Jakarta Biennale 2017, jiwa-jiwa yang hadir

Mengambil tema tentang jiwa, Jakarta Biennale 2017 mengeksplorasi identitas, sejarah kesenian, sistem kepercayaan hingga ujung batas-batas kebebasan.

Jakarta

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar,

Dua perupa kelahiran Irak (kini tinggal di Swiss), Ali Al-Fatlawi dan Wathiq Al-Ameri, menggelar performans berjudul 'Vanishing Borders or Let’s Talk about the Situation in Iraq' (2014) - tentang renungan eksistensialis perihal batas-batas kehidupan dan kematian, serta naluri kehancuran yang memusnahkan semesta unik yang terkandung dalam diri setiap manusia. Dalam karya-karyanya, mereka acap memanfaatkan simbol-simbol perang dan damai – helm militer, mawar merah, patung serdadu plastik yang dibakar selama performans, baju pelampung pengungsi, dan berbagai simbol budaya, seperti karpet Irak yang menandai asal mereka.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar,

'Eceng Gondok Berbunga Emas' merupakan karya Siti Adiyati (kelahiran 1951) yang pertama kali dihadirkan dalam pameran kedua Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 1979. Pada tahun-tahun itu, Adiyati ingin menggambarkan jurang masyarakat kaya-miskin yang makin mencolok di Jakarta. Dalam Jakarta Biennale 2017, Siti Adiyati memperbesar kolam eceng gondoknya. "Eceng gondok itu berasal dari empang sebuah perusahaan real-estate terkemuka di Jakarta Utara", katanya. "Harga setangkai mawar plastik ini setara 3 kilogram beras raskin – beras untuk kaum miskin." Karya ini dapat dilihat sebagai sebuah dokumen multitafsir yang merangkum konflik, kegundahan, dan keriangan dalam sebuah kolam. "Realitas berubah dan bergerak, tapi ironi tetap muncul mengiringi segenap perubahan itu,"ungkap tim kurator.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar,

“Setelah bahasa ibu, berbagai bahasa datang kepadaku, dalam bentuk dan rupa,” tulis Hanafi, seniman kelahiran Purworejo (1960) perihal karyanya yang berjudul 'Perkenalan Pertama dengan Bahasa'. Tak hanya sebagai bunyi tetapi juga imaji rupa, katanya. "Bahasa-bahasa itu datang dan menggugah kepekaan artistik. Bahasa juga menghadap-hadapkan tubuh pada “dunia”, paparnya. Selain menampilkan seni instalasi, yaitu berupa ribuan pensil, jaket dan mantel, Hanafi mempersilakan pengunjung pameran untuk mengenakan jaket tersebut. "Objek pensil adalah sarana paling awal untuk menuliskan bahasa ibu," katanya. "Adapun performans oleh penonton dengan mengenakan jas dan mantel yang dirancang khusus merupakan bahasa kini dituliskan kembali."

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar,

Melalui ketertarikannya pada pose, makna, dan kedinamisan gestur Sukarno, perupa Dolorosa Sinaga (kelahiran 1952) mempersembahkan sebuah panggung bagi tokoh ini, sebagai ingatan sosial atau memori sejarah. Bagi Dolorosa, secara simbolis gestur-gestur historis Sukarno dibutuhkan untuk menemukan lagi jiwa merdeka tokoh ini; inspirasi yang tak lekang bagi bangsanya. Tidak seperti monumen-monumen yang umumnya menampilkan Sukarno dengan pose yang lebih tenang, Dolorosa justru menghadirkan gestur-gestur dinamis tokoh proklamator ini sepanjang karier politiknya.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar,

Semsar Siahaan (meninggal dunia pada 2005) adalah ikon utama aktivisme seni di Indonesia. Ia menjadikan karya-karyanya sepenuhnya sebagai bagian dari upaya menyuarakan pembebasan dari ketidakadilan. Dalam Jakarta Biennale 2017, sosok dan karya Semsar Siahaan ditampilkan lewat “Menimbang Kembali Sejarah” - bagian khusus yang mengangkat seniman dengan kontribusi khas di dunia seni rupa. Sebagai bentuk penghormatan, festival ini memamerkan beberapa karyanya - lukisan, gambar, reproduksi poster, dan sejumlah arsip pribadi, termasuk buku harian yang ia tulis pada 24 Oktober 1998–13 September 2002 ketika berada di luar Indonesia. Di samping itu, diterbitkan pula buku berisi tulisan-tulisan Semsar Siahaan, wawancara-wawancara, dan tulisan tentang sejumlah pameran karyanya.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar,

Sosok Ni Tanjung, kelahiran 1930an, mulai dikenal ketika seorang seniman di Bali mendapati “instalasi” karyanya: sebuah gundukan dari batu-batuan vulkanis. Sang seniman kemudian menyediakan bahan pewarna. Dia terus "berkarya" dan namanya lantas membetot perhatian dunia 'art brut' Eropa, melalui seorang ahli museum dari Swiss, Georges Breguet. Pria ini kemudian memberikan kardus dan gunting kepada Ni Tanjung. Dia juga meminta seorang asisten mengunjungi Ni Tanjung untuk memberikan dukungan dan bahan-bahan yang diperlukan, tulis kurator dalam situs resmi Jakarta Biennale 2017.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar,

Perupa Marintan Sirait, kelahiran 1960, di depan karyanya 'Membangun Rumah' (1992–1997). Dalam Jakarta Biennale 2017, Marintan menilik kembali karya performansnya itu yang mengacu pada unsur-unsur alam seperti gunung, tanah, pepohonan, dan konstelasi bintang-bintang. Dalam situs resmi Jakarta Biennale 2017, Marintas melibatkan rupa, gerak, bunyi, lintasan waktu, dan ruang, untuk karya barunya yang berjudul 'Membangun Rumah dan Ruang Perjumpaan'. Dia juga menggunakan materi seperti tanah, abu, kerikil, cahaya, gerak tubuh (disebut ruang horizontal) dan proyeksi video pada kaca akrilik (disebut ruang vertikal).

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar,

Hendrawan Riyanto (meninggal dunia pada 2004) adalah seniman keramik yang memperoleh perhatian khusus dalam Jakarta Biennale 2017 untuk bagian “Menimbang Kembali Sejarah”. Menurut kurator, bagian ini menampilkan baik karya maupun arsip seniman yang dianggap "memberi kontribusi khas dalam dunia seni rupa di Indonesia". Dalam situs panitia, Hendrawan disebut mengarahkan kembali pandangan kreatif dan menimba inspirasinya dari sumber-sumber tradisi dan kebudayaan kebatinan Jawa yang bertumpu pada rasa. Dan, "Melalui praktik seni keramik ia melakukan pembaruan yang sekaligus mengukuhkannya sebagai bagian dari praktik seni kontemporer".

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar,

Made Djirna, kelahiran 1957, membuat karya seni adalah bermain-main dengan benda-benda di alam. Situs resmi Jakarta Biennale 2017 menyebut Djirna mengumpulkan benda-benda alam yang terserak di sepanjang jalan, sungai, dan pantai. Dalam Jakarta Biennale 2017, dia melanjutkan proses memulung di atas. Ia mengamati batu apung (pumice) yang ditemukannya di sejumlah pantai di Bali. Selama berbulan-bulan dia menelusuri Pantai Beraban, Kabupaten Negara, sampai Pantai Jumpai di Klungkung. Disebutkan dia juga memulung batu apung di Pantai Purnama, Gianyar, yang saat ini mengalami abrasi luas.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar,

Dalam irisan seni kontemporer, film, performans, dan teori, seniman dan penulis kelahiran Singapura (1990), Ho Rui An, menulis, bicara, dan berpikir melalui citraan, untuk "menelusuri lokasi kemunculan, penyebaran, dan kemusnahan citraan dalam konteks globalisasi dan kepemerintahan." Dalam karyanya yang berjudul 'Solar: A Meltdown', Ho Rui An menghubungkan berbagai galur pemikiran tentang kolonialisme dan globalisasi dalam sebuah penataran-performans dengan mengerahkan citraan dari koleksi museum atau film-film Hollywood.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar,

Gede Mahendra Yasa, perupa kelahiran 1967, selalu berusaha bersikap kritis terhadap konvensi-konvensi seni rupa. Menurut kurator, dia mempertanyakan konstruksi identitas yang sering diusung dengan mengatasnamakan, dan seringkali mengesensialkan, tradisi. Dalam Jakarta Biennale 2017, Mahendra Yasa menampilkan sejumlah lukisan terbarunya, dengan citra-citra 'orisinal' yang berbeda dengan karya-karya sebelumnya. Dalam situs resmi panitia, dia disebut melakukan percobaan dengan medium baru, yaitu encaustic painting. Encaustic adalah olahan campuran antara lilin lebah, getah damar, dan tempera - disebut sebagai salah satu medium melukis tertua.