Gerabah Kasongan bergairah lagi

Kerajinan tangan Kasongan
Image caption Tak banyak generasi muda yang ingin menjadi pengrajin seni

Pada bulan Mei 2006 jalan Kasongan, Bantul, Yogyakarta nyaris rata dengan tanah akibat gempa kuat yang melumpuhkan sentra gerabah paling besar dan terkenal di Indonesia ini, tetapi kini industri gerabah Kasongan telah pulih.

Para pengrajin kembali memproduksi gerabah dengan normal dan pesanan ekspor juga kembali meningkat. Pada tahun 2009 setidaknya ada 441 unit usaha kerajinan gerabah yang beroperasi di kawasan Kasongan.

Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Yogyakarta menyebutkan transaksi bisnis gerabah Kasongan pada tahun 2009 tercatat sebesar Rp 8 miliar lebih atau melampaui pencapaian sebelum gempa yang mencapai sekitar Rp 7 miliar.

Meski kembali pulih, masa depan sentra kerajinan gerabah yang sudah ada sejak tahun 1627 tersebut menghadapi kendala regenerasi sebab mayoritas pengrajin gerabah rata rata berusia tua.

Menurut Timbul Raharjo, Dosen Institute Seni Indonesia Yogyakarta, para pemuda Kasongan sudah mulai enggan untuk meneruskan keterampilan turun-temurun ini karena lebih senang bekerja menjadi pegawai di perkotaan.

"Ada beberapa pengrajin itu tidak meregenerasikan anaknya untuk suka membikin gerabah. Mereka justru suka menjadi pegawai dan tentara," jelas Timbul Raharjo.

Persepsi primitif

Dia menambahkan ketika mereka gagal menjadi pegawai atau tentara, mereka akhirnya mewarisi usaha orang tua mereka. Namun karena tidak menguasai ketrampilan teknis, mereka tidak mampu mengelola usaha dengan baik.

Selain itu, sebagian kalangan muda Kasongan menganggap profesi orang tuanya primitif sehingga mereka cenderung memilih menjadi pelayan toko atau buruh pabrik.

Hindarto, seorang pengusaha gerabah, mengatakan di samping persepsi pekerjaan sebagai pengrajin tergolong primitif, para pengusaha juga enggan mempekerjakan pengrajin muda karena pekerjaan itu memerlukan ketelitian dan kesabaran.

"...tidak semua bisa untuk membuatnya, jadi kalau mau mencari pegawai yang baru memang agak susah," tutur Hindarto.

Akibatnya, mayoritas pengrajin Kasongan didominasi oleh orang tua sementara generasi mudanya pergi ke kota mencari penghasilan yang belum tentu bagus.

Luar kota

Image caption Ada anggaran khusus untuk pemasaran dan pelatihan

Made Supardiono, 25 tahun, adalah salah satu dari sedikit generasi baru Kasongan yang masih mau berkecimpung dalam kerajinan. Dia mengaku bertanggung jawab atas kelangsungan industri Kasongan karena nama Kasongan sudah mendunia.

"Jadi seandainya nama sudah besar tapi kalau orang-orang Kasongan sendiri tidak bisa mencipatakan sesuatu seperti yang dibicarakan orang, ya percuma. Makanya sebagai orang Kasongan ya bisalah membuat gerabah sendiri, bisa menciptakan disain sendiri," tutur Made.

Made menyadari bahwa putaran bisnis seni membuat keramik masih sangat menjanjikan sehingga dia berkeliling kampung untuk mencari pemuda yang mau dilatih menjadi pengrajin.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bantul, Misbakhul Munir mengatakan pihaknya telah menambah anggaran khusus untuk industri Kasongan sebesar Rp 1,5 miliar, yang digunakan untuk pemasaran dan pelatihan.

Oleh karena itu Misbakhul Munir meyakini keterampilan pengrajin gerabah tidak akan hilang.

"Karena setiap tahun ada kegiatan pelatihan dari segi disain sampai manajemen khusus untuk Kasongan sehingga kita tidak khawatir kalau suatu saat akan hilang," jelasnya.