Misi perbaikan karikaturis GM Sudarta

Image caption GM Sudarta di depan karya instalasinya tentang korupsi (2010).

Karikaturis GM Sudarta menyampaikan misi perbaikan melalui karya-karya karikaturnya sejak awal Orde Baru hingga sekarang.

Di masa kanak-kanak, GM Sudarta pernah bercita-cita menjadi seorang masinis.

Seraya duduk berlama-lama di pinggir rel kereta di depan rumah masa kecilnya di Desa Kauman, Klaten, Jawa Tengah, anak bungsu dari lima bersaudara ini ketika itu selalu membayangkan betapa jauh perjalanan sang kereta api.

Bayangan itu terus menari-nari di benaknya, seiring sosok dan deru kereta itu makin melemah dan akhirnya menghilang di ujung cakrawala.

Pada momen-momen seperti itulah, Sudarta kecil lantas mengimpikan berada di dalam kereta api itu, yang selalu lewat depan rumahnya, untuk melakukan perjalanan jauh.

Image caption Oom Pasikom, tokoh kartun karya GM Sudarta.

"Itu kadang-kadang membuat saya bermimpi ingin pergi kemana saja," kata Gerardus Mayela (GM) Sudarta, karikaturis senior, mengenang pengalaman masa kanak-kanaknya itu dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Kamis, 22 November 2012 lalu.

Belakangan, ketika lelaki kelahiran 20 September 1945 ini pensiun dari harian Kompas, pengalaman menyenangkan di masa kanak-kanak tinggal di dekat rel kereta api itu kembali terulang, setelah dia mengajak keluarganya pindah ke kota masa kecilnya, Klaten, serta mendirikan rumah tidak jauh dari rel kereta api.

Dengan nada bergetar, ayah tiga anak ini kemudian mengungkapkan sebuah pengalaman spiritual yang menakjubkan, ketika panorama kereta api menghilang di ujung cakrawala hadir kembali di depan matanya.

"Selalu mengingatkan film Doctor Zhivago yang menggambarkan kereta api melaju di padang salju..." Suara Sudarta terdengar renyah dari ujung telepon.

Dalam perjalanannya, keinginan masa kecil Sudarta untuk menjadi masinis memang tidak lagi menarik. Tetapi impiannya untuk melakukan perjalanan jauh, justru berlanjut terus, setelah kesukaannya menggambar tumbuh dan terus berkembang.

"Saya suka mencoret-coret tembok rumah dengan arang," katanya, suatu saat.

Dari aktivitas awal seperti inilah, sehingga kelak namanya dikenal sebagai karikaturis di harian Kompas, termasuk impiannya menembus cakrawala (mendatangi berbagai negara), GM Sudarta menyebut perjalanan hidupnya "seperti sudah digariskan dari atas".

Mengapa humor

Walaupun telah pensiun dari Harian Kompas (sejak 2007 lalu), GM Sudarta melalui karya-karya karikaturnya masih setia menyapa pembacanya setiap pekan di halaman opini surat kabar itu -- sampai sekarang.

Melalui tokoh rekaannya yang terkenal yaitu Oom Pasikom, lelaki yang pernah mengenyam pendidikan di ASRI Yogyakarta (1965-1967) ini, terus menyampaikan kritik-kritik sosial melalui bahasa karikatur yang tetap khas GM Sudarta, yaitu disisipi humor.

Image caption GM Sudarta karya kartunis Djoko Susilo.

"Karikatur itu harus membuat tertawa," katanya, mulai menjelaskan kenapa dia selalu menekankan sisi humor dalam karya-karya. "Artinya, kita menimbulkan kejadian-kejadian sekarang dengan simbol-simbol humor."

Karena itulah, suatu saat GM Sudarta pernah berkata pada saya lima tahun silam, bahwa humor dalam karikatur ibarat nyawa.

Dengan gambar lucu serta humor, ungkapnya, karikatur dapat memancing orang untuk tertarik, kemudian melihatnya. "Termasuk pejabat yang saya kritik, sehingga ada kemajuan, ada perbaikan," kata peraih peraih Best Cartoon of Nippon tahun 2000 ini.

