Angka reproduksi Covid di Indonesia di bawah satu, apakah pandemi memang telah terkendali dan kapan kita bisa lepas masker?

  • Raja Eben Lumbanrau
  • Wartawan BBC News Indonesia
Wisatawan memadati area Pantai Sanur saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 di Denpasar, Bali, Minggu (19/09)

Sumber gambar, Antara Foto/Nyoman Hendra Wibowo

Keterangan gambar,

Wisatawan memadati area Pantai Sanur saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 di Denpasar, Bali, Minggu (19/09).

Pemerintah Indonesia menyebut situasi pandemi Covid-19 telah terkendali, dilihat dari angka reproduksi efektif (R-rate atau Rt) untuk pertama kalinya selama pandemi, berada di bawah satu, yakni sebesar 0,98.

Namun epidemiolog tidak sependapat dengan hal tersebut karena R-rate adalah angka untuk menunjukkan kecepatan penularan, bukan tolak ukur terkendali atau tidaknya wabah Covid.

Penurunan Rt, menurutnya, juga tidak serta-merta menjadi salah satu faktor untuk melakukan pelonggaran yang dapat membuat publik berkerumun.

Terdapat beberapa syarat untuk menyatakan pandemi telah terkendali, mulai dari tingkat vaksinasi, angka reproduksi, pengawasan, hingga pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat.

Baca juga:

Setelah dihantam varian Delta yang keras Juli hingga Agustus lalu, pemerintah kini menyebut situasi pandemi, khususnya Jawa dan Bali, telah terkendali.

Kini tidak ada wilayah di Jawa dan Bali yang berada di PPKM level 4.

Bahkan untuk pertama kali selama pandemi, R-rate di bawah satu, yakni 0,98 - mengutip hasil estimasi tim Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia -, kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan.

Pemerintah juga melakukan uji coba pembukaan pusat perbelanjaan bagi anak-anak di bawah usia 12 tahun, pembukaan bioskop dengan kapasitas maksimum 50% dan lainnya pada wilayah yang status Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berada level 2 dan 3.

Sebagai contohnya adalah pelonggaran di Kota Semarang yang turun dari dari level 4 ke 2 di bulan September.

Kota Semarang: Angin segar bagi masyarakat

Sumber gambar, ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF

Keterangan gambar,

Pengunjung pusat perbelanjaan harus menggunakan aplikasi PeduliLindungi sebelum memasuki area perbelanjaan dan tidak boleh berstatus hitam.

Status PPKM level 2 di Kota Semarang, Jawa Tengah membawa angin segar bagi masyarakat, dan pelaku pariwisata.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari menyebut, tempat wisata dan hiburan di wilayahnya sudah kembali dibuka dengan pembatasan-pembatasan tertentu.

Pembatasan itu meliputi jam operasional, jumlah pengunjung maksimal 50% dan menunjukkan bukti sudah divaksin melalui aplikasi Peduli Lindungi.

"Strategi yang kita lakukan adalah dengan meningkatkan kepercayaan masyarakat, menunjukkan persepsi Kota Semarang yang aman, nyaman, kasus Covid-nya juga terus mengalami penurunan sehingga bisa bernafas lega dan memungkinkan orang untuk datang dengan protokol kesehatan yang ketat," kata Indriyasari kepada Margi Ernawati yang melaporkan untuk BBC News Indonesia di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (21/09).

Perubahan itu salah satunya dirasakan oleh Hanna Ristanti, pemilik kafe di kawasan Tembalang.

Sumber gambar, Antara Foto

Keterangan gambar,

Petugas Dinas Perhubungan memasangkan masker kepada warga yang melanggar Perda Wajib Memakai Masker di Tempat Umum.

"Kalau dulu hanya melayani take away, sekarang bisa makan di tempat walaupun hanya sampai pukul 21.00 WIB, tentunya memperhatikan protokol kesehatan," kata Hanna, sapaan akrabnya.

