Varian baru virus corona: Semua hal yang perlu Anda ketahui, apa lebih berbahaya dan apa dampaknya pada pengembangan vaksin?

Covid-19

Sumber gambar, ADEK BERRY/AFP

Pandemi Covid-19 sudah berjalan satu tahun, sejak kasus pertama di Wuhan pada akhir 2019. Angka kasus positif terus bertambah, lebih dari 100 juta orang terinfeksi di seluruh dunia, dan varian baru virus corona muncul di sejumlah negara.

Varian baru virus corona pertama kali ditemukan di Inggris dan para ilmuwan mengatakan varian ini lebih cepat menyebar. Belum lama ini, pemerintah Inggris juga diperingatkan bahwa mungkin varian ini juga lebih mematikan.

Pemerintah Indonesia menyatakan belum menemukan kasus varian baru virus corona.

Di Indonesia, lebih dari satu juta orang tertular, berdasar data Kementerian Kesehatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan, diperlukan waktu dua tahun untuk menghentikan penyebaran virus corona.

Seperti apa gejala serta penyebaran penyakit ini dan bagaimana perkembangan varian baru virus corona?

BBC Indonesia merangkum penjelasan para ahli dan dokter seputar wabah Covid-19.

Apakah varian baru virus corona lebih berbahaya?

Sumber gambar, Getty Images

Varian baru virus corona bermunculan dan disebut lebih menular daripada virus asli yang mengawali pandemi.

Ada ribuan versi atau varian virus Covid yang berbeda, tetapi perhatian para ahli terfokus pada:

  • Varian Inggris yang telah menjadi dominan di sebagian besar Inggris dan telah menyebar ke lebih dari 50 negara lain
  • Varian Afrika Selatan yang juga telah ditemukan di setidaknya 20 negara lain, termasuk Inggris
  • Varian dari Brasil

Sebetulnya kemunculan varian baru virus corona bukan hal mengejutkan, mengingat semua virus bermutasi saat membuat salinan baru dirinya untuk menyebar dan berkembang.

Beberapa jenis bahkan bisa berbahaya bagi kelangsungan hidup virus.

Namun beberapa jenis lainnya dapat membuatnya lebih menular atau mengancam.

Tidak ada bukti bahwa virus-virus varian baru itu dapat menyebabkan sakit yang lebih parah bagi mayoritas orang yang terinfeksi.

Seperti versi aslinya, risiko paling tinggi terjadi pada lansia atau pasien yang memiliki penyakit penyerta.

Khusus untuk virus corona varian baru Inggris, ada beberapa penelitian yang menunjukkan virus itu mungkin terkait dengan risiko kematian 30% lebih tinggi. Buktinya belum kuat dan datanya masih belum pasti. Penelitian yang lebih banyak sedang dilakukan.

Protokol kesehatan seperti mencuci tangan, menjaga jarak, dan mengenakan masker akan tetap membantu mencegah infeksi.

Namun mengingat varian baru tampak lebih mudah menyebar, penting untuk ekstra waspada.

Apa yang terjadi pada virus tersebut?

Ketiganya telah mengalami perubahan pada bagian spike protein, bagian dari virus yang menempel pada sel manusia.

Hasilnya, varian ini tampaknya lebih baik dalam menginfeksi sel dan menyebar.

Para ahli berpikir strain Inggris atau "Kent" muncul pada bulan September dan mungkin lebih menular hingga 70%, meskipun penelitian terbaru oleh Public Health England menyebut angka antara 30% dan 50%. Varian inilah yang telah mendorong lockdown terbaru di Inggris.

Varian Afrika Selatan muncul pada bulan Oktober, dan memiliki perubahan yang lebih penting pada spike-nya daripada varian Inggris.

Varian ini memiliki salah satu mutasi yang sama dengan mutasi di Inggris, ditambah dua lagi yang menurut para ilmuwan dapat lebih mengganggu keefektifan vaksin.

Salah satunya dapat membantu virus menghindari bagian sistem kekebalan yang disebut antibodi - beberapa penelitian menunjukkan hal ini.

