Pameran 'Revolusi! Kemerdekaan Indonesia' di Belanda dan istilah periode 'Bersiap' yang memantik polemik

  • Astudestra Ajengrastri
  • Wartawan BBC News Indonesia
Pameran Revolusi! di Belanda

Sumber gambar, Rijksmuseum

Keterangan gambar,

Tiga perempuan muda Indonesia di jalan. Dua di antaranya adalah relawan Republik Indonesia dari Sulawesi, anggota angkatan bersenjata muda KRIS, di Yogyakarta, Desember 1947. Foto karya Hugo Wilmar dari Arsip Nasional Belanda/Spaarnestaad Collection.

Dalam perkembangan terkini, Direktur Rijksmuseum Taco Dibbits mengatakan sejarawan Indonesia Bonnie Triyana menulis artikel opini tentang menghapuskan terminologi 'Bersiap' atas pendapat pribadi dan "tak diakui" oleh Museum Kerajaan Belanda.

"Artikel itu ditulis dengan kapasitas pribadi," kata Dibbits dalam wawancaranya dengan harian NRC yang terbit Jumat (14/01), media sama yang memuat tulisan opini Bonnie Triyana pada 10 Januari.

"Dalam artikel itu, Bonnie Triyana mengindikasikan dirinya secara pribadi memilih untuk tidak menggunakan istilah itu," lanjut Dibbit, seraya menekankan Rijksmuseum "tidak melarang istilah 'Bersiap' di mana pun".

Tulisan Bonnie ini menjadi pusat kontroversi yang membuat Belanda geger beberapa hari terakhir.

Selain tekanan publik kepada museum, laporan hukum dilayangkan kepada Bonnie Triyana, dan isu ini dibawa ke parlemen Belanda.

Hingga Sabtu (15/01) pagi, Bonnie tak menjawab permintaan BBC News Indonesia untuk mengomentari perkembangan terbaru ini.

Masih dalam wawancara yang sama dengan NRC, Dibbits juga mengatakan bahwa kurator-kurator yang lain "tidak memiliki opini yang sama" dengan sejarawan Indonesia tersebut dan pihaknya "tidak mengetahui" ataupun "meninjau" tulisan itu sebelum terbit.

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Dunia Pagi Ini BBC Indonesia

BBC Indonesia mengudara pada Pukul 05.00 dan 06.00 WIB, Senin sampai Jumat

Episode

Akhir dari Podcast

Pernyataan Dibbits ini bertentangan dengan apa yang dituliskan Bonnie sebelumnya: "...tim kurator memutuskan tidak menggunakan istilah 'Bersiap' sebagai terminologi umum yang merujuk pada periode kekerasan di Indonesia selama revolusi" dan bahwa saat istilah ini dipakai "secara umum", maka ia "memiliki konotasi rasis yang kuat".

Bonnie adalah satu dari dua kurator tamu dari Indonesia untuk pameran Revolutie! Indonesie onafhankelijk — Revolusi! Kemerdekaan Indonesia — yang rencananya digelar mulai 11 Februari mendatang.

Kurator tamu Indonesia lainnya adalah Amir Sidharta; sementara dua kurator lain untuk pameran ini dari Belanda, Harm Stevens dan Marion Anker.

Jeffry Pondaag, Ketua Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB), mengatakan Bonnie "terjebak" dalam posisinya kini.

"[Tulisan opini Bonnie] tidak dianggap serius oleh Taco Dibbits, dan saya merasa kasihan pada dia. Mungkin orang Indonesia itu terlalu baik dan Bonnie kurang tahu," menurut Pondaag, melalui telepon kepada BBC News Indonesia, Sabtu (15/01).

Organisasi pimpinan Pondaag telah berhasil memenangi sejumlah kasus yang menuntut pemerintah Belanda atas pembantaian 1945-1950 di pengadilan banding Belanda di Den Haag.

Bagi Jeffry, kontroversi baru-baru ini menunjukkan bahwa pihak Belanda hingga kini masih belum mau mengakui kolonialisme selama 3,5 abad di Indonesia sebagai tindak kejahatan.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Museum nasional Rijksmuseum baru-baru ini mengadakan pameran berjudul "Perbudakan".

Sebelumnya, penjelasan sama terkait sikap Rijksmuseum atas penggunaan istilah 'Bersiap' diberikan oleh juru bicara museum itu kepada BBC News Indonesia melalui email.