Walaupun sudah ada kelonggaran, Hanna menyebut usahanya belum menggembirakan.

"Omzet belum naik, harapan saya buat pemerintah agar lebih peduli lagi kepada para pelaku usaha, jangan buat aturan yang ribet supaya perekonomian segera pulih," lanjut Hanna.

Berbeda, pelatih renang, Siti Nurhayati, merasakan manfaat langsung dari kelonggaran fasilitas publik di Semarang.

"Sekarang, dalam sehari bisa melatih selama empat jam, jadi pendapatan juga naik. Kalau dulu paling hanya melatih satu jam per hari," kata Siti.

Apakah pandemi ini sudah terkendali?

Sumber gambar, Antara Foto

Keterangan gambar,

Peserta Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Blitar mengikuti pembelajaran secara daring dari rumah di Blitar, Jawa Timur, Senin (12/07).

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Jawabannya adalah belum, kata epidemiolog dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko.

Terkendali atau tidaknya suatu pandemi, katanya, dilihat dari kurva harian kasus Covid-19, positivity rate, yang mengalami penurunan secara stabil dalam satu kali masa inkubasi virus.

Bukan dilihat dari R-rate yang adalah angka jumlah orang yang tertular oleh satu kasus dalam masa infeksiusnya. Artinya, jika Rt-nya satu maka satu orang bisa menularkan virus corona ke satu orang lainnya.

"Rt kurang dari satu berarti ada pelambatan penularan, saya setuju. Tapi itu bukan berarti wabah menjadi terkendali," kata Yunis.

Senada, epidemiolog dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo mengatakan, penurunan Rt tidak lantas membuat situasi pandemi menjadi terkendali.

"Contoh banyak negara, Singapura di utara, Australia di selatan. Mereka berhasil menurunkan Rt, tapi tiba-tiba naik lagi kan," katanya.

Windhu menambahkan, jika R-rate berada di bawah satu dalam waktu yang konsisten, 28 hari berturut-turut, maka kasus positif baru bisa disebut "relatif terkendali".

Sumber gambar, Antara Foto

Keterangan gambar,

Pemprov DKI mewajibkan semua pimpinan kantor, baik swasta maupun pemerintah, untuk melaporkan kasus positif Covid-19 ke Dinas Kesehatan.

"Di awal pandemi, Rt kita tiga, sekarang satu, membaik. Tapi Rt itu naik turun."

"Dipengaruhi tiga faktor, yaitu karakteristik virus, seperti Delta, lalu masa infeksius yang semakin lama maka penularan semakin besar, dan pelaksanaan prokes yang ketat," katanya.

Juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi juga mengatakan walaupun Rt di bawah satu, pandemi belum terkendali.

"Saat ini adalah laju penularan yang turun, tapi ancaman peningkatan kasus dan gelombang ketiga masih ada. Karena vaksinasi belum pada semua sasaran. Angka reproduksi adalah ukuran untuk kondisi yang terkendali tetapi ini harus dilihat dalam jangka waktu tertentu," kata Nadia.

Nadia juga menjelaskan Rt tidak digunakan sebagai salah satu faktor dalam mengambil kebijakan, melainkan untuk evaluasi akhir.

Luhut: Situasi pandemi terkendali

Sumber gambar, Antara Foto

Keterangan gambar,

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (kanan) berdialog dengan peserta vaksinasi Covid-19 di kompleks Kodim 0705/Magelang, Jawa Tengah, Jumat (06/08).

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyebut situasi pandemi di Indonesia telah terkendali.

Indikatornya adalah dengan melihat angka reproduksi efektif (Rt) yang untuk pertama kali berada di bawah satu, yakni sebesar 0,98 - mengutip hasil estimasi dari tim Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Selain itu, Luhut menambahkan, kasus harian, juga menunjukan tren membaik - kasus konfirmasi nasional di bawah 2.000 dan kasus aktif kurang dari 60.000.