Sumber gambar, Getty Images

Varian Brazil muncul pada bulan Juli dan memiliki tiga mutasi pada bagian spike yang berbentuk seperti paku pada virus, yang membuatnya mirip dengan varian yang ada di Afrika Selatan.

Apakah vaksin dapat melawan varian baru?

Penelitian sedang dilakukan untuk memeriksa hal ini dan beberapa hasil awal menunjukkan bahwa vaksin Pfizer dapat melindungi dari varian Inggris.

Vaksin yang ada saat ini dirancang berdasar varian sebelumnya, tetapi para ilmuwan percaya bahwa mereka masih harus bekerja untuk melawan varian yang baru, meskipun mungkin tidak cukup baik.

Hasil awal dari penelitian atas vaksin Moderna menunjukkan bahwa vaksin ini masih efektif melawan varian Afrika Selatan.

Vaksin melatih tubuh untuk menyerang beberapa bagian virus, tidak hanya bagian spike tersebut.

Varian yang muncul di masa depan bisa jadi lebih berbeda lagi.

Bahkan dalam skenario kasus terburuk, vaksin dapat dirancang ulang dan disesuaikan agar lebih cocok - dalam hitungan atau minggu atau bulan, jika perlu, kata para ahli.

Seperti vaksin flu, di mana suntikan baru diberikan setiap tahun untuk memperhitungkan setiap perubahan dalam virus flu yang beredar, hal serupa dapat terjadi untuk virus corona.

Bagaimana gejala umum Covid-19

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar,

Pemeriksaan covid-19 di Denpasar, Bali.

Gejala virus corona dimulai dengan batuk kering dan diikuti dengan gangguan pernapasan.

Batuk ini adalah batuk yang terus menerus selama lebih dari satu jam, atau mengalami batuk rejan selama tiga kali dalam periode 24 jam.

Biasanya butuh lima hari secara rata-rata hingga timbulnya gejala, kata para ilmuwan, namun bagi sebagian orang gejalanya lebih lambat terjadi.

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO mengatakan masa inkubasi Covid bisa sampai sekitar 14 hari.

Ada tiga gejala utama virus corona, kalau Anda mengalami salah satu dari gejala ini, Anda harus menjalani tes.

  • Batuk yang baru dan terus menerus - batuk yang sering selama lebih dari satu jam, atau mengalami tiga atau lebih periode batuk dalam waktu 24 jam.
  • Demam - suhu di atas 37.8C
  • Perubahan dalam indra penciuman atau indra perasa - dapat berupa tidak bisa merasakan atau mencium apapun, serta rasa yang dialami ini berbeda dari kondisi normal

James Gallagher, koresponden kesehatan dan sains BBC melaporkan, Pusat Kesehatan Masyarakat Inggris menyebut sekitar 85% orang dengan Covid akan memiliki setidaknya satu dari tiga gejala utama itu

Jika Anda mengalaminya, Anda disarankan untuk melakukan tes sesegera mungkin dan hanya meninggalkan rumah untuk menjalani tes.

Siapa pun yang tinggal dengan Anda, atau yang merupakan kelompok terdekat Anda, harus tinggal di rumah sampai Anda mendapatkan hasilnya.

Apakah setiap orang mengalami Covid yang sama?

Tidak.

Virus corona dapat memengaruhi banyak organ tubuh dan ada berbagai gejala yang tidak terlalu umum.

Para ilmuwan di King's College London, dengan menggunakan data dari 4 juta orang yang mencatat kesehatan mereka di aplikasi, mengatakan ada enam sub-jenis Covid, beberapa di antaranya merupakan ciri penyakit parah.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/NOVRIAN ARBI

Keterangan gambar,

Petugas medis saat mengontrol ruangan khusus untuk wabah virus corona di Ruangan Isolasi Infeksi Khusus Kemuning Rumah Sakit Dokter Hasan Sadikin di Bandung, Jawa Barat, pada awal pandemi

Berikut enam sub-jenis Covid itu:

