UWRF 2017: Bagaimana perempuan dari tiga negara menulis soal kekerasan

UWRF 2017 Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Novel Do Not Say We Have Nothing yang ditulis oleh Thien masuk dalam nominasi penghargaan Man Booker Prize pada 2016 lalu.

Dalam tiga sesi berbeda yang berlangsung di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017, tiga penulis perempuan dari tiga negara berbeda menunjukkan bagaimana cara mereka menuliskan soal kekerasan dalam karya-karya mereka.

Han Yujoo - Korea Selatan

Bagi penulis Korea Selatan Han Yujoo, fokusnya adalah kekerasan domestik, terutama yang dilakukan antara anak-anak. Han Yujoo adalah salah satu penulis muda yang cemerlang dari Korea Selatan. Karyanya, The Impossible Fairy Tale, adalah novelnya yang pertama diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan Prancis.

Buku Han Yujoo tersebut terbagi dalam dua bagian, yang pertama mengisahkan seorang anak bernama Mia yang dimanja dan memiliki segalanya, sementara karakter lain, The Child, kebalikannya, tak memiliki apa-apa, bahkan namanya pun tak disebut. Karakter The Child atau si anak kemudian melakukan pembunuhan, namun di bagian kedua buku, si anak tersebut 'mendatangi' si penulis dan mempertanyakan, dan bertanya, "Kenapa saya harus membunuh? Saya bukan pembunuh." Karakter tersebut malah menuduh Han sebagai penulis yang membuatnya membunuh.

Dalam panel The Magic Touch atau sentuhan keajaiban yang berlangsung di UWRF 2017, Han mengatakan bahwa itu adalah caranya untuk mempertanyakan bagaimana penulis bisa membenarkan adanya kekerasan atau menuliskan soal kekerasan di bukunya?

Sesudah panel, dalam sebuah wawancara, saya menanyakan pada Han, apakah kekerasan yang diceritakan dengan cara yang seolah biasa-biasa saja adalah sebuah tema umum dalam novel atau film-film Korea Selatan? Kita melihatnya dalam film-film Park Chan-wook atau Bong Joon-ho. Bahkan dalam novel The Vegetarian karya Han Kang ada hal-hal yang berhubungan dengan trauma dan kekerasan yang dituliskan dengan cara yang keseharian atau datar.

Menurut Han Yujoo, "Korea Selatan adalah salah satu tempat terburuk di dunia untuk menjadi perempuan. Salah satu negara yang paling misognis. Di permukaan, tidak ada kekerasan, ada K-Pop, tapi kenyataannya, memang seperti yang terjadi di novel The Vegetarian itu. Makanya saya suka menjadi penulis, saya bisa menjadi saksi dan menjadi penuduh (kekerasan)."

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption The Impossible Fairy Tale adalah novel karya penulis Han Yujoo (kedua dari kiri) yang pertama diterjemahkan dalam bahasa Inggris.

The Vegetarian merupakan karya penulis Korea Selatan lain, Han Kang, yang meraih penghargaan Man Booker Prize pada 2016. Dalam novel The Vegetarian, karakter perempuan Yeong-hye, seorang istri yang perannya tak lebih dari mengabdi untuk melayani gaya hidup suaminya, memutuskan untuk menjadi vegetarian. Namun keputusan pribadinya itu ditentang oleh suami dan keluarganya. Begitu kerasnya penolakan mereka, sampai-sampai dalam buku Han Kang memperlihatkan bagaimana pilihan pribadi dalam kehidupan seorang perempuan tak ada artinya bagi masyarakat dan tekanan sosial di sekitarnya. Yeong-hye yang terus menolak paksaan makan daging berakhir di rumah sakit jiwa.

Meski begitu bagi Han Yujoo, kekerasan adalah sesuatu yang ambivalen. "Saya ingin semua kekerasan itu berhenti, tapi tanpa kekerasan, tidak ada sastra, namun saya akan bahagia di dunia tanpa kekerasan," ujarnya.

Kesuksesan Han Kang ini ternyata memunculkan ketertarikan dari penerbit internasional untuk menerjemahkan karya-karya penulis Korea Selatan lain ke bahasa Inggris. Dan ini berimbas ke penerjemahan karya Han Yujoo.

Proses penerjemahan pun menjadi sesuatu yang penting dalam mengenalkan sastra Korea Selatan ke dunia. Han beruntung bisa bertemu dengan Janet Hong, seorang penerjemah yang kemudian mendapat grant untuk bisa menerjemahkan buku Han Yujoo.

Namun di sisi lain, penerbitan itu juga membawa beban bagi Han untuk mewakili Korea Selatan. "Saya merasa jika buku saya tidak laku, maka penerbit asing lain tidak akan tertarik untuk menerjemahkan penulis Korea Selatan lainnya," ujarnya.

