Covid-19: Papua Barat 'sesalkan' penumpang positif virus corona bisa terbang dari Jakarta ke Sorong, 'pukulan telak' bagi dunia penerbangan

  • Resty Woro Yuniar
  • BBC News Indonesia
Bandara Sukarno-Hatta

Sumber gambar, MUHAMMAD IQBAL/ANTARA FOTO

Keterangan gambar,

Petugas keamanan penerbangan menggunakan helm thermal KC wearable untuk memantau suhu tubuh calon penumpang pesawat di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (25/06).

Otoritas Papua Barat menyesalkan kejadian lolosnya seorang penumpang—yang diketahui positif Covid-19 dari hasil test swab—dari Bandara Soekarno-Hatta ke Sorong, Papua Barat.

Seorang pakar kesehatan masyarakat menilai kasus ini merupakan preseden buruk bagi industri penerbangan Indonesia.

Sementara, pengelola Bandara Soekarno-Hatta berjanji akan memperketat pengawasan dokumen kesehatan para penumpang pesawat setelah terungkapnya kasus ini.

Penumpang maskapai Garuda Indonesia GA 682 itu, berangkat dari Jakarta dan tiba di Sorong, Papua Barat, Sabtu (27/06) pukul 06.20 WIT.

Sebelumnya, dia dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan hasil tes usap, atau swab test di sebuah laboratorium di Jawa Barat pada 21 Juni lalu, seperti dikutip dari kantor berita Antara.

Belakangan status kesehatan penumpang itu diketahui saat pemeriksaan dokumen di Bandara Domine Eduard Osok Sorong, setelah tiba dari penerbangan dari Jakarta.

Belum diketahui bagaimana ia bisa melakukan perjalanan udara dengan membawa dokumen kesehatan yang menyebutkan dia positif Covid-19.

Sumber gambar, MUHAMMAD IQBAL/ANTARA FOTO

Keterangan gambar,

Penumpang sedang antri untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan oleh petugas di Terminal Tiga Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (8/06).

Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Bandara Soekarno-Hatta, Anas Ma'ruf, mengatakan pihaknya tengah 'menelusuri' lebih lanjut kejadian tersebut dengan pihak-pihak terkait. Pemeriksaan dokumen kesehatan juga akan diperketat.

"Ini tentu menjadi feedback atau input bagi kita untuk melakukan peningkatan [pemeriksaan dokumen kesehatan] lebih ketat lagi.

"Dokumen kesehatan artinya menjadi penting untuk dilakukan pemeriksaan, yang nanti dibawa oleh masing-masing penumpang untuk kemudian kita lakukan pengecekan," kata Anas kepada BBC Indonesia, Minggu (28/06).

"Kami sudah menelusuri dari berbagai pihak, baik di internal kami, lalu dengan provinsi terkait, kemudian juga di Sorong dan sebagainya," tambahnya.

Bagaimana tanggapan otoritas Papua Barat?

Kejadian itu 'sangat disesalkan' oleh otoritas penanganan wabah virus corona di Papua Barat.

Sumber gambar, MUHAMMAD IQBAL/ANTARA FOTO

Keterangan gambar,

Petugas memeriksa dokumen kesehatan calon penumpang sebelum melakukan lapor diri (chek in) di Terminal Tiga Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (08/06).

"Jelas ini menambah kerja tenaga medis [di Papua Barat], dan menambah [penggunaan] fasilitas [kesehatan], padahal kita sudah mengarah ke 'new normal'.

"Harusnya kita mengurangi [jumlah kasus Covid-19], dan aktivitas ekonomi kita mau tumbuhkan, normalkan, eh tahu-tahu ada kelengahan lagi, ini kan yang harusnya tidak terjadi.

"Karena semua sudah tahu [bahwa penumpang positif Covid-19 tidak boleh bepergian], ini bukan hal baru, kok bisa terjadi? Ini kan kami sangat sesalkan," kata Derek Ampnir, Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Papua Barat.

Apa tanggapan pimpinan maskapai Garuda Indonesia?

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengeluarkan pernyataan resmi terkait hal ini pada Minggu (28/06) yang mengatakan:

Sumber gambar, MUHAMMAD IQBAL/ANTARA FOTO

Keterangan gambar,

Petugas KKP Klas 1 Bandara Soetta melakukan pemeriksaan kesehatan penumpang yang baru saja mendarat dari luar negeri di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (08/06)..

"Garuda Indonesia bersama-sama dengan stakeholder terkait terus melakukan koordinasi dan komunikasi intensif terkait tindak lanjut atas kondisi tersebut guna memastikan prosedur protokol kesehatan penerbangan pada masa transisi 'new normal' berjalan dengan optimal."

