Mengapa begitu sulit menghitung jumlah korban tewas?

Relatives of five people murdered on a street cry in Acapulco's Icacos neighbourhood Hak atas foto Getty Images
Image caption Puluhan ribu irang tewas dalam kekerasan jalanan terkait narkoba di Mexico.

Bayangkan kengerian orang-orang yang sekarat akibat kekerasan, dan perang di Suriah, atau penembakan massal. Peristiwa seperti pembantaian di Las Vegas menyoroti kenyataan yang mengguncangkan bahwa terdapat lebih banyak orang yang menderita kematian karena kekerasan di negara-negara 'damai' dibanding di zona perang.

Setiap kematian akibat kekerasan adalah sebuah tragedi, namun mendapatkan jumlah yang benar merupakan hal yang penting.

Laporan tentang kematian di sebuah zona perang, atau kota yang dirundung kekerasan terkait narkoba, atau negara yang dicabik-cabik oleh kasus-kasus penembakan, dapat mempengaruhi cara dunia menanggapinya -mulai dari liputan media, investasi bisnis, kebijakan dan alokasi anggaran oleh pemerintah dan badan-badan bantuan.

Masalahnya adalah bahwa mendapatkan angka yang akurat sangatlah sulit.

Yang jelas, walaupun kasus-kasus pembunuhan sangat mungkin menewaskan lebih banyak orang secara keseluruhan dibanding perang, biasanya kematian dalam pertempuran cenderung mendapat perhatian paling besar.

Berapa banyak orang yang tewas di Suriah?

Sejak pecahnya perang di Suriah, negara ini hancur, kekuatan global terseret masuk dan banyak orang, dlam jumlah besar, meninggal dunia

Hak atas foto Getty Images
Image caption Konflik Suriah memunculkan angka kematian yang berbeda-bda.

Pada bulan Februari 2016, setelah hampir lima tahun perang, jumlah korban tewas di Suriah akibat pertempuran dan penyebab lainnya mencapai 470.000, menurut Syrian Center for Policy Research..

Dua bulan kemudian, utusan khusus PBB memunculkan angka yang 400.000 lebih rendah - namun jauh lebih tinggi dari 250.000 yang diperkirakan PBB 18 bulan sebelumnya. Setelah itu PBB berhenti menghitung karena tidak mempercayai jumlah korban yang mereka peroleh.

Perkiraan lain diungkapkan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di London, yang dianggap salah satu sumber yang paling dapat dipercaya karena menggunakan laporan dari lapangan.

Laporan bulan Maret 2017 itu menunjukkan bahwa jumlah korban lebih mendekati 320.000 - masih mengerikan, namun jumlah tewas itu 150.000 lebih sedikit dibandingkan perkiraan di atas.

Dibawa pulang dan dikubur

Mereka yang diberi tugas memilukan untuk mencoba menghitung kematian akibat perang terpaksa bergantung pada berbagai metode yang penuh cacat.

Di Yaman, misalnya, PBB menggunakan laporan dari rumah sakit untuk memperkirakan 10.000 korban perang pada bulan Januari 2017.

Namun, banyak rumah sakit waktu itu sudah ditutup dan sebagian besar pertempuran terjadi di daerah pedesaan yang tidak memiliki rumah sakit.

Banyak yang meninggal dibawa pulang oleh keluarga mereka dan langsung dikuburkan.

Itu bisa berarti bahwa 10.000 korban tewas itu angka yang sangat terlalu kecil.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Angka kematian dalam konflik di Kolombia kemungkinan trlalu sedikit jumlahnya dibanding angka sebenarnya karena laporan-laporan kematian dibuat dalam bahasa Spanyol.

Namun juga, karena daerah pedesaan jarang penduduknya, angka yang dicatat PBB mungkin juga tidak begitu jauh dari angka sebenarnya.

Di tempat lain, beberapa peneliti yang paling ketat dlam ketelitian bersikeras untuk menghitung kematian berdasarkan korban yang jelas pelakunyadan hanya menggunakan surat kabar berbahasa Inggris, untuk memastikan konsistensi.

Hal ini membuat rincian tentang kematian itu kuat, dan perbandingannya secara internasional jadi sederhana.

Tapi kematian dalam konflik yang kacau balau yang pelakunya susah ditentukan, atau mereka yang tidak mendapat perhatian media - yang merupakan masalah di daerah pedesaan, atau di situasi di bawah rezim otoriter yang medianya dikendalikan - dapat terluputkan.

Ada juga masalah ketika sebagian besar laporan tidak dalam bahasa Inggris.