  • Seperti flu tanpa demam: Sakit kepala, kehilangan daya penciuman, nyeri otot, batuk, sakit tenggorokan, nyeri dada, tidak demam
  • Seperti flu dengan demam: Sakit kepala, kehilangan daya penciuman, batuk, sakit tenggorokan, suara serak, demam, kehilangan nafsu makan.
  • Gastrointestinal: Sakit kepala, kehilangan daya penciuman, kehilangan nafsu makan, diare, sakit tenggorokan, nyeri dada, tidak ada batuk.
  • Kelelahan (parah tingkat satu): Sakit kepala, kehilangan daya penciuman, batuk, demam, suara serak, nyeri dada, kelelahan.
  • Kebingungan (parah tingkat dua): Sakit kepala, kehilangan daya penciuman, kehilangan nafsu makan, batuk, demam, suara serak, sakit tenggorokan, nyeri dada, kelelahan, kebingungan, nyeri otot.
  • Perut dan pernapasan (parah tingkat tiga): Sakit kepala, kehilangan penciuman, kehilangan nafsu makan, batuk, demam, suara serak, sakit tenggorokan, nyeri dada, kelelahan, kebingungan, nyeri otot, sesak napas, diare, sakit perut.

Para peneliti juga berpikir bahwa muntah, diare, dan kram perut bisa menjadi tanda infeksi virus corona pada anak-anak.

Kalau saya batuk apakah pasti saya tertular Covid-19?

Ada banyak virus lain yang memiliki gejala serupa dengan Covid-19, termasuk flu dan infeksi lain. Pusat Kesehatan Masyarakat Inggris mengatakan hampir setengah dari orang yang memiliki salah satu dari tiga gejala utama ternyata tidak mengidap Covid. Namun, mereka tetap harus menjalani tes.

Dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Diah Handayani menjelaskan virus corona 2019-nCoV memiliki gejala yang sama dengan infeksi virus pernafasan lainnya.

Diah mengatakan gejala ringan yaitu flu disertai batuk. Kemudian, jika memberat, akan menyebabkan demam dan infeksi radang tenggorokan.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar,

Pelanggan salon di Jakarta pada hari pertama pembukaan mal Senin (15/06).

Kemudian jika masuk ke saluran napas, kata Diah akan menyebabkan bronkitis.

"Yang berat ketika semakin jauh infeksi ke saluran napas bawah, itu Pneumonia lengkap. Selain itu, bisa juga disertai gejala infeksi virus ke organ lain, yaitu diare," katanya.

Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan bahwa selain gejala umum, seperti demam, batuk, dan letih, pengidap Covid-19 bisa merasakan:

  • sakit dan nyeri
  • tenggorokan sakit
  • diare
  • mata merah
  • pusing
  • kehilangan daya penciuman dan rasa
  • ruam pada kulit, atau pudarnya warna kulit pada jari tangan atau kaki

Bagaimana penyebarannya?

Sumber gambar, Antara

Keterangan gambar,

Pemerintah Indonesia mengaktifkan lagi pos pelayanan terpadu (posyandu) yang sempat terhenti akibat wabah Covid-19.

Diah Handayani yang juga merupakan dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan menjelaskan bahwa 2019-nCoV adalah virus yang menyerang sistem pernapasan manusia.

Bedanya dengan virus lain, ujar Diah, virus corona ini memiliki virulensi atau kemampuan yang tinggi untuk menyebabkan penyakit yang fatal.

Menurut Diah, virus ini berbahaya jika telah masuk dan merusak fungsi paru-paru, atau dikenal dengan sebutan pneumonia, yaitu infeksi atau peradangan akut di jaringan paru yang disebabkan oleh virus dan berbagai mikroorganisme lain, seperti bakteri, parasit, jamur, dan lainnya.

"Pertukaran oksigen tidak bisa terjadi sehingga orang mengalami kegagalan pernapasan. Itulah mengapa virus ini berat karena bukan lagi hanya menyebabkan flu atau influensa tapi dia menyebabkan Pneumonia," kata Diah saat dihubungi BBC Indonesia.

