Pengaruh Yahudi dalam menu sarapan khas Dominika

Dominika Hak atas foto JAIME REINA/AFP
Image caption Ilustrasi. Sosis salami merupakan komponen utama dalam hidangan pagi hari khas Republik Dominika.

Menu sarapan standar di Republik Dominika adalah sepiring pisang tumbuk, telur dan sepotong keju goreng, serta potongan salami atau daging cincang berbumbu yang diawetkan lalu digoreng.

Saya sedang duduk di kafe hotel di La Romana, kota terbesar ketujuh di Dominika, ketika seorang pramusaji meletakkan sepiring sarapan di hadapan saya.

Sajian di atas piring itu bernama plato tipico, santapan pagi hari yang biasa dimakan masyarakat negara di kawasan Karibia itu. Saya mendapatkan hidangan itu gratis, sepaket dengan penginapan yang saya bayar.

Ketika saya melihat sajian tersebut, saya berpikir itu adalah masakan terakhir yang akan saya santap pada hari yang terik.

Saya baru beberapa hari tinggal di Dominika, tapi saya tahu bahwa plato tipico adalah santapan yang disajikan setiap hari di berbagai sudut negara ini dan hidangan ini ternyata memang lezat.

Salami merupakan makanan pokok di Dominika. Salami biasanya disantap dalam potongan-potongan kecil yang disajikan dengan spaghetti bersaus tomat.

Masyarakat negara ini juga kadang merebus salami dengan paprika, bawang bombay. Salami itu lantas dipotong dalam ukuran besar, digoreng, lalu disajikan di atas nasi.

Saya pernah memakan salami dalam beragam metode sajian itu selama perjalanan di Dominika: sungguh penuh cita rasa. Namun hingga kini saya masih agak bingung, bagaimana bisa daging yang harus melalui beragam proses pengolahan itu menjadi makanan pokok.

Salah satu pendorong popularitas salami adalah harganya yang murah. Alasan lainnya berkaitan dengan kondisi lingkungan dan sosial.

Pasokan listrik yang tak dapat diandalkan dan status kulkas sebagai barang mewah memicu tingginya permintaan pasar terhadap sajian protein matang.

Namun ketika saya bertanya kepada satu dokter asal Amerika Serikat yang telah meneliti kegilaan masyarakat Dominika terhadap salami selama bertahun-tahun, dia menyebut alasan lain.

Menurut dokter tersebut, kegemaran penduduk Dominika atas salami muncul karena dua rezim pemerintahan yang dipimpin diktator, rasisme, Perang Dunia II, dan kecerdikan manusia.

Hak atas foto Neilson Barnard/Getty Images
Image caption Masyarakat Dominika menyajikan salami dalam beragam menu, termasuk hidangan spaghetti yang terinspirasi dari Italia.

Selama bertahun-tahun saya mengajukan pertanyaan kepada kawan maupun orang asing yang asli Dominika tentang petunjuk rahasia di balik fenomena itu. Namun tak ada yang benar-benar paham maksud saya.

Titik terang itu perlahan muncul tatkala saya menguping pembicaraan komunitas kecil Yahudi di kawasan utara Kota Sosua. Saya merasa perlu mengikuti rekam jejak fenomena salami ini.

Petunjuk itu tersebut membawa saya ke Sosua Virtual Museum, sebuah arsip sejarah daring yang berisi kisah komunitas imigran di kota itu.

Kisah historis itu dituturkan bekas maupun penduduk Sosua saat ini, anak-anak mereka, dan tentu saja penggagas museum virtual itu, Sylvia Schwarz.

Schwarz mengaku sebagai keturunan Yahudi-Eropa, namun tumbuh dewasa di Dominika. Saat orangtuanya, Egon dan Hildegard, pindah ke Dominika pada 1947, mereka berdagang untuk pimpinan pemerintahan.

Dalam Konferensi Evian tahun 1938, 32 pimpinan negara dan lembaga sipil non-pemerintahan mendiskusikan gelombang pelarian ribuan orang Yahudi dari Nazi.

Dalam pertemuan itu, Presiden Dominika yang dikenal diktator, Rafael Leónidas Trujillo Molina, menjadi satu-satunya pemimpin negara yang bersedia memberikan suaka kepada banyak orang Yahudi.

