Konseling virtual, buku interaktif, dan berbagai inovasi teknologi pendidikan di Indonesia

Pameran GESS Indonesia
Image caption Lebih dari 100 perusahaan dari seluruh dunia memamerkan beragam produk dan jasa dalam pameran GESS Indonesia di Jakarta Convention Center, 27-29 September lalu. Beberapa di antaranya ialah perusahaan perintis.

Berbagai perusahaan perintis di Indonesia mulai merambah sektor pendidikan. GESS Indonesia, yang diklaim sebagai pameran pendidikan terbesar di Asia Tenggara, memberi mereka panggung untuk menawarkan pendekatan segar dalam belajar.

Lebih dari 100 perusahaan supplier dan penyedia layanan pendidikan dari seluruh dunia memamerkan beragam produk dan jasa dalam pameran GESS Indonesia di Jakarta Convention Center, 27-29 September lalu.

Beberapa di antaranya ialah perusahaan perintis atau start-up. Berikut ini beberapa teknologi start-up yang mendapat sorotan BBC Indonesia:

Youthmanual

Youthmanual ialah layanan konseling virtual untuk membantu siswa mempersiapkan kuliah dan karier. Di laman webnya, Youthmanual menyediakan beberapa modul yang mengarahkan siswa untuk mencari tahu kepribadian dan minatnya. Algoritma kemudian menyarankan pilihan jurusan dan karier berdasarkan informasi tersebut.

Kepala pemasaran Rezha Bayu Oktavian mengatakan, Youthmanual dirancang untuk membantu guru bimbingan konseling (BK). "Bimbingan konseling bisa jadi lebih strategis, karena mereka (guru BK) sudah mengetahui bagaimana dimensi kepribadian masing-masing siswa dan hal-hal yang mereka bisa eksplorasi terkait rekomendasi yang sudah diberikan," ujarnya.

Ia menambahkan, sekolah yang bekerja sama dengan Youthmanual akan mendapatkan akses ke dasbor analisis berisi data minat dan kemampuan siswa sebagai referensi dalam merancang silabus atau metode belajar.

Image caption Laman web Youthmanual berisi sejumlah modul untuk mencari tahu kepribadian dan minat siswa, yang ditata sebagai peta perjalanan.

Sampai saat ini, sebanyak lebih dari 260.000 siswa dari seluruh Indonesia dilaporkan telah mencoba layanan ini; dan ternyata sebagian besarnya, menurut Rezha, berasal dari luar kota-kota metropolitan, misalnya Enrekang dan Kutai Kartanegara. "Ternyata mereka butuh hal-hal semacam ini, karena selama ini mereka kurang terekspos dengan yang namanya psikolog," tuturnya.

Youthmanual menawarkan skema freemium: sebagian modulnya bisa diakses secara cuma-cuma namun untuk mengakses seluruh layanan dalam laman ini, pengguna harus membayar.

Image caption Dengan membuatnya dalam bentuk program, Cakra berusaha menyederhanakan terapi bagi anak penyandang autisme.

Cakra

Dengan nama yang diambil dari sebuah sekolah untuk anak autis di Surabaya, Cakra dirancang untuk membantu orang tua dan terapis dalam menangani anak berkebutuhan khusus. Aplikasi ini dimaksudkan bagi mereka yang tinggal di daerah pelosok dan tidak bisa menjangkau terapis yang kebanyakan berada di kota besar.

"Sasaran kita pada awalnya ialah mereka yang di pelosok-pelosok, (tempat) informasi untuk autisme ini sangat kurang," kata Atik, project manager Cakra.

Atik menjelaskan, Cakra menyederhanakan beragam alat peraga yang digunakan dalam terapi dengan membuat versi digitalnya. Terapi tersebut menggunakan metode ABA (Applied Behaviour Analysis) atau metode Lovaas, yang mana terapis mendorong anak autis merespon stimulus berupa objek atau suara. Biasanya, terapi ini menggunakan kartu bergambar dan berbagai alat peraga lainnya.

