Virus corona: Pemeriksaan di Bandara Soetta belum optimal

Penumpang pesawat Hak atas foto SONNY TUMBELAKA/AFP

Pemeriksaan kesehatan di terminal Bandara Internasional Soekarno-Hatta disadari belum optimal 'di tengah penyebaran Covid-19'. Tetapi pejabat Kementerian Kesehatan menyatakan tidak ada prosedur yang dikurangi untuk pemeriksaan penumpang dari luar negeri.

"Nggak ada pengurangan (prosedur)," kata Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto saat dikonfirmasi pada Senin (17/02).

Yurianto pun mengatakan sejak WHO melabeli penyebaran Covid-19 sebagai "Darurat Kesehatan Masyarakat Internasional" atau PHEIC, sudah dilakukan penggantian alat pemindai panas tubuh (Thermal scanner).

"Sekarang dengan menjadi PHEIC, tidak lagi dengan Scanner, tapi Thermal Gun. Mereka disuruh lewat satu-satu, dan diukur (suhu) badannya. Kalau nggak ada temuan, berarti nggak ada kasus," katanya.

Dalam kesempatan lain, Achmad Yurianto menyatakan deteksi dini terhadap penyebaran Covid-19 diperkuat lagi seperti seperti deteksi suhu tubuh, dan pemberian kartu peringatan kesehatan. Deteksi dini terhadap lalu lintas manusia dari dan keluar Indonesia, juga dilakukan di laut.

"Sampai saat ini itu masih kami lakukan dan diperketat, karena kami sadar pintu masuk tak hanya bandara namun laut," kata Yurianto.

Hak atas foto BBC/Silvano
Image caption Formulir kesehatan yang diberikan kepada penumpang di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (15/02).

Sampai 16 Februari pukul 18.00 WIB, Kemenkes telah menerima 104 spesimen yang dicurigai terkena Covid-19. Spesimen ini berasal dari 39 rumah sakit di 19 provinsi. "Keseluruhannya, hasilkan negatif virus corona Covid-19," kata Yurianto.

Alat deteksi suhu tubuh, tak terpakai di meja petugas

Namun ini berbeda dengan apa yang dialami Jurnalis BBC News Indonesia, Silvano Hajid. Ia mengutarakan pengalaman tentang minimnya pemeriksaan kesehatan di Bandara Soekarno-Hatta saat baru tiba dari Singapura ke Indonesia, Sabtu (15/02).

Sebelum masuk ke pemeriksaan imigrasi, ia menemukan pengumuman dengan tulisan besar "yang mengumumkan bahwa saya dan ratusan orang lainnya memasuki pemeriksaan suhu tubuh."

Saat itu, petugas kesehatan tampak "kewalahan" melayani kerumunan penumpang dari luar negeri yang tiba di Indonesia. Seluruh penumpang diwajibkan mengisi formulir kesehatan yang terdiri dari dua bagian.

"Satu bagian untuk diserahkan kepada petugas dan satu lagi kami simpan, jika pada dua pekan kami mengalami gejala yang menunjukkan terinfeksi virus corona yang baru, maka kami harus ke dokter dan menyerahkan kartu itu," cerita Silvano.

Hak atas foto ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S
Image caption WNI yang telah menjalani masa karantina di Natuna, tiba di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Minggu (16/02).

Saat menyerahkan kartu kepada petugas, alat deteksi suhu tubuh tembak terlihat tergeletak di meja petugas. Namun, alat pendeteksi dini untuk pemeriksaan kesehatan itu tidak digunakan lagi untuk memastikan suhu tubuh.

"Selepas dari imigrasi menuju pintu keluar, saya sempat coba dua kotak cairan pembersih bersponsor yang disediakan, tetapi keduanya tidak berfungsi," kata Silvano.

Pengalaman tentang minimnya pemeriksaan kesehatan di Bandara Soekarno Hatta juga dikeluhkan pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagyo. Ia tiba di bandara Sabtu (15/02) setelah menempuh perjalanan selama 15 jam dari Sydney, Australia.

Hak atas foto Agus Pambagyo
Image caption Penumpang pesawat internasional diminta mengisi formulir kesehatan di Bandara Soetta, Sabtu (15/02).

Sebelum masuk pintu keluar bandara, Agus bersama penumpang lainnya dari penerbangan internasional disodorkan formulir untuk mendeklarasikan dalam kondisi sehat.

"Terus sudah diisi. Mejanya terbatas. Penuh orang. Kita tulis di tembok. Di bawah. Saya (tulis dengan) ganjal dengan koper saya. Saya kasih. Saya pikir ditanya (tentang isi formulirnya), (ternyata) nggak," katanya kepada BBC News Indonesia, Senin (17/02).

Sepanjang perjalanan keluar bandara, ia pun mengaku tak melihat adanya alat pendeteksi suhu tubuh. "Ada semacam x-ray, tapi saya yakin itu bukan thermal (scanner)," kata Agus.

Formulir yang disodorkan pun tak banyak diperiksa oleh petugas. Para penumpang dari luar negeri bisa 'mengisi seadanya' tanpa diketahui kemungkinan membawa penyakit dari negara asal.

