Virus corona: Mahasiswa Indonesia di Wuhan ingin dievakuasi, Kemlu tunggu kebijakan pemerintah China

corona Hak atas foto ANTARA FOTO/M. Irfan Ilmie
Image caption Para penumpang kereta cepat baru tiba di Stasiun Tianjin, Kamis (22/01) dengan mengenakan masker untuk menghindari wabah virus corona jenis baru di Wuhan, China.

Puluhan mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di Wuhan, China, meminta pemerintah segera mengevakuasi mereka menyusul terus meningkatnya jumlah orang yang meninggal akibat virus corona.

Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Wuhan, Nur Musyafak, mengatakan sudah meminta kepada pihak KBRI di Beijing agar memulangkan mereka.

Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa rencana evakuasi warga negara Indonesia dari daerah yang terpapar virus corona akan sangat ditentukan oleh kebijakan pemerintah China.

Hingga saat ini, pemerintah China memberlakukan pembatasan pergerakan warga di kota-kota yang terdampak atau yang paling berisiko tinggi dalam penyebaran virus corona.

"Beberapa negara memang telah menyalurkan keinginannya untuk evakuasi warganya termasuk Amerika Serikat, Perancis, dan Australia. Semua negara, termasuk Indonesia, banyak tergantung dari sejauh mana pemerintah Tiongkok bisa mempertimbangkan saran dan tindakan bagi evakuasi tersebut: apakah evakuasi langsung kembali ke negara (asal) atau harus di wilayah China sendiri," kata juru bicara kemlu Teuku Faizasyah pada Senin (27/1).

Ia menambahkan, pihaknya belum bisa memberikan "pandangan definitif" mengenai wacana mengevakuasi WNI di Wuhan.

"Kami bangun komunikasi intens dengan pemerintah Tiongkok baik di tingkat pusat dan provinsi."

Faizasyah mengatakan saat ini terdapat 243 WNI yang berada di daerah karantina, antara lain di kota Xianning, Guangxi, Enshi, dan Xiangyang, yang semuanya terletak di Provinsi Hubei.

Setidaknya masih ada 96 mahasiswa yang masih tinggal di asrama-asrama kampus di Wuhan. Mereka, katanya, mulai dilanda rasa khawatir luar biasa sejak pemerintah China menutup seluruh akses transportasi di sana dan melarang masyarakat setempat keluar dari Wuhan.

Yang membuat tambah panik lagi, keluarga di Indonesia tak berhenti menelepon dan minta agar mereka segera pulang.

"Ya teman-teman ada yang minta pulang ke Indonesia, tapi sebenarnya semuanya ingin keluar dari Wuhan. Apalagi keluarga selalu telepon," ujar Nur Musyafak, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Wuhan kepada Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC Indonesia, Minggu (26/01).

"Soalnya kan kami tak bisa keluar (Kota Wuhan), tapi kami coba menenangkan teman-teman, cuma tak bertahan lama, tetap saja khawatir. Apalagi berita di Indonesia, Wuhan seperti kota zombi, itu bikin panik."

Pasok pangan di kampus

Sejauh ini menurut dia, kondisi kesehatan para mahasiswa baik. Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan kampus-kampus pada pertengahan Januari lalu memastikan tak ada satupun mahasiswa Indonesia yang terkena virus corona.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Aji Styawan
Image caption Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Semarang memindai penumpang pesawat asal Singapura menggunakan alat deteksi suhu tubuh di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Semarang, Jumat (24/01).

Tak cuma itu, kampus juga rajin membagikan masker, sabun cuci tangan, dan kerap memberikan informasi seputar virus 2019-nCoV. Kendati demikian, pihak berwenang mewanti-wanti agar tidak sering-sering keluar dan bepergian ke tempat ramai.

Sementara untuk kebutuhan makanan sehari-hari masih mencukupi lantaran toko di area kampus masih buka.

"Sampai saat ini supermarket di dalam kampus masih buka, jadi logistik masih aman."

Untuk diketahui, mahasiswa asal Indonesia yang menempuh pendidikan di Wuhan dan sekitarnya tercatat sebanyak 428 orang. Ratusan mahasiswa itu tersebar di enam kampus di sana, tapi paling banyak di Central China Normal University.

'Kami diinstruksikan jangan sering keluar'

Nur Musyafak juga bercerita, mula-mula mengetahui virus corona pada awal Januari silam lewat pemberitaan di media lokal. Tapi kala itu, kondisinya tidak terlampau parah dan hanya beberapa saja yang dilarikan ke rumah sakit.