Sudarta memang dikenal sebagai karikaturis yang hati-hati, dan jauh dari sarkastik.

"Jadi tidak to the point (langsung ke sasaran). Itu khas karikatur," tandas Sudarta yang pernah mengajar kartun di Cartoon Departement Seika University, Kyoto, Jepang ini.

"Kalau karikatur tidak humor itu poster atau caci maki," katanya lagi. OSebagai karya seni, menurutnya, karikatur harus indah dalam menyajikannya. "Ibaratnya, makanan enak pun kalau dibungkus dengan koran bekas, kan nggak enak," katanya membandingkan.

Konsistensi Sudarta menyajikan karikatur dengan selera humor diakui oleh karikaturis senior T Sutanto.

Menurut mantan karikaturis harian Mimbar Indonesia (1966-1974), karikatur GM Sudarta "tajam dan mudah dicerna, karena orang nggak membaca berkalimat-kalimat, (tapi) melihat langsung gambarnya".

T Sutanto, yang kini mengisi halaman karikatur di harian Jakarta Post dan Pikiran Rakyat (Bandung), juga menyebut Sudarta punya kekhasan: "leluconnya kadang-kadang rada kasar, kadang-kadang lembut. Sehingga dia berjasa di masa orde baru.. dia bisa melucu tentang Tomi Suharto dengan caranya sendiri".

Don Quixote

Lebih dari 40 tahun membuat karikatur di harian Kompas, yang beroplah besar, layak apabila ada yang menganggap GM Sudarta sebagai salah-seorang karikaturis berpengaruh di Indonesia.

Image caption GM Sudarta ketika memberikan kuliah kartun di Cartoon Department Seika University, Kyoto, Jepang (2007).

Sudarta, melalui tokoh rekaannya yaitu Oom Pasikom, menjadi saksi penting perjalanan Indonesia mulai awal pendirian Orde Baru hingga keruntuhan rezim pendirinya pada 1998 lalu, dan berlanjut pada masa sekarang.

Apa yang membedakan ketika Anda berkarya di masa Orba dan sekarang? Tanya saya.

"Di masa Orba, memang (saya) hati-hati sekali," ujar Ketua Persatuan Kartunis Indonesia (1980-1990) ini, membuka kisah.

"Sehingga saya punya resep yang berkali-kali saya utarakan, bahwa jaman Orba dalam membuat kartun, kita harus membuat senyum untuk yang dikritik supaya tidak marah".

Di masa Orde Baru, di mana pers dikontrol sepenuhnya, menurut Sudarta, sikap seperti itu dibutuhkan.

Image caption Salah-satu karikatur terbaru GM Sudarta, tentang ketidakberdayaan Presiden SBY menghadapi berbagai kasus besar.

"Kalau (pejabat) marah 'kan koran kita mati, mas," katanya agak terkekeh.

(Dalam wawancara dengan BBC Indonesia lima tahun silam, GM Sudarta mengaku karyanya sering disensor: "Seperti kartun tentang DOM (daerah operasi militer) Aceh, yang huruf O- nya saya buat seperti tengkorak, itu nggak pernah kita muat, karena Pak Jakob Oetama -- Pemimpin Umum Kompas -- bilang itu terlalu seram...nanti (pejabat terkait) marah").

Lantas, bagaimana pengalaman Anda berkarya dalam masa reformasi sampai sekarang? "Memang seakan-akan kita bebas mengutarakan apa saja. Tapi, ya, tidak ada tanggapan dari pemerintah," ungkap, berterus-terang.

"Saya bikin kritik apapun, juga ibarat Don Quixote melawan kincir angin," jelasnya, sambil tertawa kecil.

"Saya sudah beribu kali membuat kartun tentang korupsi, suap, tentang (anggota DPR) studi banding, segala macam, ya tetap saja, jalan saja, mas," paparnya.

Dia kemudian mencontohkan salah-satu karikatur terakhirnya yang menggambarkan sosok Presiden SBY memegang pedang kayu di hadapan sosok naga berkepala lima sebagai simbol korupsi, terorisme, isu SARA, atau HAM.

