Membangun ekonomi Aceh tugas utama gubernur terpilih

aceh, emping, homebusiness, ekonomi
Image caption Dua orang ibu mengemas emping melinjo untuk dipasarkan

Desa Beureuah Kabupaten Pidie sore itu terlihat lenggang, hanya sesekali saja kendaraan melintasi jalanan yang berada di tepi sawah tersebut.

Di sepanjang jalan, terlihat beberapa sapi sedang memakan sisa batang padi yang telah dipanen. Halaman rumah-rumah penduduk tampak di tumbuhi pohon-pohon melinjo. Buahnya seringkali dijadikan penganan emping oleh ibu-ibu rumah tangga di desa tersebut.

Mereka membuat emping untuk menambah kebutuhan sehari-hari, dan menjualnya kepada tengkulak atau agen. Soal harga mereka tak dapat menawar, sesuai yang ditetapkan oleh para agen.

Tetapi itu dulu, sejak sekitar empat tahun yang lalu, ibu-ibu tersebut memilih untuk menjual emping buatannya ke Koperasi Wanita Serba Usaha Hareukat Poma. Harganya, ditentukan dengan harga pasar emping mentah, yang lebih menguntungkan.

Nur Hasnah, Ketua Dewan Koperasi mengatakan di koperasi harga ditentukan demi keuntungan bersama.

"Biasanya harga di agen ditentukan oleh mereka sendiri, jadi penjual hanya mengikuti harga itu yang kadang berbeda dengan harga pasar," kata dia.

Langkah itu awalnya mendapatkan tantangan dari para agen, tetapi dengan keuntungan yang ditawarkan koperasi, justru menarik pembuat emping untuk menjadi anggota koperasi.

Sekarang jumlah anggota koperasi mencapai 150 orang dari empat desa. Di awal pembentukannya koperasi ini mendapatkan kucuran bantuan modal dari Canadian Co-operatives Associaton CCA pada 2008 lalu.

Kemudian mendapatkan bantuan dari Proyek Ekonomi Sosial Aceh Terpadu PESAT berupa tempat dan mesin produksi emping. Sampai saat ini, Koperasi Hareukat Poma ini mengembangkan usaha simpan pinjam dan juga mengolah emping mentah menjadi makanan kemasan, rasanya pun beragam.

Tetapi mereka tak perlu repot memasarkan karena dibantu oleh KOPERMAS, yaitu koperasi yang menjadi induk 14 koperasi termasuk Hareukat Poma.

Ketua KOPERMAS Marlina mengatakan produk emping dari koperasi Hareukat Poma sudah dipasarkan ke Aceh, Medan dan Jakarta.

"Kami membantu memasarkan emping dengan berbagai cara antara lain melalui pameran sehingga dapat menjangkau daerah lain," kata Marlinah.

Meski pemasaran sudah mulai merambah ke daerah lain, tetapi pembuatan emping masih dilakukan secara manual sehingga produksi masih terbatas, dan bahan baku pun hanya mengandalkan pohon-pohon melinjo yang tumbuh di halaman rumah penduduk.

Tetapi meski demikian, keberadaan koperasi di daerah ini dapat menggerakan ekonomi masyarakat di pedesaan Aceh.

Peluang usaha

Perkembangan ekonomi Aceh setelah tsunami dan konflik dirasakan oleh sejumlah warga. Rekonstruksi yang dilakukan pasca bencana mendatangkan keuntungan dan peluang usaha, salah satunya Siti Hawa , yang memiliki bisnis pemasok peralatan kelistrikan.

Siti yang memulai usaha sejak tahun 1990an ini, merasakan perbedaan menjalankan bisnis ketika masa konflik, dengan saat ini.

"Saat ini banyak permintaan untuk pengadaan alat-alat kelistrikan, dan lebih banyak proyek untuk pemasangan listrik ke pedesaan yang dulu sulit dimasuki ketika konflik berlangsung," kata Siti yang berkantor di Banda Aceh.

Jumlah permintaan didapat setiap bulannya meningkat lebih dari 80 persen dan belum lagi proyek yang ditangani bernilai ratusan juta rupiah.

Siti mengatakan kondisi Aceh saat ini jauh lebih baik dari segi keamanan menyebabkan banyak peluang usaha yang dapat dimanfaatkan oleh warga Aceh.

Meski mulai berkembang, petumbuhan ekonomi Aceh yang mencapai 5,89% selama 2011, masih berada di urutan bawah dibandingkan dengan provinsi lain di Sumatera.

Tetapi ditengah perkembangan ekonomi Aceh, msh menyisakan masalah minimnya lapangan kerja.

Indra (33), yang merupakan lulusan universitas sudah lebih dari dua tahun mencari pekerjaan. Sebelum tsunami dia merantau ke Jakarta dan Kalimantan untuk bekerja. Bencana diakhir tahun 2004 membuatnya kembali ke Aceh.

Pada masa rekonstruksi Indra sempat bekerja di organisasi non pemerintah yang memberikan bantuan untuk pemulihan Aceh.

"Setelah proyek bantuan mereka selesai, saya ya berhenti kerja, sudah melamar kemana-mana masih belum dpt juga, terpaksa bekerja apa saja," kata dia.

Untuk membuka usaha, Indra mengatakan tidak memiliki cukup modal.

Berita terkait