"Istilah itu tidak digunakan sebagai istilah umum yang dipakai untuk semua aksi kekerasan yang dilakukan beragam kelompok dari pihak berbeda pada bulan-bulan awal setelah Proklamasi. Tapi istilah itu akan digunakan untuk menjelaskan — dalam pameran ini — rujukan periode sejarah Belanda secara spesifik dan [istilah] itu tidak dipakai dalam sejarah Indonesia," jelas email itu.

Polemik muncul di Belanda saat Federatie Indische Nederlanders (Federasi Belanda-Indisch - FIN) menyatakan keberatan pada sejarawan Bonnie Triyana, Selasa (11/01), atas tulisan opininya di media berhaluan liberal NRC.

Pernyataan keberatan dari kelompok orang-orang Indo dan Indisch (orang yang memiliki kaitan erat dengan Hindia Belanda) ini menjadi tajuk berita hampir di seluruh media, baik koran maupun televisi, juga ramai di media sosial seperti Twitter dan Facebook.

Opini Bonnie Triyana yang membuat geger negeri Belanda itu, di situs NRC berjudul "Schrap term 'Bersiap' voor periodisering want die is racistisch", yang berarti "Hapus istilah 'Bersiap' dalam periodisasi tersebut karena rasis".

Dalam edisi cetak yang terbit sehari setelahnya (12/01), judul itu diganti dengan "Simplicerende term 'Bersiap' deugt niet als periode-naam" atau "Penyederhanaan istilah 'Bersiap' karena tidak masuk akal untuk periode tersebut".

Tulisan Bonnie itu, salah satunya dimaksudkan sebagai pengantar — atau penjelasan — tentang pameran Revolusi! yang bakal berlangsung 11 Februari-5 Juni 2022 mendatang. Bonnie adalah salah satu kurator pameran tersebut.

Baca juga:

Dalam situs resmi Rijksmuseum, disebutkan bahwa pameran ini akan "menawarkan perspektif internasional atas perjuangan kemerdekaan Indonesia dari Kerajaan Kolonial Belanda selama periode 1945-1949".

Pameran itu akan menampilkan lebih dari 200 objek, tujuh di antaranya adalah lukisan pinjaman dari pemerintah Indonesia, koleksi Istana Kepresidenan yang untuk pertama kalinya dipamerkan secara internasional.

'Istilah yang rasis'

Di Belanda, istilah 'Bersiap' umum dipakai untuk merujuk pada kekerasan anti-kolonial yang dilakukan orang Indonesia dalam rentang waktu antara 1945-1950.

Menurut Bonnie dalam tulisannya, pada awalnya istilah 'Bersiap' dipakai para pejuang Indonesia sebagai aba-aba perang untuk menyerang orang-orang Belanda yang baru tiba di Kamp Jepang.

Sumber gambar, Rijksmuseum

Keterangan gambar,

Salah satu poster di era itu yang disita oleh pemerintah Belanda kala itu. Arsip Museum Broonbeek.

Kalangan sejarawan menyebut ledakan kekerasan lokal ini sebagai revolusi sosial yang bermuatan ketegangan struktural sejak zaman kolonial dan pendudukan Jepang.

Alasan yang sama kemudian berlaku untuk kekerasan terhadap warga negara Belanda setelah proklamasi kemerdekaan pada 1945.

Mereka dipandang sebagai simbol kolonialisme berdasarkan hirarki ras dan hubungan kekuasaan feodal. Sementara di Indonesia, istilah 'Bersiap' dalam konteks itu justru tidak dikenal.

"Jika kita menggunakan istilah 'Bersiap' secara umum untuk kekerasan kepada Belanda selama periode tersebut, hal ini berkonotasi sangat rasis," tulis Bonnie dalam opini tersebut.

Terlebih lagi karena istilah 'Bersiap' selalu menggambarkan orang Indonesia yang primitif dan tidak beradab sebagai pelaku kekerasan, yang tidak sepenuhnya bebas dari kebencian rasial, lanjut dia.

Padahal akar masalahnya terletak pada ketidakadilan yang diciptakan kolonialisme, sebut Bonnie, yang membentuk struktur masyarakat hierarkis berbasis rasisme serta menyelimuti eksploitasi daerah jajahannya.

Setelah berakhirnya pendudukan Jepang pada 1945, Belanda bersiap menguasai kembali daerah jajahannya dengan mengerahkan ribuan pasukan.

Interaktif Wilayah kekuasaan Belanda di Jawa sebelum dan sesudah 1947

Wilayah kekuasaan Belanda sesudah 1947

Wilayah kekuasaan Belanda sesudah 1947

Wilayah kekuasaan Belanda 1946-1947

Wilayah kekuasaan Belanda 1946-1947

Dalam buku sejarah Indonesia, ini dikenal sebagai Agresi Militer Belanda, yang pertama pada 1947 dan kedua pada 1949.