"Untuk Jawa dan Bali, kasus harian turun hingga 98% dari titik puncaknya pada 15 Juli lalu. Dengan berbagai perbaikan tersebut, saya sampaikan tidak ada lagi kabupaten kota yang berada di level 4 di Jawa dan Bali," katanya.

Pemerintah, ujar Luhut, juga akan melakukan pelonggaran, di antaranya, uji coba pembukaan pusat perbelanjaan bagi anak-anak di bawah usia 12 tahun, pembukaan bioskop dengan kapasitas maksimum 50% pada wilayah level 2 dan 3, dan lainnya.

Berdasarkan perkembangan situasi Covid 19 hingga kemarin, Selasa (21/09), terjadi penambahan lebih dari 3.200 kasus dalam satu hari. Jumlah ini jauh mengecil dari beberapa bulan sebelumnya yang mencapai hingga belasan ribu orang.

Kapan kita bisa bebas masker?

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Masyarakat mengantre mendapat vaksin covid buatan AstraZeneca di Denpasar, Bali, (26/06).

Siti, warga Semarang mengungkapkan satu pertanyaan yang menjadi kegelisahan sebagian masyarakat,

"Kapan kita bisa melepas masker saat berkumpul di ruang publik, tanpa adanya batasan jarak, bisa hidup seperti sediakala seperti dulu?" tanya Siti.

Terkait itu, epidemiolog Tri Yunis memprediksi, mungkin dalam waktu beberapa tahun ke depan, setelah melewati fase pandemi, eliminasi, dan eradikasi.

"Mungkin dua hingga tiga tahun lagi. Sekarang saja kita masih wabah, belum masuk ke eliminasi," katanya.

Sementara itu, epidemiolog dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo mengatakan terdapat beberapa syarat agar kita bisa melepas masker dan hidup berdampingan dengan Covid-19.

Tahap pertama adalah R-rate mendekati nol dalam waktu lama, minimal 28 hari berturut-turut tanpa pernah menyentuh angka satu.

Tapi belum bisa melepas masker dulu. Setelah itu ada tahap selanjutnya, yaitu kita semua harus telah terlindungi dengan vaksinasi 100% - yang bertujuan jika tertular tidak dalam kondisi kronis.

"Selanjutnya, adalah penguatan pengawasan dengan testing dan tracing. Jadi jika ada yang positif bisa segera ditemukan, diisolasi, dan yang di luar itu yang sehat-sehat."

"Jika bisa dilakukan, saya kira kita mungkin bisa membuka masker seperti di negara lain. Kalau sekarang? Belum bisa dong," katanya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS

Keterangan gambar,

Seorang pedagang menunjukkan sertifikat vaksin COVID-19 miliknya di pasar tradisional Rangkasbitung, Lebak, Banten, Jumat (06/08).

Namun, harapan itu menurut Windhu akan sulit terwujud.

Di tengah penurunan Rt dan kasus positif, pemerintah malah mengeluarkan kebijakan pelonggaran yang berpotensi kembali meningkatkan jumlah kasus.

"Hari ini mobilitas sudah sama dengan base line Maret lalu, ini kan berbahaya. Pelonggaran menyebabkan mobilitas naik, diikuti ketidakpatuhan prokes, muncul kerumunan, dan kasus meningkat," katanya.

"Jadi jangan terlalu los dol (tanpa hambatan) walaupun adan pelonggaran, jadi mirip-mirip kondisi tanpa pandemi," ujarnya.

Terkait dengan kapan dapat kembali normal, juru bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan, setiap orang bahkan ahli sekalipun tidak mengetahui dengan pasti.

"Untuk itu upaya terbaik yang dilakukan saat ini ialah menekan angka penularan dengan baik sebagai bentuk kebiasaan baru yang tidak terpisahkan mengingat kita akan hidup berdampingan dengan Covid-19 dalam waktu yang tidak dapat ditentukan kemudian," katanya.