Diah melanjutkan proses penyebaran virus ini melalui udara yang terinhalasi atau terhirup lewat hidung dan mulut sehingga masuk dalam saluran pernafasan.

Virus ini masuk melalui saluran napas atas, lalu ke tenggorokan hingga paru-paru.

"Sebenarnya belum 100 persen. Tapi dilihat dari sekian ratus kasus yang dipelajari, dan sifat dasar virus, maka inkubasi virus ini dua sampai 14 hari. Itu mengapa kita mewaspadai periode dua minggu itu," kata Diah.

TIPS TERLINDUNG DARI COVID-19: Dari cuci tangan sampai jaga jarak

Apakah virus corona bisa disembuhkan?

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar,

Kasus positif Covid-19 di Indonesia meningkat menembus lebih dari 4.000 beberapa kali pada September ini.

Dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Paru Indonesia itu menegaskan bahwa semua virus corona, termasuk virus corona 2019-nCoV belum ada obatnya.

Diah menambahkan, walaupun virus ini memiliki risiko kematian, namun angkanya masih rendah dibandingkan orang yang terjangkit dan kemudian sembuh.

"Tapi bisa (disembuhkan), terbukti yang sakit sudah ribuan tapi yang meninggal kan sedikit. Jadi dia tetap sebuah virus yang bisa disembuhkan," katanya.

Jadi, kata Diah, proses pengobatan yang dilakukan adalah terapi pendukung dengan cara meningkatkan daya tahan tubuh.

"Boleh obat flu biasa kalau masih ringan, kalau demam diberi obat anti demam," katanya.

Diah menegaskan, beberapa korban meninggal umumnya tidak hanya semata disebabkan oleh 2019-nCoV, namun juga dipengaruhi faktor kerentanan seperti usia yang sudah tua sehingga daya tahan tubuh lemah dan juga penyakit lain yang sudah ada.

Bagaimana penanganannya jika terkena virus corona?

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar,

Para pasien virus corona dirawat di Rumah Sakit Jinyintan.

Diah menjelaskan prosedur yang dilakukan terhadap pasien terduga mengidap virus corona adalah dengan menempatkannya dalam ruang isolasi. Tujuannya, katanya, agar penularan ke orang lain dapat dicegah.

Jika terduga masih menunjukkan gejala awal, kata Diah, maka pasien akan mendapatkan obat demam, batuk dan flu, disertai dukungan makanan yang sehat agar meningkatkan daya tahan tubuh dalam melawan virus tersebut.

Keterangan gambar,

Proses rumah sakit

Jika, gejalanya hilang dan hasil telah negatif, ujar Diah, pasien kemudian akan dipulangkan. Pemeriksaan pembuktian pun kata Diah dapat dilakukan dengan cepat.

"Tapi kalau pasien sudah pneumonia, dan biasanya demam tinggi maka diinfus karena butuh cairan banyak, dan diberikan obat lainnya tergantung derajatnya," kata Diah.

"Kemudian, kalau benar-benar sembuh, batuk dan semua gejala hilang, kita pantau, terus kita pulangkan. Tidak perlu khawatir (menular) karena berarti badannya telah sukses melawan virus dengan sendirinya. Jadi tidak menular lagi," ujar Diah.

Cara mencegah: jalani pola hidup sehat dan etika batuk

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar,

Komisi Kesehatan Kotamadya Wuhan mengatakan sedikitnya 15 petugas medis di Wuhan terinfeksi virus tersebut.

Diah menjelaskan terdapat beberapa cara untuk mencegah tertular virus corona ini.

Pertama adalah dengan menjalani pola hidup yang sehat dengan cara memberikan asupan makan yang sehat dan sempurna.

Sumber gambar, WHO

Keterangan gambar,

Imbauan WHO agar mengurangi resiko terpapar virus corona.

Lalu, katanya, istirahat cukup dan mengimbau perokok untuk berhenti merokok.

"Berada di cuaca sekarang ini (hujan), kita tidak perlu terlalu lama di keramaian," katanya.