Upaya Belanda ini dilawan sengit pejuang kemerdekaan Indonesia. Diperkirakan 5.000 tentara Belanda dan sedikitnya 100.000 orang Indonesia tewas selama periode ini.

Meski Indonesia telah mendeklarasikan kemerdekaan pada 1945, baru pada 27 Desember 1949 Pemerintah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia.

'Bersiap' belum siap dihapus

"Ini menyakitkan," demikian ungkap Hans Moll, ketua FIN, kelompok yang paling keras menolak gagasan Bonnie untuk menghapuskan istilah 'Bersiap'.

"Ini adalah bentuk penolakan yang gila dan mengejutkan," kata Moll kepada De Telegraf, Rabu (12/01).

Sumber gambar, Keystone/Getty Images

Keterangan gambar,

Api melalap Probolinggo, Jawa Timur, seiring dengan dimulainya agresi Belanda pertama pada Juli 1947.

"Selama periode yang sangat kejam ini, ribuan orang Belanda [Indo dan Indisch] disiksa secara brutal, diperkosa, dan dibunuh oleh orang Indonesia. Semata karena mereka beretnis Belanda atau Eropa," kata Moll.

Lebih lanjut seperti yang ditulis dalam situs FIN, Moll menambahkan, pernyataan penolakan Bonnie menjadi "titik baru terendah pada iklim yang sudah tidak bersahabat dalam wacana pembahasan sejarah Hindia Belanda".

Namun di Belanda sendiri, pendapat tentang pemakaian istilah 'Bersiap' juga terbelah.

"Saya sepenuhnya setuju dengan pendapat Triyana," demikian kata penulis dan pengamat sosial, Artien Utrecht, kepada wartawan Lea Pamungkas yang melaporkan untuk BBC News Indonesia dari Amsterdam.

Ibunya, Elien Utrecht, adalah salah satu penyintas periode 'Bersiap' dan sempat menjadi penghuni Kamp Jepang di Semarang pada 1942.

Tidak seperti banyak orang berdarah Belanda lain, orang tuanya memilih menjadi warga negara Indonesia. Baru setelah Peristiwa G30S, mereka pindah ke Belanda.

Menurut Utrecht, yang dihubungi lewat telepon pada Rabu (12/01), istilah 'Bersiap' hanya dipakai oleh orang-orang Indo atau Indisch.

"Istilah tersebut cuma dipakai oleh mereka yang merasa dirinya berada di atas orang Indonesia, inlander — orang-orang yang dipandang tidak beradab dan tidak bermoral. Dan ini tentu, dengan sendirinya, rasis," kata dia.

Sikap Rijksmuseum yang tetap menggunakan istilah itu disertai catatan, tambahnya, adalah tepat.

"Karena jika tidak, muatannya yang berkonotasi rasis akan terus diinternalisasi dan dipelihara," sebut Utrecht.

Di sisi lain, Prof.Dr. Nico Schulte Nordholt, guru besar antropologi politik Universitas Twente, mengatakan pendapat Triyana baginya menarik.

"Sekarang orang Belanda dipaksa melihat periode revolusi dengan cara yang lain," sebutnya, saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Rabu (12/01).

Kendati begitu, dia melanjutkan, jika rasisme direduksi hanya dalam periode 'Bersiap' saja — yang kurang lebih enam bulan pertama setelah Jepang kalah — itu sulit diterima.

"Sebab rasisme sudah terjadi jauh sebelumnya, sepanjang masa kolonialisme."

Sumber gambar, Keystone/Getty Images

Keterangan gambar,

Sekelompok tentara Belanda memasuki sebuah kota di Indonesia pada 4 Januari 1949.

Lebih lanjut Nordholt mengatakan, bahwa untuk banyak orang Belanda periode tersebut memang sangat berat dan kejam. Saat itu orang-orang Belanda yang sudah tidak dapat lagi membela diri, diserang.

Bukan cuma orang Belanda yang mengalaminya, tetapi mereka yang dianggap kolaborator seperti misalnya orang-orang keturunan China, Ambon, atau Manado.

Mereka yang mengalami masa-masa itu tentu merasa sangat menderita, dan banyak yang tidak merasa bersalah dengan kolonialisme, kata Nordholt.

Baca juga:

'Tanpa rasa bersalah dan malu'

Melalui email kepada BBC News Indonesia, Rijksmuseum menampik anggapan bahwa mereka "melakukan penyensoran dan pelarangan" atas istilah 'Bersiap'.

