Industri buku lesu, bisnis Rabbit Hole justru bergairah

rabbit hole Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Devi Raissa Rahmawati, salah satu pendiri Rabbit Hole, saat ditemui di kantor penerbitan buku anak-anak tersebut.

Di sebuah rumah mewah bertingkat di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, sebanyak lebih dari 140 orang berkumpul.

Ada yang sibuk berkutat dengan lem dan kertas, ada yang serius menatapi layar komputer, dan ada pula yang membungkus tumpukan buku. Mereka adalah karyawan Rabbit Hole—sebuah perusahaan penerbitan buku khusus anak-anak.

Sejak memulai usahanya tiga tahun lalu, Rabbit Hole kini menerbitkan 14 ribu eksemplar setiap bulan dan meraup omzet sebesar Rp1 miliar per bulan.

Angka tersebut jauh melampaui perkiraan mereka sendiri mengingat kedua pendirinya, Devi Raissa Rahmawati dan Guntur Gustanto, memulai usaha dengan modal nekad dan riset kecil-kecilan.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Rabbit Hole telah menerbitkan 11 judul buku anak dalam tiga tahun terakhir.

Berlatar belakang pendidikan psikologi klinis anak, Devi berkesempatan menguji buku-buku dongeng karyanya pada anak-anak yang dia tangani.

"Kebanyakan modal nekad sih. Dengan intuisi, saya berpikir ini pasti berhasil kok—walau orang-orang menentang hal tersebut karena belum ada produk perbandingan," papar Devi kepada BBC Indonesia.

Selain modal nekad, Devi dan Guntur tentu juga bermodal karya serta uang. Setiap cerita dan ilustrasi pada buku Rabbit Hole adalah karya kedua individu tersebut.

Adapun soal uang, Devi mengaku dirinya dan Guntur mengeluarkan Rp10 juta untuk mencoba memproduksi 1.000 eksemplar yang belakangan laris terjual dalam setahun.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Dalam tiga tahun, Rabbit Hole telah memperkerjakan 144 karyawan dan menerbitkan 14.000 eksemplar setiap bulan.

Tolak investor

Untuk membuat produk massal, Devi berkeras menolak penanam modal. Selain Rp10 juta pada tahap awal, praktis dia mengharuskan calon pelanggan membayar uang di muka untuk mendapatkan buku atau prapesan di media sosial Instagram.

Kekukuhan Devi untuk tidak menarik penanam modal diakuinya berkaitan dengan tekad mewujudkan buku anak berbahasa Indonesia dengan fitur yang biasa dimiliki buku anak dari negara-negara Barat, seperti gambar muncul atau pop up serta kain beragam tekstur yang bisa diraba pembacanya

Devi khawatir investor akan menghalangi niatnya tersebut.

"Kami berdua sepakat nggak ingin ada investor masuk, sampai sekarang pun. Karena kami merasa pemikiran kami berbeda dengan orang-orang pada umumnya," kata Devi.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Buku-buku Rabbit Hole dilengkapi fitur yang biasa dimiliki buku anak dari negara-negara Barat, seperti gambar muncul atau pop up serta kain beragam tekstur yang bisa diraba pembacanya.

Niat memproduksi buku anak Indonesia dengan beragam elemen yang dia inginkan menemui rintangan berat. Belum pernah ada penerbit merilis buku anak semacam itu di Indonesia sehingga tidak ada percetakan yang berpengalaman membuatnya.

Devi mengaku telah mengunjungi berbagai percetakan terkemuka di Indonesia dan hasilnya nihil. Kalaupun buku jadi, kualitasnya amat buruk. Lagipula, menurut Devi, dia tidak mempercayai kebersihan percetakan konvensional.

Devi dan Guntur akhirnya memutuskan untuk memproduksi buku-buku mereka secara manual. Cara itu menyedot 50% pengeluaran (30% ongkos kertas dan cetak, 20% ongkos finishing), namun terbukti efektif dan efisien.

"Caranya melem lembar demi lembar, kemudian di-press. Metode ini bisa membuat satu halaman menjadi tebal, namun harus dikerjakan secara manual. Akhirnya kami rekrut orang untuk tim finishing sehingga mereka bisa memberi lem lembaran buku dan menambahkan fitur-fitur seperti cermin dan bunga satu persatu," paparnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Untuk memproduksi buku-buku dengan fitur yang diinginkan, Rabbit Hole memperkerjakan sejumlah karyawan yang khusus mengelem dan menempel lembaran buku secara manual.

