Saya dilecehkan secara seksual pada usia 11 tahun: Gerakan #metoo

Perempuan Hak atas foto Getty Images
Image caption Dugaan pelecehan seksual Harvey Weinstein memicu gerakan #metoo atau 'saya juga'.

Rangkaian dugaan kekerasan seksual yang dilakukan oleh produser terkenal Hollywood, Harvey Weinstein, memunculkan gerakan global di kalangan perempuan untuk berbagi pengalaman buruk mereka lewat tagar #metoo atau saya juga.

Berikut penuturan pembawa acara Siaran Newsday di BBC World Service, Shaimaa Khalil, tentang pengalaman pertamanya dilecehkan secara seksual sebagai anak-anak ketika masih tinggal di Mesir.

___________________________________________________________________

Ada satu hari khusus -begitu saya berusia 11 tahun- yang tidak akan kulupakan.

Saat itu saya sedang berada di rumah kakek-nenek dan untuk pertama kali diizinkan jalan ke luar bersama sepupu saya serta temannya tanpa disertai orang dewasa -tiga anak perempuan semata, ke luar untuk petualangan pertama.

"Hati-hati. Jangan pergi terlalu jauh dan jangan menghabiskan uang untuk hal-hal bodoh," nenek memperingatkan. Maksudnya es krim - tapi ya, kami rencananya emang mau membeli es krim.

Saya gembira tapi juga cemas. Harus berjalan baik kalau saya ingin mendapat kesempatan lagi ke luar sendirian!

"OK Shaimaa," saya ingat berpikir kepada diri sendiri. "Jangan jatuh, jangan berhantam, jangan kehilangan uang."

Saya seharusnya menambahkan, "Jangan dilecehkan secara seksual oleh remaja laki-laki." Tapi bagaimana saya bisa tahu itu?

Di jalanan yang padat pada musim panas di Alexandria, kami tidak menyadari sedang diikuti tiga anak laki-laki, yang berjalan di belakang dan kemudian menubruk kami. Kemudian salah seorang meraba-raba badan saya.

Hak atas foto SHAIMAA KHALIL
Image caption Shaimaa Khalil ketika masih remaja di Mesir.

Yang saya bisa saya lakukan untuk menyelamatkan diri dari penyiksa kami itu adalah berjalan secepat mungkin sementara sepupu saya dan temannya berupaya mengejarku.

Namun mereka terus mengikuti kami.

Kami bertiga berpegangan tangan dan bergegas kembali ke rumah kakek.

Anak laki-laki itu berada di belakang kami dan mengganggu kami secara lisan.

Saya takut tapi juga marah. Anak laki-laki itu sudah menghancurkan hari pentingku, saya berbalik dan berteriak: "Kifaya! Cukup!"

"Kifaya!" tiru salah seorang dari mereka, mengejekku.

Belakangan ibu justru menghukum saya. "Kamu berbicara dengan mereka?" tanyanya marah. "Kamu tidak boleh berbicara dengan orang yang mengganggumu... Kamu harus berjalan terus saja. Itu yang mereka inginkan -kalau kamu bikin masalah dari hal itu dan membuat gaduh, mereka menang."

Hak atas foto Thomson Reuters Foundation
Image caption Survei Thomson Reuters Foundation menempatkan Kairo sebagai kota besar paling berbahaya untuk perempuan tahun 2017.

Nenek menimpali. "Apakah suaramu keras? Apakah kau tertawa atau bertindak bodoh tanpa alasan? Saya tahu kamu bisa seperti apa, Shaimaa."

Saya berupaya mengingat apakah saya tertawa. Mungkin ya karena saya senang, sampai saya dilecehkan secara seksual."

"Dan kenapa baju tanpa lengan? Itu terlalu pendek, seluruh bagian belakang badanmu terlihat," tambah nenek.

Saya tidak mengerti kenapa pembicaraan beralih dari aku yang mengeluh tentang tiga anak laki-laki yang mengerikan dan hal yang mereka lakukan padaku menjadi aku yang disalahkan untuk tindakan mereka.

Itu pertama kalinya aku dilecehkan secara seksual dan tentu saja bukan yang terakhir. Beberapa insiden yang menyusul jauh lebih parah. Tapi hari itu berdampak terus, memberi informasi bagaimana perasaan saya tentang berjalan kaki di jalanan di Mesir dan bagaimana saya berperilaku.

Sepanjang hidup, aku ingin kebebasan melakukan hal-hal sendirian dan di sini aku dihadapkan pada kenyataan bagi perempuan Mesir, kebebasan untuk berada di jalanan datang bersamaan dengan pelecehan.

Ibu menyusun beberapa aturan.

  1. Hal seperti itu akan terjadi. Itu hal biasa.
  2. Jangan tertawa. Cemberut lebih baik.
  3. Jalan cepat. Jangan melenggang.
  4. Pakai baju panjang yang menutup bagian belakang tubuh.
  5. Jangan menarik perhatian.

Dalam beberapa tahun mendatang, aturan-aturan itu kadang berguna namun sering kali tidak.

Pelecehan seksual menjadi bagian dari kehidupanku dan teman-temanku. Pengalaman kami beragam, mulai dari gangguan lisan sampai ke meraba secara tidak tepat, menggerayangi, hingga berupaya merobek pakaian kami.

Para pelakunya adalah segala macam pria di jalanan: karyawan toko, penjaga pintu, guru, rekan sekerja dan juga saudara.

Namun kami tidak bermimpi akan bersuara untuk melawan. Seperti yang dialami semua perempuan, kami harus menyeimbangkan pelecehan di jalanan dengan pembatasan yang lebih ketat di rumah.

Image caption Shaimaa Khalli membawa acara Newsday di BBC World Service.

Tahun 2013, sebuah laporan PBB mengatakan 99% perempuan yang disurvei di Mesir pernah dilecehkan secara seksual. "Kami tidak perlu laporan," kata seorang temanku sambil tertawa saat itu, "Datang saja dan hidup bersama kami sebentar!"

Sebuah jajak pendapat baru-baru ini memperlihatkan Kairo, ibu kota Mesir, merupakan kota besar yang paling berbahaya bagi perempuan namun saya berani membuktikan bahwa kota asalku juga tinggi dalam reputasi berbau skandal itu.

Hak atas foto AFP
Image caption Gerakan #metoo mengajak para perempuan berbagi tentang pelecehan seksual yang mereka alami.

Ada perubahan sedikit sejak saya berusia 11 tahun. Perempuan-perempuan muda kini jauh lebih vokal dan ada beberapa kampanye melawan pelecehan sesksual, sementara penerapan hukum sudah lebih serius.

Namun semua itu tidak menghentikan pelecehan.

Sekarang saya tidak tinggal di Mesir, namun jika berkunjung ke sana saya merasa agak tegang. Saya masih punya senjata yang tidak terlihat, yaitu aturan-aturan yang ditetapkan ibu. Saya selalu bersiaga ketika sendirian di jalanan.

Saya punya keponakan berusia delapan tahun yang mengingatkanku ketika saya seusia dia. Dia ingin segera bisa jalan-jalan ke luar sendirian.

Dan mungkin ini yang akan saya katakan kepadanya, "Jangan tertawa, jangan melenggang, dan jika sesuatu terjadi, telepon seseorang dan pulang ke rumah."

Tapi ini yang sebenarnya ingin saya katakan kepadanya: "Kau cantik. Tertawa dan bersenang-senanglah. Nikmati dirimu dan jika ada orang brengsek mengganggu, berteriaklah, buat gaduh dan lawan! Dan selalu, selalu ingat: itu bukan salahmu!"

Topik terkait

Berita terkait