Dua dekade setelah bom Natal di Mojokerto: 'Kami cuma cari kebaikan'

perayaan natal, gereja, pengamanan Hak atas foto Didik Suhartono/Antara
Image caption Perayaan Natal terkait erat dengan upaya pengamanan berlapis dari petugas gabungan dan elemen masyarakat.

Hampir dua dekade berlalu sejak ledakan bom setelah kebaktian Natal di sebuah gereja di Mojokerto, Jawa Timur, menewaskan seorang Muslim anggota Banser. Jemaat gereja dan warga Muslim tetap menjaga hubungan yang inklusif.

Saat bom meledak pada malam Natal 24 Desember tahun 2000, di Gereja Eben Haezer, Mojokerto, Jawa Timur, sebagian besar jemaat sudah meninggalkan gereja usai kebaktian Natal. Hanya ada beberapa pemuda dan pengurus gereja, termasuk pendeta Rudi Sanusi Wijaya.

"Setelah peristiwa itu ada yang trauma, tetapi tidak terlalu takut. Kami tetap beribadah. Cuma kami (saat ini) lebih waspada menjaga keamanan yang dibantu oleh aparat," ungkap Rudi ketika ditemui wartawan Roni Fauzan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Pengurus gereja yang beranggotakan 500 orang itu menginginkan perayaan Natal yang sederhana dan khidmat. Selain pernak-pernik sederhana, hanya ada pohon Natal yang diletakkan di dekat altar gereja.

"Saat ini kami lebih fokus pada perkara rohaninya, untuk membawa kehidupan rohani sidang jemaat supaya makin bertumbuh," tuturnya.

Bicara soal pengamanan gereja, Rudi mengakui bahwa jemaat gereja masih menjalin hubungan yang baik dengan Nahdlatul Ulama, organisasi Muslim terbesar di Indonesia yang menaungi Barisan Ansor Serbaguna (Banser), dan keluarga Riyanto.

"Kami memang tidak bisa memberi apa-apa. Mas Riyanto adalah tulang punggung keluarganya, dan kami bersepakat untuk membantu memberikan beasiswa pendidikan pada adik mas Riyanto hingga S1," kata Rudi.

Hak atas foto Roni Fauzan/BBC Indonesia
Image caption Jemaat Gereja Eben Haezer di Mojokerto, Jawa Timur, merayakan Natal secara sederhana.

Pada Natal 2000, publik dikejutkan dengan peristiwa pengeboman beberapa gereja di Mojokerto, Jawa Timur, yang menelan dua korban jiwa, termasuk Riyanto.

Riyanto tengah melaksanakan tugas organisasi untuk turut membantu aparat keamanan melakukan penjagaan malam Natal di Gereja Eben Haezer di Jalan Kartini, Mojokerto.

Riyanto menjadi korban setelah membawa lari sebuah tas yang berisikan bom, menjauh dari lokasi gereja. Bom meledak dan Riyanto meninggal dengan kondisi yang mengenaskan.

Inspirasi toleransi di tengah keberagaman

Ketua GP Ansor Kota Mojokerto, Ahmad Saifulloh, mengaku bahwa dirinya dan anggota Banser Ansor Mojokerto sangat terinspirasi oleh pengorbanan Riyanto. Ia menyebut almarhum Riyanto sebagai "bukti upaya memelihara toleransi atas kemajemukan dan kebhinekaan Indonesia."

"Kami mendapatkan pelajaran berharga dari almarhum Riyanto tentang bagaimana kita merawat toleransi di antara sesama masyarakat Indonesia, bagaimana kita menghidupkan (kesadaran) bahwa kita sama-sama manusia yang hidup di Indonesia.

"Kita harus tetap baik untuk menjunjung kebhinekaan di Indonesia," ujar pemuda yang akrab dengan panggilan Gus Mad ini, ketika ditemui di kantor PCNU Kota Mojokerto.

Peristiwa tragis yang terjadi hampir dua dekade lalu itu juga merekatkan hubungan antarumat beragama, kata Saifulloh.

"Sehingga hari ini, kita dengan saudara-saudara Kristiani menganggap bahwa Riyanto ini tidak hanya menjadi milik NU atau milik Banser, tapi juga milik umat Kristiani dan umat agama lain, dan milik Kota Mojokerto secara umum.

"Setiap acara haul (peringatan kematian) Riyanto juga melibatkan semua unsur umat beragama di Mojokerto," katanya.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Mengenang Riyanto, 'pahlawan Natal' dari Mojokerto

Nama Riyanto kini dikenang sebagai nama jalan di Mojokerto. Jalan Riyanto menggantikan nama jalan yang dulunya dikenal dengan nama Jalan Prajurit Kulon.

