Tentang Kartika Jahja, mencintai tubuh, dan 'kata F yang kotor'

Media playback tidak ada di perangkat Anda
BBC Indonesia mengundang vlogger Sacha Stevenson di Jakarta untuk ikut menceritakan sosok Tika.

Sekelompok perempuan dengan bentuk tubuh beragam, satu per satu, berdiri di depan kain putih. Mereka tidak berbicara apapun selain kata-kata yang dilukis di kulit mereka: 'tubuh saya bukan demokrasi', 'pakaianku bukan urusanmu', dan 'tubuhku, sempurna'.

Ini adalah adegan dalam sebuah video klip yang dibuat oleh musisi independen dan aktivis Kartika Jahja - yang berupaya agar perempuan bisa mengatasi rasa tidak percaya diri dan membuat mereka nyaman dengan tubuhnya sendiri. Apa adanya!

"Ini suaraku, tubuhku, otoritasku. Yang kuteriakkan, kukenakan, pilihanku," senandungnya dalam video itu.

Hak atas foto Kartika Jahja
Image caption Video klip 'Tubuhku Otoritasku' menampilkan perempuan dengan berbagai bentuk tubuh.

Kartika, lebih dikenal sebagai Tika, mengatakan dia menulis lagu itu karena kesal tentang bagaimana perempuan lebih sering hanya dinilai dari cara dia atau pilihan dia terhadap tubuhnya sendiri.

"Dari dulu saya menulis tentang apa yang di depan mata. Ada kekerasan terhadap perempuan, saya tulis lagu 'Tubuhku Otoritasku', melihat cowok-cowok yang gak boleh menangis, harus macho, saya menulis lagu tentang (definisi) maskulinitas yang enggak selalu begitu juga kok, mereka punya pilihan untuk lebih sensitif dengan perasaannya," kata Tika menjelaskan album barunya berjudul Merah.

"Tema besarnya adalah jurnal apa yang saya rasakan sehari-hari."

Tetapi video klip berjudul 'Tubuhku, Otoritasku' ini sedikit banyak telah menuai kontroversi. Tika mendapat berbagai kritikan dan komentar pedas di media sosial dan surel dari orang-orang yang dia sebut berasal dari kaum konservatif.

"Saya pernah dapat email dari seseorang yang tidak suka video itu dan dia bilang bahwa darah saya halal untuk ditumpahkan karena saya perempuan yang menodai agama. Padahal enggak ada urusan sama sekali pesan yang saya sampaikan dengan agama, saya bahkan memasukan orang dari berbagai agama dalam video klip itu."

Dia mengatakan menghormati pandangan-pandangan orang konservatif. "Tapi, saya bermasalah dengan orang-orang itu ketika mereka memaksakan pandangannya terhadap kita. (Ketika mereka menilai) apapun yang di luar (dari pandangan mereka) dianggap salah."

Hak atas foto KARTIKA JAHJA
Image caption Dalam sebuah workshop tentang perempuan di acara Lady Fast, Yogyakarta.

'Kata kotor'

Ini menjadi kekhawatiran tersendiri, kata Tika. Bukan karena ancaman personal yang diterimanya, tetapi tentang realita bahwa masyarakat kini hidup dalam pandangan yang lebih tertutup dibandingkan sebelumnya. Kenyataan bahwa ada kelompok yang tidak ingin orang lain hidup dalam pandangan yang berbeda, dalam keragaman.

Hal semacam ini juga yang menurutnya menjadikan kata feminisme sebagai kata yang kotor dan ditakuti.

Siang itu, BBC Indonesia bersama vlogger Sacha Stevenson bertemu Tika di sebuah kedai kopi miliknya di daerah Kemang, Jakarta. Kedai inilah yang menjadi salah satu sumber penghasilan Tika yang sejak dulu memilih jalur independen dalam bermusik.

Image caption Kartika Jahja di kedai kopi miliknya bernama Kedai.

Dan, pembicaraan pelan-pelan menjadi tambah menarik...

Sacha yang sudah tinggal lebih dari 15 tahun di Indonesia bercerita tentang pengalamannya dengan kata feminisme itu.

"Saya tampil di acara tv dulu, dan ketika saya mengucapkan kata feminisme, kata itu dipotong dalam wawancara, seakan-akan itu seperti mengedit kata (kasar) F***," kata Sacha. "Karena tampaknya mereka takut kalau mayoritas orang Indonesia akan ganti saluran TV kalau mendengar kata itu. Apakah Anda juga merasa kata itu adalah sesuatu yang mengancam?"

Ada perspektif yang salah dalam mengenal kata itu, jawab Tika, bahwa feminisme adalah tentang membenci laki-laki dan menentang agama.

"Bagi saya, feminisme adalah tentang kesetaraan antara perempuan dan laki-laki diberbagai bidang. Tapi dengan meningkatnya konservatisme, hal-hal yang dianggap menentang pandangan mereka langsung dianggap sebagai kata kotor. Kita sudah dihentikan duluan, bahkan sebelum kita bisa menjelaskan apa artinya," lanjut Tika.

'Bersatu, bukan jadi pesaing'

Hak atas foto DOK KARTIKA JAHJA
Image caption Tika saat turut serta dalam aksi solidaritas stop kekerasan seksual.

Mei tahun ini, Tika dan komunitas perempuan Kolektif Betina menginisiasi kampanye media sosial dengan tagar 'nyala untuk Yuyun' untuk mendorong diskusi tentang kasus pemerkosaan brutal dan pembunuhan yang dialami bocah berusia 14 tahun di Bengkulu - yang awalnya tidak mendapat banyak perhatian media nasional.

Kampanye berskala kecil itu akhirnya meluas dengan berbagai aksi turun ke jalan mendesak pemerintah memberi hukuman lebih berat pada pelaku kejahatan seksual.

"Semuanya berawal dari (pertanyaan) apa yang bisa lakukan saat ini dalam waktu lima menit? Yaitu video singkat dan tagar itu, dari situ bergulir menjadi pembicaraan yang lebih serius dan aksi-aksi selanjutnya," cerita Tika.

Penting bagi semua orang untuk bersama-sama melawan kekerasan seksual di dunia nyata dengan cara apapun yang kita mampu, katanya. Dan hal ini yang terus membuatnya ingin bermusik di jalur independen walau menyadari bahwa jalan itu tidak akan menjadikannya diva papan atas yang merajai puncak tangga lagu.

Image caption BBC mengundang Sacha Stevenson dan Kartika Jahja untuk membicarakan masalah-masalah perempuan.

"Lantas, apa harapan kalian untuk perempuan di Indonesia?" tanya saya kepada dua perempuan dihadapan saya.

"Saya mau orang tidak melulu mengatakan cantik, cantik pada perempuan," kata Sacha. "Nilai perempuan tidak hanya di dalam penampilan saja."

"Saya ingin perempuan bersatu, dibanding jadi saingan satu sama lain," kata Tika. Mereka berdua beradu pandang dan tampak mengangguk - mengiyakan pendapat satu sama lain.

Topik terkait

Berita terkait