Penyerang Novel Baswedan, "dua anggota polisi aktif" ditangkap

Novel Baswedan Hak atas foto YULIUS SATRIA WIJAYA/ANTARA FOTO

Polisi menyatakan telah menangkap dua orang terduga penyerangan penyidik senior, Novel Baswedan, yang disebut sebagai anggota polisi aktif, demikian pejabat Polda Metro Jaya.

"Penyidik telah mengamankan dua terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, dalam jumpa pers, Jumat (27/12) petang.

Menurut Argo, keduanya adalah anggota polisi aktif yang berinisial RB dan RM. Mereka disebutkan diamankan di wilayah Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

"Mulai tadi (Jumat) pagi, sudah kita tetapkan sebagai tersangka," ungkap Argo.

Sementara Kabareskrim Irjen Pol Listyo Sigit, dalam jumpa pers yang sama, mengatakan, pihaknya telah "mengamankan terduga pelaku penyerangan Novel Baswedan".

"Pelalu ada dua orang, inisial RM dan RB," kata Listyo Sigit. "(Mereka) polisi aktif."

Argo dan Listyo tidak menjelaskan secara detil tentang motif dan peranan kedua terduga pelaku dalam penyerangan tersebut.

"Motif? Nantilah, ini kan baru pemeriksaan awal."

Menurutnya, pengamanan terhadap dua orang terduga pelaku ini melalui "proses penyelidikan dan penyidikan yang panjang".

Tim penyidik juga sudah melakukan olah TKP sekitar tujuh kali serta memeriksa sekitar 73 orang saksi. "Kami juga membentuk tim pakar dan tim teknis."

"Sehingga tadi malam, kita mengamankan yang diduga pelaku yang berinisial RB dan RM," ungkapnya. "Dan sudah kita interogasi."

Presiden Jokowi: 'Secepatnya diumumkan'

Sebelumnya telah beredar informasi yang menyebutkan bahwa kepolisian telah menangkap pelaku penyerangan Novel Baswedan.

Kepolisian juga pernah menyebut ada temuan signifikan dari kasus teror terhadap Novel Baswedan.

Usai bertemu Kapolri Jenderal Idham Azis, Senin (09/12). Presiden Joko Widodo telah meminta agar Polri mengungkap kasus teror Novel Baswedan secara cepat.

"Dijawab ada temuan yang baru yang sudah menuju pada kesimpulan. Karena itu, saya enggak kasih waktu lagi. Saya bilang secepatnya diumumkan. Siapa," kata Jokowi, Selasa (10/12).

Novel Baswedan disiram air keras pada 11 April 2017 setelah menunaikan salat Subuh di Masjid Al-Ihsan, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Apa komentar kuasa hukum Novel?

Sebelumnya, tim kuasa hukum Novel Baswedan, Haris Azhar mengaku telah mendengar Kapolri Jenderal Idham Azis melaporkan perkembangan kasus penyerangan air keras terhadap penyidik KPK itu ke Presiden Joko Widodo.

Dia mengaku masih menunggu perkembangan dari pelaporan tersebut. Hanya saja, dia memiliki kekhawatiran sendiri.

"Saya khawatir yang diumumkan pelaku-pelaku lapangan saja," ujar Haris di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (10/12).

Menurutnya, penyerangan air keras terhadap Novel Baswedan ini bukan hanya kejahatan biasa, tetapi kejahatan yang diduga sudah direncanakan dan terstruktur.

"Serangan terhadap Novel ini kan sistematis, terkait juga dengan serangan-serangan lain, jadi harusnya dilihatnya ada kontruksi besar bukan pelaku lapangan saja," kata dia.

Hak atas foto MUHAMMAD ADIMAJA/ANTARA FOTO

Kejadian penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan terjadi pada 11 April 2017.

Diketahui dua orang tak dikenal tiba-tiba menyiram Novel saat penyidik KPK itu pulang salat subuh berjamaah di masjid dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. 

Ungkap jendral yang terlibat

Polisi sempat menangkap tiga orang terduga pelaku, yakni Muhammad Hasan Hunusalela, Muhklis Ohorella, dan Ahmad Lestaluhu. Namun, ketiganya dilepas dengan alasan memiliki alibi kuat. 

Sementara Novel Baswedan, dalam wawancara dengan Mata Najwa- Juli 2017, sempat menyebut ada jenderal polisi aktif yang diduga memerintahkan tim penyidik menghapus sidik jari pelaku yang tertinggal di cangkir wadah air keras saat olah tempat kejadian perkara.

Namun Novel tak pernah mengungkap namanya saat ditanyai polisi. 

Sementara itu, tim advokasi Novel Baswedan menuntut agar jendral yang terlibat diungkap.

"Sejak awal jejak-jejak keterlibatan anggota Polri dalam kasus ini sangat jelas, salah satunya adalah penggunaan sepeda motor kepolisian," kata tim advokasi dalam pernyataan tertulis Jumat (27/12).

"Kepolisian harus segera mengungkap jendral dan aktor intelektual lain yang terlibat dalam kasus penyiraman dan tidak berhenti pada pelaku lapangan," tambah tim advokasi.

Topik terkait

Berita terkait