Penyebab jatuhnya bus Sriwijaya di Pagar Alam, Sumsel: Kualitas supir jadi perhatian

Bus jatuh Hak atas foto Pelsen Abadi/ANTARA FOTO
Image caption Petugas membawa jenazah korban kecelakaan bus Sriwijaya untuk diserahkan kepada pihak keluarga di RSUD Besemah, Pagaralam, Sumatera Selatan, Selasa (24/12).

Terulangnya kembali kecelakaan bus umum di Pagar Alam, Sumatera Selatan, yang menewaskan sedikitnya 34 orang penumpang dan supirnya, memunculkan kembali kritikan terhadap minimnya kesadaran dan perhatian perusahaan bus terhadap ketrampilan dan pengetahuan pengemudi, kata pengamat.

Kecelakaan bus pada Senin malam (23/12) lalu merupakan kecelakaan bus dengan korban jiwa terbesar selama 2019.

"Kita diberi kenyataan bahwa enggak ada sekolah mengemudi untuk kendaraan besar angkutan umum di Indonesia," kata Erreza Hardian, instruktur pengemudi dari lembaga Rivat Driving Laboratorium kepada BBC News Indonesia, Rabu (25/12).

"Karena enggak ada sekolahnya, mereka belajar pada orang-orang yang tidak kompeten. Artinya secara mengemudi, mereka tidak bisa mengendalikan dan tidak punya standar kerja, itu pasti jadi masalah," tambahnya.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan kepolisian sejauh ini masih menyelidiki penyebab kecelakaan bus, namun menurutnya, insiden ini tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa sebagian perusahaan bus tidak memperhatikan kualitas supirnya.

"Memang harus 'digetok' pengusahanya. sudah waktunya ketika ada kecelakaan, integrasi hukumannya adalah literasinya berjenjang," kata Erreza.

Dengan demikian, tanggungjawab tidak sepenuhnya dipundak supir.

Jalan keluarnya, menurutnya, kompetensi pengemudi - yaitu pengetahuan, ketrampilan dan etika - harus ditambah.

"Kalau ketrampilannya, sudah cukup bagus, karena mereka bertahun-tahun mengemudi. Sekarang kita tinggal tambah dua lagi yaitu pengetahuan dan etika," katanya.

Adapun pengetahuan supir, menurutnya, antara lain meliputi kemampuan pengetahuan tentang kendaraannya, jalan, serta pengetahuan teknis remnya.

"Nah, kalau etika itu adalah sesuatu yang tidak tertulis, tapi contohnya harus ditekankan bahwa pengemudi angkutan umum ini membawa banyak orang, banyak nyawa," tandasnya.

Kecelakaan bus di Pagar Alam, Sumatra Selatan, yang menewaskan sedikitnya 35 orang penumpang dan supirnya, Senin (23/12) malam lalu, merupakan kecelakaan bus dengan korban jiwa terbesar selama tahun ini.

Hak atas foto Pelsen Abadi/ANTARA FOTO
Image caption Petugas gabungan dari SAR Pagar Alam, TNI, Polri, BPBD dan Tagana melakukan evakuasi korban kecelakaan Bus Sriwijaya, Selasa (24/12).

Belum diketahui penyebab pasti jatuhnya Bus Sriwijaya ke dasar jurang setinggi lebih dari 50 meter tersebut, namun salah-satu fokus penelitian kepolisian adalah menelusuri kemungkinan rem bus itu tidak berfungsi dengan baik atau kelalaian supir.

"Kalau kita mendengar keterangan saksi-saksi (penumpang yang hidup) itu kecepatan cukup tinggi, sehingga tidak bisa dikontrol oleh supir. Akhirnya menabrak beton di jalan tersebut," kata Kapolres Pagar Alam, AKPB Dolly Gumara kepada BBC News Indonesia, Rabu (25/12).

"Nah, apakah itu remnya blong atau tidak, perlu diteliti dan didalami lebih lanjut oleh tim. Tim ahli yang mengetahui seluk beluk tentang mekanik rem tersebut," tambahnya.

Ditanya apakah kepolisian sudah periksa pemilik perusahaan bus Sriwijaya, Dolly mengatakan "sudah pasti akan mengarah ke sana." Namun pihaknya saat ini fokus kepada gelar perkara dan evakuasi korban meninggal.

Apa temuan sementara KNKT?

Keterangan salah-seorang saksi penumpang yang selamat, menurut temuan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), menyebutkan bahwa pengemudi menjalankan bus itu dengan kecepatan tinggi.

KNKT juga menemukan fakta dari keterangan beberapa orang saksi yang menyebutkan bahwa bus itu melaju kencang karena "rem blong".

"Dari fakta di lapangan, dari keterangan penumpang, kami sudah ada gambaran, tapi ini berupa fakta dan ada saja," kata Wakil Ketua KNKT Haryo Satmiko kepada wartawan di dekat lokasi kejadian, Rabu (25/12).

Hak atas foto Dok Basarnas Palembang/ANTARA FOTO

"Dari dua informasi ini akan kami gali, betul atau tidak informasi yang kami dapatkan," tambahnya.

Mereka juga akan menelusuri hingga awal sebelum bus itu jatuh ke jurang.

Salah-satu langkah penyelidikan KNKT adalah memeriksa persneling bus tersebut, utamanya terkait klaim yang menyebut rem bus itu bermasalah.

"Kalau di pesawat itu black box, tapi dalam kecelakaan bus ini, kami secara spesifik, harus menemukan posisi persneling dari bus ini untuk bahan analisa kami," katanya.

Hal ini ditekankan Haryo karena kecelakaan ini, untuk sementara, tidak terlepas dari kemungkinan supirnya kelelahan dan masalah teknis rem blong.

Hak atas foto Dok Basarnas Palembang/ANTARA FOTO

Dalam waktu dekat, KNKT akan memintai keterangan perusahaan bus dan keluarga supirnya terkait "perawatan kendaraan" dan "riwayat pengemudi".

"Pertama, perawatan kendaraan, dan kedua riwayat pengemudi terutama saat 3X24 jam sebelum dia mengemudi, apa yang dilakukan," kata Haryo.

Tentang anggapan bahwa supirnya mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, Haryo belum bisa mengamininya.

"Karena kejadian malam hari, dia (saksi) tidak bisa memperkirakan kecepatan, karena posisi jalanan juga turunan. Jadi kami belum bisa menyimpulkan, karena data saling tali temali, saling berkaitan," paparnya.

Ditanya apakah bus itu ada indikasi tidak layak jalan, Haryo mengatakan, secara faktuil, kendaraan itu "sudah layak jalan" karena ada bukti tertulis.

"Jadi secara legal aspek, mobil ini dinyatakan layak jalan, karena alat bukti atau faktanya adalah demikian, masih berlaku. Tapi juga namanya alat bisa saja dalam pengoperasian ada kerusakan," katanya.

Sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari Perusahaan Bus Sriwijaya atas kecelakaan yang menimpa busnya.

Mereka hanya menyatakan bahwa supirnya sudah berpengalaman.

Pada Rabu (25/12), tim SAR masih mencari kemungkinan ada korban meninggal yang belum ditemukan di sekitar bangkai bus di sungai di dasar jurang. Mereka juga menyisir di aliran sungai hingga radius dua kilometer.

Berita terkait