Madeleine Thien - Kanada

Sementara itu, penulis Kanada Madeleine Thien, yang bukunya Do Not Say We Have Nothing mendapat nominasi penghargaan Man Booker Prize pada 2016 lalu sudah dua kali menuliskan soal tema besar kekerasan dalam dua buku berbeda.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Novel Do Not Say We Have Nothing karya penulis Madeleine Thien (kiri) asal Kanada membahas soal Revolusi Budaya Cina pada 1966 dan Peristiwa Tiananmen pada 1989.

Dalam Dogs at the Perimeter, Thien menggunakan genosida yang terjadi di Kamboja pada 1970an sebagai latar ceritanya, sementara di Do Not Say We Have Nothing, dia mengisahkan tentang kekerasan yang terjadi pada 1989 di Lapangan Tiananmen dan 'pengorbanan' yang dilakukan oleh generasi sebelumnya dalam Revolusi Budaya pada 1966 yang menewaskan 1,5 juta orang.

"Saya merasa bahwa pengorbanan-pengorbanan itu harus tercatat," kata Thien soal menuliskan peristiwa 1989 dan 1966 di Cina.

"Kita semua melihat apa yang terjadi pada gerakan pelajar pada 1989, 100.000 orang berkumpul di Tiananmen setiap harinya. Dan dari semua hasil yang bisa dan mungkin dicapai dan kemudian melihat apa yang pada akhirnya terjadi. Pemerintah Cina mengatakan bahwa tidak ada korban yang jatuh di Lapangan Tiananmen, tapi kebohongan itu sebagai sesuatu yang sinis, sebagai sesuatu yang semantik, karena pembunuhan massalnya tidak terjadi di Tiananmen, tapi di malam-malam menjelang ke aksi itu, apa yang terjadi pada kakek-nenek atau orangtua anak-anak itu," kata Thien dalam panelnya sebagai pembicara tunggal.

Thien menegaskan bahwa para pelajar tersebut hanya menginginkan agar mereka bisa membuat keputusan-keputusan yang sangat personal akan kehidupan mereka, termasuk dengan mengekspresikan diri lewat musik, yang kemudian dieksplorasi lebih dalam lewat Do Not Say We Have Nothing.

Leila S. Chudori - Indonesia

Dalam panel tersebut, Thien dimoderatori oleh penulis Leila S. Chudori yang menegaskan beberapa kesamaan antara tema-tema yang dipilih Thien dengan apa yang terjadi di Indonesia yang masih harus berhadapan dengan aksi kekerasan negara yang dilakukan di masa lalu, seperti pada 1965 dan 1998.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Penulis Indonesia, Leila S. Chudori, meluncurkan buku terbarunya, Laut Bercerita, tentang orang-orang yang tetap hilang setelah 1998 dalam salah satu acara di UWRF 2017.

Sebelumnya, lewat novel Pulang, Leila menulis tentang 1965, sementara dalam salah satu rangkaian acara UWRF 2017, Leila meluncurkan Laut Bercerita, yang salah satunya membahas soal apa yang terjadi pada keluarga seorang aktivis yang tak pulang setelah 1998.

Saat ditanya soal kemiripan dalam memilih tema-tema besar soal kekerasan yang dilakukan oleh negara, Leila mengatakan, "Yang saya merasa mirip dengan dia adalah kita sama-sama menulis bagaimana sejarah dimanipulasi. Kita melihat memang ada gambaran besarnya, ada Revolusi Budaya, Tiananmen, di sini ada 1965 dan 1998, itu peristiwa besar, tapi kita melihat orang-orangnya. Respons orang-orangnya berbeda-beda. nah itu menarik buat saya."

Meski peristiwa 1965 dan orang-orang hilang pada 1998 sudah banyak ditulis dalam berbagai laporan jurnalistik, termasuk di majalah Tempo tempat Leila bekerja, namun menurutnya ada hal-hal yang masih bisa disampaikan soal aksi kekerasan tersebut lewat fiksi.

"Ketika kita berbicara ke korban dan keluarga korban atau ke pelakunya, itu ada hal-hal yang memang nggak bisa masuk ke elemen jurnalistik. Dalam bentuk novel atau cerpen, kita benar-benar fokus ke karakter, ke pada perasaan, ke bagaimana reaksi dia sebagai seseorang, manusia, ketika mengalami itu, ketika disiksa, diculik, dan ketika kembali lagi, memangnya gampang begitu saja?," ujarnya.

"Jurnalisme lebih banyak tentang fakta, kronologi, bahwa ini terjadi, pemerintah melakukan apa. Tapi (dalam fiksi) ini tentang manusia, seseorang, dan tentunya banyak soal (hal) psikologis, terutama ketika mereka hilang bertahun-tahun dan tidak ada kepastian. Psikologi keluarganya itu luar biasa," kata Leila.

Topik terkait

Berita terkait