Kemudian, kata Diah adalah selalu cuci tangan usai ke tempat umum atau menyentuh alat-alat publik karena berpotensi mengandung virus yang disentuh oleh pengidap virus corona.

Tidak lupa juga, kata Diah, untuk menggunakan masker saat di ruang publik.

"Lalu bagi yang sakit flu dan batuk, tanamkan etika batuk. Jadi ketika batuk ditutup dengan tisu. Lalu jangan meludah sembarangan, buang dahak sembarangan, juga hindari kerumunan dan lekas periksa ke dokter. Itu tips kita." katanya.

Sosialisasi pada awal pandemi

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar,

Dua orang mengenakan masker di Jakarta, di tengah kepastian soal dua kasus virus corona.

Beberapa warga di Jakarta dan Bali yang dihubungi BBC pada akhir Januari 2020 mengungkapkan belum mendapatkan sosialisasi resmi dan memadai dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengenai langkah pencegahan dan penanganan jika terjangkit virus corona.

Jakarta dan Bali adalah dua kota besar yang mayoritas dikunjungi oleh warga negara China baik untuk berwisata ataupun berbisnis.

Seorang warga Jakarta yang bernama Fuad mengatakan mengetahui virus corona dari media massa. Ia mengungkapkan belum mendengar sosialisasi dari pemerintah mengenai langkah pencegahan dan penanganan jika terjangkit virus corona.

"Jadi sementara waktu, saya dan keluarga akan menghindari tempat umum dan keramaian seperti mall karena hingga kita belum ada info pasti tentang langkah pencegahan supaya tidak terkena dan jika sudah terpapar," kata Fuad saat dihubungi BBC Indonesia, Jumat (24/01).

Senada dengan itu, beberapa warga Bali seperti Kadek dan Wayan Martadana mengungkapkan belum mendapatkan sosialisasi resmi dari pemerintah.

"Belum (ada info dari pemerintah), tidak tahu yang lainnya. Saya tahu hanya dari berita," kata Kadek.

Walaupun demikian, mereka tidak merasakan kekhawatiran seperti yang dirasakan Fuad.

Wayan menjelaskan saat ini situasi di Bali tetap berjalan normal, walaupun ada penurunan penyewaan mobil yang dilakukan oleh turis China di Bali.

"Belum Pak (ada sosialisasi). tidak sama sekali (khawatir)," kata Wayan.

dalam peta

Kasus positif di seluruh dunia

Group 4

Upgrade browser Anda untuk melihat data interaktif

Sumber: Johns Hopkins University (Baltimore, Amerika Serikat), Kementerian Kesehatan

Data diperbaharui pada 17 April 2021 16.41 WIB

Kematian tertinggi ada di AS

Sejak pertengahan Agustus 2020, Amerika Serikat tercatat sebagai negara dengan jumlah kematian tertinggi akibat Covid-19, yaitu lebih dari 167.000 orang, atau hampir seperempat dari kematian global, yang telah mencapai lebih dari 759.000, menurut data Johns Hopkins University saat itu.

Meski demikian, Trump sebagai presiden saat itu menolak data tersebut.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengklaim bahwa tingkat kematian akibat Covid-19 di AS adalah "salah satu yang paling rendah di dunia".

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar,

Penumpang pesawat di bandara JFK di New York, Amerika Serikat, Jumat (13/03)

"Ketika Anda berbicara tentang tingkat kematian, saya kira yang terjadi adalah yang sebaliknya. Saya kira, tingkat kematian kita adalah salah satu yang paling rendah di dunia.

"Apa Anda punya angkanya? Yang saya dengar adalah, tingkat kematian kita adalah salah satu yang paling rendah di dunia. Anda punya angkanya? Coba beberkan. Yang saya dengar, tingkat kematian kita adalah yang paling rendah," kata Presiden Trump.

Hingga awal 2021, setelah Trump selesai menjabat, ttingkat kematian akibat Covid di Amerika masih berada di posisi teratas dibanding negara-negara lain.