Pertemuan pelaku dan korban teror bom: 'Di akhirat akan menjadi tanggungan saya kalau tak mendapat maaf'

terorisme Hak atas foto Getty Images/JUNI KRISWANTO
Image caption Muslim Indonesia berkumpul memperingati kematian para korban bom teroris di sejumlah gereja di Surabaya 13 Mei 2019 lalu.

Mata Choirul Ihwan alias Agus alias Heru, 40 tahun, merah dan berkaca-kaca saat menceritakan titik balik perjalanan hidupnya. Wajah mendiang ibunya terbayang-bayang di pelupuk mata bekas narapidana terorisme ini. Selama tiga hari berturut-turut, ibunya hadir dalam mimpinya.

"Esoknya saya telepon rumah. Di ujung telepon suara kakak perempuan menangis dan menyampaikan ibu meninggal beberapa jam yang lalu," kata Choirul saat memberi kesaksian dalam kursus singkat liputan terorisme berperspektif korban di Malang, 4-5 Februari 2020. Kematian ibunya menjadi titik balik untuk menjauhi jaringan terorisme di Indonesia.

Ikatan batin antara anak dan ibu nyata, katanya, padahal sebelumnya ia merasa tak mendapat kasih sayang keluarga. Setelah telepon, ia menangis sejadi-jadinya. Padahal Choirul mengkafirkan kedua orang tua dan keluarganya, dan memilih meninggalkan rumah pada 2009.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
'Bisakah Anda memaafkan ayah Anda?'

Choirul terpapar paham radikalisme sejak 2001, dan bergabung Jamaah Thaliban Melayu 2008. Ahli perakit senjata api dan bom, serta merekrut puluhan jamaah baru.

Dari tangannya puluhan senjata api diproduksi diberikan kepada para pelaku teror. Pada 2010, kelompoknya bertanggungjawab atas bom di Polres Cirebon.

Sebagian besar memilih bergabung dengan ISIS ke Suriah dan Irak. "Sebagian meninggal di sana," katanya kepada jurnalis Eko Widianto yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Ia ditangkap di Bekasi 2013 dan menjalani hukuman di Lapas Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Setelah menjalani hukuman selama empat tahun, ia dibebaskan pada 2017. Selama menjalani hukuman, Aliansi Indonesia Damai (Aida) berdialog dengan Khoirul. Kini, ia bergabung dengan tim perdamaian Aida.

Hak atas foto Getty Images/BAY ISMOYO
Image caption Belasan tersangka teroris ditangkap dalam rangkaian Pemilu 2019 lalu (17 Mei 2019). Sebagian ditangkap karena berencana memasang bom dalam aksi unjuk rasa Pemilu.

Sejak dua tahun lalu, ia beberapa kali dipertemukan dengan keluarga korban aksi terorisme. Dalam forum itu, Choirul meminta maaf atas kekerasan yang dilakukan jaringannya dan penderitaan yang dialami korban.

"Saya bukan pelaku langsung, tapi saya pernah mendukung aksi pelaku. Di akhirat akan menjadi tanggungan saya kalau tak mendapat maaf," katanya.

Aida melakukan pendekatan cukup lama sekitar setahun. Keduanya tidak langsung dipertemukan untuk menghindari gesekan. Alhamdullah, ujar Khoirul, saat dipertemukan kedua belah pihak saling memaafkan.

"Alhamdulillah, responsnya sangat baik. Mereka baik, dekat dan kekeluargaan. Kini seperti keluarga, saling tanya kabar keluarga," ujarnya.

Hak atas foto Getty Images/Dimas Ardian
Image caption Aksi doa bersama memperingati korban serangan Bom Bali II (3 Oktober 2005). Serangan bom ini menewaskan 26 orang.

Choirul memberikan kesaksian bersama Christian Salomo korban bom Kedutaan Besar Australia 9 September 2004. Christian mengaku awalnya sulit memaafkan pelaku lantaran menyebabkan penderitaan berkepanjangan. Bahkan ada serpiham logam yang tertanam di dalam tubuhnya.

"Saya harus menjalani operasi berulang kali," kata Christian.

Bahkan, kejadian itu menimbulkan trauma berkepanjangan. Hingga kini, ia mengaku ketakutan saat berdekatan dengan mobil boks. Trauma atas kejadian 16 tahun itu belum hilang dari memorinya.

Melawan trauma dan memberi maaf

Trauma yang sama juga dialami korban bom gereja di Surabaya, Jawa Timur. Desmonda Paramatha, 20 tahun, mengaku ketakutan jika bertemu dengan perempuan bercadar.

Seperti akhir Senin lalu saat menumpang kereta Surabaya-Malang, ia satu gerbong dengan perempuan bercadar. Pikirannya berkecamuk, takut kejadian bom di gereja terulang.

"Takut jika tiba-tiba meledakkan diri di depan saya," katanya.

Beberapa kali ia mengalami kejadian serupa. Ia berusaha memahami dan berdamai dengan batinnya menjauhkan prasangka buruk kepada perempuan bercadar. Selain itu, telinga sebelah kanan kadang masih mendengung.

Akibat ledakan bom, pergelangan tungkai patah dan serpihan logam menancap di leher. Kini, Desmonda memaafkan pelaku aksi bom bunuh diri.

