Tradisi kuliner unik di Jepang: Desa para pemakan tawon

wasp Hak atas foto Phoebe Amoroso

"Saya punya sesuatu untukmu." Seorang pemburu tawon dari desa memberi isyarat, menunjuk sebuah kanopi kecil di tepi lapangan.

Dia membuka bungkus sarang tawon yang bergerigi dan berwarna cokelat, bagian dalamnya dihiasi mosaik indah yang penuh dengan larva.

Saya ditawari makanan lokal yang langka; satu kilogram sarang ini hanya tersedia setahun sekali di bulan November dan dijual seharga 9.000 yen, atau sekitar Rp1,3 juta.

Saya mendekatkan tempayak yang masih menggeliat ke bibir dan dengan cepat memakannya hidup-hidup.

Larva itu ringan, lembut dan sangat enak. Saya dan si pemburu terus mengobrol sambil memasukkan belatung ke mulut kami seperti permen.

Kami berada jauh di pedesaan di prefektur Gifu yang sedang mengadakan festival tawon terbesar di Jepang: Kushihara Hebo Matsuri.

Hebo adalah kata lokal untuk dua spesies tawon hitam, yang dikenal relatif tidak agresif dan karenanya mudah ditangkap.

Hak atas foto Phoebe Amoroso
Image caption Selama beberapa generasi, keluarga di Jepang berburu, mengembang-biakan dan memakan tawon

Setiap tahun, pada hari Minggu pertama di bulan November, orang-orang dari seluruh wilayah membawa sarang tawon yang telah dikumpulkan dari hutan sekitarnya untuk ditimbang dalam suatu kompetisi.

Mereka yang memiliki sarang terberat akan mendapat piala, yang disertai dengan penghormatan yang berlimpah.

Sebagian besar peserta pasti akan disengat satu dua kali, dan beberapa membeli sarang untuk dibawa pulang dan dimasak.

Festival ini, sebenarnya, hanyalah penutup dari sebuah cerita yang dimulai beberapa bulan sebelumnya.

Di awal musim panas, sekelompok pemburu akan berangkat ke bukit-bukit. Jauh di dalam hutan, mereka menempelkan selembar kertas putih ke sepotong ikan segar dan menunggu.

Seekor tawon menukik, membawa umpan bersama dengan penanda visual putihnya saat ia terbang menuju sarangnya. Para pemburu mengejar, berebut melintasi semak-semak, melintasi sungai dan melewati lembah.

Begitu mereka akhirnya menemukan pintu masuk sarang di tanah, mereka mulai menyusun tugas menggali dan memindahkannya ke kotak kayu di mana mereka "membesarkannya" hingga ke musim gugur.

Para pemburu memberi makan hebo makanan gula, air dan daging mentah dalam upaya menumbuhkan sarang yang dipenuhi dengan lebah dewasa dan larva tepat waktu untuk festival November.

Konsumsi tawon dulunya dipraktikkan di seluruh Jepang.

Namun saat ini, praktik tersebut sebagian besar telah hilang, dan sebagian besar hanya dilakukan terbatas oleh generasi tua yang semakin sedikit di Distrik Gifu Ena, di mana desa Kushihara berada, dan di Nakatsugawa di sebelah timur lautnya.

Hak atas foto Phoebe Amoroso
Image caption Mereka yang memiliki sarang terberat akan mendapat piala, yang disertai dengan penghormatan yang berlimpah

Menurut Kenichi Nonaka, profesor Studi Budaya Interdisipliner di Universitas Rikkyo di Tokyo yang telah mempelajari wilayah ini selama lebih dari 30 tahun, asal-usul tradisi kuliner unik ini masih menjadi misteri.

Sementara beberapa teori menyatakan bahwa tawon pernah menjadi sumber protein yang berharga bagi masyarakat pedalaman, namun Nonaka tidak sependapat: "100 gram hebo memiliki protein yang relatif tinggi, tetapi pada kenyataannya, tidak ada yang mengonsumsi jumlah itu pada satu kali makan."

Setelah meneliti tempat-tempat lain di Jepang di mana makan tawon hitam dulunya umum dilakukan, Nonaka menemukan bahwa serangga biasanya hanya dipanen ketika ditemukan secara kebetulan dan hanya dimakan sebagai sumber makanan tambahan.

