Virus corona: Di pesantren Magetan, 6.000 santri jalankan social distancing dan ganti nampan dengan piring setelah santri Malaysia terinfeksi Covid-19

SANTRI

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Sekitar 6.000 santri di pondok pesantren (ponpes) Al-Fatah Temboro, Magetan, Jawa Timur, menjalankan protokol jaga jarak (social distancing), setelah lebih dari 50 santri Malaysia yang belajar di tempat itu positif tekena Covid-19.

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Magetan, Saif Muchlisun, mengatakan wilayah ponpes itu telah diisolasi.

Pelacakan terhadap mereka yang kontak dekat dengan santri asal Malaysia dan rapid test terhadap sejumlah santri juga sudah dilaksanakan.

"Yang biasanya keluar untuk Jamaah Tabligh dihentikan. Makan [bersama], yang biasanya dengan nampan ala pondok karena ada Covid-19 ini, sudah diantisipasi dengan memakai piring," ujar Saif.

Sumber gambar, https://kkp.go.id/

Keterangan gambar,

Gambar ilustrasi: Cara makan bersama yang lazim ditemui disejumlah pondok pesantren.

"Santri-santri dari wilayah Magetan dan sekitarnya sudah diliburkan, pulang ke wilayah masing-masing. Pengajian pun sudah dihentikan."

Ia mengatakan pihaknya tengah melacak asal penyebaran virus corona di ponpes itu, yang sebelumnya dihuni 22.000 orang dari 13 negara.

"Yang jelas aktivitas sangat padat, sangat dinamis pergerakan orang di situ karena ini termasuk tempat Jamaah Tabligh. Kemungkinan besar juga banyak yang ke luar (negeri)," kata Saif.

"Ini yang kita lacak. Beberapa bulan lalu ada, yang ke India, Pakistan, termasuk Malaysia. Kita lacak dari mana sebenarnya (asal virus itu)."

Setelah gubernur Jawa Timur mengeluarkan instruksi agar siswa belajar di rumah, ujar Saif, aktivitas di ponpes itu pun masih tinggi.

Sumber gambar, Oky Lukmansyah/Antara foto

Keterangan gambar,

Petugas medis melakukan penyemprotan disinfektan kepada santri yang tiba di Terminal Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, (12/04).

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Saif menambahkan pihaknya sudah mengundang pihak pesantren (06/04), untuk meminta agar para siswa dipulangkan paling lambat sebelum puasa dimulai, karena banyaknya jumlah siswa di ponpes itu.

Namun, tak semua dari mereka pulang, karena kata Saif, beberapa memutuskan untuk tetap belajar di Indonesia.

'Lockdown' pesantren

Direktur Jenderal pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, mengatakan pesantren yang masih dihuni para santri harus memastikan wilayahya steril, atau disebutnya harus seperti di-lockdown.

"Pesantren yang ada santri tidak boleh menerima tamu. Jadi, misalnya, yang datang kalaupun keluarganya harus benar-benar menjaga protokol kesehatan, termasuk pakai masker, cuci tangan, jaga jarak, dan sebagainya," kata Amin.

"Di pesantren diimbau tidak melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berpotensi terjadi penularan seperti kumpul-kumpul, pengajian massal, diminta tidak dilaksanakan," ujarnya.

Sumber gambar, AJI STYAWAN/ANTARA FOTO

Keterangan gambar,

Petugas memeriksa suhu tubuh santriwati dari Pondok Modern Darussalam Gontor, Jatim, menggunakan 'thermo gun' di dalam bus saat tiba di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, (12/04).

Ia mengatakan para penyuluh agama hingga pemerintah daerah perlu bekerja sama mengawasi kegaitan di ponpes yang ada.

"Pengawasan kita lakukan bersama-sama, Kemenag dan jajarannya juga pemda dengan tim Covid-19 bersinergi secara maksimal karena ini kesadaran kolektif untuk memerangi Covid 19," ujarnya.

Menurut data Kemenag, ada lebih dari 27.000 ponpes di seluruh Indonesia dengan lebih dari empat juta santri.

'Masih berkegiatan'

Pondok pesatren Adz-Dzikro di Bandung, Jawa Barat, masih berkegiatan normal, meski sejumlah santrinya sudah pulang ke rumah masing-masing, ujar pengurus ponpes itu, Deden Syamsul.

Sebanyak 31 dari 42 santri yang ada masih mondok di pesantren itu. Beberapa karena alasan biaya, ujar Deden.

Meski begitu, Deden meyakini akan lebih aman ketika para santri tetap berada di pesantren karena ia sudah menetapkan para santri tidak diizinkan keluar pesantren.

"Kami memilih santri tidak dipulangkan karena lebih terkontrol, mereka nggak boleh keluar... Kami juga meminta orang luar tidak berinteraksi dengan para santri," ujarnya.

Madrasah yang ada di kawasan pesantren itu sudah tutup, sehingga para santri tetap bisa berkegiatan dalam gedung pesantren, ujarnya.

Sumber gambar, AJI STYAWAN/ANTARA FOTO

Keterangan gambar,

Petugas memeriksa suhu tubuh santriwati dari Pondok Modern Darussalam Gontor, Jatim, menggunakan 'thermo gun' di dalam bus saat tiba di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, (12/04).

Kegiatan pesantren pun berjalan seperti biasa.

"Setiap salat kami berjamaah, sehabis berjamaah kami zikir, kemudian mengaji. Sehari itu ada lima jadwal belajar dan itu jalan, tidak libur. Tidak ada perubahan walaupun dalam masa wabah in. Malah anak-anak lebih serius belajarnya karena nggak diganggu harus sekolah dan lain-lain," katanya.

Ia mengatakan pihaknya tidak menerapkan pembatasan sosial atau social distancing di dalam kompleks pesantren.

"Tidak diterapkan karena beluma ada tanda-tanda (Covid-19 pada santri), seperti misalnya demam, batuk, itu nggak ada di anak-anak. Sampai hari ini yang saya simpulkan nggak ada gejala-gejala itu," kata Deden.

"Jadi untuk social distancing, tidak boleh berkerumun, bersentuhan, di pesantren karena mereka tidak pernah keluar, saya pikir nggak masalah."

Deden mengatakan hingga kini belum ada pihak pemerintah setempat yang melakukan pengecekan terhadap ponpesnya atau pemeriksaan kesehatan pada para santri.

"Kalau ada yang mengecek, kami sangat-sangat berterima kasih," katanya.