Samarinda: Mayat balita tanpa kepala diduga tewas "tercebur di parit" bukan pembunuhan, kata polisi

samarinda Hak atas foto Zakarias Demon Daton
Image caption Kapolresta Kota Samarinda, Kombes Arif Budiman, di lokas penemuan mayat balita tanpa kepala.

Mayat balita tanpa kepala yang ditemukan di saluran drainase Kota Samarinda, pada Minggu (08/12), diduga bukan korban pembunuhan, kata kepolisian setempat.

Kapolresta Kota Samarinda, Kombes Arif Budiman, mengatakan kepada wartawan bahwa bocah tersebut diduga tewas setelah "tercebur di parit". Dia menegaskan tidak ditemukan indikasi pembunuhan.

"Kita tidak mau berasumsi macam-macam karena sampai saat ini belum ditemukan adanya pembunuhan, mutilasi," ujar Arif, Selasa (10/12).

Sepasang suami-istri menyebut jenazah balita tanpa kepala itu adalah anak mereka yang hilang dua pekan lalu setelah dititipkan di sekolah usia dini.

Apakah balita itu adalah Yusuf, balita yang hilang dari PAUD?

Sepasang suami istri, Bambang Sulistyo (37) dan Melisari (30), mengklaim balita yang ditemukan tewas tanpa kepala itu adalah anak kandung mereka yang bernama Yusuf Achmad Ghazali.

Mereka menyebut Yusuf yang berusia empat tahun ini hilang sejak 22 November lalu setelah berkegiatan di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Jannatul Athfaal.

Mereka menyebut mengenali jasad itu sebagai Yusuf melalui baju terakhir yang dipakai anak mereka.

Hak atas foto Zakarias Demon
Image caption Ruang jenazah tempat jasad bayi tanpa kepala disemayamkan.

Saat terakhir kali terlihat beraktivitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Jannatul Athfaal, Yusuf disebut memakai baju merah berlengan hitam dan bergambar tugu Monas.

"Kami sudah tidak mengenali fisik. Namun pakaian yang digunakan mendekati kemiripan bahwa itu keponakan kami yang hilang dua minggu lalu," kata Lukman, yang mengklaim sebagai paman Yusuf.

Berdasarkan penyelidikan sementara, kepolisian menduga mayat balita adalah Yusuf— yang terjerembab ke dalam parit sejauh 20 meter dari PAUD.

"Di depan rumah penitipan itu lebih-kurang 20 meter itu ada parit. Kemungkinan anak ini berjalan melihat keluar, anak kecil empat tahun mungkin tidak lihat parit akhirnya jatuh," papar Kapolresta Kota Samarinda, Kombes Arif Budiman, Selasa (10/12).

"Dari jarak antara rumah penitipan ke sini itu lebih-kurang 4,5 km," imbuhnya, seperti dikutip Zakarias Demon Daton, wartawan di Samarinda yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Hak atas foto Zakarias Demon Daton
Image caption Kapolresta Kota Samarinda, Kombes Arif Budiman, memaparkan temuan penyelidikan sementara.

Lokasi penemuan balita tanpa kepala dan PAUD Jannatul Athfaal terhubung lewat drainase Karang Asam Kecil. Total ada empat sistem drainase di Samarinda. Semua sistem itu terhubung ke Sungai Mahakam dengan ketinggian drainase beragam. Adapun kedalaman parit penemuan mayat balita berkisar satu hingga dua meter.

Sebelumnya, Kepala PAUD Jannatul Athfaal, Mardiana, saat Yusuf hilang, kondisi di PAUD sedang hujan deras.

Selang 16 hari kemudian, jasad balita tanpa kepala ditemukan di parit Jalan Antasari, Samarinda Ulu, sekitar pukul 05.30 Wita.

Hak atas foto Suriyatman/Detikcom
Image caption Prarekonstruksi kasus balita tanpa kepala di Samarinda.

Mayat balita dimakan reptil?

Melalui hasil pemeriksaan forensik polisi, ditemukan kulit reptil pada mayat bayi tanpa kepala.

"Kenyataannya memang badannya tidak utuh. Kita sudah koordinasi dan panggil ahli forensik untuk menjelaskan bahwa sementara yang didapat adalah di dalam tubuh anak ini ada kulit reptil," papar Kapolresta Kota Samarinda, Kombes Arif Budiman, Selasa (10/12).

Arif masih menunggu pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui apakah mayat balita dimakan reptil.

"Dalam perjalanannya 16 hari itu kan jasadnya lembek udah kena air, mungkin digigit binatang, tergerus batu, ranting-ranting sehingga saat ditemukan sudah tidak utuh lagi jasad Yusuf," imbuhnya.

Hak atas foto Zakarias Demon
Image caption Prarekonstruksi kasus penemuan jasad balita tanpa kepala dilakukan di PAUD Jannatul Athfaal, Samarinda, Senin (09/12).

