Surat cinta Barak Obama singgung perasaannya soal Indonesia, apa katanya?

Barack Obama Hak atas foto Obama Presidential Campaign
Image caption Barack Obama pada 1979. Beberapa dekade kemudian Obama, yang pernah menghabiskan masa kecilnya di Jakarta, menjadi presiden Amerika Serikat.

Surat-surat cinta Barack Obama untuk sang kekasih, Alexandra McNear, pada awal 1980-an untuk pertama kalinya dibuka untuk umum setelah surat tersebut resmi menjadi bagian dari koleksi perpustakaan Universitas Emory, Amerika Serikat.

Surat-surat tersebut tak hanya menjadi tumpahan ekspresi dan perasaanya tentang cinta, tapi juga ras, kelas, dan pergulatan identitas.

Seperti yang tertuang dalam surat tertanggal 27 Juni 1983, Obama muda menulis tentang pergulatan identitas sebagai seseorang yang terlahir dari ibu yang lahir di Kansas, Amerika, dan bapak dari Kenya.

Indonesia kemudian menjadi bagian dari kehidupan Obama karena setelah berpisah, ibunya menikah dengan pria Indonesia. Ketika kecil, Obama sempat menetap di Jakarta pada akhir 1960-an.

Meski Indonesia pernah menjadi bagian dari hidupnya saat masih kecil, ketika usianya menginjak 20-an tahun, ia merasa tak bisa menyebut dirinya sebagai bagian sepenuhnya dari Indonesia.

"Saya tak bisa lancar berbahasa (Indonesia)," tulis Obama.

Hak atas foto Emory University
Image caption Sebagian surat-surat Obama yang ditulis pada awal 1980-an untuk Alexandra McNear. Hubungan cinta keduanya putus dan Obama akhirnya menikahi Michelle.

Saat berada di Indonesia, ia merasa kadang dihormati tapi juga pada kesempatan lain dicemooh karena ia adalah orang Amerika.

Dengan kata-kata 'yang bermakna dalam dan filosofis' kepada sang kekasih, Obama menulis, "Yang saya lihat adalah jalan-jalan lama yang samar-samar, rumah-rumah reyot ... jalan yang pernah saya tapaki, yang kini tak bisa lagi saya lalui."

'Bagian dari diri saya'

Kata-kata ini ia tulis setelah berkunjung ke Indonesia pada 1983 setelah lulus kuliah.

Meski Indonesia ia gambarkan sebagai 'jalan yang pernah ia tapaki dan tak lagi bisa dilalui', saat berkunjung ke Indonesia pada 2010 dalam kapasitas sebagai presiden Amerika, Obama menggambarkan masa kecilnya yang menyenangkan di Jakarta.

Dalam pidatonya pada 2010 tersebut, Obama mengatakan, "Indonesia bagian dari diri saya ... ketika bocah, saya datang ke Indonesia (pada akhir 1960-an). Ini negeri yang berbeda, tapi orang-orang Indonesia membuat saya betah."

Hak atas foto Obama for America
Image caption Ibu Obama, Ann Dunham, menikah dengan pria Indonesia, Lolo Soetoro.

"Kami pindah ke Menteng Dalam, kami tinggal di rumah kecil, ada pohon mangga di depan rumah ... saya bermain layang-layang, berlarian di sawah, menangkap capung, membeli sate, bakso dari penjaja di pinggir jalan. Saya bahkan masih ingat bagaimana tukang sate dan bakso menjajakan dagangan mereka. Sate! Bakso! Enak ya?" kata Obama.

Dan sate ini pula, dan nasi goreng, yang diminta Obama dan keluarganya saat berlibur di Indonesia beberapa bulan lalu.

Adik Obama, Maya Soetoro-Ng, kepada BBC Indonesia mengatakan bahwa Indonesia merupakan bagian penting dari kehidupan masa kecil Obama.

"Sehingga ia dapat melihat berbagai budaya, filosofi, agama dan menjadikan dia sebagai orang yang fleksibel dan sangat menghargai keragaman, melihat ada persatuan di tengah keragaman, sesuatu yang telah lama menjadi aspirasi Indonesia," kata Maya.

"Tidak tahu apakah (suatu saat) akan punya rumah tetap di Indonesia karena kehidupan kami sudah menetap di AS, tapi Indonesia memiliki tempat permanen di hati kami, saya yakin itu," tambahnya.

Topik terkait

Berita terkait