Lebih lanjut, Irfan mengatakan bahwa "seluruh penumpang Garuda Indonesia pada penerbangan tersebut telah memperoleh validasi dan clearance dari otoritas terkait perihal pemenuhan persyaratan protokol kesehatan bagi penumpang yang akan melakukan penerbangan, mengacu pada ketentuan dari Gugus Tugas COVID-19."

Sementara, Juru bicara Kementerian Perhubungan mengatakan "kasus ini lebih baik dikomentari oleh KKP Kelas I Bandara Soetta".

'Penumpang positif jangan diberangkatkan'

Saat ini sekitar 90 orang penumpang pesawat telah dianjurkan untuk karantina mandiri setibanya di Sorong selama 14 hari.

Sementara itu 43 orang penumpang lainnya, yang menjadi bagian dari rombongan yang mencakup salah-seorang penumpang positif Covid-19 itu, telah menjalani swab test di sebuah rumah sakit di Sorong.

Sumber gambar, MUHAMMAD IQBAL/ANTARA FOTO

Keterangan gambar,

Petugas medis dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas 1 Soekarno Hatta melakukan pengecekan kesehatan calon penumpang sebelum melakukan penerbangan di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (07/05).

Derek Ampnir, Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Papua Barat, mempertanyakan bagaimana penumpang tersebut bisa bepergian dari Jakarta ke Sorong.

"Kita harapkan teman-teman semua yang bertugas baik di airline, bandara dan segala macam, harus memperketat protokol kesehatan.

"Kalau ada penumpang yang sudah positif jangan diberangkatkan. Jangan dilayani tiketnya, ini kan ada kelemahan, pada level pusat, pengelolaan angkutan udara yang ada.

"Terus terang saya akan lebih ketat lagi terhadap armada yang membuat kondisi seperti ini. Kita tidak akan tolerir dia," kata Derek.

'Ini bukan kasus pertama penumpang Covid-19 lolos ke Papua Barat'

Menurutnya, ini bukan kali pertama ditemukan penumpang yang positif Covid-19 dengan tujuan ke Papua Barat.

Seorang penumpang yang terkena virus corona baru-baru ini datang ke Manokwari dari Jayapura, Papua, dengan kapal laut, katanya.

"[Ia bagian dari] rombongan yang terdiri dari 902 orang, yang dipulangkan [ke Papua Barat] dari Papua," ujar Derek.

"Ini yang sebenarnya kita berusaha untuk lebih diperketat, ini menjadi indikasi bagi pemerintah Papua Barat untuk akan lebih banyak memperketat orang masuk ke Papua Barat.

"Padahal kita berharap sudah mau menuju 'new normal'," ujarnya.

Sumber gambar, MUHAMMAD IQBAL/ANTARA FOTO

Keterangan gambar,

Calon penumpang repatriasi bersiap menjalankan rapid test dimana menjadi prosedur yang harus dipenuhi penumpang pesawat yang akan terbang di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (10/05).

Derek mengatakan bahwa Kota Sorong adalah salah satu daerah di Papua Barat yang memiliki tingkat kerawanan penularan Covid-19 'tinggi', selain Kabupaten Sorong, Raja Ampat, Manokwari, dan Teluk Wondama.

Di provinsi itu, Derek mengatakan ketersediaan alat untuk rapid test massal masih kurang, begitu pula dengan masker bagi masyarakat.

Ia menghitung Papua Barat membutuhkan setidaknya 89.000 masker kain bagi masyarakat, mengingat masker biasa hanya dapat digunakan dalam waktu terbatas.

"Kami mohon dukungan dari pemerintah pusat soal ketersediaan [perangkat rapid test] dalam jumlah besar karena kita lagi mau rapid test massal ini supaya bisa terpenuhi begitu.

"Kemudian masyarakat masih membutuhkan masker, karena masker [hanya bisa] digunakan empat jam.

"Nah, ini kan harus disiapkan, karena kita mau menuju 'new normal' ya semua harus punya, setiap penduduk ini wajib hukum dia punya masker," ujar Derek.

'Pukulan telak bagi dunia penerbangan'

Dr Hermawan Saputra dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, mengatakan bahwa kasus ini 'cukup mengagetkan' lantaran terjadi di sektor penerbangan yang pemeriksaan dokumennya biasanya cukup ketat.

"Menurut kami ini kecolongan antara regulasi, atau aturan yang tidak seindah dengan implementasi di lapangan.

"Jadi bagaimana mungkin kita membayangkan adanya verifikasi dan pencegahan Covid-19 secara maksimal sementara di area penerbangan yang [pemeriksaannya] super ketat, yang sangat riskan, ini malah diloloskan," kata Hermawan kepada BBC News Indonesia.