Namun kebijakan Trujillo itu didasarkan pada alasan politik, bukan kemanusiaan. Trujillo saat itu baru saja membunuh lebih dari 10 ribu warga Haiti hanya dalam enam hari di bulan Oktober 1937.

Para penutur bahasa Inggris mengingat peristiwa pembunuhan massal itu dengan istilah parsley massacre. Adapun orang-orang Dominika menyebutnya sebagai el corte, sementara masyarakat Haiti mengenalnya sebagai kout-kout-a.

Di luar perbedaan istilah, kejadian kejam itu dapat disebut berada serupa pembersihan etnis yang pada periode sama terjadi pula di Eropa. Bagaimanapun, Trujillo sangat membutuhkan citra positif di mata masyarakat.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pada tahun 1938, Presiden Republik Dominika kala itu, Rafael Leónidas Trujillo Molina, bersedia menerima lebih dari 100 ribu pengungsi Yahudi dari Eropa.

Trujillo terobsesi pada kulit putih. Dia dikenal publik, salah satunya karena menggunakan bubuk tertentu untuk membuat kulitnya terlihat lebih putih.

Trujillo melihat pulau Hispaniola di Kepulauan Karibia sebagai polarisasi fisik antara kelompok kulit putih dan gelap. Ia mengeluarkan kebijakan untuk menempatkan orang-orang berkulit gelap di kawasan dekat teluk.

Menurut Trujillo, eksodus komunitas Yahudi dari Eropa Timur pada masa kekuasaan Hitler dan kebijakan penutupan perbatasan merupakan peluang besar bagi agenda rasial pemerintahannya.

Pada Konferensi Evian, Trujillo bersedia menerima lebih dari 100 ribu orang Yahudi masuk ke Dominika. Ia berharap pria-pria Yahudi itu dapat menjadi suami bagi wanita-wanita Dominika. Dari pernikahan itu ia berharap lahir bayi-bayi yang memiliki kulit lebih putih daripada kebanyakan masyarakat Dominika.

Di luar motivasi buruknya, keputusan Trujillo itu menjadi kesempatan bertahan hidup yang tidak dapat dilewatkan komunitas Yahudi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Trujillo Molina (tengah) dikenal sebagai diktator karena tragedi pembunuhan massal yang dituduhkan kepadanya.

Sejak Konferensi Evian hingga 1944, Pemerintah Dominika menerbitkan setidaknya 5000 visa untuk para keturunan Yahudi-Eropa.

Namun, akibat persoalan perjalanan, tensi politik dan ketidakjelasan relokasi ke negara-negara Karibia, tak lebih dari seribu keturunan Yahudi yang akhirnya benar-benar bermigrasi ke Dominika.

Pemerintah setempat memberikan lahan dan persediaan hidup kepada mereka yang berhasil tiba di Dominika, dan tentu saja peluang memulai kembali kehidupan.

Egon and Hildegard bertemu dalam status pengungsi di Shanghai pada 1938. Saat itu Egon kabur dari Vienna, sedangkan Hildegard melarikan diri dari Berlin.

Keduanya menghabiskan sembilan tahun di Cina, termasuk di kamp konsentrasi pada masa pendudukan Jepang, sebelum akhirnya mendapatkan visa untuk masuk ke Dominika.

Ketika mereka tiba di negara itu tahun 1947, Asosiasi Pemukiman Republik Dominika, lembaga yang dibentuk Komite Gabungan Penyaluran Yahudi Amerika (DORSA), telah membangun komunitas kecil yang berkembang di bekas perkebunan pisang di Sosua, kawasan di pantai utara Dominika.

Kawasan itu diberi nama El Batey, terminologi Karibia untuk area pemukiman, tempat para pekerja perkebunan pisang bekerja.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Republik Dominika merupakan negara terbesar setelah Kuba di Kepulauan Karibia.

Seperti Egon dan Hildegard, banyak pengungsi Yahudi merupakan profesional yang sukses di kampung halaman mereka. Perekonomian komunitas di Sosua itu pun berhasil dikembangkan secara singkat.

