Dampak virus corona bagi Indonesia: 'Sepi turis hingga berpotensi gerus nilai ekspor'

corona Hak atas foto Antara Foto

Pemerintah Indonesia diimbau mengantisipasi dampak ekonomi dari sejumlah kebijakan mencegah masuknya virus corona, termasuk pembatasan penerbangan dari dan ke China.

Tissa Septiani Indra, pengelola bisnis kapal wisatawan di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, sudah merasakan dampak wabah corona terhadap bisnisnya sejak Januari lalu, meski kebijakan penerbangan dari dan ke China baru resmi berlaku pada Rabu (05/02).

Apalagi, kata Tissa, sebagian besar tamunya berasal dari Wuhan, China.

Sebanyak 400 tamu dari China, yang telah membayar uang muka padanya, membatalkan perjananan, yang sebelumnya dijadwalkan di bulan Januari hingga Maret.

"Untuk Januari saja kerugiannya lebih dari Rp150 juta. Turis China biasanya datang di bulan Januari-Februari, sementara yang dari Eropa baru datang mulai Maret," ujar Tissa.

Tissa mengatakan hal ini sangat berdampak pada pemasukannya, apalagi melihat kebiasaan para turis China yang, menurut Tissa, selalu memilih opsi perjalanan mewah.

Hak atas foto ANTARA FOTO
Image caption Pesawat dengan nomor penerbangan CZ 626 merupakan pesawat terakhir dari Bali menuju China sebelum pemberlakuan pembatasan penerbangan dari dan menuju seluruh destinasi di China (05/02).

Kini, kapal-kapal yang dikelolanya hanya menganggur.

"Jadi ya sekarang kapal maintainance saja, poles sana-sini," ujarnya.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov mengatakan merebaknya virus corona di China tidak hanya berdampak pada sektor pariwisata, tapi juga perdagangan hingga investasi Indonesia.

Hak atas foto SOPA Images/GETTY IMAGES
Image caption Penyebaran virus corona dari Wuhan memaksa penduduk berbagai negara menggunakan masker di ruang publik. Foto ini diabadikan di Hong Kong, 31 Januari lalu.

Hal itu, ujarnya, perlu diantisipasi pemerintah.

"(Pemerintah perlu) meyakinkan pasar dan masyarakat jangan sampai ada kegaduhan-kegaduhan baru. Kita harap jangan sampai ada korban yang masuk ke Indonesia. Itu salah satu yang paling penting," ujarnya.

Virus corona telah menyebabkan lebih dari 400 orang meninggal dunia di China.

'Sudah rugi 30%'

Wabah virus corona tak hanya berdampak pada perjalanan dari dan ke China, tapi juga ke negara Asia lainnya, seperti Singapura dan Thailand, karena orang-orang takut bepergian, ujar Sekretaris Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno.

Hingga saat ini, kata Pauline, wabah itu telah membuat pengusaha jasa pariwisata kehilangan 30% keuntungan akibat pembatalan atau penundaan perjalanan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sebagian besar toko dan pasar di Wuhan tidak beroperasi sejak penyebaran virus corona.

"Potential loss-nya akan lebih banyak lagi (dari 30%)," ujar Pauline.

Sebelumnya, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) memprediksi potensi kerugian sektor industri pariwisata mencapai puluhan miliar per bulan karena anjloknya turis dari China.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kunjungan wisatawan China ke Indonesia selama Januari sampai Juni 2019 mencapai 1,05 juta orang, terbanyak kedua setelah wisatawan Malaysia.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Wabah virus corona diperkirakan akan membuat pertumbuhan ekonomi global menurun.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah berencana memberi tarif khusus penerbangan ke destinasi wisata domestik, untuk mengantisipasi penurunan dalam sektor pariwisata.

"Pemerintah akan mendorong penerbangan-penerbangan ke destinasi wisata seperti Bali, Kepri, Batam, Bintan, atau Manado, akan diperhitungkan untuk diberi tarif khusus yang akan dihitung," kata Airlangga.

'Sejumlah pekerja China tidak bisa kembali'

Pembatasan perjalanan tak hanya berdampak ke pariwisata, tapi juga ke investasi, khususnya di triwulan pertama, ujar peneliti Indef Abra Tallatov.

"Ini juga persoalan mobilitas orang. Investasi nggak lepas dari tenaga kerja asing, skilled worker yang ditentukan. Itu kan tersendat," ujarnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pemerintah Indonesia telah mengumumkan penghentian sementara impor hewan liar dari China (04/02).

Misalnya, sebanyak 300 tenaga kerja China pada proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) dilarang masuk kembali Indonesia setelah masa perayaan Imlek untuk mencegah menyebarnya virus corona di Indonesia.

Untuk mengantisipasi perlambatan proyek, PT KCIC mengatakan mereka mencoba mengoptimalkan pekerja yang ada.

"Perusahaan lebih mengoptimalkan sumber daya manusia yang ada dan mendorong pemenuhan tenaga kerja lokal untuk memastikan progres kontruksi berjalan dengan optimal," ujar PT KCIC melalui pernyataan tertulis.

Hak atas foto Getty Images
Image caption China adalah investor terbesar ketiga di Indonesia setelah Singapura dan Jepang.