"Ternyata tidak apa-apa, tidak ada yang marah, gitu loh mas..ha-ha-ha..."

Namun demikian, Sudarta mengaku dapat menerima kenyataan seperti ini. "Ya, paling tidak ngasih hiburan untuk rakyat dan hiburan untuk diri sendiri, agar tidak stres...ha-ha-ha..."

Misi perbaikan

Awal bekerja di Kompas, yaitu pada akhir Maret 1967, GM Sudarta mendapat tugas membuat ilustrasi untuk sebuah berita -- sesuai lowongan yang dibutuhkan koran tersebut, kala itu.

Image caption GM Sudarta dan kartunis senior asal Ukraina, Zerinski Valeri (2002).

Sampai tahun 1970, dia kemudian dipercaya membuat kartun humor. Saat itu,"saya merasa tidak berbuat sesuatu dengan gambar," akunya.

Tetapi situasi itu berubah setelah Pemimpin Redaksi Kompas memutuskan membuat kartun opini (editorial cartoon) dan bukan sekedar kartun humor, kata Sudarta.

Mulai saat itulah, dia lantas dipercaya membuat karikatur editorial yang langsung dibawah tanggungjawab pemimpin redaksi.

"Dan saat itu saya mempunyai otonomi untuk berpendapat, meskipun selalu suka berdiskusi dengan Pak Jacob," katanya seraya mencontohkan salah-satu karyanya mulai memanaskan telinga pihak yang dikritiknya.

Melalui karya-karya awalnya itu, Sudarta kemudian bisa berkata: "fase itu menyadarkan saya bahwa saya bisa berbuat sesuatu dengan kartun".

Dalam perjalanannya, gaya gambar dan berpikir GM Sudarta terus berkembang, sehingga dia mencapai sebuah fase penting dalam membuat karya karikatur.

"Bahwa membuat kritikan lewat karikatur itu kita tidak mengubah pendapat seseorang, hanya menyampaikan masalah, ada sesuatu yang sedang terjadi," ungkap Sudarta yang mengaku mengagumi karikaturis Path Oliphant dan David Levine ini.

Menurutnya, ini yang ditekankan Jacob Oetama, Pemimpin Umum Kompas. "Bahwa kartun itu bukan mendobrak, bukan melawan, bukan berevolusi, tapi lebih membawa misi perbaikan".

"Ada sesuatu yang tidak beres, mari kita perbaiki. Kalau tidak ada perbaikan, ya tidak apa-apa. Itu bukan tanggungjawab kartunis. Tapi Itu tanggungjawab pemerintah".

Menulis dan melukis

Di sela-sela profesinya sebagai karikaturis, GM Sudarta -- yang kini berusia 68 tahun -- mengaku menyempatkan untuk melukis dan menulis cerita pendek.

Image caption GM Sudarta selain membuat karikatur, juga menulis cerpen dan melukis.

Aktivitas melukis dan menulis itu dilakukannya bukan semata untuk mengisi waktu luang.

Salah-satu peristiwa pahit yang membuatnya kembali menggeluti dunia melukis adalah ketika dia jatuh sakit lebih dari 3 bulan pada tahun 1985 lalu, tetapi tidak jelas sakit apa.

Dia sempat dirawat di RS Carolus, Jakarta. "Panas luar biasa terus-menerus, tetapi tidak ketahuan sakitnya," ungkapnya.

Diagnosa dokter yang merawatnya juga mengatakan, semua hasilnya negatif, sehingga "dokternya sampai bingung," katanya lagi.

Sampai kemudian, ketika para kolega dan teman-temannya menjenguknya, mereka memberikan semacam jalan keluar.

"Teman-teman psikolog seperti Sartono Mukadis, dan pelukis Abas Alibasya bilang 'udah melukis saja'. Mereka bilang begitu, karena waktu itu saya terlalu banyak (berhadapan) dengan (situasi) Orde Baru, tapi saya nggak bisa bikin karikaturnya," jelasnya.

