Jatuhnya Suharto dan perubahan industri film Indonesia

Film Laskar Pelangi Hak atas foto Miles Mizan Production
Image caption Industri film di Indonesia berubah dengan tumbangnya Presiden Suharto pada Mei 1998.

Sensor ketat di bawah pemerintahan Presiden Suharto seakan membuat industri film Indonesia tak punya ruang untuk berkreativitas.

Semuanya berubah seiring dengan pergantian rezim yang ditandai dengan gerakan reformasi yang berujung dengan tumbangnya Presiden Suharto pada Mei 1998.

Atmosfir kebebasan nyata terasa dan para sineas mulai mengambil pendekatan yang lebih eksperimental.

Mereka tak lagi takut mengangkut realitas dan suramnya sisi-sisi kehidupan di Indonesia secara lebih terbuka.

"Awalnya, keinginan kami adalah memotret realitas kehidupan Indonesia ke layar bioskop," ungkap Mira.

Dua dari sekian banyak pembuat film yang mengambil pendekatan ini adalah Mira Lesmana dan Riri Riza. Keduanya punya ambisi tak hanya mengenalkan pendekatan baru, tapi lebih jauh lagi yaitu mengenalkan fim-film Indonesia ke audiens global.

"Dalam perjalanannya, kami menjadi makin paham dengan peliknya masalah-masalah yang ada di Indonesia," kata Mira.

"Dan kami ingin kompleksitas ini tercermin di fim-film yang kami buat," imbuh Riri.

"Tentunya dengan berbagai macam angle (sudut pandang)," kata Mira lagi.

Film Ada Apa dengan Cinta

Image caption Mira Lesmana dan Riri Riza ingin menghadirkan kompleksitas realitas kehidupan Indonesia ke layar bioskop.

Pada 2002 Mira dan Riri melahirkan Ada Apa dengan Cinta.

Film ini tak hanya menjadi film terlaris pada 2002 tapi juga memicu kontroversi, terutama bagi kalangan Muslim, yang menilai adegan ciuman di film ini terlalu mesra.

Mira dan Riri juga membuat beberapa film dokumenter yang membedah kompleksitas kehidupan sosial dan politik.

Di masa depan Mira berharap ada iklim yang lebih sehat di dunia perfilman Indonesia.

Itu berarti film bisa diterima secara meluas, ada kritikus berkualitas, sekolah mengajarkan literasi media, dan film menjadi bagian penting dari kehidupan anak-anak muda.

Penduduk Indonesia tercatat kurang lebih 250 juta jiwa, sayangnya hanya ada 1.100-an bioskop di negara ini. Itu berarti, jika dirata-rata, satu bioskop untuk 250.00 orang.

Image caption Kinosaurus memutar film-film independen dan juga menjadi tempat lokakarya bagi para sineas muda.

Dari 1.000-an bioskop ini ada satu yang boleh dikatakan tak biasa, bioskop mini atau mikro di Jakarta Barat yang didirikan Meiske Tauirisia, yang memberi nama sinemanya Kinosaurus.

Kinosaurus adalah pengecualian karena hanya memutar film berskala kecil dengan tujuan utama memberikan edukasi dan lokakarya kepada para penonton muda.

Meiske berharap apa yang ia bangun memberi kontribusi penting dalam melahirkan generasi baru sineas muda Indonesia.

"Sejak dini kami ingin anak-anak muda mengapresiasi bagaimana membuat produk visual," kata Meiske yang juga dikenal sebagai produser film tersebut.

Ia membuka diri bagi para pembuat film independen.

"Saya kira penghargaan terhadap film-film independen atau film-film alternatif makin besar. Ini tahapan yang mengasyikkan bagi kami," katanya.

Versi asli artikel ini: How Indonesia's cinema opened up, dan wawancara dengan Mira Lesmana dan Riri Riza oleh Jason Lai bisa dibaca di: BBC Culture.

Berita terkait