Kemendikbud dan Netflix: Kerja sama 'seharusnya juga mencakup dosen film'

Netflix Hak atas foto Getty Images
Image caption Kerja sama dengan Netflix dinilai dapat meningkatkan standar pembuatan film di Indonesia.

Kerja sama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan Netflix dalam bidang pengembangan kapasitas pembuat film pada umumnya disambut positif namun seorang pengamat mengingatkan bahwa kerja sama seharusnya juga mencakup dosen-dosen perfilman.

Hal itu diutarakan oleh Tito Imanda, ketua bagian Penelitian dan Pengembangan di Badan Perfilman Indonesia (BPI).

Ia menjelaskan bahwa dari sekitar 17 sekolah film yang ada di Indonesia, banyak dosen yang justru bukan lulusan pasca sarjana perfilman sehingga memiliki kapasitas yang terbatas.

Lebih lagi, ia mengatakan bahwa ada pula kesenjangan antara pendidikan film di Jakarta dan di daerah.

Maka, kata Tito, pengembangan kapasitas juga harus menyentuh instansi pendidikan demi mendorong perkembangan secara lebih merata.

"Jadi mahasiswa-mahasiswa film itu, langsung standar pengajarannya ditingkatkan. Jadi seharusnya bukan hanya pembuat film yang udah lulus yang mendapat pelatihan, tapi juga dosen-dosen film.

"Itu kalau kita mau ngomong jangka panjang beneran," ujar Tito kepada BBC News Indonesia, Minggu (12/01).

Namun, ia menyatakan memang hal itu membutuhkan dana yang lebih besar.

Kemendikbud pekan lalu mengumumkan bahwa Netflix akan mengucurkan dana sebesar US$1 juta (sekitar Rp13,7 triliun) untuk kerja sama yang akan dijalani selama satu tahun ke depan.

'Penulis skenario yang terbatas'

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, mengatakan kerja sama ini terdiri dari beberapa tahap.

Dalam tahap pertama, sekitar 10 sampai 15 penulis dan produser film Indonesia akan dikirim untuk mengikuti pelatihan di markas Netflix yang terletak di Hollywood, AS, terutama dalam hal pembuatan film yang ditujukan untuk layanan media Over-The-Top (OTT), atau yang menggunakan koneksi internet dan menayangkan film maupun serial sesuai pilihan penonton.

"Bukan hanya workshop penulisan, tetapi mereka juga diperkenalkan kepada fasilitas produksi yang ada di Netflix sehingga bisa mengenal karakter pembuatan film di OTT yang mungkin memang berbeda pada sinema pada umumnya," kata Hilmar kepada BBC News Indonesia melalui sambungan telepon.

Ia menambahkan bahwa juga akan ada rangkaian loka karya di Jakarta yang melibatkan lebih banyak lagi peserta.

Setelah itu, kata Hilmar, para peserta diharapkan menghasilkan naskah yang kemudian akan dipilih untuk menerima pendanaan untuk diproduksi sebagai Netflix Original Series.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Audy Alwi
Image caption Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim (kedua kanan) berbincang bersama Direktur Pelaksana Netflix Asia-Pacific Kuek Yu Chuang (kanan), sutradara film Timo Tjahjanto dan produser dan anggota Asosiasi Produser Film Indonesia Sheila Timothy, usai pengumuman tentang penyelenggaraan pelatihan penulisan naskah cerita film.

Para sineas film Indonesia menyambut baik kerja sama itu.

Sheila Timothy, seorang produser yang juga ikut menulis naskah film yang ia produksi berjudul 'Wiro Sableng', mengatakan salah satu keunggulan kerja sama ini adalah kesempatan untuk belajar langsung dengan para penulis Netflix.

Dalam hal ini, ia sebut, akan ada alih ilmu dan alih teknologi dari para penulis mancanegara dalam pengembangan cerita-cerita dengan kekhasan lokal yang dikemas agar bisa menarik perhatian audiens global.

"Sebuah film itu beranjak dari sebuah skenario yang akan menentukan alur storytelling itu sendiri. Maka memang penting sekali bagi penulis agar bisa memahami proses penulisan serta unsur-unsur yang penting dalam membuat naskah dengan standar dan kualitas yang baik," uja Sheila, yang juga adalah ketua Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI).

Hal serupa diutarakan oleh Joko Anwar, seorang sutradara, penulis skenario, dan produser film. Ia mengatakan bahwa kurangnya kemampuan dalam penulisan naskah adalah salah satu masalah terbesar dari sumber daya di perfilman Indonesia.

"Penulis skenario adalah profesi yang sangat jarang yang bisa ditemui di Indonesia. Jangankan kualitas, jumlahnya saja masih sangat jarang.

"Jadi kalau misalnya kita mau memproduksi banyak sekali film tapi tidak dimulai dengan skenario yang baik, filmnya tidak akan menjadi sebuah film yang baik," ujar pria yang menjadi penulis dan sutradara film horor populer 'Pengabdi Setan' yang dirilis pada tahun 2017.

'Meningkatkan standar'

Pengamat industri perfilman Tito Imanda mengatakan bahwa kerja sama ini memang akan menguntungkan dalam hal meningkatkan keterampilan untuk menciptakan karya-karya lokal untuk platfom digital yang sekaligus menjangkau audiens dari seluruh dunia.

Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki jumlah bioskop yang sangat terbatas, yaitu sekitar 2.000 layar, sedangkan jumlah film yang ditayangkan terus meningkat.

Dengan demikian, sineas perfilman harus memanfaatkan jalur-jalur lain untuk memaksimalkan penayangan karya mereka, seperti melalui penjualan film untuk ditayangkan di luar negeri, maupun pada platform OTT.

"Makanya, mau dipastikan, bahwa pembuat-pembuat film yang nantinya bisa kerja sama dengan Netflix ini memiliki standar sesuai standar internasional," ujar Tito.

D isisi lain, ia menambahkan bahwa Netflix juga ingin menguatkan kehadirannya di pasar Indonesia. Sehingga, Tito menilai bahwa seiring waktu, Netflix juga akan terus berusaha meningkatkan pasokan film Indonesia untuk menarik konsumen lokal.

Hak atas foto Getty Images

Direktur Pelaksana Netflix Asia-Pacific Kuek Yu Chuang, saat acara pengumuman pekan lalu, mengatakan kerjasama ini bertujuan untuk berkontribusi dalam meningkatkan potensi ekosistem kreatif dalam negeri, penciptaan, dan ekspor lebih banyak cerita khas Indonesia.

"Tujuan yang ingin kita tegaskan hari ini adalah bersama-sama membangun Indonesia kreatif yang lebih kuat, yang mampu menarik lebih banyak investasi, menghasilkan lebih banyak karya yang berkualitas dan dapat menghasilkan konten-konten Indonesia yang dapat dinikmati oleh dunia internasional," kata Kuek Yu Chuang dalam kata sambutannya.

Kerja sama ini hadir sementara ruang gerak Netflix dibatasi di dalam negeri sejak 2016 karena layanan yang tidak dapat diakses melalui salah satu perusahaan telekomunikasi lokal yaitu Telkom, yang merupakan sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Akibat pemblokiran ini, Netflix tidak bisa diakses oleh Telkom dan anak perusahaan seperti Telkomsel, Indihome, dan Wifi.id.

Terkait ini, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan hal itu berada di luar otoritas pihaknya.

Sementara itu, secara terpisah, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate pekan lalu mengatakan pemblokiran yang dilakukan oleh Telkom terhadap Netflix disebabkan karena masalah bisnis antara kedua pihak tersebut.

Berita terkait