‘Stonehenge’ Islandia yang menghipnotis

Di Islandia bagian timur laut, ada sebuah jalan yang hanya sedikit orang menganjurkan ke sana. Daerah pelosok tersebut sudah dilupakan turis, dan karena itulah membuatnya sangat istimewa.

Hak atas foto Eric Guth

Jalan yang jarang dipilih

Di tengah maraknya ledakan jumlah turis di Islandia, di mana sekarang jumlah pelancong mengalahi jumlah penduduk lokal dengan perbandingan 4:1, kebanyakan orang melewatkan sudut di kawasan timur laut.

Saat kami bertanya kepada seorang warga setempat di kota Husavick -tempat menonton ikan paus- tentang mengemudi di sekitar semenanjung Melrakkaslétta, dengan gamblang dia menjawab, “Anda tidak ingin melalui jalan tersebut. Jalanannya datar dan tidak ada hal yang istimewa. Tidak menarik.”

Tapi, dengan meninggalkan jalan lingkar beraspal dan melakukan perjalanan sepanjang 275 km di jalan 85 dan 870 selama tiga hari, kami memasuki wilayah baru dan menjumpai pemandangan tak terbayangkan yang penuh dengan keindahan tundra, keadaan alam yang berubah-ubah, dan penduduk setempat yang tak terlupakan.

Hak atas foto Eric Guth

Orang kampung di Islandia

Sekitar 100 km di luar kota Husavik, di mana jalan 870 mulai dan jalanan aspal berubah menjadi batu kerikil, dua lelaki kakak-beradik muncul dari kabut dengan menunggangi kuda.

Mereka berdua berseragam biru dan merah, pakaian yang tahan cuaca buruk. Mereka telah bekerja dengan menunggangi kuda selama empat hari bersama dengan 20 orang laki-laki lainnya untuk mengumpulkan 4.000 domba yang merumput di dataran tinggi.

Sveinbjörn Árni Lund dan Kristinn Johann Lund adalah tukang kayu yang pulang ke kampung halaman mereka di semenanjung Melrakkaslétta kapan saja mereka libur.

Di sini, mereka mengumpulkan domba-domba atau berburu rubah Arktika untuk mendapatkan sedikit uang tambahan.

“Kami adalah orang-orang yang biasanya Anda sebut sebagai orang kampung,” kata mereka.

Mereka menawari kami wiski yang ditaruh di botol plastik minuman soda dan mengambil beberapa tembakau sugi kami sebagai barter.

Hak atas foto Eric Guth

Cahaya utara

Saat itu senja menjelang ketika kami sampai di Hraunhafnartangi, mercusuar yang berada di Islandia paling utara. Kami berjalan di jalanan yang terbuat dari bebatuan pantai dihiasi oleh jala ikan yang tak terpakai untuk menuju ke mercusuar.

Di sana, kami diselimuti oleh suara-suara menarik seperti suara rerumputan melambai-lambai di samping rumah tua, ombak menderu-deru, dan suara logam berat menggema sewaktu kami mengetuk pintu mercusuar.

Tak ada orang yang tinggal di sana, tapi saya merasa seperti ada yang mengawasi, seakan-akan ada orang yang datang tiba-tiba.

Hak atas foto Eric Guth

Stonehenge yang menghipnotis

Setelah tengah malam, kami menemukan bangunan bebatuan bersusun yang memukau dan mengingatkan kami pada Stonehenge di Inggris dan film The Lord of The Rings.

Susunan bebatuan paling menjulang yang membingkai matahari tengah malam selama titik balik matahari musim panas (summer solstice) pada bulan Juni, adalah komponen-komponen pertama dari bangunan rumit yang dinamakan Arctic Henge.

Tempat ini juga akan diberi fitur unik lainnya seperti “Beam Salon”, terdapat kamera web yang akan menghubungkan para pengunjung dengan keluarga mereka di rumah, dan “Polar Star Pointer” yaitu sebuah "lengan" batu yang terulur seakan-akan meraih Bintang Utara.

Dengan menggabungkan cerita rakyat dan kreatifitas, kota Raufarhöfn berharap nantinya akan memikat lebih banyak wisatawan.

