Badai pasti tak melalui Indonesia dan beberapa fakta lainnya

badai Irma Hak atas foto Chip Somodevilla/Getty Images
Image caption Badai Irma menerjang Florida, AS pada awal September 2017.

Akhir-akhir ini belahan bumi utara kerap diterjang badai yang memporakporandakan wilayah yang dilewatinya.

Yang terbaru, badai Maria di Republik Dominika di wilayah Karibia, yang sebelumnya juga dilewati badai Irma.

Sebelumnya ada Badai Harvey yang menyebabkan kerusakan besar di negara bagian Texas, Amerika Serikat.

Namun di Asia pun ada Topan Hato di Hongkong, Badai Pakhar di Makau yang terjadi hanya beberapa waktu sebelum Badai Harvey.

Lantas mengapa badai-badai besar ini dapat terjadi dalam waktu berdekatan?

Apa yang menyebabkan badai?

Peneliti Sains dan Teknologi Atmosfer LAPAN, Trismidianto, menjelaskan bahwa badai terjadi akibat perbedaan tekanan yang ekstrem dalam sirkulasi udara.

"Misalnya udaranya sangat panas kemudian bertemu dengan udara yang sangat dingin akan terjadi kondensasi. Proses kondensasi ini yang membuat uap air akan mengeluarkan energi panas yang menjadi energi penggerak terjadinya angin kencang."

"Angin kencang inilah yang disebut sebagai badai-badai tropis atau siklon tropis atau tornado," tambah Trismidianto.

Untuk diklasifikasikan sebagai badai, sebuah pusaran angin harus mencapai kecepatan 119 km/jam.

Kecepatan angin pun dibagi dalam lima kategori. Badai kategori lima, yang disebut sebagai badai dan destruktif, kecepatan anginnya lebih dari 252 km/jam.

Apakah Indonesia dapat mengalami badai?

Trismidianto memaparkan bahwa badai hanya berputar di bumi bagian utara dan bagian selatan, tidak di zona khatulistiwa sehingga Indonesia tidak akan pernah diterpa badai tropis.

Hak atas foto EPA
Image caption Tampak atas sebuah pusaran angin.

Menariknya, meskipun semua titik awal badai tropis terjadi di dekat Indonesia namun akan selalu bergerak menjauhi Indonesia, jelas Humas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Hari Tirto.

"Misalkan cikal bakalnya di perairan Samudera Pasifik sebelah utara Papua, dia bergeraknya ke arah Filipina dan terakhir bisa ke wilayah Cina, bisa ke Bangkok, Vietnam, atau ke arah Jepan", kata Hari.

"Demikian juga kalau di Samudera Hindia -sebelah barat Sumatera- bergeraknya menjauhi Indonesia, bisa ke Selatan, bisa ke arah Barat Daya. Jadi ke Pulau Christmas dan sebagainya."

"Itulah yang dikatakan badai pasti berlalu di Indonesia dan tidak pernah terjadi di Indonesia."

Namun, Trismidianto mengatakan bahwa Indonesia masih bisa mengalami tornado kecil atau yang kita kenal dengan angin puting beliung.

"Di Indonesia, perbedaan suhunya tidak ekstrim. Kalaupun terjadi berskala kecil sehingga membentuklah puting beliung. Biasanya terjadi di daerah-daerah yang dekat dengan pegunungan. Karena berpengaruh juga siklus angin dari gunung," jelas Trismidianto

Apa perbedaan tornado, badai tropis dan hurricane?

Pada dasarnya tornado dan badai tropis adalah pusaran angin, namun badai atau siklon tropis terbentuk di lautan. Sedang tornado atau badai topan terjadi di daratan.

Setiap bagian dunia memiliki sebutan untuk topan badai yang biasa melewati wilayah mereka.

Di Asia, badai disebut dengan typhoon atau taifun. Di Australia, barat daya Pasifik dan Samudera Hindia disebut tropical cyclone atau sikon tropis.

Sedang Hurricane adalah sebutan badai di wilayah Atlantik dan utara Pasifik. Hurricane ini berasal dari nama dewa Karibia, Hurrican.

Bagaimana dengan nama-nama badai?

Badai diberikan nama orang seperti Harvey, Irma, Jose -yang bergerak dari Atlantik menuju daratan Amerika beberapa waktu ini- atau siklon Debbie di Australia pada awal tahun ini.

Hak atas foto Joe Raedle/Getty Images
Image caption Ahli meteorologi sedang memantau pergerakan badai.

Alasannya, para ahli meteorologi berpikir bahwa nama orang lebih mudah diingat dibanding angka atau istilah teknis lainnya. Itu juga memudahkan media dalam melaporkan serta meningkatkan kewaspadaan warga.

Nama yang disiapkan adalah berdasarkan kesepakatan tim ahli meteorologi dan sesuai urutan alfabet.

Apa ada hubungannya dengan perubahan iklim?

Fenomena badai belakangan ini mengundang pertanyaan apakah ada hubungan pemanasan global dengan badai yang semakin sering dan kuat.

Disinyalir, air laut yang semakin hangat akibat pemanasan global membentuk semakin banyak uap air yang menjadi energi badai di atmosfir.

Namun teori seperti itu, belum dapat dibuktikan secara ilmiah menurut peneliti LAPAN, Trismidianto.

"Butuh penelitian lebih lanjut untuk mengatakan bahwa badai tropis ada kaitannya dengan perubahan iklim. Sekarang masih dikaji terus kan yah, tapi untuk siklon tropis belum banyak penelitian untuk mengkaitkannya."

Hak atas foto EPA
Image caption Topan Debbie menghantam pantai Airlie, Australia -merupakan badai terburuk di wilayah itu sejak tahun 2011.

Satu penelitian terbaru mengenai badai dibuat oleh CIFOR (Center for International Forestry Research) mengulik hubungan badai dengan hutan.

Penelitian itu menyatakan bahwa hutan dapat melindungi daratan dari badai sehingga dengan semakin banyaknya deforestasi, para peneliti memperkirakan badai akan semakin sering terjadi dan destruktif.

Bukti penelitian CIFOR juga menunjukkan bahwa hutan dapat menarik uap air dari laut sehingga menguras uap yang tersedia di atmosfir yang akan menghasilkan badai siklon.

Topik terkait

Berita terkait