PSBB: Pegawai kembali ke kantor di Jakarta, KRL ramai, pengemudi ojek 'was-was tapi bersyukur'

  • Resty Woro Yuniar
  • BBC News Indonesia
jakarta

Sumber gambar, Antara Foto/MUHAMMAD ADIMAJA

Keterangan gambar,

Karyawan melakukan aktivitas di pusat perkantoran, kawasan SCBD, Jakarta, Senin (08/06). Pekan kedua masa pembatasan sosial berskala berskala besar (PSBB) transisi, Pemprov DKI Jakarta mulai memperbolehkan karyawan di perkantoran kembali bekerja dengan kapasitas karyawan hanya dibolehkan sebanyak 50 persen dari jumlah karyawan dalam satu ruangan.

Ahli kesehatan masyarakat menilai pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta masih terlalu dini lantaran angka penularan virus corona yang tetap tinggi. Meski demikian, pendukung kebijakan masa transisi PSBB menilai ibu kota dibayangi krisis ekonomi jika aktivitas masyarakat terus dibatasi.

Hermawan Saputra, pengurus pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), mengatakan Jakarta belum siap jika melonggarkan PSBB saat ini mengingat laju epidemiologis Covid-19 di Indonesia belum mencapai puncaknya, ditambah dengan kurangnya kesadaran masyarakat untuk berdisiplin dalam menerapkan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah.

Sumber gambar, Antara Foto/ARIF FIRMANSYAH

Keterangan gambar,

Ratusan calon penumpang KRL Commuter Line mengantre menuju pintu masuk Stasiun Bogor di Jawa Barat, Senin (08/06). Antrean panjang calon penumpang tersebut terjadi saat dimulainya aktivitas perkantoran di Jakarta di tengah masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pandemi Covid-19.

"PSBB itu harus diselenggarakan secara optimal, tetap konsekuen dan tetap disiplin, apalagi kalau kita melihat laju epidemiologis kita ini belum mencapai puncaknya. Angka-angka inti dan prevalensi juga masih cukup tinggi dan kecenderungannya naik secara signifikan dalam beberapa hari [terakhir]. Ini menunjukkan bahwa parameter belum memenuhi syarat untuk dilakukan pelonggaran," kata Hermawan saat dihubungi lewat sambungan telpon pada Senin (08/06).

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menetapkan bulan Juni sebagai masa transisi memasuki 'new normal', atau kenormalan baru sejak Jumat (05/06), namun aktivitas perkantoran dimulai pada Senin (08/06), meski dengan pembatasan seperti jumlah pegawai di kantor yang hanya boleh setengah dari total karyawan.

Tahap pertama berlaku pada 5-7 Juni, kedua mulai 8-14 Juni, ketiga 15-21 Juni dan tahap terakhir 22-28 Juni. Kegiatan beribadah sudah diperbolehkan sejak 5 Juni, sementara perkantoran mulai 8 Juni.

Segala kegiatan yang tertera dalam masa transisi masih dibatasi hingga kapasitas 50% dan kebijakan akan dievaluasi kembali pada akhir Juni.

Sejumlah pegawai kembali beraktivitas di kantor

Sumber gambar, Resty Woro Yuniar/BBC News

Keterangan gambar,

Doni Koto, seorang pengemudi ojek online di Jakarta

Dari pemantauan BBC Indonesia di beberapa lokasi, seperti stasiun KRL di Sudirman, Manggarai, dan beberapa halte utama seperti Harmoni, terdapat peningkatan jumlah penumpang pada Senin (08/06) jika dibandingkan pekan lalu.

Data dari PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menunjukkan sebanyak 150.000 penumpang telah melakukan tap masuk di gerbang elektronik sampai Senin (08/06) pukul 10.00, hampir dua kali lipat dari sekitar 80.000 pengguna KRL selama masa PSBB, demikian menurut keterangan tertulis PT KCI.

Mulai Senin (08/06), perusahaan itu akan mengoperasikan 935 perjalanan KRL, atau naik 161 dari total perjalanan saat PSBB.

Salah satu pegawai kantor yang kembali bekerja pada Senin (08/06) adalah Domas Saraswati, karyawan perusahaan trading di bilangan Thamrin, Jakarta. Ia mengaku senang kembali ke kantor karena banyak pekerjaan yang tertunda selama tiga bulan ia bekerja di rumah.

"Dari pertama kita masuk gedung kita harus scan barcode dari sebuah aplikasi yang kita download sendiri. Lalu duduknya [di kantor] berjarak satu meter. Masih 50 persen [karyawan] yang masuk, kebetulan karena kita perusahaan kecil, jadi hanya bagian HRD dan sales [yang masuk kantor hari ini] .