Itu mengapa teman-teman mahasiswa Indonesia 'tidak terlalu menanggapi'. Begitu pula dari pihak KBRI tidak memberikan informasi atau peringatan apapun.

"Awal-awal (pemberitaan ada virus corona) tak ada kekahwatiran. Soalnya kita mikirnya ini virus biasa dan tidak akan bertahan lama," ujar Nur Musyafak.

"Dan waktu itu juga liburan musim dingin, jadi teman-teman sudah banyak yang pulang ke Indonesia atau traveling ke luar Wuhan, jadi tak terlalu mikirin ini," ungkapnya.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid
Image caption Seorang petugas mempersiapkan peralatan untuk tindakan medis pasien terinfeksi virus corona di ruang isolasi instalasi paru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dumai di Kota Dumai, Riau, Sabtu (25/01).

Dari pantauannya sejak seluruh transportasi di Wuhan diblokir, suasana di sana jadi sepi. Hanya ada satu atau dua orang yang berjalan di seputaran kota untuk membeli kebutuhan makanan.

"Tidak ramai lagi, karena transportasi ditutup, cuma mobil pribadi yang lewat soalnya masih ada supermarket yang buka."

"Sejauh ini juga tak ada pengetatan jam keluar, cuma kita diinstruksikan untuk jangan terlalu sering keluar."

"Kalaupun keluar kampus paling satu sampai dua jam saja, itupun pagi atau siang."

"Jadi bukan kayak di penjara, kalau butuh makanan bisa keluar."

Untuk menghilangkan bosan teman-teman mahasiswa, katanya, bertandang ke kamar teman yang lainnya.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Image caption Kementerian Kesehatan menyiagakan 100 rumah sakit rujukan dan menyiapkan termoscanner di 135 pintu masuk negara untuk mendeteksi masuknya virus yang tengah mewabah di Wuhan, China tersebut.

Pemeriksaan ketat bagi pelancong asal China

Sampai Minggu (26/01), setidaknya 56 orang dilaporkan meninggal dunia karena virus corona dan menginveksi lebih dari 2.000 orang di seluruh dunia.

Kementerian Luar Negeri pun meminta warga negara Indonesia yang hendak bepergian ke China agar memantau aplikasi travel advisory dan meningkatkan kehati-hatian.

Sementara di dalam negeri, Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Sesditjen P2P) Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto, mengatakan mengawasi betul pelancong asal China.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Aji Styawan
Image caption Sejumlah Bandara di Indonesia memasang alat pemindai suhu tubuh serta sejumlah fasilitas kesehatan khusus untuk mendeteksi penumpang yang turun dari pesawat sebagai upaya pengawasan dan antisipasi penyebaran virus corona.

Pemerintah, kata dia, telah berkoordinasi dengan pemangku kepentingan di semua bandara udara agar memperketat pemeriksaan kesehatan penumpang. Seluruh maskapai penerbangan dari China wajib mengecek para penumpangnya apakah sudah dipastikan lolos dari karantina kesehatan negara tersebut.

"Kalau karantina katakan boleh pergi, kita terima, kalau tak ya tidak boleh kita terima di Indonesia," ujar Achmad Yurianto kepada BBC lewat sambungan telepon.

Proses selanjutnya, penumpang yang siap diterbangkan diberi penjelasan oleh kru maskapai tekait penyakit virus corona. Jika di dalam perjalanan diketahui ada penumpang yang memiliki ciri-ciri terjangkit virus corona, maka pilot wajib berkomunikasi dengan petugas Air Traffic Control (ATC) bandara tujuan.

"Untuk kemudian setelah mendarat, pesawat akan diparkir di tempat yang tidak biasa digunakan untuk umum. Dari situ berlaku kewaspadaan karantina."

"Semua penumpang dalam pesawat itu akan kita karantina sebagai kecurigaan penyebaran."

Sementara itu, bagi penumpang yang dinyatakan terbebas dari virus corona akan diberikan Kartu Kewaspadaan Kesehatan yang berisi identitas lengkap.

"Saat mendarat pun, orang karantina yang akan masuk terlebih dahulu."

Disampaikan pula, jika dalam 14 hari sejak mendarat mengalami gejala panas, batuk, serta demam, agar segera ke rumah sakit.

"Dan menyerahkan kartu itu. Nanti pihak rumah sakit yang menerima akan kontak sistem kita dan akan meresponsnya."

Topik terkait

Berita terkait