Pada dasarnya, memanen tawon hitam adalah versi serangga dari pemetik blackberry.

Tetapi Nonaka mengatakan bahwa apa yang membuat Kushihara dan daerah sekitarnya unik adalah bahwa sementara individu-individu di wilayah Jepang lainnya memanen sarang sendiri-sendiri, penduduk setempat di sini secara aktif mencari tawon sebagai kegiatan sosial dan kemudian membuat mereka beraktivitas di luar rumah mereka.

Karenanya, hebo sering disajikan selama perayaan-perayaan lokal, yang akhirnya dengan kuat mengakarkan praktik perburuan tawon dalam budaya dan identitas lokal.

Hak atas foto Phoebe Amoroso
Image caption Pada dasarnya, memanen tawon hitam adalah versi serangga dari pemetik blackberry

Mengingat fungsi penting hebo secara sosial di Kushihara, mungkin tidak mengherankan bahwa sebuah festival publik yang besar muncul pada tahun 1993 untuk menyelamatkan tradisi ketika generasi tua pemburu tawon berkurang.

Dan meskipun daerah lain mengadakan kompetisi tawon yang lebih kecil, Kushihara adalah satu-satunya kawasan yang mendapat liputan media yang signifikan, yang membantu memperkuat reputasinya.

Namun, Distrik Ena mendapat imbas dari banyak masalah yang melanda Jepang secara nasional.

Populasi yang menurun dan migrasi dari desa ke kota telah menjadikan desa dengan jalan-jalan dan rumah-rumah kosong.

Kushihara tidak lagi berstatus sebagai kota mandiri. Mereka telah digabung menjadi Kota Ena karena populasi lokal menurun (populasi Ena turun sekitar 12% antara tahun 2000 dan 2015 menjadi hanya 51.073).

Pada 2010, para lansia penyelenggara festival mulai berbicara tentang rencana menyetop perayaan, sampai akhirnya beberapa warga desa yang lebih muda muncul untuk meneruskan tradisi.

"Selama masih ada satu orang yang mencintai hebo yang masih hidup, kita akan memiliki motivasi yang cukup untuk menjaga tradisi berjalan," kata Daisuke Miyake, 42, seorang penjaga hutan setempat. "Hebo adalah cara untuk menghubungkan orang."

Enam tahun lalu, Miyake dan beberapa warga kota yang lebih muda lainnya mengambil alih manajemen festival.

Meskipun sangat sedikit dari mereka yang mengumpulkan dan memelihara tawon sendiri, mereka berbagi pemahaman tentang seberapa besar arti hebo bagi generasi yang lebih tua.

Hak atas foto Phoebe Amoroso
Image caption Hebo gohei mochi: nasi ketan bakar di atas stick yang dilapisi saus kental manis yang terbuat dari miso, kacang, dan - tentu saja - tawon

Pada pukul 07.30 di hari festival, Miyake sudah sangat sibuk, memahat pohon untuk membantu menggantungkan spanduk.

Ditinggalkan dengan gadget saya sendiri, saya mendekati sedikit orang nonpenyelenggara yang ada di sekitar situ.

Empat lelaki tua telah membawa bangku berkemah dan dengan sabar menunggu di tengah-tengah hutan.

Meskipun festival baru dimulai satu jam ke depan atau lebih, para pria ini sangat ingin menjadi yang pertama dalam antrian untuk memilih sarang yang dijual.

Setelah mereka mengamankan slot antrian mereka, kami berjalan bersama ke kios-kios festival, yang menampilkan berbagai masakan terkait tawon.

Saya sedang mengincar stick cokelat hebo ketika salah satu teman baru saya mengeluarkan sepanci lebah goreng.

Seperti beberapa tetua Kushihara lainnya, para lelaki itu memburu Vespa mandarinia japonica (lebah raksasa Jepang), yang terkenal karena tingkat agresi dan sengatnya yang kuat. Ini bukan jenis serangga yang Anda pelihara di rumah.

"Anda makan tawon, kan?" katanya, aura tantangannya menggantung di udara.

"Ayo! Pilih yang besar!" kata yang lain.

Hak atas foto Phoebe Amoroso

Tawa parau dari kelompok orang itu meledak.

Saya menusuk spesimen berukuran sedang menggunakan tusuk gigi dan dengan patuh mengunyahnya.