"[Kita juga] disuruh pakai masker, hand sanitizer selalu ada kalau kita masuk ruangan, dan kalau keluar lift selalu cek temperatur," kata perempuan berusia 40 tahun itu.

Sumber gambar, Resty Woro Yuniar/BBC News

Keterangan gambar,

Motor ojek disemprot disinfektan

Ojek kembali beroperasi melayani pengantaran penumpang

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Sementara itu, banyak pengemudi ojek, baik pangkalan maupun online, sudah mulai melayani pengantaran penumpang.

Dalam pernyataan tertulis yang diterima BBC Indonesia, Neneng Goenadi, direktur pelaksana Grab Indonesia, mengatakan layanan ojek onlinenya kembali beroperasi di Jakarta, kecuali di 66 wilayah RW yang termasuk dalam zona merah.

"Kami juga telah...memberikan alat kebersihan seperti hand sanitizer, masker, sarung tangan, dan juga partisi plastik antara pengemudi dan penumpang serta penumpang diwajibkan untuk membawa helm pelindung sendiri. Langkah-langkah ini akan kami lakukan secara bertahap kepada 8.000 mitra pengemudi kami pada akhir bulan ini," kata Neneng.

Hal senada juga diungkapkan GoJek, yang mengimbau penumpang untuk membawa helm sendiri dan mewajibkan pengemudi ojeknya untuk menggunakan masker dan sarung tangan.

"Gojek sendiri memiliki 130 [posko] di kota-kota besar di Indonesia termasuk Jakarta, di mana mitra driver dapat melakukan pengecekan suhu tubuh, mendapatkan health kit (masker dan hand sanitizer) serta tempat untuk dilakukannya penyemprotan disinfektan terhadap motor ataupun mobil yang digunakan oleh mitra," kata Nila Marita, chief corporate affairs GoJek dalam sebuah pernyataan tertulis.

Salah satu posko tersebut terletak di belakang stasiun KRL Sudirman, tempat para pengemudi pengojek antre untuk mendapatkan giliran motor mereka disemprot disinfektan, mendapatkan masker dan vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh.

Tepat di depan stasiun, terdapat pos rapid test Covid-19 secara gratis, di mana pesertanya terdiri dari pengemudi ojek online dan masyarakat umum.

Sumber gambar, Resty Woro Yuniar/BBC News

Keterangan gambar,

Antrian rapid test gratis di depan stasiun Sudirman

Seorang penumpang ojek, Moraini, mengatakan bahwa ia bersyukur ojek sudah dibolehkan membawa penumpang kembali. Sore itu, ia terlihat membawa helm pribadi dan mengenakan masker. Segala persiapan ini rupanya masih membuatnya cemas.

"Tadi pagi saya juga naik [ojek online], yang penting kita jaga jarak, jangan terlalu dekat [dengan pengemudi], sama pakai helm sendiri dan pakai masker," kata karyawati sebuah minimarket itu.

"Lebih aman kalau [memakai partisi], seperti di berita-berita itu, nggak ngerti sih apa itu namanya, karena [pengemudi] mengerem suka nempel kan [badan kita dengan pengemudi], ngerinya begitu," ujarnya.

Seorang pengemudi ojek online, Irawan, mengatakan ia belum mendapat partisi, masker gratis dan vitamin. Meski demikian, ia sudah membawa maskernya sendiri.

"[Saya] besok kembali lagi untuk mengambil masker sama vitamin. Saya sudah bawa dua penumpang [hari ini], mereka bawa helm sendiri, mereka tidak mau juga kalau pake helm ini. [Saya] belum dapat partisi, tapi nanti juga pasti dapat," kata pria berusia 29 tahun ini.

Sama seperti Moraini, ia juga mengaku khawatir tertular virus corona.

Sumber gambar, Resty Woro Yuniar/BBC News

Keterangan gambar,

Posko ojek online di Jakarta

"Saya bersyukur saja soalnya penghasilan berkurang kalau tidak bawa penumpang, semoga bisa tambah lagi orderannya," kata Irawan. "Saya was-was juga sih, cuma kan ini kebutuhan. Kalau nggak narik nggak dapat duit, ya saya jaga kesehatan saja."

Salah satu yang berminat ikut rapid test gratis adalah Doni Koto. Pengemudi ojek berusia 38 tahun itu mengatakan ia terlambat datang karena jatah tes untuk hari itu sudah habis.

