Divonis 10 tahun penjara, pemasok bom Sarinah tertawa

Dodi Suridi Hak atas foto AP
Image caption Dodi Suridi tidak mengajukan banding dan menyebut vonis 'risiko sebagai seorang teroris'.

Dodi Suridi dijatuhi hukuman penjara 10 tahun oleh hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, hari Kamis (20/10), setelah dinyatakah bersalah terlibat dalam serangan di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Januari lalu.

Serangan bersenjata dan serangan bom bunuh diri di kawasan Sarinah ini menewaskan delapan orang, termasuk empat tersangka pelaku.

Dodi, 23 tahun, ditangkap pada 15 Januari, sehari setelah serangan berlangsung.

Achmad Fauzi, hakim yang memimpin persidangan mengatakan, Dodi bersalah melanggar undang-undang antiterorisme dengan menyediakan bahan-bahan bom yang kemudian dipakai dalam serangan di Sarinah.

Fauzi mengatakan Suridi tahu akan ada serangan bunuh diri namun tak mengetahui lokasi maupun kapan serangan dilakukan. Ia juga mengikuti pertemuan yang membahas perekrutan pelaku bom bunuh diri.

ISIS klaim serangan Sarinah

Hak atas foto EPA
Image caption Dodi Suridi tertawa dan mengangkat jari telunduk ketika berada di PN Jakarta Barat.

Di persidangan Suridi 'tidak menunjukkan penyesalan' dan mengatakan tidak akan mengajukan banding serta menyebut vonis ini 'risiko sebagai seorang teroris'.

Polisi menahan sekitar 40 orang terkait dengan serangan di Sarinah, yang berawal dari serangan bom bunuh diri di kafe Starbucks.

Hak atas foto AP
Image caption Ali Hamka dinyatakan berusaha memasok senjata dan amunisi untuk serangan Sarinah, Jakarta Pusat.

Masih dalam kasus yang sama namun dalam persidangan terpisah, Ali Hamka, 48 tahun, divonis empat tahun penjara karena berupaya memasok senjata dan amunisi.

Pemerintah dan aparat keamanan menyebut serangan ini diatur oleh warga Indonesia yang bergabung dengan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) di Suriah, meski tudingan ini telah ia bantah.

Tak lama setelah serangan, majalah ISIS menyatakan bahwa 'tentara ISIS sukses melancarkan serangan di Jakarta'.

Ratusan warga Indonesia diyakini bergabung dengan ISIS namun para pakar mengatakan kemampuan mereka untuk melancarkan aksi terorisme masih terbatas.

Topik terkait

Berita terkait