapa 'keuntungan' untuk kelompok teroris.

Hak atas foto AFP
Image caption Lokasi ini dilaporkan sebagai tempat operasi militer AS dalam memburu Abu Bakar al-Baghdadi.

Disebut dalam laporan itu, perempuan tidak terlalu menarik perhatian dan bisa memasuki daerah-daerah padat tanpa menimbulkan kecurigaan dan dapat lebih mungkin melewati poin-poin pengecekan dengan tidak terdeteksi.

Laporan itu menyebut sejak proklamasi apa yang disebut 'Khilafah' oleh Abu Bakar al-Baghdadi di tahun 2014, ratusan perempuan dan gadis remaja dari seluruh dunia melakukan perjalanan ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan ISIS.

Mereka melakukan berbagai peran, seperti menjadi ibu dan istri para jihadis, orang yang melakukan propaganda, perekrut, pengajar, petugas administrasi, logistik, dan medis, hingga orang yang melaksanakan ekekusi serangan.

Hak atas foto Reuters
Image caption Menurut Presiden Trump, pemimpin ISIS sudah lama diincar oleh AS.

"ISIS membuka ruang bagi perempuan untuk berpartisipasi. Alasannya adalah perempuan juga punya kewajiban karena kondisinya darurat, mereka punya kewajiban untuk turun dan berperang," ujar Dete.

Hal ini jauh berbeda, kata Dete, dengan apa yang dilakukan Al Qaeda dan kelompok yang terafiliasi organisasi itu, Jemaah Islamiyah, yang melibatkan perempuan hanya untuk keperluan logistik atau medis.

Para perempuan pengikut ISIS, ujarnya, menganggap Nusaibah bin Ka'ab, yang mengikuti perang Badar dan menyelabatkan Nabi Muhammad SAW, sebagai figur panutan.

Masih dari laporan Seran de Leede, karena secara umum perempuan tidak dilihat sebagai pelaku kejahatan, penugasan perempuan sebagai petempur dapat mengirimkan pesan intimidasi, yang mengimplikasikan bahwa tidak ada orang yang aman karena 'bahkan para perempuan ikut melakukan serangan'.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sekitar 70.000 perempuan dan anak-anak tertahan di kamp terbesar di utara Suriah, al-Hol.

Hal itu dapat mempermalukan laki-laki, dan memotivasi mereka untuk terlibat dalam serangan.

Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irfan Idris, sebelumnya, mengatakan sejak Februari lalu pihaknya telah membentuk kelompok kerja yang melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga untuk melakukan kontra-radikalisme ke kelompok perkumpulan perempuan.

Lembaga pemerintah yang digandeng itu meliputi Kementerian Agama, Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Kontra-radikalisme itu, kata Irfan, difokuskan di empat lokasi yakni Medan, DKI Jakarta, dan Banten, Jawa Barat, untuk memantau ada atau tidaknya gejala aksi terorisme.

Belum ada konfirmasi independen terkait terbunuhnya al-Baghdadi, sementara ISIS sendiri juga belum memberikan reaksi.

Berita terkait