Banjir bandang hantam Kabupaten Lebak, bupati salahkan penambangan liar

lebak Hak atas foto Antara/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS
Image caption Sejumlah relawan membantu warga menyeberangi Sungai Ciberang untuk dievakuasi ke tempat aman di Kampung Susukan, Lebak, Banten, Kamis (02/01).

Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Lebak, Banten, menyebabkan sejumlah orang hilang dan ratusan bangunan rusak.

Bupati Lebak menuding penambangan liar di Taman Nasional Gunung Halimun Salak sebagai salah satu penyebabnya.

Sebanyak enam wilayah terdampak banjir tersebut, yakni Kecamatan Curug Bitung, Sajira, Cipanas, Lebak Gedong, Maja, dan Cimarga.

Berdasarkan data terbaru Polda Banten, banjir itu mengakibatkan sedikitnya delapan korban hilang.

Dari jumlah itu, dua orang diduga terseret arus dan enam lainnya diperkirakan tertimbun material longsoran.

Korban jiwa yang sudah ditemukan mencapai dua orang, menurut Kabid Humas Polda Banten, Kombes Polisi Edy Sumardi, sebagaimana dilaporkan wartawan di Lebak, Yandhi Delastama, pada Jumat (04/01).

"Tim DVI Polda Banten terus mendalami serta mencocokkan temuan ciri-ciri di tubuh korban dengan sidik jari. Saat ini masih dilakukan identifikasi oleh tim DVI di ruang jenazah RSUD Ajidarmo Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten," paparnya.

Hak atas foto Antara/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS
Image caption Sejumlah bangunan rusak akibat diterjang banjir bandang di Desa Sajira, Lebak, Banten, Rabu (01/01). Meluapnya Sungai Ciberang mengakibatkan sejumlah jembatan dan rumah rusak diterjang banjir.
Hak atas foto Antara/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS
Image caption Jalan longsor akibat terkena terdampak banjir bandang di Desa Lebak Gedong Lebak, Banten, Rabu (01/01).

Selain korban jiwa, Polda Banten mencatat data kerusakan bangunan, infrastruktur, dan pengungsi.

Di Kecamatan Maja, misalnya, 770 unit rumah dan satu jembatan rusak berat. Kemudian di Kecamatan Sajira 209 unit rumah rusak berat, 459 rusak ringan, dan merusak empat jembatan serta 10 musala.

Ribuan warga pun mengungsi di sejumlah lokasi di lima kecamatan.

Di Kecamatan Lebak Gedong, sebanyak 100 Kepala Keluarga (KK) mengungsi ke Gedung Serba Guna kantor Desa Banjar Irigasi.

Kemudian di Kecamatan Sajira, terdapat tiga posko pengungsian, pertama berada di Gedung PGRI sebanyak 171 KK, posko Desa Calung Bungur 75 KK, Desa Bungur Mekar 50 KK.

Hak atas foto Yandhi Delastama
Image caption Proses evakuasi warga hanya bisa mengandalkan perahu karet karena jembatan penghubung di lokasi itu hancur diterjang banjir bandang hari Rabu (01/01).

Sejumlah daerah terisolir

Akibat bencana banjir dan tanah longsor, sejumlah jalan dan jembatan terputus sehingga banyak daerah terisolir.

Bahkan ada warga yang harus diungsikan secara bergantian menggunakan perahu karet dari BPBD Lebak melintasi Sungai Ciberang yang arusnya cukup deras.

Perahu karet itu diikat, kemudian ditarik beramai-ramai oleh warga bersama TNI dan Polri.

"Lebak ini antardesa, antarkampung, antarkecamatan banyak dilalui jembatan. Kalau jembatannya putus, maka otomatis tidak bisa mengakses ke sana (daerah lain). Ditambah jalannya amblas. Jadi Lebak Gedong itu (daerahnya) curam, kemiringannya sekitar 90 derajat, di sana sinyal susah," jelas Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya.

Hak atas foto Yandhi Delastama
Image caption Sebanyak enam wilayah di Kabupaten Lebak terdampak banjir, yakni Kecamatan Curug Bitung, Sajira, Cipanas, Lebak Gedong, Maja, dan Cimarga.

Penambangan liar

Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, menyebut bencana banjir bandang dan longsor yang wilayahnya disebabkan aksi penggundulan hutan dan aktivitas penambangan emas liar di Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

"Ada penambangan liar di wilayah yang tidak diperuntukkan untuk itu. Akhirnya klimaksnya terjadi bencana banjir itu. [Tapi] ketika bencana terjadi, pemerintah yang disalahkan," kata Iti seperti dikutip wartawan Yandhi Delastama, Jumat (04/01).

Iti menerangkan, jika hutan gundul dan tanahnya digali oleh penambang liar, maka air tidak bisa meresap dengan baik ke dalam tanah.

"Ketika kemarau saja ada retakan, itu harus ditutup. Apalagi ini [musim hujan] di bawah tanah ada lubang-lubang, air curah hujan tidak bisa menahan. Ini yang menyebabkan ambruk, longsor," cetusnya.

Iti mengaku tidak bisa berbuat banyak di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, lantaran kewenangannya ada pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

"Ini kan berada di kawasan taman nasional, menjadi kewenangan di pemerintah pusat, di antaranya di bawah Kementrian LHK. Kami tidak bisa melakukan tindakan tanpa sinergis dengan seluruhnya. Makanya harus ada kebijakan langsung dari sana [pemerintah pusat]," terangnya.

Hak atas foto Antara/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS
Image caption Sejumlah rumah rusak dan masih belum dibersihkan karena tebalnya lumpur sisa banjir di Desa Calung Bungur, Lebak, Banten, Kamis (02/01).

Banten darurat banjir

Di Provinsi Banten, banjir tak hanya melanda wilayah Kabupaten Lebak.

Kota Tangerang, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang turut dilanda bencana serupa.

Karena luasnya bencana banjir, Pemprov Banten pun menyatakan wilayahnya darurat bencana banjir dan longsor yang berlaku hingga 14 Januari 2020.

"Selain itu kan curah hujan masih diprediksi tinggi. Jadi kewaspadaan dan kesiapsiagaan baik masyarakat maupun petugas harus ditingkatkan, untuk menghindari dampak yang lebih besar nantinya," kata Gubernur Banten, Wahidin Halim, Jumat (03/01).

Menurut Wahidin, pemerintah daerah terus melakukan inventarisasi kerugian hingga korban di berbagai titik banjir.

"Jumlah kerugian secara material belum [diketahui], karena masih menghitung jembatan hanyut, ditambah jalan. Belum lagi di Kota Tangerang cukup parah, ada 56 titik [banjir]," ungkapnya.

Topik terkait

Berita terkait