Perusahaan susu bernama CILCA dan korporasi penyedia daging bernama Ganadera, diciptakan dan dibiayai oleh DORSA. Namun kesuksesan dua perusahaan itu belakangan bergantung pada keuletan dan kecerdasan bisnis para pengungsi Yahudi.

Dengan menyatukan keahlian mereka serta membawa konsultan dari Eropa, dua perusahaan itu mampu menghasilkan keju bercita rasa Eropa yang berkualitas tinggi.

Tak hanya itu, mereka juga memproduksi mentega dan sosis yang dianugerahi predikat terbaik di Dominika serta salami yang dijual ke seluruh penjuru Dominika di bawah merek Productos Sosua.

Masakan Dominika mendapat pengaruh besar dari tradisi Spanyol, Afrika, dan komunitas adat Taino. Sajian kacang-kacangan, rebus-rebusan, dan karbohidrat seperti beras, pisang raja maupun ubi (yucca), menjadi dasar yang mudah diaplikasikan ke beragam hidangan.

Sosis telah dikonsumsi masyarakat Dominika sebelum komunitas Yahudi datang ke negara itu. Namun melalui salami dan sosis khas eropa, bologna, mereka dapat meraih keuntungan finansial dan di sisi lain meleburkan panganan baru itu ke kuliner tradisional.

Campuran daging sapi dan babi yang terkandung dalam salami buatan Ganadera tentu tidak kosher atau halal menurut versi Yudaisme. Banyak keluarga Yahudi yang tinggal di Sosua memelihara babi.

"Mereka tidak menaati aturan kosher," ujar Schwarz tentang orangtuanya. "Jika anda pernah hampir meregang nyawa akibat kelaparan, anda memakan apapun yang anda temukan, anda tidak peduli itu kosher atau tidak."

Pada dekade 1960-an, dalam setahun komunitas Sosua berhasil menjual daging dan produk susu bernilai jutaan dolar Amerika Serikat.

Salami buatan mereka sangat populer dan memicu berdirinya perusahaan serupa, satu di antaranya Induveca, korporasi milik pemerintah Dominika yang saat menguasai pasar.

Meskipun pengaruh masyarakat Yahudi di Dominika terus berkembang, kelompok itu kini masih eksis dan berusaha tetap bersatu dalam komunitas yang berbudaya dan menjalan ritus agama ketat.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Salah satu pusat turisme di Sosua dulunya merupakan pemukiman penduduk yang dibangun komunitas pengungsi Yahudi.

Setelah bertahun-tahun, mayoritas pengungsi Yahudi di Dominika akhirnya pindah ke Amerika Serikat atau ke kampung halaman mereka di Israel. Namun pabrik Productos Sosua, satu sinagoga kecil, satu pekuburan, dan sekelompok kecil keluarga Yahudi tetap tinggal di kota yang terus berkembang dan kini menjadi tujuan turisme itu.

Schwarz meninggalkan Sosua pada 1995 setelah jalanan dekat rumahnya yang sepi kini beralih menjadi jalan raya besar.

Meskipun Productos Sosua dijual ke perusahaan multinasional asal Meksiko, Sigma Alimento, pada 2004, makanan pokok Dominika tetap mengakar di komunitas Yahudi. Sebaliknya, cita rasa kuliner yang dipopulerkan kelompok Yahudi sekarang terus dapat dicicipi di hampir seluruh dapur di Dominika.

Delapan tahun kemudian dan setelah memakan potongan-potongan salami, saya akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaan saya. Saat ini sejarah para pendatang Yahudi, DORSA, Ganadera, dan Productos Sosua hampir terlupakan.

Kebanyakan orang mengunjungi Sosua tanpa mengetahui lokasi wisata di kota itu dulunya dikembangkan para imigran Yahudi. Namun setiap orang Dominika, dan setiap orang yang menyantap sajian pagi hari khas Dominika, setidaknya telah bersinggungan dengan sejumput peninggalan komunitas Yahudi di satu dari sedikit negara yang bersedia menampung mereka.

Anda dapat membaca versi asli artikel berjudul The ugly story behind a breakfast meat ini di BBC Travel.

Topik terkait

Berita terkait