Kurang tidur bisa mengakibatkan gangguan pada otak

Kurang tidur Hak atas foto Getty Images
Image caption Kurang tidur bisa mempengaruhi aktivitas gen dalam tubuh, termasuk di antaranya terkait dengan gejala pembengkakan dan diabetes.

Lembaga yang menangani berbagai gangguan tidur di Inggris, Sleep Council, menyebutkan warga di negara itu rata-rata tidur selama enam setengah jam tidur pada malam hari, namun bagi kebanyakan orang ini belum cukup.

Banyak di antara kita yang mencuri-curi waktu untuk sekedar memejamkan mata saat akhir pekan. Dan itu bukan hal buruk karena warga Inggris tampaknya mengalami masalah kekurangan tidur yang cukup memprihatinkan.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur, baik sengaja ataupun tidak, dapat berdampak serius pada tubuh kita.

Pola tidur yang buruk bisa berdampak pada gula darah, membuat kita kerap merasa lapar dan makan berlebihan. Kurang tidur juga bahkan mengacaukan DNA kita.

Beberapa tahun yang lalu, organisasi Trust Me I'm a Doctor melakukan percobaan dengan Universitas Surrey, dengan menghadirkan para sukarelawan yang diminta untuk mengurangi jam tidur sebanyak satu jam semalam selama seminggu.

Dr Simon Archer, yang membantu menjalankan eksperimen, menemukan bahwa kurang tidur satu jam dalam semalam mempengaruhi aktivitas gen dalam tubuh orang-orang tersebut, termasuk di antaranya yang terkait dengan gejala pembengkakan dan diabetes.

Malam-malam yang terganggu

Jadi, efek negatif yang terjadi pada tubuh bila kita kekurangan tidur sudah jelas. Tapi apa saja efek kurang tidur terhadap kesehatan mental kita?

Untuk mengetahuinya yayasan Trust Me ini bekerja sama dengan para ilmuwan yang meneliti tentang masalah tidur di Universitas Oxford untuk melakukan penelitian sederhana.

Kali ini, mereka menghadirkan empat orang relawan yang biasanya tidur nyenyak. Tim peneliti memasangkan alat untuk memantau tidur mereka secara akurat.

Selama tiga malam dalam penelitian pertama, peneliti membiarkan mereka tidur selama delapan jam penuh tanpa gangguan apapun.

Hak atas foto Getty Images
Image caption "Rasa cemas, depresi, stres, paranoid, meningkat bila kita kurang tidur," tutur Sarah Reeve yang menjalankan penelitian terhadap gangguan tidur.

Lalu selama tiga malam berikutnya, tim membatasi tidur mereka hanya empat jam.

Setiap hari para relawan mengisi kuesioner psikologis yang dirancang untuk mengungkapkan perubahan suasana hati atau emosi mereka. Mereka juga menyimpan catatan harian dalam bentuk video. Jadi apa yang terjadi?

Sarah Reeve, seorang mahasiswa doktoral yang menjalankan eksperimen ini, terkejut dengan fakta bahwa betapa cepatnya suasana hati mereka berubah.

"Rasa cemas, depresi, stres, paranoid dan perasaan tidak percaya terhadap orang lain meningkat," katanya.

"Itu sangat menarik, mengingat ini terjadi setelah tiga malam kurang tidur."

Tiga dari empat sukarelawan menemukan bahwa pengalaman itu tidak menyenangkan, tapi salah satu peserta bernama Josh mengaku tidak begitu terpengaruh.

"Saya pikir itu akan sangat mempengaruhi saya, tapi nyatanya tidak," katanya. "Saya merasa baik-baik saja - tidak merasa bahagia, sedih, stres atau apapun."

Namun, tes yang dilakukan terhadapnya menunjukkan sesuatu yang sangat berbeda.

Emosi positifnya turun tajam setelah tidurnya terganggu selama dua malam, dan emosi negatif mulai naik.

Jadi meski dia merasa baik-baik saja, ada tanda-tanda bahwa dia, secara mental, mulai menderita.

'Terjebak' dalam pikiran negatif

Hasil tes sederhana yang dilakukan, mencerminkan hasil sebuah studi yang jauh lebih besar yang mengkaji dampak kurang tidur terhadap kesehatan mental siswa.

Para periset merekrut lebih dari 3.700 mahasiswa dari seluruh universitas di Inggris yang melaporkan gangguan tidur dan membaginya menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama mendapat terapi CBT (terapi perilaku kognitif) yang dimaksudkan untuk memperbaiki tidur mereka, dan kelompok kedua tidak mendapat terapi.

Dalam waktu dua bulan, para mahasiswa yang mendapat terapi CBT melaporkan tingkat insomnia, rasa cemas dan depresi berkurang signifikan, paranoid dan halusinasi pun menurun.

Tes ini dianggap sebagai uji coba terbesar dalam bidang perawatan psikologis untuk kesehatan mental, dan penelitian ini menyebutkan bahwa insomnia dapat menyebabkan masalah kesehatan mental.

Daniel Freeman, profesor psikologi klinis di Universitas Oxford, yang memimpin penelitian tersebut menganggap salah satu alasan mengapa kurang tidur sangat buruk bagi otak kita adalah, karena hal itu bisa memunculkan pikiran-pikiran negatif.

"Pikiran-pikiran negatif datang ketika kita kurang tidur dan kita terjebak di dalamnya," katanya.

Namun dia tidak berpikir bahwa jika kita kurang tidur kemudian kita menderita gangguan jiwa. Tapi menurutnya, itu bisa meningkatkan risiko terkena gangguan mental.

"Ini tentu tidak bisa dihindari," katanya. "Pada suatu malam, satu dari tiga orang mengalami kesulitan tidur, mungkin 5% sampai 10% dari populasi umum menderita insomnia, dan banyak orang menjalani hidup mereka dan mereka mengatasinya. Tetapi hal itu meningkatkan risiko berbagai macam gangguan kesehatan mental."

Topik terkait

Berita terkait