Rasanya sedikit renyah dan, harus diakui, agak menyenangkan — jenis camilan yang cocok dengan bir. Benar saja, salah seorang pria sudah duduk di kursinya dengan minuman kaleng dan senyum lebar.

Kami segera mengelilingi kudapan favorit festival yang baru dipanggang, hebo gohei mochi: nasi ketan bakar di atas stick yang dilapisi saus kental manis yang terbuat dari miso, kacang, dan - tentu saja - tawon.

Ini hidangan yang mengharuskan Anda menumbuk nasi dan menumbuk larva hebo untuk membuatnya.

Diperlukan berjam-jam untuk mempersiapkannya, dan sudah menjadi sajian pada acara perayaan selama berabad-abad di wilayah tersebut.

Antrean panjang berliku ke konter, di mana seorang petugas dengan cekatan melapisi mochi dengan saus dan memanggangnya di atas api dalam jalur produksi yang diatur dengan mulus.

Sekelompok perempuan muda mengenakan kaus seragam bertuliskan "Gadis Hebo" menjual hebo gohan, sepiring nasi yang dicampur dengan tawon.

Jumlah kelompok ini telah meningkat tahun ini setelah sejumlah perempuan tetua desa pensiun dari proses persiapan makanan festival.

Para perempuan ini sudah bangun sejak pukul 4:00 untuk menyiapkan ratusan porsi beras, dan mereka juga menyiapkan hebo gohei mochi sehari sebelumnya.

"Saya sudah makan hebo sejak saya masih kecil - itu hanya makanan biasa. Tetapi karena saya mulai membuat gohei mochi sendiri, saya ingin berbagi budaya ini dengan semua orang," kata Shoko Miyake, istri Daisuke.

Dalam beberapa tahun terakhir, minat yang meningkat terhadap entomophagy, baik di Jepang maupun internasional, telah membawa lebih banyak pengunjung ke festival ini.

Ini tidak hanya menjadi peluang untuk revitalisasi ekonomi di wilayah itu, tetapi juga kesempatan bagi penduduk setempat untuk berhubungan kembali dengan warisan budaya mereka.

Namun, selain festival, masih ada kekhawatiran apakah generasi muda akan meneruskan tradisi panen hebo seperti yang dilakukan orang tua dan kakek nenek mereka.

Meskipun banyak yang senang membantu di festival, beberapa sukarelawan tidak terlalu tertarik untuk mengudap tawon, apalagi merawat mereka.

Hak atas foto Phoebe Amoroso
Image caption Masih ada kekhawatiran apakah generasi muda akan meneruskan tradisi panen hebo seperti yang dilakukan orang tua dan kakek nenek mereka

Pertanyaan yang paling mendesak adalah siapa yang akan meneruskan teknik berburu tawon.

Banyak penduduk setempat yang lebih muda belum mempelajarinya dan juga tidak antusias untuk belajar.

Dan karena semakin banyak orang meninggalkan daerah itu untuk mencari pekerjaan, dan menempuh jarak yang jauh untuk mudik, penduduk Kushihara semakin tidak punya waktu untuk berburu tawon sebagai hobi.

Sadar akan masalah ini, kepala komite eksekutif festival, Fumitaka Ando, akan mengorganisir misi berburu Juli mendatang untuk sekelompok kecil penduduk desa, termasuk Gadis Hebo.

Dia sendiri baru mulai berburu tiga tahun lalu. Namun dia mengatakan bahwa popularitas festival baru-baru ini menggembirakan.

"Relawan muda telah meningkat, dan tahun ini kami memiliki para Gadis Hebo. Kushihara telah menjadi padu."

Setelah festival berakhir, saya menemukan diri saya di rumah Daisuke dan Shoko, duduk di sekitar meja makan bersama tiga putri mereka.

Shoko ada di dapur, menanak hebo dalam saus kecap manis untuk membuat topping untuk nasi yang baru dimasak. Ini adalah sesuatu yang dia lakukan bersama orang tuanya ketika ia masih kanak-kanak.

Kami terus mengobrol santai saat kami mengunyah sarang hebo, wajah anak-anak berkerut berkonsentrasi makan.

Pada akhirnya, budaya hebo hanya tentang keluarga, teman, dan identitas lokal seperti juga halnya tentang memakan serangga.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini, The Japanese village that eats wasps, di laman BBC Travel

Berita terkait