Polisi menyelidiki kematian masal angsa di Öbür Monggol

Gambar bangkai-bangkai angsa itu Hak atas foto CCTV
Image caption Sebanyak 233 bangkai angsa tundra ditemukan mengambang di permukaan danau pada 19 Oktober

Kepolisian Cina memburu tersangka pelaku peracunan terhadap 233 ekor angsa di Mongolia Dalam atau Öbür Monggol.

Polisi mengatakan ditemukan jejak pestisida di tubuh angsa-angsa itu, dan bahwa mereka kemungkinan dibunuh oleh para pemburu liar.

Pekan lalu, kematian massal ini diketahui. Lokasinya di Danau Hongtu, yang terkenal sebagai salah satu tempat perlintasan dan perhentian angsa yang bermigrasi.

Media pemerintah melaporkan, pihak berwenang menawarkan 100.000 yuan (Rp190 juta) untuk informasi yang mengarah pada penangkapan para tersangka.

Selain 233 angsa tundra, 26 itik liar melewar juga ditemukan mati di danau, yang namanya dalam bahasa Mongolia berarti 'Danau Angsa' itu, lapor media setempat.

Stasiun televisi pemerintah CCTV melaporkan bahwa peristiwa itu pertama kali ditemukan pada 19 Oktober oleh suatu pasangan tua yang datang ke danau itu untuk mengambil gambar angsa, dan justru yang mereka lihat adalah bangkai puluhan unggas yang mengambang di permukaan danau.

Hak atas foto China Photos
Image caption Angsa dianggap salah satu makanan istimewa di Cina.

Di dalam mayat-mayat angsa itu ditemukan jejak karbofuran, jenis pestisida yang biasa digunakan oleh para pemburu liar.

Tian Yangyang, dari organisasi lingkungan Let Birds Fly mengatakan kepada situs Sixth Tone bahwa banyak angsa yang diburu itu berakhir di restoran-restoran di Cina, beberapa di antaranya menawarkan 'serba angsa' di menu mereka.

Terlepas dari kenyataan bahwa banyak hewan yang dibunuh dengan racun, "kebanyakan orang percaya bahwa makan binatang liar itu menyehatkan," katanya.