Mengobati luka pengungsi Syiah Sampang

pengungsi
Image caption Tekanan hidup membuat pengungsi Syiah asal Sampang ini menderita.

Sejumlah relawan dan beberapa pihak mendampingi warga Syiah Sampang yang tertekan akibat tindak kekerasan, kebutuhan dasar yang tak terpenuhi, serta dihantui masa depan yang gelap.

"Saya pusing hampir tiap hari," kata Umam, bapak empat anak dan kelahiran 1972 ini, dengan nada datar. "Karena tidak ada aktivitas apapun di sini."

Umam adalah salah-seorang pengungsi Syiah asal Sampang, yang sejak awal Juli lalu ditempatkan di rumah susun di Sidoarjo, Jawa Timur, setelah tinggal berbulan-bulan di GOR Sampang, akibat diusir dari kampungnya.

Saya menemuinya tengah duduk santai dengan beberapa lelaki tua di halaman depan rusun, di sebuah siang yang berangin, Kamis (25/07) lalu.

Beberapa kali saya mencuri pandang, Umam sering melihat langit dengan tatapan kosong. "Anak-anak saya sering nangis. Ingin pulang (ke Sampang, Madura), katanya."

Dia lantas bercerita sedikit tentang pekerjaannya selama tinggal di Sampang, yaitu menebang pohon atau mencangkul kebun miliknya.

Namun ketika saya tanya, apa yang akan dikerjakannya jika dia dan warga Syiah lainnya diizinkan pulang ke Sampang, Umam justru bingung.

"Nggak tahu juga, karena saya nggak punya alat kerja, dan uang nggak punya. Bingung kalau tiba di sana. Rumah nggak punya, sudah dibakar habis".

Umam tidak sendiri. Beberapa pria yang sudah berkeluarga juga mengeluhkan kondisi kehidupannya selama menjadi pengungsi.

Iklil Almilal, perwakilan para pengungsi, mengaku harus menyediakan energi ekstra untuk membesarkan hati anak-anaknya.

"Anak saya sering tanya: 'kapan pak kita pulang?' Ya tunggu. Mau dibakar lagi (rumah kita)? Ya, nggak... Tunggu ya (perundingan) belum selesai," ungkap Iklil, menirukan percakapan dengan anaknya.

Dia kemudian mengkhawatirkan trauma yang bakal terus menghantui anak-anaknya, setelah mereka menyaksikan langsung ketika rumahnya dibakar setahun silam, serta saat mereka diusir dari GOR Sampang, awal Juli lalu.

"Kejadian kemarin ada di memori anak-anak kami," katanya pelan, di depan kamar yang dia tempati bersama keluarganya.

Mendampingi anak

Di lantai bawah rumah susun, ada satu ruangan yang di pintu masuknya terdapat tulisan Muhammadiyah Disaster Management Centre, MDMC.

Ini adalah komunitas relawan yang secara struktur di bawah struktur ormas Islam Muhammadiyah. Di dalamnya, saya bertemu seorang pria bernama Darmawan, begitu dia mengenalkan diri, koordinator lembaga tersebut.

"Kami melakukan pendampingan terutama kepada anak-anak dan kaum usia rentan," kata pria asal Yogyakarta ini, membuka pembicaraan, Kamis (25/07) lalu.

Image caption Anak-anak pengungsi Syiah asal Sampang memperoleh fasilitas pendidikan.

Tidak jauh dari situ, rekannya yaitu Sriono, tengah mengawasi tiga bocah warga Syiah yang sedang membaca dan bermain di ruang yang mirip perpustakaan.

Selain membuat taman bacaan, Darmawan dan rekan-rekannya membantu Badan Penanggulangan Bencana Daerah, BNPD, Jatim, yang bertanggungjawab terhadap keberadaan para pengungsi di rusun terseebut.

Mereka mengaku membantu mengkoordinasi kegiatan belajar mengaji, serta memulihkan kegiatan belajar anak-anak pengungsi.

"Sehingga anak-anak tidak merasa kesepian, dan hilang waktu masa bermainnya. Juga agar anak-anak tidak trauma," jelasnya.

Pada Jumat (26/07), saya sempat mendatangi sebuah ruangan yang disulap menjadi ruangan klas untuk kegiatan belajar anak-anak pengungsi.

Belasan siswa klas satu dan dua mengikuti materi pendidikan yang diberikan dua orang guru, ibu Rohma dan Ibu Aminah. Mereka ditunjuk oleh Kantor dinas pendidikan setempat karena menguasai bahasa Madura.

"Bagaimanapun, pendidikan anak-anak ini harus dilanjutkan, walaupun darurat dan tanpa ada buku," kata Ibu Rohma, sang ibu guru.

Di rusun tersebut, ada taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga sekolah menengah pertama. "Tapi, karena jumlahnya sedikit, dua anak mengikuti pendidikan SMA di luar rusun," kata Irfan, koordinator lapangan BNPD Jatim.

Tekanan psikologi

Pada awal mereka ditempatkan di rumah susun Sidoarjo, sebuah yayasan yang berpusat di Yogyakarta, Yakkum Emergency Unit, mengirimkan tim khusus untuk melakukan penelitian dan pendampingan terhadap pengungsi Syiah.

Selama dua pekan, mereka melakukan identifikasi dan diskusi dengan para pengungsi.