Sumber gambar, Aloysius Jarot Nugroho/ANTARA FOTO

Keterangan gambar,

Petugas bandara memakai masker dan pelindung wajah saat mengecek dokumen milik penumpang pesawat di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (12/06).

Ia mengatakan bahwa fakta penumpang tersebut telah diketahui positif Covid-19 sebelum penerbangan namun lolos pemeriksaan dokumen kesehatan adalah sebuah 'pelanggaran aturan.'

"Kasus ini kan positif [Covid-19] sebelum terbang, kalau positif sebelum terbang lantas diterbangkan, ini sebuah pukulan telak buat dunia penerbangan yang super ketat selama ini.

"Tetapi juga pengabaian terhadap semua indikator pencegahan penyakit menular Covid-19 ini."

"Jadi menurut hemat kami yang seharusnya bisa dilakukan adalah pemerintah harus menegakkan hukum terkait pihak-pihak yang bisa meloloskan itu, karena itu melanggar aturan, atau surat edaran pemerintah melalui gugus tugas [Covid-19]," ujar dr. Hermawan.

Hermawan mengatakan bahwa kelonggaran pemeriksaan dokumen kesehatan sebelum melakukan perjalanan berpotensi 'menambah beban' sistem kesehatan di daerah tujuan, dalam hal ini Sorong.

Sumber gambar, ADWIT B PRAMONO/ANTARA FOTO

Keterangan gambar,

Sejumlah penumpang melakukan pemeriksan tes cepat saat tiba di Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, Rabu (10/06).

"Untuk di Sorong bukan penumpang bersangkutan saja yang beresiko, tapi seluruh penumpang dalam pesawat itu yang bertujuan ke Sorong, mereka berpotensi menjadi carrier atau pembawa virus.

"Setibanya di Sorong satu pesawat itu harus diisolasi mandiri paling tidak 14 hari. Kalau tanpa ada isolasi mandiri, tanpa pengamanan, tentu ini akan berdampak besar pada masyarakat dan pemerintah di Sorong karena menjadi klaster baru penularan.

"Padahal di [Papua Barat] dan di Sorong sendiri sudah ada kasus. Jadi ini menambah beban di daerah," jelasnya.

Kejadian serupa terjadi di Padang dan Manado

Di Indonesia, ini bukan kali pertama penumpang positif Covid-19 bisa bepergian melalui udara.

Otoritas Bandara Minangkabau, Padang, mendeteksi dua orang penumpang maskapai Lion Air yang positif Covid-19, walau keduanya dinyatakan memenuhi syarat untuk melakukan perjalanan udara dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang pada 3 Juni lalu.

Setidaknya 13 orang penumpang, yang terbang dari Soekarno-Hatta, juga ditemukan positif Covid-19 oleh otoritas Bandara Sam Ratulangi, Manado.

Sumber gambar, Iggoy el Fitra/ANTARA FOTO

Keterangan gambar,

Sejumlah penumpang pesawat udara mengantre mengikuti swab test setibanya di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padangpariaman, Sumatera Barat, Kamis (11/06).

Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Bandara Soekarno-Hatta Anas Ma'ruf mengatakan bahwa kasus penumpang yang ditemukan positif Covid-19 di Padang telah menunjukkan hasil non-reaktif terhadap rapid test, sehingga ia bisa melanjutkan perjalanan.

"Untuk yang di Padang itu yang bersangkutan memang memenuhi persyaratan untuk terbang, karena syarat nasionalnya adalah mempunyai hasil rapid test atau PCR. Nah rapid test yang bersangkutan masih valid, dan hasilnya negatif atau non reaktif, jadi secara umum boleh melakukan perjalanan. Tapi [setibanya] di daerah dilakukan swab test, nah itu yang positif," kata Anas.

Anas juga mengatakan protokol kesehatan di dunia penerbangan 'masih ketat' lantaran moda transportasi disemprot disinfektan 'secara rutin' dan kru kabin pesawat menjalankan tes Covid-19 'minimal dua minggu sekali.'

"Itu sebenarnya ditujukan untuk supaya penerbangan itu aman, nyaman dan sehat, sehingga tidak menjadi potensi penyebaran Covid-19. Itu kita lakukan dengan ketat," kata Anas.

Menurut Garuda Indonesia, pihaknya telah mendisinfeksi pesawat yang dipakai untuk penerbangan tersebut dan awak kabin yang bertugas telah dikarantina mandiri.

Kapasitas GA 682 rute Jakarta-Sorong juga "berkisar di angka 62 persen dari total kapasitas pesawat."