Memberi maaf, katanya, agar pelaku tenang di alam lain. "Biarkan mereka tenang di alam sana. Serta mendapat ganjaran yang sepadan. Mau tak mau harus memaafkan," ujarnya.

Hak atas foto Getty Images/Oscar Siagian
Image caption Aksi damai bertajuk "Kami tidak takut" digelar pasca serangan bom bunuh diri di Jakarta Pusat (15 Januari 2016).

Sebelum memaafkan dengan tulus, kata Desmonda, ia senantiasa takut jika sendirian di kamar. Saat sendirian ingatannya langsung terlempar saat kejadian ledakan bom.

Sendirian dan tak ada yang membantu. "Puji Tuhan setelah memaafkan tak ada lagi ketakutan," ujarnya.

Bahkan, banyak temannya yang tak percaya jika ia cepat memaafkan pelaku aksi bom bunuh diri. Ia mengaku tak takut saat bertemu dengan bekas narapidana terorisme.

"Tak takut, saya percaya pelaku juga korban. Korban atas pengetahuan yang salah," ujarnya.

Pertemuan itu bisa saling menguatkan antar korban bom dan saling memaafkan. Desmonda bertemu dengan Choirul Ihwan setahun lalu. Kini, ia sering berkomunikasi antar korban maupun dengan bekas narapidana terorisme.

Hak atas foto Handout
Image caption Foto berasal dari sumber Pemerintah Surabaya yang menunjukkan detik-detik setelah ledakan bom bunuh diri di Gereja Pantekosta di Surabaya (13 Mei 2018)

Rekonsiliasi perbaiki jaring kemanusiaan

Deputi Direktur Aida, Laode Arham, mengatakan jika pelaku merupakan cermin kekerasan bom di tanah air. Sedangkan para korban mencerminkan dampak kekerasan dan kebrutalan aksi bom dan kekerasan terorisme.

"Dua kutub yang berlawanan. Selama ini tak pernah bertemu. Pertemuan menjadi ruang kemanusiaan, memperbaiki jaringan kemanusiaan yang rusak," ujarnya.

Pertemuan antara korban dan pelaku penting untuk saling memaafkan. Bertujuan untuk merekatkan kembali tali kebangsaan, kemanusiaan dan hubungan sesama anak bangsa yang rusak dan terkoyak karena aksi kekerasan.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Image caption Anjing pelacak dari Unit K-9 Polri mengendus adanya bom yang dibawa oleh seseorang di dalam tasnya saat simulasi di kawasan hari bebas kendaraan bermotor atau car free day (CFD) di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (19/01/2020). Simulasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan akan bahaya terorisme.

Setelah saling memaafkan korban merasa lebih sehat. Sedangkan mantan pelaku lebih percaya diri, dan memberi energi positif atas pilihannya. Dari pilihan ideologis menjadi rasional. Aida membutuhkan waktu setahun lebih untuk mendekati korban maupun bekas napi terorisme.

Bagi pelaku teror, dipantau mulai bertaubat, kesetiaan terhadap NKRI, proses sosial dan kebatinannya. "Proses integrasi sosialnya panjang," kata Laode.

Sedangkan para korban juga mengalami yang sama. Tingkat penerimaannya berbeda ketika bertemu mantan pelaku. Kadang meski mengaku ikhlas memberi maaf, tapi tak kuasa bertatap muka. Bahkan responsnya beragam saat satu ruangan antara korban dan pelaku.

"Ada yang cepat dan ada yang lama. Butuh waktu agar satu frekuensi untuk merekatkan hubungan antar manusia," ujarnya.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Image caption Seorang anggota Unit K-9 Polri menunjukkan bom yang berhasil diendus oleh anjing pelacak di antara masyarakat yang memadati hari bebas kendaraan bermotor atau car free day (CFD) saat simulasi di Jakarta, Minggu (19/1/2020)

Seorang korban butuh waktu empat hingga lima kali dari pertama bertemu. Saat bertemu disediakan psikolog untuk mendampingi dan membantu menghapus trauma. Seperti pertemuan antara keluarga korban bom Kuningan, Jakarta dengan adik Amrozi, Ali Fauzi Manzi pada 2013 dan 2014.

"Awalnya posisinya duduk berdampingan, beruntung korban bisa menahan diri. Lantas mengambil posisi menjauh," katanya.

"Ali Fauzi dihakimi. Selanjutnya, malam hari mereka saling curhat menyampaikan semua keluh kesah. Usai curhat, mereka menangis dan berpelukan."

"Kini, mereka mengaku telah bertemu the new brotherhood," ujarnya.

Korban bom Bali 1 Niluh Erni bercerita ketika ke Lamongan, Jawa Timur, pasti mampir ke rumah Ali Fauzi. Sebaliknya Ali Fauzi jika ke Bali bertemu dengan para korban. Sehingga mereka sudah layaknya saudara dan keluarga.

"Masih banyak yang belum satu frekuensi. Tak mudah. Tak semua siap," katanya. Kedua belah pihak harus terbuka dan memaafkan dari hati yang terdalam.

Kini sebanyak lima orang bekas narapidana terorisme dan 40 orang korban dan keluarga korban bergabung dalam tim perdamaian Aida. Jumlah mereka, kata Laode, sedikit jika dibanding jumlah korban yang mencapai ribuan.

Topik terkait

Berita terkait