Mengapa 'offline' harus dibesar-besarkan

offline
Image caption Apakah atasan dapat memarahi stafnya karena tidak selalu tersedia setiap waktu, pagi dan malam hari?

Cuitan dikirim pukul 21:15 dan selama beberapa jam tidak seorangpun menjawab.

Saat pimpinan YouTurn, Mark Babbitt, melihat cuitan Twitter tersebut tiga jam kemudian, masih belum ada yang membalas. Tidak puas, Babbitt mengirim email ke stafnya dimulai dengan kalimat, “Kenapa kita membiarkannya terjadi?”

Untungnya, bukan hal penting tapi hanya pertanyaan teknis tentang situs internet YouTurn yang membantu mahasiswa menemukan tempat magang. Tetapi pada saat itulah, Babbitt menyadari perlunya keseimbangan, baik untuk dirinya maupun pegawainya. Apakah dia dapat memarahi stafnya karena tidak bisa selalu ada setiap waktu, pagi dan malam hari?

“Itulah saatnya saya menyadari saya tidak bisa melakukan hal ini. Saya tidak bisa menjadi atasan yang menginginkan semuanya online (atau tersambung internet) setiap waktu,” kata Babbitt.

Dia menerapkan jadwal 'penanggap pertama'. Sekarang ada seseorang dari perusahaan yang siap menjawab atau mengkaji email kapan pun, memastikan perusahaan tetap memperhatikan cuitan di Twitter sampai larut malam, maupun berinteraksi dengan konsumen di internet.

Langkah tersebut merupakan pendekatan yang tepat untuk menjawab kenyataan bisnis saat ini. Perusahaan manapun yang melayani pelanggan internet saat ini, hampir semuanya tidak lagi memiliki jam kerja tradisional. Maka batasan kerja dan bagian kehidupan lainnya semakin kabur.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kelompok millenial tidak memisahkan telepon kerja dan pribadi maupun email kerja dan pribadi.

Bagi para manajer, berarti pegawai diminta bekerja di luar jam kerja yang biasa. Jadi sebuah keseimbangan antara menghormati waktu pribadi dan merampungkan pekerjaan. Dan, percaya atau tidak, kadang-kadang perlu memastikan bahwa anak buah mengetahui Anda menghargai mereka karena meminta mereka bekerja lebih.

Tumbuh dengan teknologi

Kelompok millenial -atau mereka yang menjadi dewasa pada abad 21- yang memimpin perubahan yang baru terjadi ini, kata Tien Tzuo, pendiri dan pimpinan perusahaan teknologi di San Fransisco, Zuora, yang membantu perusahaan pembuat layanan langganan internet.

Ketika millenial mulai bekerja, mereka tidak memisahkan telepon kerja dan pribadi; email mereka juga berisi email pribadi maupun pekerjaan dan mereka lebih mungkin menggunakan jaringan sosial untuk berhubungan dengan teman dan klien. Bagi mereka, pekerjaan dan kehidupan adalah satu hal yang sama.

Memang sudah seharusnya begitu, kata Tzuo. “Saya bukannya mengatakan peraturan lama sudah usang, tetapi saya memang memandang millenial mengubah cara bekerja alamiah,” tambah Tzuo. Ketika membicarakan hal ini dengan stafnya, dia gemar menggunakan kutipan Voltaire, “Bekerja menyelamatkan kita dari tiga hal buruk, kebosanan, kejahatan dan keperluan.”

Maksud Tzuo adalah, di kantornya dia mengharapkan hampir setiap waktu pegawainya dapat dihubungi lewat aplikasi messenger, email atau SMS. Ketika dia masuk ke dokumen berdasar-cloud pada pukul 22:00, untuk memperbaiki bahan presentasi hari berikutnya, dia seringkali menemukan sejumlah pegawai lainnya yang juga bekerja.

Tzuo menyadari sebagian pihak akan memandangnya menuntut terlalu banyak dari pegawainya. Sementara penelitian menunjukkan keseimbangan antara kerja dan hidup yang sehat bisa meninkatkan produktifitas. Tetapi Tzuo memandang banyak industri saat ini tidak memiliki kemewahan tersebut.

Dia berpendapat bahwa siap dihubungi setiap waktu juga akan membuat pegawai memiliki waktu pribadi pada saat yang merupakan jam kerja biasa. Karena itulah Tzuo tidak merasa bersalah ketika beberapa bulan lalu membawa anak perempuannya ke dokter gigi.

