Virus corona: Pusat kontak, ambulans, dan rumah sakit rujukan, seberapa siap pemerintah daerah hadapi epidemi?

Kesehatan

Sumber gambar, Anadolu Agency/Getty images

Keterangan gambar,

Pemprov DKI meminta warga Jakarta yang mengalami gejala klinis virus corona untuk menggunakan layanan ambulans gratis ke rumah.

Sejak dua warga asal Depok, Jawa Barat, dinyatakan positif mengidap virus corona, para pejabat pemerintah pusat hingga daerah terus-menerus menyatakan kesiapan mereka menghadapi potensi epidemi.

Berbagai daerah menyatakan telah menyiagakan pusat kontak darurat (hotline) hingga layanan ambulans gratis untuk menjemput warga yang diduga mengalami gejala klinis penyakit akibat virus corona baru alias Covid-19.

Namun apakah kualitas dan jangkauan layanan kesehatan itu merata di setiap daerah?

BBC News Indonesia menghubungi nomor telepon 112, layanan kedaruratan milik Pemprov DKI Jakarta yang kini juga difungsikan mengurus penyebaran virus corona di kalangan warga ibu kota.

"Kalau ada yang terjangkit atau menunjukkan indikasi corona, bapak bisa menghubungi kami," demikian ujar operator 112 di ujung telepon, Rabu (04/03).

"Nanti sebutkan ciri-ciri dan keadaan pasien sekarang, apakah sudah demam atau flu lebih dari lima hari, pernah berinteraksi dengan orang asing atau berpergian ke luar negeri."

"Nanti kami mendata dan kami akan jemput. Dari Dinas Kesehatanlah yang akan menjemput," kata operator.

Sumber gambar, Barcroft Media/GETTY IMAGES

Keterangan gambar,

Pemerintah menyebut setiap rumah sakit rujukan hanya diminta memisahkan pasien bergejala virus corona dari pasien umum lainya.

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Pekan ini Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, meminta warganya yang merasa mengalami gejala klinis virus corona untuk tidak secara swadaya pergi ke puskesmas atau rumah sakit.

Layanan ambulans gratis disebutnya bisa mengurangi potensi penularan virus karena sang pasien tidak akan berkontak dengan banyak orang.

BBC News Indonesia memilih satu daerah lain secara acak, Provinsi Jambi. Namun layanan serupa tidak dimiliki setiap kabupaten dan kota di provinsi itu.

Walau telah menyiapkan peta penanganan virus corona, Eva Susanti, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Jambi, menyebut layanan informasi dan penjemputan pasien belum merata di provinsinya.

"Jika puskesmas sudah dapat data, mereka harus melapor ke dinas kesehatan sehingga akan dilakukan penyelidikan epidemologi," ujarnya via telepon.

"Kalau memang sudah memenuhi kriteria pasien dalam pengawasan, kami akan mengisolasi pasien di rumah sakit rujukan yaitu RS Raden Mataher."

"Kita juga punya layanan 119, Antar-jemput puskesmas dan rumah sakit, tapi baru ada beberapa kabupaten/kota yang sudah memiliki," kata Eva.

Hampir seluruh provinsi di Indonesia telah menetapkan rumah sakit rujukan penanganan virus corona, walau jumlahnya tak sama di setiap daerah.

Di Provinsi Jambi hanya terdapat satu rumah sakit rujukan, yaitu RS Raden Mataher. Sementara Kalimantan Timur, misalnya, menunjuk enam rumah sakit, antara lain RS Tarakan, RS Dr Kanujoso Djatiwibowo, dan RS Wahab Sjahranie.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Keterangan gambar,

Petugas medis menggunakan alat pelindung diri di dalam Gedung Pinere, RSUP Persahabatan, Jakarta, Rabu (04/03). Rumah sakit ini mengisolasi sepuluh pasien rujukan dalam pengawasan.

Kementerian Kesehatan sendiri menggagas pusat kontak 119 sebagai layanan cepat tanggap darurat kesehatan. Setiap pemerintah daerah didorong membangun layanan serupa atau membuat nomor cepat tanggap lain seperti 112 di Jakarta.

Juru bicara pemerintah terkait penanganan virus corona, Achmad Yurianto, mengakui kualitas dan jangkauan pusat kontak darurat itu tidak merata di setiap daerah.

Menjawab pertanyaan BBC, Yurianto mengatakan akan mengecek ulang apakah pusat kontak 119 di berbagai daerah memang disiagakan untuk menanggulangi warga dengan gejala klinis virus corona.

"Ini layanan ambulans untuk melayani kedaruratan yang tanggap daruratnya ditentukan oleh pengguna layanan itu sendiri, meski kemudian dicek ulang oleh petugas. Akan saya tanyakan apakah 119 menjalankan layanan itu."

"119 bukan organ milik Kemenkes tapi dinas kesehatan daerah. Tentu ada disparitas yang berbeda-beda di setiap daerah.," ujar Yurianto.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA

Keterangan gambar,

Petugas membawa barang milik pasien diduga terinfeksi virus corona ke ruang isolasi di RS Sulianti Saroso, Jakarta, Rabu (04/03)

Hingga berita ini diturunkan, jumlah pasien positif terjangkit virus corona di Indonesia masih berjumlah dua orang. Semuanya diisolasi di Rumah Sakit Pusat Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta.

Kemenkes telah menangani 10 orang yang mengaku pernah berkontak dengan dua pasien itu.

Yurianto berkata, meski 10 orang itu mengaku tidak mengalami gejala klinis corona, kesehatan mereka tetap akan diperiksa ulang.

Achmad Yurianto menganggap jumlah dan fasilitas rinci rumah sakit rujukan di daerah tak perlu dipersoalkan dalam penanganan virus corona.

Alasannya, kata dia, layanan dasar yang harus bisa dilakukan rumah sakit rujukan hanya mengisolasi pasien dengan potensi tinggi terjangkit corona.

"Respons layanan prinsipnya mengisolasi, memisahkan dari pasien lain. Rumah sakit yang ditunjuk mungkin tidak punya ventilator tapi mereka bisa mengisolasi."

"Jangan bayangkan semua rumah sakit seperi RS Sulianti Saroso," tegas Yurianto.