Di Kolombia, misalnya, di mana sebagian besar laporan dalam bahasa Spanyol, para periset di Pusat Analisis Konflik di Bogota memperkirakan bahwa pakar internasional hanya mencatat kurang dari setengah kematian di sebagian besar konflik gerilya.

Jenis kematian yang salah

Sementara itu, di perang mana pun, banyak orang meninggal karena penyakit, kelaparan, dan 'penyebab tidak langsung' lainnya.

Haruskah ini dihitung sebagai kematian sebagai korban perang?

Organisasi Kesehatan Dunia WHO menemukan bahwa pada bulan Agustus 2017 saja, 2.000 warga Yaman meninggal karena kolera.

 

Hak atas foto Getty Images
Image caption Wabah kolera di yaman menewaskan banyak sekali orang.

Andai saja perang tidak menghancurkan rumah sakit dan tidak membuat gaji dokter tidak dibayar, banyak kematian jenis ini yang mungkin bisa dicegah.

Namun Yaman adalah negara miskin, dan bahkan tanpa perang pun, penyakit menular banyak menelan korban jiwa.

Periset di Small Arms Survey, sebuah lembaga di Jenewa, menunjukkan bahwa kematian tidak langsung itu membunuh tiga sampai lima belas kali lipat banyak dibanding akibat berperang selama konflik - bergantung pada tingkat pembangunan di sana, dan apakah infrastruktur sipil menjadi sasaran.

Di Ukraina, misalnya, PBB memperkirakan bahwa pada akhir tahun 2016, sekitar 10.000 orang tewas dalam pertempuran - setara dengan Yaman.

Tapi di Ukraina, jalan dan rumah sakit masih berfungsi dan wabah kolera kemungkinan besar tidak mematikan.

Hak atas foto Santigao
Image caption Jumlah tewas terkait perang terhadap narkoba yang dilancarkan Presiden Rodrigo Duterte sudah mencapai setidaknya 3850 orang.

Akhirnya, seperti juga kematian akibat perang, kematian tidak langsung dapat dimanipulasi dalam rangka mendapatkan keuntungan, seperti yang disebutkan oleh peneliti saat Saddam Hussein, awal tahun 1990an. menipu inspektur Unicef dengan melaporkan tingginya angka kematian anak agar sanksi terhadap Irak dicabut.

Dengan demikian, kematian tidak langsung biasanya tidak termasuk dalam statistik perang.

Angka yang menggetarkan

Dengan cenderung berfokus pada perang, media meluputkan kenyataan yang lebih penting: pidana pembunuhan mungkin menelan jiwa tiga sampai empat kali lebih banyak orang setiap tahunnya dibanding konflik bersenjata.

Antara tahun 2007 dan 2012, pidana pembunuhan menewaskan rata-rata 377.000 orang per tahun, di sisi lain, yang meninggal setiap tahunnya dalam perang atau konflik bersenjata mencapai sekitar 70.000 orang.

Para ahli di Deklarasi Jenewa, salah satu dari sedikit lembaga yang menghitung berbagai kekerasan baik akibat peperangan maupun pidana, memperkirakan bahwa delapan dari 10 kematian seperti itu terjadi di luar zona konflik.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Jumlah korban akibat pidana pembunuhan di brasil bisa jadi melampaui korban tewas akibat perang.

Misalnya, pada tahun 2015 Forum untuk Keamanan Masyarakat Brazil melaporkan lebih dari 58.000 kasus pidana pembunuhan - pada tahun itu mana Observatorium untuk Hak Asasi Manusia Suriah menghitung bahwa korban tewas dalam perang Syria, mencapai 55.000 orang.

Angka pembunuhan yang sangat mengejutkan ditemukan di banyak negara lain. Misalnya, dalam data PBB tahun 2012, data terakhir PBB yang tersedia, korban pembunuhan di India sekitar 34.000 di Meksiko sekitar 22.000 di Nigeria sekitar 17.000

Dan pembunuhan terhadap 58 orang dalam sebuah penembakan massal di Las Vegas kembali menyoroti masalah kekerasan di Amerika Serikat.

Kenyataannya, tingkat kematian dengan kekerasan di AS saat ini berada pada posisi terendah dibanding pada tahun 1960an, namun meningkat dalam tiga tahun terakhir.

Dan bahkan pada seluruh titik terendah, AS tetap merupakan anomali di antara negara-negara demokrasi maju, dengan tingkat pembunuhan empat sampai lima kali lebih tinggi dari Eropa Barat.