Tanpa pesaing dan tanpa toko buku

Keberhasilan Devi dan Guntur memproduksi buku dengan fitur-fitur yang dia inginkan menjadikan Rabbit Hole tanpa pesaing.

"Kalaupun ada pesaing, ada produsen lokal yang bikin buku pop-up. Itu justru kami dukung. Kami beberapa kami me-mention mereka di Instagram sehingga menambah pengikut dari Rabbit Hole," ujar Devi.

Bukankah dalam bisnis, prinsipnya adalah memaksimalkan keuntungan dan menyingkirkan pesaing? Tanya saya.

"Kami tidak menganggap mereka sebagai saingan, tapi justru teman kami untuk bikin buku berkualitas untuk anak-anak Indonesia," cetus Devi.

Guna memasarkan buku-bukunya, Devi mengaku mengandalkan media sosial Instagram. Penolakannya untuk menggunakan jasa toko buku konvensional dia nilai justru menguntungkan.

"Ada beberapa penerbit yang menawarkan ke kami untuk menaruh buku kami di toko buku besar. Cuma kan mereka mengambil margin 40% sampai 60%. Kalau seperti itu kami harus menaikkan harga buku dua kali lipat. Jadi akhirnya misi kami untuk menyediakan buku terjangkau nggak bisa tercapai," kata Devi.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Devi Raissa mengklaim buku produksi Rabbit Hole yang dilengkapi fitur-fitur unik tidak memiliki pesaing.

Bergairah di tengah kelesuan

Hingga saat ini, Rabbit Hole telah merilis 11 judul buku untuk usia anak nol hingga tujuh tahun.

Harga bukunya bervariasi antara Rp29 ribu sampai Rp185 ribu. Harga sebesar itu relatif mahal, apalagi buku masih dipandang sebagai kebutuhan sekunder atau tersier. Bahkan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) mencatat rata-rata orang Indonesia hanya membeli dua buku per tahun.

Nyatanya, Rabbit Hole mampu mencetak 14.000 eksemplar setiap bulan. Angka ini merupakan kegairan di tengah kelesuan. Sejak tiga tahun terakhir, IKAPI menyebutkan industri buku nasional mencatatkan penurunan bahkan hingga 10% akibat melemahnya daya beli.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Di kantor Rabbit Hole, ada sejumlah pegawai administrasi yang khusus mengelola kelompok-kelompok arisan.

Lalu, apa kunci sukses Rabbit Hole?

Devi mengaku keengganannya untuk berjualan di toko buku konvensional merupakan cara menguntungkan.

Dia juga mempunyai jurus tersendiri, yaitu penjualan secara arisan. Sadar bahwa buku-bukunya relatif tinggi, dia membolehkan calon pelanggannya untuk mencicil paket buku seharga Rp500 ribu-Rp850 ribu dengan terlebih dulu bergabung di kelompok-kelompok arisan yang dikelola pegawai administrasi Rabbit Hole.

"Ketika kelompok sudah berisi tujuh orang, bisa dimulai arisannya. Nanti mereka iuran tiap bulan. Siapa yang menang akan dikasih paket bukunya. Ini terus berlangsung sampai tujuh bulan, sampai ketujuh orang itu dapat paket buku lengkap," jelas Devi.

Metode penjualan arisan ini disambut baik para pelanggan. Citra Fariza, misalnya. Ibu seorang bayi berusia tujuh bulan ini mengaku membeli buku Rabbit Hole dengan cara arisan.

"Cara ini sangat membantu mereka yang budget-nya terbatas untuk membeli paket buku lengkap. Dengan membeli buku melalui menyisihkan uang ini, jadinya ringan," kata Citra.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Harga buku Rabbit Hole bervariasi antara Rp29 ribu sampai Rp185 ribu.

Anak cinta membaca

Pada usia Rabbit Hole yang ketiga tahun, Devi bertekad untuk memperluas jaringan penjual buku-buku produknya di pelosok Indonesia. Para penjual ini dia didik dengan menyisipkan edukasi mengenai pentingnya membaca sedari usia dini.

Rabbit Hole juga memiliki program 20 untuk 1. Artinya dari 20 buku yang terjual, satu buku akan disumbangkan ke rumah baca anak-anak.

"Ini penting agar anak-anak Indonesia cinta membaca," ujarnya.

Topik terkait

Berita terkait