China merupakan investor terbesar ketiga di Indonesia setelah Singapura dan Jepang.

Dari Januari hingga Juni 2019, investasi China di Indonesia mencapai US$2,3 miliar atau 16,2% dari total investasi asing di Indonesia.

Pelarangan impor kura-kura, ular

China adalah negara asal impor terbesar Indonesia.

Pemerintah Indonesia telah mengumumkan penghentian sementara impor hewan liar dari China (04/02).

"Keputusan bahwa kita dilarang mengimpor hewan-hewan yang hidup... ada yang kura-kura, ular, dan reptil, itu nggak boleh. Itu berkaitan dengan virus," ujar Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sejak Wuhan ditutup otoritas China, buruh migran asal Indonesia menyebut kota itu seperti kota mati, tanpa aktivitas massa di ruang publik.

Nilai impor binatang hidup mencapai US$231,640 (Rp 3,1 miliar) dari Januari hingga November tahun 2019.

Sementara impor produk lain, seperti holtikultura dan pangan berjalan seperti biasa.

Hak atas foto BBC Indonesia

'Gerus ekspor Indonesia'

Sebelumnya, di hari pertama perdagangan bursa saham China (03/01), sejak ditutup pada 23 Januari 2020 karena perayaan Imlek, saham anjlok sebesar 8%.

Sebagai upaya penyelamatan, Bank China berencana menggelontorkan uang sebesar 150 miliar yuan (Rp294 triliun) untuk menjaga stabilitas ekonomi.

"Para investor global menarik dananya dari China, maka pemerintahnya 'membanjiri' pasarnya dengan likuiditas supaya menahan dana-dana yang keluar. Itu menjadi warning bahwa ekonomi China akan turun pertumbuhannya," ujar peneliti Indef Abra Talattov.

Hak atas foto ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL
Image caption Petugas Kesehatan Karantina melakukan pemeriksaan acak suhu badan penumpang yang baru mendarat di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (22/01).

Penurunan ekonomi China, kata Abra, akan berdampak pada Indonesia.

Ia mengatakan hal itu bisa terjadi karena perlambatan ekonomi akan berdampak pada penurunan konsumsi dan produksi di China, yang berarti pula penurunan permintaan barang-barang dari Indonesia.

Hak atas foto Reuters
Image caption Petugas medis di Wuhan juga ada yang terjangkit virus corona.

China merupakan negara tujuan ekspor pertama Indonesia dengan pangsa pasar 16,6% dari total ekspor Indonesia, sebagaimana disebutkan oleh Jokowi dalam rapat terbatas di Istana Bogor (04/02).

Ekspor andalan ke China, antara lain adalah minyak kelapa sawit dan batu bara.

"Kebutuhan terhadap barang-barang impor China, seperti batu bara, CPO, dan barang ekspor lainnya akan menurun. Efek langsungnya ketika ekonomi China terganggu, ekspor kita juga akan tergerus," ujar Abra.

Senada dengan itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Joko Supriyono, mengestimasi akan ada perlambatan dalam permintaan CPO dari China.

Namun, ia mengatakan, hal itu dapat diantisipasi dengan perdagangan ke negara lain.

"Indonesia cukup terdiversifikasi ekspornya. Kita tidak hanya rely pada pasar China saja, kita ekspor ke 50 lebih negara," ujarnya.

Hak atas foto BBC Indonesia

Sementara itu, Jokowi telah meminta jajarannya melihat peluang lain.

"Saya kira di sini ada peluang untuk memanfaatkan untuk pasar ekspor ke negara-negara lain yang sebelumnya juga hanya mengimpor produk yang sama dari RRT," ujarnya (04/02).

Apa dampak pelemahan ekonomi China pada dunia?

Analis Oxford Economics memperkirakan dampak ekonomi dari virus corona "tinggi, tetapi sebentar, seperti dalam episode Sars 2003".

Dampak ekonomi global saat itu diperkirakan mencapai US$40 miliar.

"Namun, skala wabah dan dampaknya akan lebih buruk dibandingkan dalam kasus Sars, karena wilayah yang terdampak di China lebih besar, juga populasinya yang terdampak.

"Selain itu, kita tidak dapat mengesampingkan dampak yang lebih serius dan efek jangka panjangnya karena perbedaan perilaku virus, efek yang lebih besar dari pembatasan perjalanan dan penutupan perusahaan, juga keadaan ekonomi yang jauh lebih terhubung saat ini," ujarnya.

Hak atas foto Oxford economics

Perekonomian China tumbuh sekitar 6% tahun lalu.

Oxford Economics menganalisis pertumbuhan ekonomi negara itu akan turun menjadi 5,6% akibat corona. Sementara, pertumbuhan ekonomi global berpotensi turun sebanyak 0,2% akibat ini.

Hak atas foto EPA
Image caption Para pasien virus corona dirawat di Rumah Sakit Jinyintan.

Pengamat Indef Abra Tallatov mengatakan pemerintah Indonesia perlu menjaga psikologis pasar dan investor untuk mengantisipasi dampak ekonomi yang dapat terjadi.

"Kita bisa tunjukkan ke investor, Indonesia bisa baik-baik saja dan Indonesia mampu mengelola wabah ini, seperti contohnya dengan karantina di Natuna," ujarnya.

Berita terkait