"[Saya] mau menyemprot motor [dengan disinfektan] sama rapid test, tapi belum. Sampai sini, [saya] disuruh besok ke sini lagi katanya, soalnya [hari ini] sudah penuh," kata Doni.

"Katanya kalau sudah disemprot sama sudah rapid test boleh bawa penumpang."

PSBB transisi bisa dihentikan jika penularan meningkat

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Gerindra, Syarif, mengatakan bahwa PSBB bisa dikencangkan kembali apabila tingkat reproduksi virus corona, atau Rt, menjadi 1.4, atau satu orang menulari empat orang lainnya.

Sumber gambar, MUHAMMAD ADIMAJA/ANTARAFOTO

Keterangan gambar,

Pegawai Rumah Makan di Rawamangun menata meja dan kursi untuk menerapkan protokol kesehatan, Senin (8/6/2020).

"Dulu bulan [April] dan [Mei] Rt itu kan 1.4, satu orang menularkan [ke] empat [orang lainnya], ini dilonggarkan karena ada penurunan [Rt menjadi] 0.98. [PSBB] 'direm mendadak' apabila Rt-nya sudah seperti di bulan2-bulan awal [pandemi Covid-19], sampai 1.4," kata Syarif.

"Kita akan lihat hasil tes dan tracking-nya pekan depan, kita blm bisa kasih kesimpulan apa-apa [sekarang]."

Selain itu, Syarif juga mengatakan bahwa tujuan yang ingin dicapai Pemprov DKI Jakarta dengan masa PSBB transisi ini adalah menciptakan masyarakat yang sehat, aman, dan produktif. Pemerintah DKI Jakarta akan menilai apakah pergerakan ekonomi naik setelah PSBB dilonggarkan.

"Tujuan yang ingin dicapai dengan pelonggaran ini adalah masyarakat sehat, aman, produktif, yang produktif juga harus diukur dari pergerakan ekonominya, naik apa tidak, itu penting jadi atensi," kata Syarif.

Ia menambahkan bahwa penguatan ekonomi di Jakarta baru dinilai setelah tanggal 20 Juni, atau lima hari setelah pusat perbelanjaan dan mal buka.

Jakarta rentan krisis ekonomi?

Menurut Syarif, jika PSBB tetap ketat, maka Jakarta akan dibayangi oleh krisis ekonomi karena terbatasnya aktivitas masyarakat.

Sumber gambar, Dhemas Reviyanto/ANTARAFOTO

Keterangan gambar,

Pengemudi ojek daring memberikan cairan hand sanitizer kepada penumpang di Jakarta

"Pemerintah juga menampung aspirasi banyak kalangan dari pengusaha, khusus DKI Jakarta, itu kita sampaikan ke Pak Anies [Baswedan, gubernur Jakarta] jelang Lebaran, bahwa kita sudah bukan lagi menghadapi krisis kesehatan, tapi di akhir Mei kita menghadapi krisis ekonomi.

"Mumpung krisis ekonomi belum membesar dan membahayakan, langkah yang bijaksana adalah mengupayakan skenario transisi. Menurut saya cukup baik dan bijaksana. Kita tunggu dalam waktu dua minggu ini, transisi ini berhasil apa tidak, kalau berhasil kita serahkan pada gubernur [apa langkah selanjutnya]. Skenario terburuknya adalah rem mendadak seperti itu," kata Syarif.

Akan tetapi, Hermawan dari IAKMI berkilah bahwa penurunan ekonomi Indonesia tidak terlalu parah jika dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia seperti Singapura, China, dan Jerman.

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal pertama tahun ini tercatat 2,97% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu PDB Singapura pada kuartal pertama tahun ini menyusut 0,7%, jika dibandingkan kuartal pertama 2019.

"Kalau dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, [ekonomi] Indonesia sangat moderat, Perilaku masyarakat kita juga sangat terbuka, kalau dibandingkan dengan negara lain yang melakukan lockdown, kemudian [diikuti dengan] pengetatan ekonomi, pengorbanan Indonesia itu 'belum ada apa-apanya'," kata Hermawan.

Untuk menyeimbangkan antara kebutuhan ekonomi masyarakat dengan upaya penanganan Covid-19, Hermawan menyarankan pemberian bantuan sosial agar lebih efisien dan tepat sasaran.

"Kita memiliki mekanisme, social protection, dengan angka Rp405,1 triliun, di mana Rp150 triliun di antaranya adalah social security. Ini menyasar kepada para penduduk namun belum well implemented selama ini. Pemerintah juga konsekuen, dalam arti [memberi] insentif harian kepada para sektor yang sensitif. Ini harus disampaikan dengan tepat guna," tambahnya.