Paralimpiade Tokyo 2020: Perjuangan Leani Ratri Oktila di balik tiga medali dan menjadi 'Ratu Parabadminton'

badminton paralimpiade

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Leani Ratri Oktila menunjukkan medali perak yang diraihnya dalam nomor tunggal putri SL4,

Mengharumkan nama Indonesia di pentas internasional hanya dapat dilakukan oleh sedikit orang dan butuh perjuangan yang melelahkan, apalagi dilakukan oleh mereka yang memiliki keterbatasan secara fisik.

Leani Ratri Oktila melambungkan nama Indonesia di pentas Paralimpiade Tokyo 2020, pertarungan tertinggi para atlet penyandang disabilitas (parasports).

Ratri yang mengalami kecelakaan di usia 21 tahun sehingga patah kaki dan tangan kirinya, menyabet tiga medali cabang bulutangkis di kejuaraan itu - dua medali emas dari ganda campuran dan ganda putri serta satu medali perak dari tunggal putri.

Pada kategori ganda campuran SL3-SU5, Leani dan Hary Susanto mendapatkan medali emas setelah mengalahkan pasangan Lucaz Mazur/Faustine Noel dari Prancis dalam dua set.

Sebelumnya, Leani bersama Khalimatus Sadiyah meraih medali emas dengan mengalahkan pasangan China di ganda putri SL3-SU5.

Dan pada nomor tunggal putri SL4, Leani meraih medali perak usai kalah dari Cheng Hefang asal China di final.

"Perjuangan yang saya alami selama pertandingan kemarin saya anggap sebagai proses menjadi juara, saya berusaha menikmati semuanya, rasa capek ketika training camp di Machida (Jepang), harus main beberapa kali dalam sehari, saya siap," Kata Ratri kepada wartawan BBC News Indonesia, Raja Eben Lumbanrau, melalui pesan singkat, Senin (06/09).

"Hanya saja di hari terakhir, badan saya memang sedikit drop karena harus tes doping malam sebelumnya. Jadi saya sangat kekurangan waktu untuk istirahat."

"Tapi saya tetap bersyukur, saya cukup puas dengan apa yang saya raih," ujarnya.

Dengan tambahan medali ini, Indonesia total sudah mendapatkan total sembilan medali, yaitu dua medali emas, tiga perak, dan empat perunggu di Paralimpiade Tokyo 2020.

Total sebanyak enam medali — dua emas, dua perak, dan dua perunggu — diraih dari cabang olahraga badminton.

Baca juga:

Leani Ratri Oktila: 'Kekurangan waktu istirahat dan pantang menyerah'

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Prestasi gemilang yang diraih Leani menobatkan perempuan berusia 30 tahun itu tak hanya menjadi atlet parabadminton terbaik Indonesia, tetapi juga yang terbaik di dunia dalam kategori tunggal putri.

Di ajang Paralimpiade Tokyo 2020 ini , Leani merupakan pemegang rangking nomor 1 dunia di 3 nomor (WS, WD, XD).

Ia merupakan satu-satunya atlet Indonesia yang meraih dua medali emas sekaligus plus 1 perak, sehingga dijuluki "Ratu Parabadminton di Paralimpiade 2020" - tulis situs resmi Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Namun prestasi itu terukir dengan pengorbanan dan pantang menyerah.

"Harapan saya, setelah meraih juara ini, semoga saya bisa menginsipirasi banyak orang terutama untuk teman-teman disabilitas lainnya. Bahwa kita tidak ada perbedaan dengan orang lain, di tengah keterbatasan yang dimiliki, kita bisa melampauinya dalam prestasi," kata Leani.

Leani Ratri Oktila bercerita, mulai menekuni olahraga badminton sejak berusia tujuh tahun.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Pasangan ganda campuran Hary Susanto dan Leani Ratri Oktila setelah memenangkan pertandingan melawan Lucaz Mazur dan Faustine Noel dari Prancis.

"Saya dilatih oleh papa sendiri, dan ketika SMA saya mulai berlatih di klub, salah satunya adalah Klub Angkasa Riau," kenang Leani.

Namun, pada tahun 2011, Leani mengalami kecelakaan yang menyebabkan patah kaki dan tangan kirinya.

Kaki kirinya tujuh sentimeter lebih pendek dari kaki kanan. Namun kecelakaan itu tidak menghambat cintanya pada badminton.

"Puji Tuhan saya tidak terpuruk atau menyerah karena saya tidak kehilangan anggota tubuh seperti teman-teman yang lain.

"Ketika saya kecelakaan pun, support dari keluarga, teman-teman dan orang sekitar pun luar biasa.

"Jadi saya tidak pernah merasa harus bangkit di saat itu.. Saya ingin cepat sembuh karena melihat saya terbaring patah kaki dan tangan itu adalah kesedihan terbesar untuk orang tua dan keluarga," kenang Leani.