Hak atas foto EPA
Image caption Seorang petugas memeriksa suhu tubuh setiap orang yang memasuki Distrik Bisnis di Singapura.

"(Petugas bilang) Silakan nanti kalau ada apa-apa silakan hubungi nomor yang tertera di form-nya. Lah, terus ngapain kita mesti mengisi itu," tambah Agus.

Agus pun menilai prosedur pemeriksaan kesehatan yang kendor ini dapat membahayakan masyarakat luas. "Kalau itu terjadi memang ada yang membawa virus kan jadi tidak terdeteksi," katanya.

Bagaimana deteksi Covid-19 di bandara internasional lainnya?

Beda cerita saat Silvano melewati dua bandara internasional di Changi, Singapura dan Taoyuan, Taipei sepekan sebelumnya. Dua negara ini sudah terdapat puluhan orang yang terjangkit virus Corona yang baru.

"Pada Jumat siang (7/02) di Terminal kedatangan Bandara Internasional Changi, Singapura, ratusan orang berjalan melewati alat deteksi suhu tubuh, termasuk saya," katanya.

Sebelum melewati alat itu, salah satu petugas berusia paruh baya meminta para penumpang berjalan lebih cepat selepas turun dari pesawat. Petugas memindai dan dalam kesempatan itu tidak ada satu pun yang suhu tubuhnya melebihi suhu normal.

Hak atas foto Reuters
Image caption Warga negara Amerika dievakuasi menggunakan bus dari kapal Diamond Princess menuju Bandara Haneda, Jepang, Minggu (16/02).

Hampir semua petugas mengenakan masker, begitu pun dengan para pengunjung di bandara Changi. Pihak bandara juga menyediakan cairan pembersih tangan di beberapa lokasi.

Selanjutnya, ketika tiba di Bandara Taoyuan, Taipei, pemeriksaan kesehatan lebih ketat. Petugas memindai para penumpang dengan alat yang bentuk dan rupanya hampir sama seperti di Changi.

Selanjutnya, petugas bermasker menggunakan pengukur suhu tubuh tembak, memastikan lagi bahwa kami aman masuk ke wilayah Taiwan.

Di bandara ini juga disediakan cairan pembersih tangan, kali ini tersedia di banyak tempat, jauh lebih banyak ketimbang bandara sebelumnya.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per 16 Februari 2020, sebanyak 77 warga Singapura terkonfirmasi kena Covid-19. Sedangkan di Taipei dan sekitarnya terdapat 18 kasus terkonfirmasi virus corona terbaru.

Hak atas foto Reuters
Image caption Pemerintah Jepang telah menyewa pesawat untuk terbang ke Wuhan untuk mengevakuasi warganya.

Indonesia sempat dicurigai terdampak Covid-19

Sebelumnya, studi yang dilakukan sekelompok peneliti dari Universitas Harvard mengungkap kemungkinan adanya kasus yang tidak terdeteksi di sejumlah negara, termasuk Indonesia dan Kamboja.

Para peneliti membuat prediksi berdasarkan penerbangan langsung dari Wuhan ke suatu negara sebelum penerapan pembatasan perjalanan.

Studi tersebut, diterbitkan di server pre-print medRxiv, belum melalui proses peer review atau pemeriksaan oleh sesama peneliti namun telah dikutip dalam banyak laporan media dan sempat menimbulkan pertanyaan akan kemampuan Indonesia dalam mendeteksi virus korona baru.

Menteri Kesehatan, Terawan Agus Purwanto menyebut hasil penelitian tersebut "mengada-ada". Ia juga menantang para peneliti dari Universitas Harvard untuk meninjau langsung alat serta laboratorium pendeteksi virus corona di Indonesia.

Hak atas foto BNPB
Image caption Para WNI yang terdiri dari warga yang dievakuasi dari Wuhan, diplomat dan kru pesawat yang menjemput dinyatakan sehat setelah dikarantina selama dua minggu.

"Ya (peneliti) Harvard suruh ke sini. Saya buka pintunya untuk melihat," kata Terawan kepada media, Rabu (12/02).

Sementara itu, perwakilan WHO untuk Indonesia, Paranietharan menilai penelitian tersebut merupakan model yang baik. Akan tetapi dari penelitian tersebut, WHO tidak menemukan bukti adanya kasus virus corona yang baru di Indonesia.

"Sejauh ini kami tidak menemukan laporan dari kasus yang positif," katanya kepada BBC News Indonesia, Senin (17/02).

Per 16 Februari 2020, WHO mencatat kasus Convid-19 yang telah terkonfirmasi di 25 negara mencapai 51.587 kasus dengan kasus baru sebanyak 1.278. Kasus terkonfirmasi terbanyak tercatat di China yaitu 51.174 kasus, sedangkan negara di luar China terdapat 683 kasus.

Jumlah yang meninggal karena virus ini sebanyak 1.666 jiwa di China dan di luar China tiga orang meninggal dunia.

Berita terkait