Covid-19, PSBB, dan keramaian wisata: dilema 'sudah jenuh di rumah' di tengah pengendalian pandemi

puncak

Sumber gambar, Antara/Yulius Satria Wijaya

Keterangan gambar,

Kepadatan kendaraan di jalur wisata, Jalan Raya Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (06/06). Kepadatan kendaraan tersebut diakibatkan tingginya antusias warga untuk berwisata di kawasan Puncak, meskipun masih dalam masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Awal Juni, akhir pekan sebelum masa transisi mulai dilakukan di Jakarta, ada masyakarat yang sudah mencuri start, datang ke tempat wisata. Arus lalu lintas ke kawasan Puncak, Jawa Barat, misalnya, terpantau padat.

"Diimbau kepada masyarakat untuk menunda dulu perjalanannya apabila tidak penting karena kita masih bersama-sama berupaya mencegah penyebaran Covid 19," kata polisi yang mengatur arus di kawasan Puncak, Jawa Barat.

Sementara area wisata di Lembang, Jawa Barat juga didatangi turis lokal pada Sabtu (6/6).

Lembang yang masuk dalam wilayah Kabupaten Bandung Barat memang masuk dalam kategori zona biru atau daerah yang penyebaran Covid 19 bisa dikendalikan.

Status tersebut memungkinkan Lembang untuk menerapkan new normal atau disebut dengan istilah adaptasi kebiasaan baru (AKB), sebagaimana dipaparkan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, akhir Mei 2020 lalu

Meski demikian, penerapan AKB tetap harus melalui proses dan izin menteri kesehatan. Selama izin belum dirilis, daerah yang masuk kategori zona biru tetap menerapkan PSBB, sama seperti daerah zona kuning ataupun merah. Artinya, lokasi wisata menjadi salah satu tempat yang ditutup.

Lantas apa yang mendorong warga berkeras untuk berwisata di tengah penerapan PSBB ini?

Pengamat sosial dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Elly Malihah menjelaskannya dengan pernyataan, "Manusia kan tidak bisa betul-betul dikurung."

Berboncengan naik motor tiga jam demi 'refreshing'

Sumber gambar, Yuli Saputra

Keterangan gambar,

Zaenudin Al-Fauzi bersama tiga orang temannya datang ke Lembang dari Karawang dengan mengendarai sepeda motor.

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Zaenudin Al-Fauzi bersama tiga orang temannya nekad datang ke Lembang dengan mengendarai sepeda motor.

Dari Karawang, pemuda 22 tahun ini menempuh perjalanan selama tiga jam hingga tiba di tempat wisata Cikole Jayagiri.

Dia dan ketiga rekannya yang berboncengan dengan dua sepeda motor ini lolos dari check point yang disiagakan di masa PSBB, meski melintasi tiga perbatasan wilayah, yakni Purwakarta, Subang, dan Kabupaten Bandung Barat.

"Melepas penat, butuh refreshing. Sudah setiap hari di rumah terus. Jadi cari suasana baru. Ini juga tujuannya bukan ke tempat wisata, cuma jalan-jalan nyari suasana yang sejuk.

"Soalnya di sini (Lembang) kan enak, sejuk, tempatnya nyaman, adem, enak buat menenangkan pikiran," tutur Zaenudin kepada wartawan Yulia Saputra yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, ketika ditanya alasannya datang ke Lembang.

Sejak Maret lalu, Zaenudin mengaku tinggal terus di rumah mengikuti anjuran pemerintah guna memutus rantai penularan virus corona. Tiga bulan berlalu, kejenuhan mulai dirasakan Zaenudin. Apalagi, pekerjaannya pun terhenti karena pandemi Praktis tidak ada kesibukan lain yang dilakukan pemuda ini.

"Ini kali kedua saya keluar rumah. Yang pertama, pas lebaran silaturahmi ke keluarga di Purwakarta. Kalau wisata baru pertama kali ini," ujarnya.

'Bosan banget di rumah'

Sumber gambar, Yulia Saputra

Keterangan gambar,

Sejumlah turis lokal mendatangi kawasan wisata Lembang untuk piknik, meski tempat itu belum dibuka untuk umum.

Kejenuhan juga dirasakan Bunga, remaja putri berusia 13 tahun. Selama beberapa bulan terakhir, siswi SMP ini harus menghabiskan waktu di rumah, bahkan belajar di rumah, karena sekolah ditutup selama pandemi corona.

"Sudah bosan. Jenuh gitu, belajar terus di rumah. Belajar juga kurang mengerti. Bosan banget di rumah," ungkap Bunga.

