Desa di Gunung Kidul yang 'memanusiakan penderita gangguan jiwa'

Rongkop Hak atas foto BBC INDONESIA

Selintas, tak ada bedanya desa Petir di Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunung Kidul dengan desa lain di Jawa, kecuali bahwa di sana orang-orang dengan ganguan jiwa diarahkan untuk hidup biasa sebagaimana manusia lain.

Desa Petir pun disebut sebagai desa yang ramah terhadap penyandang gangguan jiwa: puluhan orang dengan gangguan jiwa menjalani perawatan sehingga dapat kembali produktif.

Sarju, Kepala Desa Petir mendatangi rumah Suryono, orang dengan gangguan jiwa yang telah sempat menjalani perawatan di RS Jiwa Grhasia di Sleman Daerah istimewa Yogyakarta.

Kini, Suryono kembali produktif setelah menjalani perawatan dan secara rutin mengkonsumsi obat.

Kehidupan seharai-harinya? "Biasa aja ke ladang, kasih makan ternak," jelas Suryono.

Sebelum menjalani perawatan Suryono mengaku pusing dan berhenti dari pekerjaan sebagai penjahit di Yogyakarta, seperti disampaikan ibunya Tugimah.

"Sampai di rumah dia mengeluh pusing, saya mengira dia hanya masuk angin, saya ajak untuk periksa dia tidak mau, saya sempat periksa ke Wonosari ke rumah sakit, " kata Tugimah.

Dia mengatakan suatu hari Suryono pamit untuk memancing di desa lain dan tidak kunjung kembali ke rumah.

"Katanya mau mancing ke (desa) Jepitu, lalu sampai jam sembilan (malam) tak kembali, lalu saya ajak orang untuk mencarinya, tapi dia kembali setelah diantar oleh orang lain," kata dia

Tugimah pun, melaporkan pada aparat kelurahan mengenai kondisi anaknya. Oleh aparat Desa Petir, Suryono pun diajak untuk menjalani perawatan di RS Jiwa, sampai kondisinya lebih baik dan bisa menjalankan aktivitas sehari-hari.

Hak atas foto BBC INDONESIA

Selain Suryono, ada puluhan orang dengan gangguan jiwa atau ODGJ di desa tersebut yang mendapatkan perawatan atas inisiatif aparat desa. Sarju menjelaskan alasannya.

"Karena banyak laporan mengeluh, pak anakku seperti ini, pak ada orang kena ODGJ ngamuk pak, lalu saya punya pikiran untuk berusaha dengan dinas setempat dengan dinas sosial dengan yayasan lainnya, ternyata bisa kita bantu," kata dia.

Bantuan itu juga meliputi pembuatan identitas bagi penyadang gangguan jiwa yang tidak memilikinya, agar dapat mengakses layanan kesehatan dengan BPJS.

Sarju mengatakan dukungan keluarga dan masyarakat sekitar juga penting bagi kesembuhan orang dengan gangguan jiwa.

"itu harus didukung oleh semua elemen yang ada baik itu lingkungan keluarga, dan masyarakat, karena kalau dikucilkan beliau akan tersinggung hatinya, jadi warga kami sekarang ini walaupun bagaimana kondisinya dianggap tidak ODGJ," kata dia.

Hak atas foto BBC INDONESIA

'Ketrampilan agar keluarga mandiri'

Inisiatif yang dilakukan Desa Petir ini, dijadikan contoh di tingkat kecamatan Rongkop, sehingga dibentuk Forum Lentera Jiwa. Ketuanya Pratama Windarta, mengatakan selama dua tahun terakhir berupaya untuk mengikis stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa.

"Apapun yang terjadi tak boleh memberikan stigma bahwa orang gila itu memalukan keluarga, jadi ya memanusiakan manusia," kata dia.

Windarta mengatakan dulu keluarga yang memiliki orang dengan gangguan jiwa merasa malu, tetapi sekarang situasinya sudah berubah.

"Mereka malu, lalu menyingkirkan atau menyendirikan orang dengan gangguan jiwa, dibuatkan ruangan tersendiri atau juga dipasung, " kata dia.

Tapi setelah dilakukan sosialisasi terhadap masyarakat agar memperlakukan orang dengan gangguan jiwa dengan lebh baik, kondisi itu sudah berubah.

Menurut Windarta, dalam jangka pendek Forum Lentera Jiwa ini berencana untuk memberikan ketrampilan pada keluarga penyandang gangguan jiwa bisa mandiri.

"Ternyata keluarga orang dengan gangguan jiwa ini kebanyakan rata-rata penghasilan rendah, jadi bagaimana kita memberikan sebuah komitmen pada keluarga orang dengan gangguan jiwa ini dan ketrampilan, karena mereka kan harus menyediakan waktu untuk merawatnya," kata dia.

Menurut Windarta, seringkali, keluarga orang dengan gangguan jiwa itu terganggu ekonominya, karena salah satu penyokong keluarga itu harus menemani ODGJ.

Hak atas foto BBC INDONESIA

Wakil Koordinator organisasi pemerhati masalah gangguan jiwa IMAJI Sigit Wage Daksinarga mengatakan upaya yang dilakukan Kecamatan Rongkop ini dapat dijadikan contoh bagi wilayah lain, dengan menangani masalah gangguan jiwa.

"Jadi orang dengan gangguan jiwa dapat segera diatasi," kata dia.

Selain dapat membuat orang dengan gangguan jiwa kembali produktif, Wage juga mengatakan desa yang ramah jiwa dapat mendeteksi dini penangangan orang dengan masalah mental sehingga angka bunuh diri juga bisa ditekan.

Upaya yang dilakukan oleh Desa Petir dan Kecamatan Rongkop ini menurut Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia KPSI dinilai dapat diikuti dengan ketersediaan obat bagi penyandang gangguan jiwa, jelas pendiri KPSI Bagus utomo.

"Umumnya di daerah itu yang tersedia obat-obatan generasi pertama, kadang kalau tidak cocok itu menimbulkan ketidaknyamanan yang serius, seperti kaku otot, lidah kelu jadi air liur keluar," kata Bagus.

Pasien gangguan jiwa itu pun, sebaiknya diberikan kesadaran tentang manfaat pengobatan yang harus dilakukan seumur hidupnya.

Seperti yang dikeluhkan Suryono kepada kepala Desa Petir "Aku bosan minum obat. Mau sampai kapan ini? Kan udah sembuh".

KPSI menyebutkan diberbagai daerah sejumlah inisiatif yang sudah dilakukan untuk menangani orang dengan gangguan jiwa ini, seperti pos yandu jiwa di Jawa Timur dan rumah singgah di Jakarta, tetapi secara nasional masalah kesehatan jiwa masih belum mendapatkan perhatian secara luas.

Berita terkait