"Ternyata mungkin cuma stres saja, waktu itu jaman Orba kepingin mengkritik apa saja, tetapi kita 'kan harus sesuai policy koran, jadi harus banyak self cencorship, sehingga itu membuat saya stres".

"Kemudian ada teman yang menganjurkan saya melukis sajalah, karena kita sadar melukis itu kan juga dengan mimpi saja bisa, dengan melihat yang indah-indah saja bisa, sementara karikatur itu kan kita menghadapi kenyataan yang pahit. Dan kenyataan itu menyakitkan," paparnya.

"Akhirnya saya melukis, dan boom-nya sampai sekarang melukis juga untuk dana di luar GBHN, ha, ha.., "GM terbahak. "Keseimbangan saja kok mas, ternyata itu betul…"

Image caption Salah-satu karikatur GM Sudarta tentang perilaku sebagian pejabat Indonesia.

Pengalaman seperti ini juga melatarinya kembali mengrakabi dunia menulis.

Setahun silam, misalnya, Sudarta meluncurkan kumpulan cerpen berjudul Bunga Tabur Terakhir yang berkisah seputar kasus kekerasan pasca 1965.

"Ya, mas, saya sadar pengalaman apapun, pengalaman keharuan, atau pengalaman keindahan, kesedihan, atau segala macam itu 'kan tidak cukup hanya dengan karikatur. Suka sulit," akunya.

Tentang latar belakang penulisan buku berlatar kasus kekerasan pasca 1965, Sudarta mengaku untuk "melampiaskan trauma yang selama ini ada di benak saya" serta berbagi pengalaman.

Karya-karya yang membekas

"Hampir semua saya suka, dan beberapa peristiwa yang kemudian mengikuti pemuatan karikatur, itu yang masih membekas," jawab GM Sudarta saat saya tanya 'dari sekian ribu karya karikatur Anda, mana yang paling membekas atau selalu diingat'.

Secara khusus, dia menyebut beberapa karyanya yang diciptakan pada masa Orbe Baru, seperti karikatur yang berlatar kasus penembakan misterius (petrus).

Saat itu, "Saya membikin Pegasus, kuda terbang. Dan saya bilang, kita tidak perlu petrus, yang penting itu pegasus, penindakan tegas yang serius," paparnya mengulang lagi isi karikaturnya

"Dan mas tahu nggak, saya diperingatkan oleh Deppen, karena Pegasus itu lambang olahraga berkudanya Istana, Cendana," katanya serius, namun diakhiri tawa renyahnya.

Dia kemudian mengungkapkan karya karikaturnya yang dimuat setelah Kompas diijinkan lagi terbit usai kasus kekerasan Tanjung Priok (1984)

"Saya bikin kartun kecil di halaman pertama. Ruangan besar, tapi kartun Oom Pasikom kecil di sudut dan mengucapkan selamat pagi. Dan itu pun juga Kompas dapat kartu kuning," ungkapnya.

Image caption GM Sudarta bersama sejumlah kartunis Ukraina, Prancis, Inggris, Bulgaria, Rusia serta Jepang (1996).

"Hal-hal seperti itu bikin saya terkesan, bukan puas, tapi selalu selalu teringat," katanya.

Pengalaman lain yang selalu diingat Sudarta terjadi pada tahun 1967, ketika pertama kali bekerja di Kompas.

"Suatu saat Kantor Kompas di Pintu Besar Selatan kedatangan panser dan empat tentara marah-marah, karena kartun saya menggambar (tugu) Monas, dan di atas Monas ada kepalan tangan, dan saat itu di Jakarta banyak perampok. Rupanya, kepalan tangan itu lambang (pasukan) Kavaleri (TNI) waktu itu," kisahnya.

"Dan Pak Jacob (Pemimpin Umum Kompas) menghadapi kemarahan tentara dengan wah bijaksana sekali. Waktu saya ketakutan sekali. Nah, hal-hal seperti itu berkesan sekali".

"Maka sekarang pun saya kadang-kadang berpikir pantas kalau saya berkomentar seperti itu," ujar GM Sudarta, yang gemar mengenakan kemeja warna hitam ini.

Berita terkait