Ibu Bunga, Dian Kurniawati memahami kebosanan anaknya. Ia lantas mengajak dua orang anaknya jalan-jalan ke Lembang. Wisata alam dipilihnya sebab dirasa lebih aman dari penularan virus corona dibanding tempat keramaian lainnya.

"Dibilang sedih, ya sedih di dalam terus, susah ke mana-mana. Yang kasihan anak-anak mulai jenuh. Kalau ke mal gak mungkin, ke tempat seperti swalayan juga anak-anak nggak mungkin. Kalau ke sini masih ada jarak buat orang, setidaknya agak aman kalau ke tempat begini. Tadi habis beres PAT (penilaian akhir tahun), hayu ah jalan-jalan," ujar warga Kota Bandung ini.

Sumber gambar, Yuli Saputra

Keterangan gambar,

Kawasan wisata Gunung Tangkuban Parahu ditutup untuk umum saat PSBB

Wisata alam juga jadi pilihan Johanan, warga Kota Cimahi, yang berniat mengunjungi kawasan wisata Gunung Tangkuban Parahu yang ternyata masih tutup. Johanan menilai berwisata alam bisa menyegarkan pikirannya yang suntuk akibat berdiam terus di rumah selama pandemi corona.

"Karena sudah berapa bulan di rumah terus, jadi rasanya suntuk, bosan. Jadi pengen cari refreshing, sudah bosan di rumah. Di sini wisatanya alam terbuka, jadi bisa merefreshkan pikiran," kata pemuda 28 tahun ini.

Johanan mengaku tidak khawatir dengan penularan virus corona.

"Asal kita jaga jarak saja, pakai masker dan sarung tangan, juga hand sanitizer, physical distancing," ujarnya.

Akan tetapi, niat Johanan berwisata harus diurungkan karena tempat wisata tujuannya tutup.

Nasib Johanan dialami sejumlah wisatawan lainnya yang datang berkunjung ke Cikole Jayagiri, Floating Market, Grafika Cikole, Farm House, dan Green Grass.

Para wisatawan yang umumnya datang bersama keluarga, akhirnya hanya duduk-duduk di warung yang berada di sekitar lokasi wisata. Ada pula yang tetap piknik dengan menggelar tikar di lapangan rumput yang lowong.

Sumber gambar, Yuli Saputra

Keterangan gambar,

Banyak pesepeda, baik perorangan maupun rombongan, yang melintasi Kota Bandung di tengah PSBB.

Kawasan Lembang, berdasarkan pemantauan wartawan Yuli Saputra, belum seramai seperti sebelum pandemi corona.

Arus lalu lintas menuju kawasan ini, yang terpantau pada Sabtu (6/6), dalam kondisi lancar dengan durasi perjalanan dari wilayah Kota Bandung ke Lembang hanya 1,5 jam. Padahal sebelum pandemi berlangsung, perjalanan, terutama di akhir pekan, bisa memakan waktu hingga enam jam akibat kemacetan yang terjadi.

Kendati demikian, banyak pesepeda, baik perorangan maupun rombongan, yang melintasi Jalan Setiabudi—jalur utama menuju kawasan wisata Lembang.

Salah satu pesepeda, Ifran mengaku tertarik berolahraga sepeda justru saat pandemi corona, ketika olahraga lain tidak bisa dilakukan. Selain itu, jalanan yang kosong menjadi momen yang tepat bagi para pesepeda untuk berolahraga.

"Malah mulai bersepedanya dari pandemik karena jalannya kosong. Jalan-jalan di mana-mana jadi tempat main sepeda. Gara-gara pandemi banyak yang main sepeda," ujar Ifran.

Arus lalu lintas ke Puncak ramai

Sumber gambar, Antara/Yulius Satria Wijaya

Keterangan gambar,

Kepadatan kendaraan di jalur wisata, Jalan Raya Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (30/5).

Lain halnya dengan kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Arus lalu lintas di kawasan tersebut terpantau ramai pada akhir pekan ini, meski masih dalam kondisi lancar.

"Untuk arus lalu lintas pada pagi hari ini, situasinya terpantau lancar kemudian kita masih dalam rangka PSBB proposional Kabupaten Bogor masih dilaksanakan penyekatan-penyekatan utamanya yang mengarah Puncak, kita laksanakan penyekatan di seputaran Simpang Gadog atau arah ke Puncak. Untuk arus masih landai. Normal lancar.

"Dihimbau kepada masyarakat untuk menunda dulu perjalanannya apabila tidak penting karena kita masih bersama-sama berupaya mencegah penyebaran Covid 19 maupun berupaya menghilangkan virus tersebut," kata Kasatlantas Polres Bogor, AKP Fadly Amri saat dihubungi melalui telepon, Minggu (7/6).

