Jelang vonis pedofil Australia di Bali pasca berlakunya hukum kebiri

Robert Ellis Hak atas foto Getty
Image caption Robert Ellis didakwa menjebak anak-anak perempuan di bawah umur dengan iming-iming hadiah.

Majelis hakim di Bali hari ini akan menjatuhkan hukuman terhadap Robert Ellis, pria 70 tahun asal Australia, yang dituduh melecehkan 11 anak perempuan. Ini vonis pertama sejak diberlakukannya hukum kebiri - kendati jaksa hanya menuntut 17 tahun penjara.

Sedianya vonis akan dijatuhkan pekan lalu. Namun, dilaporkan wartawan Gita Elhasni, pada saat-saat akhir, majelis hakim menundanya ke Selasa (25/10) siang ini. Ini memunculkan spekulasi bahwa para hakim menunggu pengesahan UU Perlindungan Anak yang mencantumkan hukum kebiri bagi kaum pedofilia.

Dalam sidang pertengahan September lalu, jaksa Anak Agung Alit Suastika menuntut Robert Ellis dengan hukuman 16 tahun penjara.

Namun banyak pegiat hak anak yang berunjuk rasa di luar pengadilan saat sidang menganggap tuntutan itu terlalu ringan. Dalam perkembangan terbaru, parlemen Indonesia baru mengesahkan UU kejahatan seksual, yang mencantumkan kebiri kimia dan hukuman mati sebagai hukuman yang bisa dijatuhkan dalam kasus pedofilia.

Pemerintah menyatakan, dengan pengesahan DPR, hukuman kebiri bisa langsung diterapkan. Betapa pun masih diperlukan perangkat hukum lainnya, berupa peraturan pemerintah sebagaimana disebutkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise beberapa waktu lalu. Sejauh ini PP itu belum ada.

Hak atas foto GETTY IMAGES
Image caption Robert Ellis, pria 70 tahun asal Australia, didakwa melakukan pelecehan seksual terhadap 11 anak perempuan di bawah umur
Hak atas foto Getty
Image caption Para aktivis menggelar aksi di luar sidang pengadilan terhadap Robert Ellis di Bali.

Melecehkan 11 bocah perempuan

Jaksa mendakwa Robert Ellis, 70 tahun melecehkan setidaknya 11 anak perempuan dibawah umur. Sejak tahun 2014 hingga 2015, pria asal Melbourne ini, menurut jaksa, menjebak anak-anak perempuan masuk ke kamarnya di Tabanan, sekitar Kuta, dengan iming-iming hadiah.

Seperti terungkap di sidang, Ellis disebut memberi masing-masing korban sebesar Rp 100.000 hingga Rp 300.000 setelah mengantarkan mereka ke rumah mereka.

Dalam undang-undang kejahatan seksual yang disahkan 13 Oktober lalu, hukuman maksimal bagi pelaku diperberat menjadi hukuman mati, plus kemungkinan hukuman kebiri dan pemasangan chip di tubuh pelaku. Berbagai kalangan pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) mengecamnya sebagai hukum yang melanggar HAM.

Topik terkait

Berita terkait