“Anda ingin memanfaatkan saat-saat seperti ini pada waktunya. Anda juga harus memastikan memahaminya saat pegawai Anda ingin menggunakan saat-saat tersebut,” kata Tzuo. “Anda harus peka karena pegawai Anda adalah manusia yang siap bekerja kadang-kadang pada malam hari atau akhir minggu, tetapi kadang-kadang juga ingin menghilang.”

Hari kerja 24 jam

Kekhwatiran untuk meminta pegawai siap sepanjang hari setiap hari akan membuat mereka cepat lelah. Tetapi Joe Cross, manajer umum layanan pengiriman uang TransferWise mengatakan ada cara untuk mencegahnya.

Penangkal bagi siklus kerja selama 24 jam dalam tujuh hari dapat diatasi dengan memastikan pegawai ikut mendukung misi perusahaan. Status dan gaji sudah tidak cukup, kata Cross, karena sekarang pegawai menginginkan perasaan bahwa mereka melakukan kebaikan.

“Kekhawatiran terkait apakah pegawai siap menjawab email setiap waktu akan menghilang ketika mereka melakukan sesuatu yang diyakini,” kata Cross. “Jika ini adalah misi yang mereka dukung, mereka akan bekerja setiap waktu.”

Hak atas foto Getty
Image caption Perbedaan kerja dengan bagian lain kehidupan semakin mengabur.

Di TransferWise -perusahaan yang didirikan di Estonia- Cross menyaksikan perluasan dari Eropa ke London, dan kemudian ke AS. Memiliki perusahaan di begitu banyak zona waktu berarti peningkatan dalam jam kerja yang biasanya. Kemudian perusahaan menuju Australia, dan sekarang jam kerja tidak pernah berhenti. Di kantornya, semuanya menggunakan layanan messenger Slack. Seringkali dia menerima dan mengirim pesan 'selamat malam' tepat sebelum tidur malam hari.

Meskipun demikian, menurut Cross, para atasan harus menerima jika ada pegawai yang mengatakan tidak bisa melakukan sesuatu di luar jam kerja yang biasa, dari jamsembilan pagi sampai lima sore. Dia pernah menulis email dengan tangan kiri sambil tangan kanannya memegang buku Chocolate Moose for Greedy Goose yang sedang dibacakannya untuk anak perempuannya. “Ini membuat saya sadar bahwa mungkin sebuah garus batas sudah dilanggar dan saya harus mundur sedikit ke belakang,” kata Cross.

“Sekarang saya benar-benar offline, dan saya memahami mengapa bawahan saya juga memerlukannya.”

Offline yang tidak diterima

Bagi para pegawai muda, offline tidak selalu suatu hal yang baik, kata Babbitt, salah seorang penulis buku A World Gone Social. Millenial tidak menginginkan menjadi satu-satunya orang di bar yang tidak harus menjawab email penting atau tidak menjawab SMS dari atasan.

“Jika mereka satu-satunya yang tidak dibutuhkan, mereka takut kehilangan sesuatu, dengan kata lain kemungkinan mereka tidak dihargai,” kata Babbitt.

Tetapi manajer juga harus menjadi guru yang baik, kata Babbitt, dan ini berarti mendorong pegawai untuk menentukan batasan kapan mereka dapat dihubungi.

Bagi Babbitt, dia menetapkan kebijakan 'penanggap pertama' -yang menugaskan satu orang untuk menjawab masalah sampai larut- dengan tujuan agar dia tidak perlu menegur staf saat malam hari. “Sekarang kita hidup di ekonomi kesaksian dengan banyak hal ditentukan komentar,” kata Babbitt. "Ini berarti harus menjawab secepatnya."

Tetapi ini juga berarti bahwa sebagai manajer, Anda juga dinilai oleh para pegawai.

“Kita bertanya apakah harus 'menjadi teman' anak buah di jaringan sosial,” kata Babbitt.

Sekarang masa pertanyaan seperti itu sudah berakhir karena para manajer memerlukan penilaian positif dari bawahannya. Dan ini berarti mencari jalan keluar bagaimana mengelola masa kerja 24 jam staf Anda tanpa menjadi beban.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di Why being offline is overrated di BBC Capital.

Berita terkait