Menurut mereka, terminologi adalah diskusi penting dan Rijksmuseum "tidak menghapus istilah, melainkan menambah informasi dan mengkontekstualisasikan".

Sumber gambar, Rijksmuseum

Keterangan gambar,

Lukisan pejuang kemerdekaan Indonesia, Otto Djaya, 1946-1947. Milik keluarga keturunan Otto Djaya/Rijksmuseum. Dibeli dengan dukungan Pon Holdings B.V.

"Di antara jejaring ahli dan organisasi yang terlibat dalam pameran Revolusi! dan tim kurator yang terdiri dari dua kurator tamu dari Indonesia dan dua kurator Belanda, juga ada diskusi tentang terminologi ini," tulis juru bicara museum tersebut.

Atas argumentasi inilah, Rijksmuseum tetap menggunakan istilah 'Bersiap'.

"Kami tidak melarang [istilah 'Bersiap']. Kami tidak menyangkal kekerasan dan penderitaan yang dimaksud dalam 'Bersiap', juga luka yang sampai saat ini masih dirasakan banyak orang," lanjut pernyataan itu.

Rijksmuseum membahas istilah 'Bersiap' — yang merujuk pada masa kekerasan terhadap orang-orang Indo-Eropa, Belanda, Maluku, China, dan pihak-pihak lain yang dicurigai berada di pihak Belanda — kata mereka, dalam konteks sejarah, sebagai bagian dari bentuk-bentuk kekerasan berbeda dalam periode 1945-1946.

"Sama seperti kekerasan yang juga dilakukan kepada kelompok-kelompok Indonesia."

Dalam pembukaan Pameran Revolusi yang dilakukan secara digital, Selasa (11/01), Direktur Rijksmuseum Taco Dibbits mengatakan pameran ini "tidak menitikberatkan pada rasa bersalah dan malu".

"Tetapi tentang orang-orang yang terlibat dalam konflik besar," kata dia.

Sumber gambar, Rijksmuseum

Keterangan gambar,

Lukisan 'Kawan-Kawan Revolusi' karya Sudjojono, 1947. Koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia yang pertama kali dipamerkan secara internasional.

Pameran ini dikurasi Harm Stevens, Bonnie Triyana, Marion Anker, dan Amir Sidharta. Tujuh lukisan terpenting dalam sejarah seni rupa Indonesia, yang juga koleksi Istana Kepresidenan, akan ditampilkan — di antaranya "Kawan-kawan Revolusi" karya Sudjojono dan "Biografi II di Malioboro" karya Harijadi Sumadidjaja.

Koleksi Istana Kepresidenan diawali oleh Presiden Soekarno, jauh sebelum kemerdekaan.

Soekarno juga secara aktif menugaskan dan membeli karya seni selama revolusi dan sesudahnya. Lukisan-lukisan koleksi Soekarno tersebut kemudian menjadi bagian utama koleksi Istana Kepresidenan.

Soekarno sendiri menganggap karya koleksinya adalah milik rakyat Indonesia, dan dapat dinikmati masyarakat. Sekarang, karya-karya tersebut didaftarkan sebagai aset resmi nasional.

Selain yang sudah disebut di atas, akan dipamerkan juga karya-karya Trubus Soedarsono, Sudjojono, Otto Djaya, Basoeki Abdullah, Hendra Gunawan, Affandi dan Henk Ngantung.

Total ada lebih dari 200 objek dipamerkan, beberapa adalah hasil pinjaman dari Australia, Belgia, Inggris, Indonesia, dan Belanda.

Di dalamnya juga terdapat foto-foto dan dokumen-dokumen seperti poster dan pamflet yang disita oleh badan intelijen militer Belanda pada periode tersebut.

Beberapa kisah saksi mata juga diikutsertakan. Di antaranya, kisah seorang tentara muda Belanda yang menulis kepada orang tuanya bahwa informasi yang diterimanya di Belanda tidak sesuai dengan kenyataan di Hindia Belanda, atau kisah perempuan Belanda yang berpihak pada para pejuang kemerdekaan, dan masih banyak lagi.

---

*Wartawan di Amsterdam, Belanda, Lea Pamungkas berkontribusi untuk laporan ini.

Catatan redaksi: Artikel ini telah diperbarui guna mencerminkan situasi terkini.

Anda mungkin tertarik menonton video ini:

Keterangan video,

Berlian Banjar: Dinamika pemulangan artefak Indonesia dari Belanda