"Tools yang sifatnya manual seperti itu, coba disederhanakan dengan aplikasi ini. Jadi orang tua, tanpa mereka mengetahui bagaimana sih modul terapi ABA ini, tanpa mereka memiliki alat-alat itu, hanya dengan aplikasi ini mereka bisa memberikan terapi kepada anaknya di rumah," tutur Atik.

Cakra menyediakan lebih dari 100 jenis terapi yang dibagi menjadi dua model: Freemode, yang cocok untuk terapis, dan terstruktur, yang cocok untuk orang tua. Aplikasi ini juga memiliki fitur Evaluasi dan Laporan untuk membantu pemantauan perkembangan anak.

Cakra tersedia dalam bentuk aplikasi komputer. Program dengan beberapa fitur dasar dapat dicoba secara gratis di laman webnya.

Hak atas foto ArsaKids
Image caption Pippo si penguin (kiri) tokoh yang selalu muncul dalam game-game ArsaKids.

ArsaKids

ArsaKids ialah cabang dari perusahaan developer game Arsanesia yang berfokus pada game edukasi untuk anak usia dini. Sejak didirikan pada 2015, ArsaKids telah merilis tujuh mobile game yang mengajak anak-anak untuk mempelajari bentuk geometri, hewan, sampai tata surya. Semuanya dibawakan oleh Pippo, tokoh penguin dari game populer Arsanesia, Roly Poly Penguin.

Chief Technology Officer sekaligus kopendiri ArsaKids Chairul Ichsan mengatakan, perusahaannya mulai melirik game edukasi karena pasar yang tersentuh belum sebanyak game konvensional.

"Market-nya bisa dibilang masih belum sebanding dengan game casual, tapi kalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, sudah meningkat; karena orang tua muda sudah sangat akrab dengan gadget dan secara enggak langsung, anaknya juga akrab dengan gadget," tuturnya.

Image caption Buku-buku anak terbitan Rabbit Hole dimaksudkan untuk membangun ikatan emosional antara orang tua dan anak.

Rabbit Hole

Jika semua perusahaan perintis di atas berusaha mengembangkan teknologi digital dan daring, Rabbit Hole melakukan sebaliknya. Perusahaan yang berbasis di Kemang, Jakarta Selatan ini membuat buku khas anak-anak, dari kertas dan tinta, dengan fitur interaktif.

Buku-buku Rabbit Hole memiliki halaman yang timbul (pop-up) serta bagian yang dapat dibuka untuk mengungkap informasi atau petunjuk di dalamnya. Digagas oleh Psikolog anak Devi Raissa Rahmawati dan ilustrator Guntur Gustanto, buku-buku tersebut dimaksudkan untuk membangun ikatan emosional antara orang tua dan anak, sekaligus melatih anak berkomunikasi dan berimajinasi.

Sebut saja buku berjudul "Suara Apa Itu?" yang mengenalkan anak-anak pada berbagai bunyi-bunyian di lingkungan sekitar kita. Buku ini dirancang untuk dibaca anak-anak bersama dengan orang tua, yang mengajak si anak untuk membayangkan asal suara yang diceritakan di dalam buku. Penutur cerita dari Rabbit Hole, Tania, berkata orang tua didorong untuk menirukan suara-suara tersebut.

"Yang paling utama ialah suara yang didengarkan anak ialah suara orang tua langsung," kata Tania.

Sejak didirikan tiga tahun lalu, Rabbit Hole telah menerbitkan 11 judul buku anak. Bisnis ini berkembang sangat pesat, hingga dapat meraup omset sebesar Rp1 miliar per bulan.

Image caption Teknologi menawarkan berbagai cara baru untuk belajar, kata penyelenggara GESS Indonesia Matt Thompson.

Matt Thompson, penyelenggara GESS Indonesia mengungkap bahwa pihaknya sangat senang mengundang para perusahaan perintis karena mereka selalu menawarkan hal baru. Ia memandang teknologi sebagai bidang yang mengundang banyak pemain baru, khususnya di Indonesia. Mereka menawarkan berbagai teknik belajar baru, kata Thompson.

"Salah satu tantangan utama yang dihadapi Indonesia ialah luas wilayahnya yang begitu besar; dan dalam menjangkau daerah-daerah pelosok, teknologi sangat membantu menutup kesenjangan itu," ujarnya

Berita terkait