Ketika proyek energi bersih justru munculkan air keruh di Banyumas

sungai, air terjun Hak atas foto Liliek Dharmawan
Image caption Kondisi air yang keruh di Curug Cipendok, Banyumas, Jawa Tengah.

Dua warga Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah terlihat tengah mencangkul di areal persawahan. Gemericik Sungai Prukut di pinggir sawah dapat terdengar. Namun, ketika dilihat, air tersebut berwarna keruh.

"Lihat saja, airnya tidak jernih. Bahkan, jika di atas pegunungan hujan, air di sini sangat kotor. Airnya berubah menjadi cokelat karena bercampur tanah," ungkap Trisno, salah seorang warga Desa Karangtengah yang ditemui pada Kamis (12/10).

Ia mengaku tidak pernah melihat kekeruhan semacam itu. "Semenjak ada proyek di atas, airnya menjadi keruh kecokelatan. Padahal, dulu tidak pernah seperti ini. Kalau memang keruh, biasanya setelah hujan dan hanya berlangsung beberapa jam saja. Setelah itu, bersih lagi," katanya sebagaimana dilaporkan wartawan di Banyumas, Liliek Dharmawan.

Keruhnya Sungai Prukut juga dirasakan warga desa-desa lainnya seperti Sambirata, Panembangan, Kalisari, Pernasidi, Cikidang dan Karanglo. Ketujuh desa tersebut merupakan desa-desa yang berada di lereng selatan Gunung Slamet yang menggantungkan kebutuhan air bersihnya pada sumber-sumber mata air yang mengalir melalui Sungai Prukut.

Akibat air Sungai Prukut keruh, ribuan warga praktis kehilangan sumber air bersih, seperti dikatakan Kepala Desa Panembangan, Suparto.

"Ada setidaknya 1.900-an keluarga yang mengalirkan air dari penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat. Karena kami menggantungkan air bersih dari sumber air di Curug Cipendok dan Sungai Prukut, jelas ada gejolak," ujarnya.

Senada dengan Suparto, Kepala Desa Kalisari, Aziz Masruri, mengamini keresahan warganya terkait pencemaran sungai sebagai dampak proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi. Namun, menurutnya, ada hal lain yang membuat risau.

"Masalahnya tidak sekadar air bersih. Ada warga melakukan penolakan lantaran kekhawatiran akan terjadinya longsor dan banjir bandang. Meski hal itu dibantah," kata Aziz.

Hak atas foto Liliek Dharmawan
Image caption Air sungai bercampur lumpur masuk ke dalam kolam milik warga di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.

Proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi

Warga mulai menyaksikan air Sungai Prukut yang keruh kecoklatan sejak Januari 2017 lalu. Riset yang dilakukan oleh Lingkar Kajian Banyumas (LKB) menyebutkan bahwa hal itu terjadi akibat aliran material terutama tanah dalam proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Baturraden masuk ke dalam sungai.

Dalam sebuah diskusi pada Februari 2017 lalu, Novita Sari dari LKB mengatakan bahwa material eksplorasi proyek masuk ke Sungai Citepus yang kemudian mengalir ke Air Terjun Cipendok. Dari Air Terjun Cipendok, air dialirkan melalui Sungai Prukut.

"Padahal air dari Sungai Prukut keberadaannya sangat vital. Karena merupakan sumber air bersih untuk warga. Mereka juga menggunakannya untuk berbagi kebutuhan lain seperti perikanan dan industri kecil," katanya.

Kerisauan warga terhadap kualitas air Sungai Prukut kemudian diwujudkan dalam beberapa aksi demonstrasi.

Bagaimanapun, proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi tetap berlangsung. Kali ini, pemerintah daerah dan pusat telah memperingatkan perusahaan pelaksana proyek untuk lebih fokus dan menyediakan solusi permanen.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Banyumas, Didi Rudwianto, mengatakan Bupati Banyumas Achmad Husein telah "menekan" perusahaan pelaksana proyek.

"Penanganan selama ini yang dilakukan PT SAE tidak maksimal, tidak fokus. Pak bupati dan direktur panas bumi menekan PT SAE bahwa dengan kejadian kedua ini, setelah awal 2017, untuk lebih fokus dan tuntas. Tidak ada alasan untuk (bertindak) sporadis. Tuntas dan permanen," papar Didi.

Hak atas foto Liliek Dharmawan
Image caption Proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi di Baturraden.

Solusi

Solusi yang disediakan terbagi ke dalam dua kategori, yakni dalam jangka pendek dan jangka panjang, seperti dijelaskan Direktur Panas Bumi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Yunus Saiful Haq.

"Solusi cepat adalah menyiapkan suplai air bersih untuk desa-desa yang terdampak. Jangka panjangnya adalah membuat embung atau penampung air bersih guna mencukupi kebutuhan pada saat musim kering. Jadi, saat ini jangan hanya janji-janji saja, melainkan harus ada "action" di lapangan," tegas Yunus.

Secara terpisah, Direktur PT SAE Bregas H Rochadi mengatakan bahwa pihaknya akan merespons cepat keluhan warga mengenai air keruh.

"Kami sudah bergerak untuk memasok air bersih untuk desa-desa yang terdampak. Soal ganti rugi, nantinya akan dibicarakan dan secepatnya dilakukan," kata Bregas saat pertemuan di Pemkab Banyumas, beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, rencana solusi itu ditolak pegiat lingkungan. Budi Tartanto pegiat dari Cilongok Peduli Slamet yang juga masuk dalam elemen Aliansi Selamatkan Slamet, menjelaskan alasannya.

"Sampai kapan pun kami tetap menolak. Karena proyek ini tidak ada manfaatnya untuk masyarakat di lereng Gunung Slamet. Kalau memang PLTP itu bagus, kenapa yang terjadi justru dampak buruk? Kalau tidak ada air bersih, masak kami mau minum setrum?" kata Budi Tartanto.

Hak atas foto Liliek Dharmawan
Image caption Demonstrasi penolakan pembangkit listrik tenaga panas bumi Baturraden di Kota Purwokerto.

Tetap berjalan

Apakah kemudian setelah ada penolakan dan demo yang berujung ricuh itu pembangunan PLTP dihentikan?

"Tidak," kata Direktur Panas Bumi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Yunus Saiful Haq.

Yunus mengatakan bahwa proyek pembangunan PLTP Baturraden sudah masuk dalam Keppres No. 3 tahun 2016 selain UU No. 21 tahun 2014 tentang Panas Bumi. "Ini adalah proyek strategis nasional mencukupi suplai listrik Jawa, Madura dan Bali," katanya.

Proyek geothermal di Baturraden nantinya ditargetkan mampu memproduksi listrik 220 megawatt (MW). Untuk tahap pertama, produksi listrik 110 MW pada tahun 2022.

Topik terkait

Berita terkait