'Cuma cari kebaikan'

Bagi keluarga, almarhum Riyanto adalah sosok yang pendiam. Lahir dari keluarga sederhana yang ayahnya, Sukarmin, adalah tukang becak, dan ibunya Katinem yang hanya sebagai ibu rumah tangga biasa, Riyanto terbiasa dididik untuk senang membantu siapa saja tanpa melihat latar belakang agama.

Hak atas foto Roni Fauzan/BBC Indonesia
Image caption Semasa hidup, Riyanto terbiasa dididik untuk senang membantu siapa saja tanpa melihat latar belakang agama.

Katinem mengungkapkan bahwa hubungan yang baik, terutama dengan pengurus gereja Eben Haezer, terjalin sejak dulu ketika gereja tersebut masih dipimpin oleh ayah Pdt. Rudi.

Suaminya, Sukarmin, kerap dimintai tolong untuk mengantarkan beberapa anggota jemaat beribadah ke gereja.

Katinem menyambung, "Orang tidak punya seperti kami cari apa sih? Cuma cari kebaikan di lingkungan. Bisanya apa ya bantu, cuma gitu. Pokoknya ndak aneh-aneh," ujar Katinem.

Pengamanan libatkan unsur masyarakat

Sebanyak 5.600 personel gabungan dikerahkan untuk mengamankan Natal dan tahun baru di Jawa Timur.

Menurut Kapolda Jawa Timur, Irjen Luki Hermawan, berdasarkan arahan dari Kapolri, pengamanan Natal bukan hanya menjadi wewenang Polri.

"Karena pengamanan Natal ini bukan hanya milik Polri, tapi juga TNI, kita libatkan pemangku kepentingan yang lain, bahkan tokoh agama. Ketua MUI, ketua NU, ketua Muhammadiyah, dan ormas Islam lainnya kita libatkan dan kehidupan toleransi ini harus betul-betul kita jaga," kata Luki.

Polisi juga telah mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aksi intoleran.

"Kita akan tetap memantau potensi aksi sweeping. Jangan melakukannya sendiri dengan gaya-gaya preman. Tapi yang jelas, saya yakin masyarakat Jawa Timur masih bisa diajak komunikasi dengan baik," ujar Luki.

'Bagimu agamamu, bagiku agamaku'

Tradisi pelibatan elemen masyarakat dari organisasi Muslim dalam pengamanan Natal juga terawat dengan baik di Surakarta, Jawa Tengah.

Tak kurang dari 300 personel Banser dikerahkan untuk menjaga kenyamanan dan keamanan para jemaat gereja melaksanakan misa maupun kebaktian Natal di Surakarta.

Ketua GP Ansor Surakarta, Arif Saifuddin, menjelaskan keterlibatan Banser menjaga gereja sebagai bentuk kepedulian dan wujud toleransi beragama.

"Teman Banser mau menjaga gereja itu sebagai bentuk kepedulian kita dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Konsep dasarnya itu lakum dinukum waliyadin: bagimu agamamu, bagiku agamaku," kata dia saat ditemui di Kantor PCNU Surakarta oleh wartawan Fajar Sodiq yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

Arif menyebutkan pelibatan Banser dalam pengamanan gereja di hari-hari besar umat Kristiani didasarkan pada permintaan masing-masing pengurus gereja. Anggota Banser berjaga di luar area gereja bersama dengan petugas dari polisi dan TNI.

Jumlah anggota yang berjaga di gereja pun akan disesuaikan dengan jumlah jemaat gereja.

Kehadiran anggota Banser yang merupakan organisasi Islam, menurut Arif, turut membantu memberi kenyamanan bagi jemaat gereja, yang tak jarang menjalin hubungan persahabatan dengan anggota Banser.

Salah satu jemaat Gereja Katolik Santo Antonius Surakarta, Yohanes Fidelis Sukasno, mengaku menjalin hubungan pertemanan dengan Arif.

"Saya berteman akrab dengan Mas Arif. Kami sering bertemu ketika (Arif) sedang bertugas berjaga di gereja," kata dia.

Perasaan serupa juga diungkapkan oleh salah satu jemaat Gereja Katolik Santo Petrus Surakarta, Yustinus Galih Ardan Iswara.

Menurutnya, kehadiran Banser yang ikut menjaga gereja bersama dengan petugas keamanan lainnya memang sangat membantu meningkatkan keamanan dan kenyamanan di lingkungan gereja.

"Kami merasakan kekhidmatan saat beribadat karena merasa terlindungi, dijaga oleh ormas Islam besar," katanya.

Topik terkait

Berita terkait