Bahkan jumlah korban tewas di Suriah dan Afghanistan meningkat hingga hampir 100.000 per tahun sekarang ini, masih lebih kecil dibanding jumlah pidana pembunuhan secara keseluruhan.

Namun, penggunaan angka keseluruhan dan bukannya angka yang memperhitungkan skala penduduk suatu negara terkadang dapat membuat suatu negara tampak lebih berbahaya daripada sebenarnya.

Setelah Brasil, yang penduduknya sekitar 10 kali penduduk Suriah, India memiliki jumlah pembunuhan terbesar kedua tahun ini.

Namun dengan penduduk lebih dari satu miliar orang, tingkat pembunuhannya sangat rendah: hanya 3,5 per 100.000, atau sekitar setengah dari rata-rata dunia, menurut Kantor Pengawasan Obat-obatan PBB.

Dan Institut Igarape, yang dimulai dengan angka UNODC tapi kemudian memeriksa silang dengan polisi setempat, kamar mayat, dan lembaga-lembaga lain demi memperoleh akurasi yang lebih besar, tingkat pembunuhan India tercatata pada 2,8 per 100.000 - lebih rendah dari Latvia.

Tidak ada jenazah, tidak ada perkara

Dan tidak mengherankan bahwa statistik pembunuhan sama buruknya dengan data perang.

Sebagian besar negara menghitung angka pembunuhan di dua tempat - kantor polisi dan kamar mayat.

Periset cenderung lebih mempercayai statistik kamar mayat karena polisi bisa mendapat tekanan untuk menjaga angka pembunuhan tetap rendah, sementara para pengurus kamar mati cenderung lebih terhindar dari pengaruh politik.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Angka pembunuhan di New Orleans dilaporkan dua kali lipat dibanding di Afghanistan

Namun banyak mayat yang pernah sampai ke kamar mati, sementara perkara pembunuhan tanpa mayat tidak dapat diadili.

Di Kolombia, penjahat menggunakan rumah potong untuk menghancurkan mayat, sementara mafia Sisilia biasa melarutkan mayat dalam asam dengan alasan yang sama.

Angka pembunuhan terkadang dapat menggelembung karena buruknya pencatatan, namun lebih sering, negara berkepentingan untuk mengecilkan jumlah itu.

Dan hanya sekitar separuh negara di dunia yang melaporkan statistik pembunuhan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa melakukan segalanya untuk memperoleh data model, namun di tempat-tempat seperti Afrika sub-Sahara, di mana sedikit negara saja yang melaporkan, tidak banyak yang bisa dilakukan dan kemungkinan jumlah yang tratat mengabaikan dampak peperangan dan tumbuhnya populasi secara cepat. .

Kasar tapi mencerahkan

Dengan segala permasalahan ini, setiap statistik tentang kematian akibat kekerasan harus diperlakukan dengan hati-hati.

Tapi berpikir dengan melintasi batas-batas perang dan kejahatan bisa mencerahkan, bahkan andai yang digunakan hanya angka-angka perkiraan kasar.

Hasilnya bisa sangat mengejutkan.

Pada tahun 2011, misalnya, tingkat pembunuhan New Orleans sebesar 57,6 per 100.000, setara dengan tingkat pembunuhan dan kematian akibat konflik di Afghanistan pada tahun itu.

Di tempat lain, Meksiko yang kerepotan melawan kekerasan terkait narkoba, jumlah pembunuhan terus meningkat dan menurut pemerintah Meksiko - jumlah antara tahun 2007 dan 2014 - mencapai 164.000.

Angka itu menempatkan Meksiko setara dengan banyak perang dan melebihi jumlah kematian warga sipil di Irak dan Afghanistan selama periode yang sama yang dicatat Badan Urusan PBB dan Irak.

Sudah jelas, New Orleans atau Meksiko bukan daerah yang sedang dililit peperangan.

Tapi, seperti dialami tempat-tempat lain yang menderita sejumlah besar kematian akibat kekerasan, untuk New Orleans dan Meksiko, kata 'damai' juga tidak sepenuhnya cocok.


Tentang tulisan ini

Artikel analisis ini dimintakan oleh BBC kepada ahli dari luar BBC.

Dr Rachel Kleinfeld adalah seorang pakar di Carnegie Endowment for International Peace, dengan fokus pada isu-isu tertib hukum, keamanan, dan pemerintahan di negara-negara pasca-konflik, negara-negara yang rapuh, dan negara-negara yang dalam transisi.

Edisi bahasa Inggris disunting Duncan Walker


Topik terkait

Berita terkait