Adakah unsur kelalaian?

Kepolisian menyelidiki dugaan kelalaian PAUD atas pengawasan balita yang dititipkan orang tuanya.

"Dugaan sementara ya memang anak ini tercebur akibat kelalaian pengasuh di rumah penitipan anak itu. Karena pengasuh ini ke toilet lima menit, anak ini menghilang, sudah diupayakan mencari saat itu juga tidak ketemu," ujar Kapolresta Samarinda, Kombes Arif Budiman, kepada wartawan, Selasa (10/12).

"Kita juga akan menyelidiki ke tempat awal sekolah penitipan. Apakah di sini ada unsur lainnya atau ada motif lain itu masih dalam penyelidikan. Kita sudah memeriksa beberapa saksi dengan demikian motif kelalaian itu di mana, kita harus lengkap (bukti)," sambungnya.

Dari keterangan saksi, balita Yusuf sempat ditinggalkan di salah satu ruangan sekitar lima menit di PAUD Jannatul Athfaal, Jl AW Syahranie, Samarinda. Saat balita Yusuf hilang, guru PAUD mencari-cari ke sekitar.

Polisi menyiapkan sangkaan Pasal 359 KUHP.

"Kelalaian (yang) mengakibatkan orang lain meninggal dunia," jelas Arif.

Hak atas foto Suriyatman/detikcom
Image caption Polisi memeriksa lokasi penemuan mayat balita tanpa kepala di Samarinda.

Ditemukan di parit

Jasad balita tanpa kepala pertama kali ditemukan di saluran drainase Jalan Pangeran Antasari II, Teluk Lerong Ilir, Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu (08/12) pukul 05.30 Wita.

Yang menemukannya adalah warga setempat, bernama Ika (40 tahun).

Ika berkata, awalnya ia mengira jasad itu boneka. Namun setelah mengecek bersama suaminya, Ika melihat jasad balita yang tak memiliki kepala, kaki dan tangan.

Ika dan suaminya lantas melapor ketua RT. Laporan itu diteruskan ke Polsek Samarinda Ulu.

Satu jam setelah penemuan, anggota kepolisian mengevakuasi jasad itu ke ruang jenazah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Syaharie.

Sepasang suami istri, Bambang Sulistyo (37) dan Melisari (30), datang ke RSUD Abdul Wahab Syaharie sekitar pukul 11.00 Wita.

Setelah menunggu jenazah dibersihkan petugas rumah sakit, sekitar pukul 16.30 WITA, keduanya melihat jasad lalu mengakuinya sebagai anak mereka yang hilang.

Suami istri itu mengatakan jasad itu adalah anak kandung mereka yang bernama Yusuf Achmad Ghazali.

Pasangan Bambang Sulistyo dan Melisari menyebut Yusuf hilang dua pekan lalu setelah berkegiatan di PAUD Jannatul Athfaal.

Hak atas foto Zakarias Demon Daton
Image caption Saluran drainase tempat mayat balita tanpa kepala ditemukan di Samarinda.

Sejumlah guru di sekolah itu berkata bahwa Yusuf menghilang setelah bermain dengan enam bocah lain dalam kelas.

Semua murid saat itu disebut tengah menunggu jemputan orang tua masing-masing.

Kepala PAUD Jannatul Athfaal, Mardiana, berkata saat Yusuf dan kawan-kawannya bermain, mereka luput dari pengawasan guru.

Saat Yusuf menghilang, Samarinda diguyur hujan lebat.

Pada Senin (09/12), sebanyak 22 adegan diperagakan orang-orang yang terakhir kali beraktivitas dengan Yusuf.

Proses prarekonstruksi itu mencakup ruangan PAUD hingga ke akses jalan masuk.

Enam pegawai PAUD dilibatkan, termasuk Kepala PAUD Mardiana. Damus mengatakan pra rekonstruksi dilakukan guna menguatkan kronologis awal hilangnya Yusuf.

Kasus-kasus balita tewas

Kasus balita tewas secara mengenaskan terjadi setiap bulan selama empat bulan terakhir. Selain mayat bayi tanpa kepala di Samarinda, terdapat sejumlah kasus di berbagai daerah. Beberapa di antaranya:

  • November 2019: Seorang bayi baru lahir dimasukkan ke dalam mesin cuci hingga akhirnya meninggal di Palembang, Sumatera Selatan. Polisi menyebut pelakunya adalah ibu sang bayi.
  • September 2019: Seorang balita tewas diduga akibat dianiaya oleh ibu tirinya di Kota Bogor, Jawa Barat. Bocah perempuan ini mengalami luka lebam di sekitar punggung dan tangannya.
  • Agustus 2019: Seorang bayi berumur 15 bulan tewas, diduga dibunuh ayah kandungnya. Bayi itu, menurut polisi, dibanting ke tembok sebanyak tiga kali. Dia meninggal dengan luka dalam di bagian kepala.

Topik terkait

Berita terkait