Mengenai situasi arus lalu lintas di kawasan Puncak Bogor pada Sabtu (06/06), Fadly mengatakan kondisi lalu lintas juga terpantau ramai.

Sumber gambar, Antara/RAISAN AL FARISI

Keterangan gambar,

Petugas memasang garis pembatas jarak bagi pengunjung di Kawasan Wisata The Lodge, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (4/6).

Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid 19 Jawa Barat, Daud Achmad, menyatakan, seluruh daerah di Jawa Barat dinyatakan masih dalam status PSBB, meski 15 daerah sudah diizinkan melaksanakan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Namun, ke-15 kabupaten/kota itu harus menunggu izin dari menteri kesehatan.

"Bupati wali kota yang diumumkan daerahnya di zona biru masih PSBB dulu. Penerapan AKB bisa dilaksanakan manakala PSBB dicabut oleh menteri kesehatan," kata Daud saat jumpa pers, Jumat (5/6).

Sebelumnya, Ridwan Kamil mengumumkan penerapan AKB bagi 15 kabupaten kota yang masuk zona biru bisa dimulai pada 1 Juni 2020. Ke-15 kabupaten kota itu adalah Kabupaten Bandung Barat, Ciamis, Cianjur, Kabupaten Cirebon, Kuningan, Kabupaten Garut, Pangandaran, Majalengka, Purwakarta, Kabupaten Tasikmalaya, Sumedang, Kota Cirebon, Kota Tasikmalaya, Banjar, dan Kota Sukabumi.

Penerapan AKB, salah satunya, diizinkannya tempat wisata dibuka. Namun tetap dibatasi hanya untuk wisata individu atau perorangan, seperti jalan melintasi alam atau hiking.

"Di zona biru wisata boleh buka, wisata yang datang sendiri, seperti hiking. Wisata keluarga belum boleh dulu," ujarnya.

Mengapa nekad berwisata?

Pengamat sosial dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Elly Malihah, dapat memahami kejenuhan atau kebosanan masyarakat jika terkurung dalam jangka waktu tertentu.

"Jadi wajar. Manusia kan betul-betul tidak bisa dikurung. Di samping karena dia makhluk individu, sekaligus makhluk sosial yang ingin dihargai atau menghargai orang lain atau ingin mengaktualisasikan dirinya," kata Elly saat dihubungi melalui telepon, Minggu (07/06).

Sumber gambar, Antara/Yulius Satria Wijaya

Keterangan gambar,

Sejumlah warga berwisata di kawasan kebun teh Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (30/5). Walaupun dalam masa Pembatasan Sosial Bersakala Besar (PSBB) kawasan Puncak mulai ramai di kunjungi wisatawan.

Elly sendiri melihat warga, khususnya Kota Bandung, mulai banyak yang keluar rumah. Jalanan di Kota Bandung juga kembali ramai. Elly mengungkapkannya dengan istilah Sunda "siga kuda lepas di gedogan" (seperti kuda yang lepas dari kandangnya).

Ada banyak faktor, menurut Elly, yang memicu kondisi itu terjadi. Pertama, sosialisasi tentang bahaya virus corona yang tidak mengena. Kedua, warga kesulitan melampiaskan kejenuhannya dengan cara yang aman di masa pandemi ini.

Untuk faktor pertama, Elly menjelaskan, ada kesenjangan bahasa antara pemerintah dan masyarakat awam.

"Kenyataannya di masyarakat kita ini sosialisasi dari kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya tersosialisasikan dengan baik. Ada sedikit kebingungan dengan beberapa istilah yang disampaikan pemerintah, seperti new normal dan PSBB. Bahasa rakyat dengan bahasa pemerintah berbeda," kata perempuan bergelar profesor ini.

Tak sedikit masyarakat, lanjut Elly, yang menganggap new normal itu kembali ke kondisi normal sebelum pandemi.

Padahal, istilah itu berarti, masyarakat bisa beraktivitas seperti biasa tapi dengan protokol kesehatan yang ketat. Masyarakat juga harus paham virus corona masih menjadi ancaman.

Faktor kedua, Elly menuturkan, masyarakat cenderung kesulitan melampiaskan kejenuhannya dengan cara yang lebih aman lantaran minimnya fasilitas publik, seperti taman bermain dan sarana olahraga, di sekitar tempat tinggal mereka.

"Ketika datang ke obyek wisata di Lembang karena mereka untuk melepaskan rasa jenuhnya tidak ada di sekitar mereka. Tidak ada taman bermain, tidak ada tempat olahraga," ujarnya.