Pierre Coffin: Menyampaikan emosi lewat minons

Pierre Coffin Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Bukan hanya menandatangani, Coffin bahkan menggambari satu per satu kertas yang diajukan penggemarnya.

Sebagai pembicara tunggal di sebuah panel di Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017, Pierre Coffin mengisahkan perjalanannya dari animator sampai menjadi sutradara film Despicable Me dan Minions, termasuk dalam menciptakan dan mengisi suara karakter kuning menggemaskan tersebut.

Ibu Coffin, penulis Nh. Dini, yang dalam UWRF 2017, mendapat penghargaan seumur hidup, ikut menghadiri sesinya dari awal sampai akhir, bahkan ikut menunggui saat pengunjung meminta tanda tangan anaknya.

Coffin tampak sabar melayani permintaan tersebut. Dan bukan hanya menandatangani, Coffin bahkan menggambari satu per satu kertas yang diajukan penggemarnya.

Dalam sesinya, Coffin bercerita soal masa kecilnya yang dibesarkan tanpa televisi, sehingga dia pun mengisi kebosanan dengan menggambar, termasuk mencoba meniru lukisan cat air yang selalu digambar oleh ibunya.

Dari situlah kebiasaannya menggambar berawal, sampai kemudian dia mengambil studi film, lalu animasi, dan bekerja di berbagai rumah produksi serta studio yang menghasilkan animasi.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Pierre Coffin mengatakan tidak akan menyutradarai Despicable Me 4 yang akan dimulai bulan depan pengerjaannya dan film Minions 2 yang sedang diproduksi.

Namanya menjadi terkenal setelah menjadi salah satu sutradara film Despicable Me yang di dalamnya menampilkan karakter minions, makhluk kecil menggemaskan berwarna kuning yang berceloteh dalam berbagai bahasa dan terobsesi dengan pisang.

Coffin mengatakan bahwa bahasa yang digunakan oleh karakter minions merupakan campuran antara kata-kata yang memang tidak ada maknanya dengan kata-kata dalam berbagai bahasa (Jepang, Indonesia, Italia, Hangeul, dan Spanyol).

"Ketika karakter itu berbicara, Anda akan mengenali satu atau dua kata, dan mungkin Anda merasa mengerti. Tantangannya adalah Anda harus menemukan kata yang tepat, dengan melodi yang pas sehingga bisa menyampaikan emosi yang tepat dari minions," kata Coffin.

Dan tentu saja, saat minionBob mendapat hadiah dari Ratu Elizabeth II menjelang akhir film Minions, Coffin mengatakan, "Saya tahu bahwa di situ adalah waktu yang tepat untuk Bob mengatakan, 'terima kasih'. Karena itu adalah kata yang tepat untuk menyampaikan emosinya."

Dalam sesinya, Coffin menyatakan bahwa kini dia masih terikat kontrak untuk membuat dua film lagi, namun dia tidak akan menyutradarai Despicable Me 4 yang akan dimulai bulan depan pengerjaannya dan film Minions 2 yang sedang diproduksi.

Meski begitu, dia tetap akan mengisi suara para minions.

Coffin juga menjawab beberapa pertanyaan BBC Indonesia secara khusus.

Bagaimana Anda melihat bahwa orang Indonesia merasa 'memiliki' bahasa yang digunakan oleh karakter minions?

Bukan hanya Indonesia, setiap negara di dunia juga merasa seperti itu. Saat saya pertama punya ide akan bahasa yang digunakan oleh makhluk-makhluk ini, saya sudah memutuskan bahwa sepertinya akan keren jika setiap negara bisa mengenali kata-kata atau ungkapan mereka sendiri, sehingga mereka bisa merasa bahwa 'oh minions berasal dari negara kami'.

Hak atas foto JEAN-PIERRE CLATOT/AFP/Getty Images
Image caption Pierre Coffin (kiri) dan Kyle Balda (kanan), pembuat karakter, yang menampilkan film 'Minions' pada 2015 lalu.

Dan dalam konsep minions, mereka berasal dari semua tempat di dunia. Jadi masuk akal ketika mereka bicara bahasa Indonesia, maka bagi penonton Indonesia, minionsbisa berasal dari Indonesia. Bagi penonton dari Amerika Selatan, saya juga memasukkan bahasa Spanyol, jadi minion juga datang dari budaya mereka.

Ide besarnya adalah menciptakan makhluk yang bisa menjadi milik semua orang.

Apa yang paling sulit dari menyuarakan karakter minionssehingga bisa menghidupkan mereka?

Keajaiban dari karya animasi adalah untuk menggerakkan karakter dan menghidupkannya bahwa ada orang yang menggerakkan objek itu dalam setiap frame.

Tujuan dari film animasi adalah membuat penonton melupakan teknik dan masuk ke karakter. Dan untuk melakukannya, Anda butuh desain, dalam hal minions, karakter kuning dengan satu atau dua mata, yang mengenakan baju terusan pekerja, lalu Anda perlu situasi, apakah mereka mengalami konflik, atau bersenang-senang, atau sedang mengisahkan lelucon, atau malah saling memukul untuk menghibur satu sama lain, dan kemudian suara.

Suara itu adalah salah satu dari alat bantu untuk memahami karakter, tapi Anda tidak perlu memahami kata-katanya, dan salah satu alasan karakter itu ada adalah campuran antara apa yang mereka lakukan, komedi fisiknya, dan bahasanya.

Hak atas foto Frederick M. Brown/Getty Images
Image caption Pierre Coffin dan keluarganya menghadiri pemutaran perdana film Despicable Me 2 pada 2015 lalu di Los Angeles.

Tapi itu juga bukan bahasa, karena tidak ada tata bahasanya. Mereka hanya berceloteh, tapi tujuan untuk memahami mereka tercapai karena ada melodi (dalam celotehan) yang membuat kita tahu, 'oh dia marah' atau 'oh dia bersenang-senang' atau 'oh dia sedang sarkastis'. Dan gabungan dari berbagai ide berbeda ini menjadi satu dan membentuk minions.

Apakah Anda sekarang melihat bahwa minions sudah terlalu banyak?Tidakkah Anda khawatir ada semacam kritik? Atau malah Anda senang bahwa mereka akan ada terus dalam budaya pop, seperti halnya karakter Disney misalnya?

Saya sangat setuju dengan Anda. Awalnya saya tidak merasa bahwa ada terlalu banyak minions.

Saya baru merasakannya sejak muncul Despicable Me 2 dan kemudian seterusnya, terutama ketika saya tiba-tiba melihat merchandise minionsdi mana-mana.

Secara pribadi, saya merasa bahwa ini terlalu berlebihan. Dan menurut saya, secara pribadi, dengan terlalu banyak pemasaran seperti ini, sering mematikan filmnya.

Ketika saya mulai merasa minionsini terlalu berlebihan, saya berpikir, jika saya tidak mengerjakan film ini, apakah saya akan membenci minionsatau apakah saya akan menyukai mereka? Dan saya rasa saya akan membencinya.

Hak atas foto Kevin Winter/Getty Images

Saya orang yang cukup sinis, jika saya melihat terlalu banyak merchandise dari satu film, buat saya itu hal yang negatif.

Jika saya melihat ada terlalu banyak produk yang menampilkan Carsatau Frozen, saya jadi membencinya, karena itu membuat saya lupa betapa bagus filmnya.

Tapi saya tidak bisa mengendalikannya. Saya hanya bisa bilang bahwa, 'Oh, sayang sekali, ada terlalu banyak kotak makanan dengan gambar minions atau gelas plastik sampai penutup dudukan toilet', karena saya tidak memahami sisi itu dari (pemasaran) film.

Saya senang ketika orang bisa menggambar minions di mana saja dengan bebas, tapi ketika mereka ada di mana-mana, saya rasa itu bukan hal yang bagus.

Apakah Anda merasa bahwa minions ini milik Anda?

Saya rasa mereka tidak pernah menjadi milik saya. Saya memang menjadi bagian dari penciptaannya, tapi ada banyak orang yang terlibat dalam penciptaan para minionsini. Kebetulan saya adalah penyuaranya, saya kebetulan adalah sutradaranya, dan bisa meminta agar karakter ini bisa melakukan ini dan itu.

Saya merasa mereka adalah bagian dari saya tapi mereka tidak sepenuhnya milik saya.

Pertama, mereka adalah milik penonton, karena kadang saya menempatkan diri dalam posisi penonton dan bertanya, kira-kira jika saya adalah penonton, saya ingin melihat para penonton dalam situasi apa atau melakukan apa?

Hak atas foto Kevin Winter/Getty Images
Image caption Sutradara Kyle Balda (kiri) dan Pierre Coffin dalam pemutaran perdana film Minions di Los Angeles, California.

Dalam proses pembuatannya, ada orang-orang lain yang terlibat, seperti Eric Guillon yang benar-benar merancang bentuk karakter ini, jadi mungkin dia yang harus merasa khawatir akan kemungkinan orang akan bosan dengan minionskarena mereka ada di mana-mana.

Benarkah bahwa Anda belum pernah membaca buku-buku ibu Anda?

Benar. Saya membaca beberapa cerita pendeknya, tapi tiga novel pertamanya tidak pernah diterjemahkan ke bahasa Inggris atau Prancis.

Saya pernah mendengarnya dan tahu apa isinya tapi saya tidak pernah membacanya karena saya tidak bisa bicara atau membaca bahasa Indonesia, dan itu membuat putus asa.

Tapi saya bertemu seseorang di festival ini yang mengatakan bahwa buku-buku itu sedang diterjemahkan, jadi mungkin dalam beberapa bulan atau beberapa tahun, saya bisa membacanya.

Dalam sebuah wawancara, disebutkan bahwa ayah Anda melihat keinginan Anda untuk membuat film dan seni sebagai sesuatu yang aneh dan tidak mendukung keputusan Anda. Lalu bagaimana Anda mengembangkan rasa percaya diri yang dibutuhkan untuk terus menggeluti industri ini pada awalnya?

Saya tidak punya rasa percaya diri, bahkan sekarang, ketika saya sudah jauh lebih tua dari sebelumnya, namun tetap saja, di usia 50, saya belum sepenuhnya yakin atau percaya diri dengan apa yang saya lakukan.

Hak atas foto Kevin Winter/Getty Images
Image caption Aktris Sandra Bullock mengisi suara karakter Scarlett Overkill dalam film Minions.

Saya rasa, bagi orangtua, tentu bukan hal yang menenangkan buat mereka ketika anak Anda memutuskan untuk mendalami seni murni, hanya karena tidak ada pemasukannya, atau bahwa Anda harus sangat-sangat beruntung untuk bisa menjalani apa yang menjadi minat Anda dan bisa menghidupi diri dari situ.

Memang, dia tidak mendukung keputusan saya, tapi tetap itulah yang ingin saya lakukan. Dan saya merasa bahwa potensi saya untuk menjadi hebat, mungkin, adalah dengan menjadi sutradara di dunia industri film.

Topik terkait

Berita terkait