Hak atas foto stonehenge

Arsitektur Arctic Henge hampir mirip dengan Stonehenge yang berada di dataran Salisbury, Inggris.

Namun bedanya, Arctic Henge dibangun baru-baru ini, sedangkan monumen Stonehenge dibangun pada akhir zaman Neolitikum, sekitar abad ke-30 sebelum masehi.

Belum diketahui pasti untuk tujuan apa Stonehenge dibangun, tapi kemungkinan sebagai tempat berkumpulnya orang-orang zaman dahulu untuk upacara keagamaan.

Hak atas foto Eric Guth

Tujuan Arctic Henge

Erlingur B Thoroddsen, pria di balik Arctic Henge, adalah seorang pemikir dengan pandangannya yang unik dalam melihat dunia.

Ketika dia memberikan kami tur di situs tersebut pada keesokan harinya, dia mengakui Islandia berisiko terlalu banyak turis, tapi dia juga menyadari bahwa peningkatan jumlah pengunjung juga bisa bermanfaat banyak bagi komunitas kecilnya.

Ide jenakanya mengenai Arctic Henge yang terinspirasi dari film ET hingga Rolling Stones memiliki daya tarik tersendiri.

Thoroddsen meninggal pada akhir 2015, tak lama setelah kunjungan kami.

Tapi di sana masih ada kegiatan untuk merampungkan pembangunan Arctic Henge, dengan bantuan dari mantan menteri keuangan Islandia yang bekerja sama dengan pemerintah sekarang untuk mendukung proyek tersebut.

Seperti yang dikatakan Thoroddsen kepada kami, “Apa yang belum pernah terjadi sebelumnya, selalu bisa terjadi.”

Hak atas foto Eric Guth

Sebuah pelabuhan unik

Tujuh puluh lima kilometer di sebelah tenggara Arctic Henge terdapat teluk terbuka yang bernama Finnafjordur.

Teluk terbuka tersebut diidentifikasikan sebagai tempat ideal untuk pelabuhan kontainer. Saat laut es surut dan pengapalan Arktik dibuka, kota kecil tersebut dapat menjadi tempat perhentian penting dan strategis di sepanjang rute pasokan baru dari Cina ke Eropa.

Saat ini, 530 orang tinggal di kota kecil tersebut. Daerah itu terhubung dengan seluruh dunia, hanya ada satu jalan yang terbuat dari bebatuan kerikil dan sangat mengandalkan pada pabrik pemrosesan ikan setempat untuk mencari nafkah.

Jika rencana utama lancar, hidup mereka akan berubah drastis.

Hak atas foto Eric Guth

Menghadapi masa depan

Siggeir Stefánsson, yang mengelola pabrik pemrosesan ikan dan juga menjabat sebagai kepala kota, mengajak kami berkeliling, termasuk melihat bakal pelabuhan.

“Ini daerah yang indah, tapi tidak ada yang istimewa,” katanya sambil menggambarkan negaranya memiliki berbagai tempat indah yang tak terhitung untuk dikunjungi. Sebagian dari pekerjaannya adalah untuk menemukan cara memajukan kota dengan pilihan-pilihan terbatas.

“Generasi muda kami (yang pergi) tidak kembali (ke sini) lagi,” ujarnya.

Hak atas foto Eric Guth

Perjalanan jauh berliku-liku

Pada akhirnya, perjalanan kami di sekitar Melrakkaslétta tidaklah datar maupun tidak membosankan.

Cuaca yang berubah-ubah dan bercampur antara kabut, awan, hujan rintik-rintik, dan sinar mentari seperti mencerminkan pengalaman kami, karena kami tak pernah tahu apa yang akan terjadi.

Saya yakin jika kami mengemudi di jalan tersebut lagi, kisah-kisah baru dan kepribadian-kepribadian berbeda akan muncul dengan sendirinya.

Kelihatannya, tempat tersebut adalah tempat yang terus berubah, walaupun ada orang-orang yang datang berkunjung atau tidak.

Anda bisa membaca tulisan ini dalam bahasa Inggris Icelands psychedelic stonehenge dan artikel-atikel lainnya dalam BBC Travel.

Berita terkait