Keluar dari rumah sakit, Leani terus berlatih tanpa henti di tengah hambatan fisik. Dua tahun kemudian, dia bergabung dengan timnas para-bulutangkis, dalam NPC Indonesia (National Paralympic Committee Indonesia).

"Sulit itu ketika harus menahan Rindu jauh dari orang tua dan keluarga," katanya.

Dalam situs Kemenpora, Leani Ratri lahir di Dusun Karya Nyata, Desa Siabu, Kecamatan Salo, Kabupaten Kampar, Riau pada tanggal 6 Mei 1991.

Selain menjadi atlet para-bulutangkis, saat ini, Leani tengah menyelesaikan master di Universitas Veteran Bangun Nusantara di Sukoharjo.

Leani Ratri dianugerahi gelar atlet parabadminton putri terbaik dari Federasi Badminton Dunia (BWF) dua tahun berturut-turut 2018-2019.

Sebelumnya, saat diwawancarai pada 2020, kepada Indosport, yang dikutip dari paralympic.org, Ratri mengatakan terbiasa bertanding beberapa kali sehari, dan beristirahat di toilet.

"Saya bisa bermain enam pertandingan sehari. Ketika pemain lain langsung pulang ke rumah atau hotel, saya masih di lapangan. Saya sering membawa alas, bantal, dan pakaian ganti. Juga, saya suka tidur di toilet. Saya kunci saja toiletnya.

"Saya bisa tidur tiga jam dan segar lagi saat bangun. Biasanya saya bilang ke pelatih, cari saja saya di salah satu toilet," kata Ratri saat diwawancara pada 2020.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Reaksi Hary/Ratri saat memenangkan pertandingan final, Minggu (05/09).

Leani juga dikenal karena suka memakai ikat rambut berwarna jingga.

"Saya ingat seorang wartawan Jepang bertanya, 'Kenapa Anda selalu memakai ikat rambut itu? Apakah itu seperti jimat?' Saya spontan menjawab 'Iya'. Sebenarnya, saya tidak nyaman dengan rambut-rambut yang mengganggu saat bermain, jadi ikat rambut ini praktis saja," ujar Ratri saat itu.

Ini adalah medali emas pertama yang didapatkan Indonesia di ajang Paralimpiade dalam 41 tahun.

Sementara itu, masih dari cabor badminton, Dheva Anrimusthi meraih medali perak di nomor tunggal putra SU5 dan Suryo Nugroho mendapatkan medali perunggu di tunggal putra SU5.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Suryo Nugroho saat melawan Dheva Anrimusthi dari Indonesia di nomor tunggal putra SU5.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Dheva Anrimusthi berpose dengan medali perak untuk cabor badminton nomor tunggal putra SU5, 4 September 2021.

Di media sosial, kemenangan para atlet paralimpiade disambut dengan suka cita oleh warganet Indonesia. Presiden Joko Widodo, dalam cuitannya saat emas pertama berhasil diraih, memberikan selamat kepada "dua srikandi bulutangkis".

"Dari Tanah Air, saya menyampaikan selamat kepada Leani Ratri Oktila dan Khalimatus Sadiyah," tulis Jokowi.

"Luar biasa, luar biasa dan luar biasa. Itulah hasil maksimal yang diraih pemain Indonesia karena berhasil meraih medali emas pertama bagi kontingen Indonesia," ucap Andi Herman, Chef de Mission kontingen Indonesia, seperti dikutip dari situs resmi Kementerian Pemuda dan Olahraga.

"Luar biasa. Sejak kita pertama kali datang ke Tokyo, medali emas inilah yang kita harapkan. Akhirnya kita 'pecah telor' dengan berhasil meraih emas," kata Senny Marbun, Ketua NPC Indonesia.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Leani Ratri Oktila dan Khalimatus Sadiyah meraih emas pertama untuk Indonesia di Paralimpiade Tokyo 2020, 4 September 2021.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Ratri dan Sadiyah tampak emosional setelah memenangi pertandingan yang mengantarkan medali emas pertama bagi Indonesia di Paralimpiade Tokyo 2020.

Sebelumnya, di cabor atletik 100 meter putra, Saptoyoga Purnomo mempersembahkan medali perunggu, dan di cabor powerlifting 41 kg, Ni Nengah Widiasih merebut medali perak.

David Jacobs, dari cabor tenis meja tunggal putra kelas 10, berhasil mendapatkan medali perunggu.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Reaksi Saptoyoga Purnomo setelah memenangi medali perunggu di cabor Atletik nomor 100 meter putra - T37, 27 Agustus 2021.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Peraih medali perak Ni Nengah Widiasih, medali emas Guo Lingling, dan medali perunggu Clara Fuentes berfoto setelah final Powerlifting 41 kg pada 26 Agustus 2021.

  • Tonton dan berlangganan channel YouTube BBC Indonesia di sini: