Kisah sandera al-Qaida, dari masuk Islam hingga tak lagi lancar berbahasa Inggris

Stephen McGown Hak atas foto Getty Images
Image caption Stephen McGown menjalani penahanan oleh kelompok al-Qaida di satu kawasan di Gurun Sahara selama setidaknya lima tahun sebelum dibebaskan pada Juli 2017.

Warga London asal Afrika Selatan, Stephen McGown, tak pernah membayangkan bahwa dirinya menjadi sandera kelompok militan al-Qaida selama lima tahun.

Tapi itulah yang terjadi. Perjalanan pulang kembali ke Afrika Selatan dengan menggunakan sepeda motor 'mengantarkannya' menjadi tawanan milisi al-Qaida di daerah di Gurun Sahara, Afrika.

Ia sengaja bersepeda motor, bukan dengan pesawat terbang, karena ingin mendapatkan pengalaman baru. Ia ingin menikmati petualangan menyusuri Afrika dengan kendaraan roda dua tersebut.

Saat berada di Timbuktu, Mali, pada 25 November 2011, McGown ditangkap milisi al-Qaida dan ditawan di satu tempat di Gurun Sahara.

Setelah menjadi sandera, McGowan mencoba untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan kelompoknya yang menahannya, yang antara lain berujung dengan keputusannya untuk masuk Islam, bukan secara paksaan tapi sukarela.

Ia masuk Islam enam bulan setelah ditangkap.

"Saya pemeluk Kristen dan ada banyak kesamaan kisah dalam Islam dan Kristen. Agama membuat saya tegar menjalani kehidupan di gurun," ungkap McGown.

Dua sandera lain, Sjaake Rijke dan Johan Gustafsson, juga masuk Islam.

Keputusan masuk Islam membuat perlakuan milisi terhadap McGown dan dua sandera lain berubah drastis.

Hak atas foto Stephen McGown
Image caption Stephen McGown memang sengaja pulang ke Afrika Selatan dengan sepeda motor.

Kelompok yang menawan mereka mengajak makan bersama dan salat berjamaah. Selain itu, beberapa milisi juga mengajari McGown belajar bahasa Arab untuk membantu memahami Alquran.

"Saya belajar dengan menunjuk benda-benda di sekitar dan menghapal apa nama benda-benda tersebut dalam bahasa Arab," katanya.

Metode lain adalah dengan bahasa isyarat dan dengan menggambar di atas tanah.

Menghafal Alquran

Ia memang sengaja menjalin komunikasi dengan orang-orang yang menahannya. "Mereka datang dan pergi. Ada yang mati, ada anggota baru. Tapi saya mencermati banyak di antaranya yang selalu saya jumpai," katanya.

Sehari-hari, tak banyak yang dilakukan McGown saat menjadi tawanan al-Qaida. Ia memulai hari dengan salat subuh yang kemudian diikuti dengan sarapan, biasanya sarapan roti.

Setelah itu kembali tidur atau melakukan olahraga. "Kami dibolehkan untuk bergerak bebas di area seluas stadion bola," kata McGown.

Menu makan siang adalah spaghetti atau nasi dicampur daging, bisa kambing, domba, atau unta. McGown sering masak sendiri karena para milisi banyak menggunakan minyak goreng.

"Kelompok militan membunuh hewan-hewan yang mendekati kamp," kata McGowan.

Ketika sinar matahari tengah panas-panasnya, McGown dan sandera-sandera lain beristirahat di dalam gubuk dan menghabiskan waktu belajar membaca dan menghafal Alquran.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Stephen McGown memeluk Mohamed Yehia Dicko, salah satu pengurus organisasi amal yang membantu merundingkan pembebasan dirinya.

"Saya lebih sering membaca Alquran di dalam gubuk, karena kalau saya melakukannya di depan para milisi, mereka biasanya tertawa karena pelafalan saya belum sempurna," katanya.

Kadang ada tamu datang ke kamp dan mereka bertanya tentang hafalan McGown.

Suasana menjadi lebih santai saat malam tiba dan McGown bersosialisasi dengan milisi yang menyanderanya. "Kami minum teh, mendengarkan radio berbahasa Prancis atau menonton video-video al-Qaida," kata McGown.

Ia beranjak tidur setelah salat isya. Kadang ia tidur di luar gubuk untuk menikmati indahnya malam yang penuh dengan bintang.

Keluarga McGown di Afrika Selatan mengontak sejumlah pihak untuk merundingkan pembebasannya.

McGown sendiri tak tahu proses ini meski beberapa kali diberi tahu oleh milisi yang menahannya bahwa ia akan dibebaskan.

Tapi pembebasannya dirinya tak kunjung menjadi kenyataan.

Pada Juli lalu kelompok yang menyanderanya kembali mengatakan bahwa ia akan segera dibebaskan.

"Saya tak percaya. Saya tanya berapa kemungkinannya saya bebas, mereka menjawab 60%," kata McGown.

Tapi beberapa hari kemudian dia dibawa dengan mobil menyeberangi Sahara selama dua setengah hari. Di dekat Gao, Mali, mobil berhenti.

"Sopir mengatakan Anda bebas sekarang," kata McGown.

McGown masih tak percaya dan menganggapnya sebagai canda. Ia baru percaya setelah mobil lain datang dan menjemputnya.

Ia akhirnya bisa bebas antara lain berkat negosiasi satu organisasi amal.

Bertemu lagi dengan sang istri

Hak atas foto Getty Images
Image caption Stephen McGown dan istrinya, Catherine. Istrinya mengatakan senang luar biasa setelah bertemu dengan Stephen.

Ia kembali ke Johannesburg pada 29 Juli 2017 setelah menjalani pemeriksaan kesehatan.

Ayah dan istrinya adalah dua orang pertama dari keluarga dekatnya yang ia temui. "Ia terlihat sangat cantik ... sungguh bahagia bisa melihatnya," kata McGown ketika melihat istrinya untuk pertama kalinya dalam lima tahun.

Sementara itu, sang istri mengatakan, "Ia tak seperti yang saya bayangkan, apalagi ia mengenakan pakaian gurun."

McGown memang tak seperti McGown yang dulu. Selama menjadi tawanan di gurun, ia memanjangkan jambang dan rambut yang kini tampak bergelombang.

"Ia terlihat sangat berbeda ... tapi senyumnya tetap sama," kata istrinya dengan mata berbinar-binar.

Perbedaan lain adalah bahasa Inggris McGown tak selancar dulu. "Sekarang agak sulit menemukan kata-kata yang pas," kata McGown yang mengaku sedikit khawatir dengan kemampuannya berbahasa.

Tapi istrinya membesarkan hati dengan mengatakan McGown masih seperti yang dulu.

"Ia selalu membuat saya tertawa, itu yang saya suka darinya," kata istrinya.

Topik terkait

Berita terkait