Profil capres: Prabowo Subianto

Prabowo Subianto Hak atas foto AFP

Prabowo Subianto mantan Danjen Kopassus ini menghabiskan sebagian besar karirnya militer, sebenarnya bukanlah orang baru dalam dunia politik Indonesia.

Mantan menantu Presiden RI kedua Suharto dan anak dari ekonom Sumitro Djojohadikusumo, yang pernah menjabat sebagai menteri perdagangan di masa orde baru, menjadikan Prabowo bagian dari elit politik dan militer di Indonesia.

Tetapi, selama ini rekam jejak HAM Prabowo dipertanyakan, menyusul dugaan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam peristiwa penculikan aktivis dan kerusuhan Mei 1998 - yang kemudian membuatnya diberhentikan dari militer.

Prabowo berulangkali menekankan isu ini dalam masa kampanye. Dia menyatakan dirinya tidak bersalah dan mengatakan dia hanya menjalankan perintah atasan.

"Sebagai seorang prajurit, kami melakukan tugas kami sebaik-baiknya," kata dia dalam debat capres pertama. "Itu merupakan perintah atasan saya.

Setelah menghabiskan waktu di luar negeri selama beberapa tahun, Prabowo kembali ke dunia politik di Indonesia pada 2004 dengan mengikuti konvensi pemilihan capres Partai Golkar. Tetapi dia kalah dari mantan atasannya Wiranto.

Pada 2008, Prabowo mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya Gerindra, dan menjadi calon wakil presiden mendampingi Megawati Sukarnoputri pada pemilihan presiden 2009 lalu.

Hak atas foto AFP
Image caption Prabowo Subianto menggandeng Hatta Rajasa sebagai cawapres

Dia kalah, tetapi tidak menghentikan ambisinya untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia. Setelah pemilihan presiden 2009, Prabowo aktif berkampanye mengenai masalah kemiskinan serta pertanian, dan menjadi Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia HKTI.

Meski banyak berkampanye tentang nasionalisme dan program ekonomi kerakyatan, dia membantah anti investasi asing.

"Kebijakan investasi kami terbuka, kami mendukung investasi asing tetapi tentunya tidak boleh mematikan ekonomi rakyat, harus perkuat koperasi, harus kita perkuat usaha kecil dan menengah, “ kata dia dalam debat kedua yang membahas tentang ekonomi.

Para pendukungnya memandang Prabowo sebagai sosok yang memiliki pengalaman di bidang pertahanan sehingga dianggap mampu menjadi presiden. Prabowo juga memiliki dukungan mayoritas di DPR dengan lebih dari 52% kursi.

Hak atas foto AFP
Image caption Prabowo Subianto ketika berkampanye di Gelora Bung Karno

Pada pemilihan legislatif 2014, perolehan suara Gerindra melonjak menjadi 11,81% dan menjadi partai dengan suara terbanyak ketiga, setelah PDIP dan Golkar.

Tetapi jumlah suara tersebut tak mencukupi untuk mencalonkan diri sebagai presiden, dan membuatnya menjalin koalisi dengan partai yang menjadi kendaraan politik Suharto, Partai Golkar, dan juga tiga partai Islam; PPP, PKS dan PAN. Terakhir Partai Demokrat pimpinan SBY pun mendukung pencalonan Prabowo.

Menurut UU Pemilu, kandidat presiden harus didukung oleh minimal 25% perolehan suara nasional atau 20% kursi di parlemen.

Prabowo menggandeng Hatta Rajasa sebagai cawapres, yang merupakan mantan menteri koordinator perekonomian pada kabinet SBY 2004-2009.

Berita terkait