"Kami menemukan beberapa hal terkait kondisi psikologi mereka. Mereka mengalami tekanan psikologi, karena beberapa kebutuhan dasar mereka tidak terpenuhi," kata Ranie Ayu Hapsari, salah-seorang psikolog dari Yakkum Emergency Unit, saat saya hubungi melalui telepon, Selasa (30/07) lalu.

Image caption Aktivitas olahraga merupakan kegiatan yang diminati anak-anak muda pengungsi Syiah.

Kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi itu, antara lain,mereka tidak memiliki partisipasi untuk kehidupan mereka sendiri. "Artinya, mereka tidak punya ruang berdiskusi, misalnya sampai kapan di situ (rusun), dan apa yang bisa dilakukan, bahkan keputusan untuk membuat menu makanan, mereka tidak bisa," ungkap Ranie, memberikan contoh.

Lainnya, menurut Ratie, mereka terutama pria dewasa tidak ada jaminan akan adanya lapangan pekerjaan bagi. "Saat pertama kali, mereka tidak bisa melakukan aktvitas ekonomi, karena harus lapor untuk keluar rusun, dan harus jelas untuk keperluan apa, serta pulang jam berapa".

Para pengungsi juga mengalami tekanan, karena "tidak ada ruang privasi untuk suami istri. Jadi satu ruangan digunakan beramai-ramai, tidak ada sekat,"kata Ranie.

"Anak-anak juga tidak memiliki ruangan khusus untuk bermain," tambahnya, menggambarkan kondisi awal saat mereka tiba di rusun tersebut.

Dari kondisi inilah, Yakkum kemudian bekerjasama dengan organisasi Ahlul Bait Indonesia, ABI, Kontras dan YLBHU, seperti membuat pertemuan rutin dengan pengungsi, berdiskusi serta membuat perencanaan.

Mereka juga mendorong BPBD untuk memenuhi berbagai kebutuhan para pengungsi, seperti ruangan bermain, ruangan khusus untuk belajar, serta pemberian informasi terkait masa depan mereka sebagai pengungsi.

"Lalu kami mengajak para orang tua, karena kami menemukan hubungan emosional orang tua dengan anak mulai renggang, akibat tekanan psikologi. Mereka mengakui bahwa selama di sana (pengungsian) anak sering mereka marahi," papar Ranie

"Kami ajak bicara orang tua untuk melakukan kegiatan orang tua dan anak, yaitu melakukan kegiatan menanam sayur bersama, sehingga muncul hubungan emosional antara orang tua dan anak," tambahnya.

Agar mandiri

Karena para relawan tidak selamanya berada di lokasi pengungsian, maka mereka melakukan upaya-upaya agar para pengungsi nantinya bisa mandiri.

"Mau-tidak mau pengungsi akhirnya harus mandiri," kata Darmawan, relawan dari bentukan ormas Islam Muhammadiyah.

Image caption Para ibu pengungsi Syiah dilibatkan di dapur umum.

Di sela-sela wawancara, Darmawan mengenalkan salah-seorang 'kadernya', Siti Rohma, 15 tahun, yang juga seorang pengungsi. Dia dilatih untuk melakukan koordinasi terhadap anak-anak muda untuk berbagai kegiatan.

"Untuk dapur umum, itu nanti dipegang langsung dipegang oleh para ibu-ibu pengungsi. BPBD yang menyuplai bahan makanan, mereka yang memasak. Ini dilakukan agar aktivitas rutin mereka terjaga," jelasnya.

Langkah serupa juga dilakukan Yakkum Emergency Unit, dengan menyiapkan kader kesehatan serta pendidikan. "Kami melatih kader pendidikan untuk memberikan pendampingan kepada anak-anak dan orang tua yang dilatih membaca dan menulis," ungkap Ranie.

"Kami juga membuat mekanisme bagaimana cara pengelolaan pengungsian sementara, mulai dapur umum, cara menyusun menu sesuai kebutuhan nutrisi, hingga persoalan logistik, "Ranie menjelaskan.

Tidak dendam

"Saya tidak dendam kepada orang yang membunuh aba (ayah) saya. Aba saya berwasiat, saya diminta memaafkan pelakunya, karena menurut aba, mereka melakukannya karena mereka tidak memahami," kata Muhaimin, 18 tahun, salah-seorang pengungsi.

Ayah Muhaimin yang bernama Hasyim merupakan korban tewas akibat serangan kekerasan terhadap komuintas Syiah di Sampang, yang dilakukan kelompok penyerang pada Agustus 2012.

Kalimat senada juga diutarakan lima orang pengungsi lainnya, Umam, Iklil, Siti Rohma, serta Hisbullah yang saya wawancarai secara terpisah.

Biasanya mereka mencontoh perilaku Nabi Muhammad yang mereka sebut "berlaku sabar" saat diserang para penentangnya saat melakukan dakwa.

Keinginan tidak melakukan balas dendam ini juga ditemukan Ranie dan kawan-kawan dari Yayasan Yakkum saat mendampingi para pengungsi.

"Mereka siap kembali dan bisa memaafkan dan tidak balas dendam kepada pihak yang mengusirnya," kata Ranie, psikolog dari Yakkum.

Menurutnya, sikap seperti itu muncul di kalangan anak-anak pengungsi karena mencontoh langsung sikap orangtuanya yang tidak menanamkan kebencian.

"Tentu ini sangat bagus dan merupakan modal yang besar untuk proses rekonsiliasi ke depan, karena mereka tidak menaruh dendam," tambah Ranie, lebih lanjut.

Berita terkait