Limbah radioaktif caesium 137 di Tangsel, pakar: 'Dari kajian lebih besar bahayanya, makanya saya heran kok masih ada yang menggunakan'

radioaktif Hak atas foto ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Image caption im Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bersama Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) melakukan dekontaminasi terhadap temuan paparan tinggi radioaktif di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (15/2/2020).

Dua pekan setelah temuan limbah zat radioaktif di perumahan Tangerang Selatan, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) belum bisa mengungkap pelaku pembuang limbah tersebut. Padahal menurut pakar, tidak sulit untuk melacak.

Sementara itu Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menyatakan tingkat paparan radiasi sudah menurun hingga 90%.

Kepala Biro Hukum, Humas, dan Kerja Sama, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Heru Umbara, mengatakan proses pembersihan di area pembuangan limbah zat radioaktif sudah hampir rampung.

Hingga Selasa (18/02) pihaknya telah mengumpulkan 153 drum berisi tanah yang terkontaminasi zat radioaktif jenis Caesium 137. Ratusan liter tanah itu, katanya, akan dibawa ke Batan untuk diolah sebagai limbah.

"Kita sudah lakukan clean up atau pembersihan dan sudah kita laksanakan hari ini, hari ke-6. Alhamdulilah paparan radiasi yang tertinggal turun signifikan. Tinggal 10% lagi," ujar Heru Umbara kepada BBC Indonesia.

"Habis pembersihan, kita akan remediasi atau pengembalian lingkungan seperti keadaan sebelum kontaminasi. Itu berarti kita urug ulang dan perbaiki seperti sedia kala," sambungnya.

Siapa pembuang limbah zat radioaktif?

Kepala biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik di Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Indra Gunawan, mengatakan proses investigasi untuk mencari pelaku pembuang limbah zat radioaktif itu masih terus dilakukan dengan dua cara.

Pertama meneliti serpihan limbah Caesium 137 yang terkubur di dalam tanah.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Image caption Tim Teknis Kimia Biologi Radioaktif Gegana Brimob Mabes Polri dan Tim Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETAN) melakukan pengukuran tingkat paparan tinggi radioaktif yang ditemukan di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (15/2/2020).

"Apakah bisa ditemukan data yang tercantum dalam serpihan atau menentukan besarnya dosis radiasi yang tertinggal dalam serpihan untuk dicounting usia sumber tersebut sudah berapa lama," jelas Indra Gunawan kepada BBC.

Metode kedua, mengaudit data administrasi di Bapeten yang berisi perizinan penggunaan, impor, dan pelimbahan.

"Kita lakukan upaya audit administrasi terhadap data yang kami miliki untuk melihat apakah ada ketidaksesuaian data dengan di lapangan," tukasnya.

Pakar instalansi dan bahan nuklir, Heryudo Kusumo, mengatakan tak sulit melacak pelaku pembuang limbah tersebut. Bapeten, katanya, cukup mengecek data perizinan atau penyerahan limbah.

"Ada kewajiban bagi pelaku usaha untuk menyerahkan limbah zat radioaktif ke Batan dan ada dokumen serah terima. Setelah itu kalau dia mau minta izin baru ke Bapeten dan biasanya Bapeten bertanya apakah limbah itu sudah diserahkan ke Batan. Kalau enggak ada, izin tidak diberikan," jelas Heryudo.

Seperti apa Caesium 137 dan apakah berbahaya?

Caesium 137 berbentuk serbuk atau cairan yang dibungkus dalam kapsul. Kapsul tersebut lalu dimasukkan dalam wadah berlapis timbal yang bisa menahan paparan radiasi.

"Besar wadah itu seperti printer portable. Tapi fisik Caesium 137 kecil, kayak ujung pulpen," ujar Indra Gunawan.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Image caption Tim Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bersama Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dan Tim Teknis Kimia Biologi Radioaktif (TKBR) Gegana Brimob Mabes Polri melakukan dekontaminasi terhadap temuan paparan tinggi radioaktif di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (15/2/2020).

Zat radioaktif ini biasa dipakai untuk mengukur level ketebalan atau kepadatan suatu benda, selain digunakan dalam radiografi. Masa pakainya sekitar satu sampai dua tahun, setelahnya sudah tidak efektif sehingga harus diolah sebagai limbah.

Data Bapeten, jumlah industri yang mengantongi izin penggunaan Caesium 137 mencapai ratusan. Tapi satu perusahaan, bisa menggunakan lebih dari lima.

Beberapa industri yang menggunakan Caesium 137 di antaranya pabrik semen, pupuk, rokok, kertas, dan minuman kaleng.

Bagi industri yang ingin memakai zat ini ada sederet persyaratan yang harus dipenuhi seperti harus punya petugas proteksi radiasi. Tujuannya agar bisa menangani risiko akibat penggunaan zat radioaktif.

Kendati begitu, Pakar instalansi dan bahan nuklir, Heryudo Kusumo, menyebut Caesium 137 tergolong berbahaya sehingga tidak direkomendasikan oleh Badan Tenaga Atom Internasional untuk digunakan.

Pasalnya butuh waktu 30 tahun untuk meluruhkan zat tersebut agar aman bagi lingkungan.

Selain itu, karena bentuknya berupa cairan dan serbuk rentan terhirup manusia atau bercampur dalam air maupun tanah.

"Setelah dikaji, ternyata bahayanya lebih besar sehingga tidak digunakan lagi kecuali terpaksa karena tidak ada zat alternatif lain. Makanya saya heran, kok masih ada yang menggunakan Caesium 137, karena dari kajian lebih besar bahaya dari manfaatnya."

"Kalau masuk ke tubuh manusia maka bisa jadi sumber radiasi. Karena Caesium 137 akan mengendap di tulang dan paru-paru. Tapi itu jika kadarnya 100 milisievert. Kalau kecil sih tidak apa-apa."

"Saat ini orang-orang pakainya Cobalt bentuknya logam jadi tidak mudah tersebar."

Hak atas foto ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Image caption Seorang jurnalis foto memotret lokasi ditemukannya paparan tinggi radioaktif di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (14/2/2020).

Merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2011 tentang Tarif Jasa atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak di Lingkungan BATAN, biaya pengolahan limbah untuk Caesium 137 berada di kisaran antara Rp2,5 juta sampai Rp15,5 juta. Itu tergantung seberapa banyak Caesium 137 yang dipakai.

Bagaimana pengawasan zat radioaktif?

Kepala biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik Bapeten, Indra Gunawan, menangkis anggapan lalai dalam mengawasi zat radioaktif yang digunakan oleh industri atau badan hukum lain.

"Kita buat jadwal inspeksi dengan basis internasional untuk memastikan apakah penggunaan barang berbahaya ini dilakukan secara benar."

Inspeksi yang ia sebutkan itu, tergantung pada risiko zat apakah termasuk kategori rendah, sedang, atau tinggi. Caesium 137, katanya, masuk dalam level sedang.

Sejauh ini pula, menurut Indra Gunawan, para pengguna zat radioaktif selalu melapor kepada Bapeten. Kalaupun tidak, maka tim inspeksi terjun ke lapangan untuk mengklarifikasi apakah zat tersebut masuk ada atau tidak.

"Kami tidak menyarankan menyimpan barang dengan risiko ini butuh fasilitas yang sesuai persyaratan. Supaya tidak kena dampak radiasi."

Berita terkait